Alisa Putri adalah seorang guru TK yang lembut dan penuh kasih, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk keceriaan anak-anak.
Namun, dunianya yang berwarna mendadak bersinggungan dengan dunia dr. Niko Arkana, seorang dokter spesialis bedah yang dingin, kaku, dan perfeksionis.
Niko merupakan cucu dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja dan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga reputasi keluarganya.
Pertemuan mereka bermula lewat Arka, keponakan Niko yang bersekolah di tempat Alisa mengajar.
Niko yang semula menganggap keramahan Alisa sebagai hal yang "tidak logis", perlahan mulai tertarik pada ketulusan sang guru.
Sebaliknya, Alisa menemukan bahwa di balik dinding es dan jubah putih Niko, tersimpan luka masa lalu dan tanggung jawab berat yang membuatnya lupa cara untuk bahagia.
Bagaimana kelanjutan???
Yukk baca cerita selengkapnya!!!
Follow IG: @Lala_Syalala13
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Itu Memalukan
Sore harinya Alisa membuka tas pendinginnya.
Di bawah kotak sayuran ia menemukan sepotong cokelat hitam kualitas premium dengan sebuah catatan kecil di atasnya:
"Dopamin alami untuk hari yang berat. Besok akan lebih baik. - N."
Alisa memakan cokelat itu, merasakan rasa pahit dan manis yang meleleh di lidahnya yaitu persis seperti hubungannya dengan Niko saat ini.
Penuh tantangan, terkadang pahit karena tekanan luar namun memiliki akhir yang sangat manis dan menenangkan.
Ia menyadari bahwa Niko Arkana mungkin tidak bisa memberikan puisi cinta yang berbunga-bunga tapi pria itu memberikan perlindungan yang nyata.
Dan bagi Alisa itu jauh lebih berharga daripada seribu kata manis, benih itu kini telah tumbuh menjadi tunas yang kuat dan siap menghadapi musim-musim berikutnya di "istana kristal" yang perlahan mulai terasa seperti rumah.
Setelah badai di ruang Kepala Sekolah mereda, suasana di TK Pelangi Bangsa perlahan kembali ke ritme normalnya.
Namun bagi Alisa "normal" kini memiliki definisi yang berbeda, normal berarti mendapati sebuah tas pendingin berisi jus sayuran di meja kerjanya setiap pagi dan normal berarti terbiasa dengan tatapan segan dari rekan-rekan guru yang sebelumnya gemar berbisik.
Pagi itu Arka datang dengan semangat yang meledak-ledak.
Di tangannya ia memegang sebuah kertas karton berwarna biru muda yang digunting dengan bentuk yang agak bergelombang sepertinya usaha maksimal seorang anak kecil menggunakan gunting tumpul.
"Bu Guru Alisa! Ini untuk Ibu!" seru Arka sembari menyodorkan kertas itu saat Alisa sedang merapikan loker sepatu murid.
Alisa menerimanya dengan senyum hangat, di dalam kertas itu terdapat tempelan stiker dinosaurus dan tulisan tangan yang besar-besar.
"MAKAN MALEM DIRUMAH ARKA, ADA AYAM GORENG DAN OM NIKO YANG MASAK (BOHONG, OM NIKO CUMA POTONG SAYUR)."
Alisa tertawa geli membaca pengakuan jujur Arka.
"Siapa yang menulis ini, Arka?" tnya Alisa lembut.
"Arka yang tulis tapi Eyang Wulan yang bantu ejaannya." jawab Arka bangga.
"Om Niko tidak tahu Arka bikin ini, dia cuma bilang 'Arka, tanya Bu Alisa apa dia bosan makan oats setiap pagi'. Jadi Arka pikir Om Niko pasti mau ajak makan malam tapi takut ditolak!" seru bocah itu dengan polosnya.
Alisa melirik ke arah gerbang sekolah di mana mobil Niko masih terparkir sejenak sebelum berangkat ke rumah sakit.
Niko tampak sedang menurunkan kaca jendela, menatap ke arah mereka, saat mata mereka bertemu, Niko memberikan anggukan singkat yaitu gestur formalnya yang kini terasa seperti sebuah kode rahasia yang hanya dimengerti oleh Alisa.
"Bilang sama Om Niko, Bu Guru akan datang." bisik Alisa pada Arka.
Sore harinya, Alisa mendapati dirinya berdiri di depan sebuah gerbang besi tinggi di kawasan perumahan elit.
Ini bukan pertama kalinya ia melihat kemewahan keluarga Arkana, namun datang ke rumah tinggal mereka terasa jauh lebih mengintimidasi daripada mengunjungi kantor Niko di rumah sakit.
Niko sendiri yang membukakan pintu, ia tidak lagi memakai jas tapi ia mengenakan kaos hitam polos dan apron dapur yang tampak sangat bersih.
"Kamu datang tepat waktu, presisi yang bagus." ucap Niko sembari mempersilakan Alisa masuk.
Rumah itu luas, dingin dan sangat rapi, namun di salah satu sudut ruang tengah terdapat tumpukan mainan Arka yang memberikan sedikit nyawa pada bangunan yang menyerupai museum itu.
Wulan, ibu Niko, menyambut Alisa dengan pelukan hangat yang seketika meruntuhkan rasa canggung Alisa.
"Syukurlah kamu datang Alisa, sejak tadi siang Niko sibuk menanyakan apakah wortelnya harus dipotong bentuk bunga agar kamu senang." goda Maya sembari melirik putranya.
Niko hanya berdeham namun dengan wajahnya yang tetap datar namun tangannya sibuk menata piring dengan sangat teliti.
"Wortel yang dipotong dengan bentuk menarik bisa meningkatkan selera makan secara psikologis, itu fakta medis Ibu." ucap pria itu.
Makan malam itu berlangsung jauh lebih santai daripada yang Alisa bayangkan.
Niko memang tidak banyak bicara namun ia terus memastikan piring Alisa tidak pernah kosong dari potongan protein terbaik.
Namun di tengah tawa Arka yang sedang menceritakan teman sekolahnya, suasana mendadak berubah saat sebuah langkah kaki berat terdengar dari arah lorong utama.
Tuan Aris Arkana muncul dengan tongkat berkepala peraknya.
Seluruh meja mendadak sunyi, Arka yang tadi sedang tertawa langsung duduk tegak meniru sikap disiplin yang tampaknya sudah ditanamkan sejak dini di rumah ini.
"Makan malam yang ramai." ucap Tuan Aris dingin sembari menatap Alisa.
"Nona Guru kita bertemu lagi." ucap kakek Aris.
"Selamat malam Tuan Aris." jawab Alisa sesopan mungkin.
Tuan Aris tidak duduk, ia berdiri di ujung meja seolah sedang memantau operasional salah satu bangsal rumah sakitnya.
"Niko, aku baru saja mendapat laporan dari tim hukum, kau mengirim surat peringatan resmi kepada seorang guru olahraga di sekolah keponakanmu? Hanya karena masalah desas-desus?" seru kakek Aris dengan nada tidak menyangka dengan apa yang dilakukan cucunya itu.
Niko meletakkan sendoknya, denting logam yang beradu dengan porselen terdengar sangat tajam di ruangan yang sunyi itu.
"Aku melakukan tindakan preventif terhadap pencemaran nama baik Kakek, itu prosedur standar." jawabnya.
"Prosedur standar kita adalah menjaga jarak dari drama kelas bawah bukan menceburkan diri ke dalamnya." sahut Tuan Aris.
"Nama Arkana tidak seharusnya muncul di dokumen perselisihan antar guru TK, itu memalukan." ucap kakek Aris dengan tegas.
Alisa merasa dadanya sesak, ia merasa seperti sebuah noda yang tidak sengaja terpercik pada kain putih yang mahal.
"Yang memalukan adalah membiarkan fitnah merusak karir orang lain hanya karena ego keluarga." balas Niko, suaranya rendah namun penuh dengan tantangan.
"Alisa adalah tamu di rumah ini Kakek, jika Kakek ingin membahas urusan reputasi maka kita bisa melakukannya di kantormu besok pagi." sahut Niko.
Tuan Aris menyipitkan mata, ia memandang Alisa dengan tatapan yang seolah-olah sedang menghitung nilai valuasi seorang manusia.
"Nona Alisa, kau harus tahu satu hal bahwa di keluarga ini kami tidak hanya hidup untuk diri sendiri, setiap langkah Niko adalah representasi dari ribuan karyawan Medika Utama dan jangan biarkan duniamu yang sederhana membuat langkahnya menjadi goyah." tutur kakek Aris.
Setelah menjatuhkan kalimat yang menyerupai vonis itu, Tuan Aris berbalik dan pergi menuju ruang kerjanya.
Wulan menghela napas panjang dan memegang tangan Alisa yang gemetar di bawah meja.
"Abaikan dia Sayang, ayah memang sudah lama lupa bagaimana caranya menjadi manusia biasa." sahut ibu Wulan yang sudah jengah dengan sikap sang ayah.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...
ayo lanjut lagi