Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keusilan Jadi Cemburu
Balkon Kayu, Vila Puncak, Pukul 19.30
Matahari telah tenggelam di balik barisan gunung, meninggalkan langit berwarna ungu dan jingga tua. Suhu udara turun drastis, menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.
Tapi di balkon lebar vila, kehangatan justru terpancar dari sebuah fire pit besi tempa yang sudah menyala, mengeluarkan nyala api oranye yang menari-nari dan bunyi gemeretak kayu pinus yang khas.
BBQ sore telah berubah menjadi makan malam yang meriah. Mereka duduk melingkar di kursi-kursi santai berlapis kulit sintetis, dengan piring-piring berisi sisa sate, jagung bakar, dan potongan daging.
Suasana sudah sangat cair, dipicu oleh segelas dua wine yang Kirana ijinkan untuk yang mau (Ferdy dan beberapa lainnya memilih teh panas).
Andika mengambil gitar akustik yang tersandar di sudut. "Siapa yang mau nyanyi?" Dia mulai memetik chord sederhana, memainkan intro lagu Sheila On 7 "Seandainya".
Roni langsung menyambut, menyanyikan dengan suara falseto yang sengaja dibuat lucu. Reza dan Bowo ikut bernyanyi dengan semangat, meski sumbang.
Siska ikut bersenandung. Kirana duduk di samping Ferdy, tersenyum menikmati, sesekali ikut menyanyi di bagian refrain dengan suara yang ternyata cukup merdu.
Ferdy duduk dengan santai, menyeruput teh jahe hangat dari cangkir keramik. Dia melihat sekeliling: teman-temannya tertawa, api unggun yang hangat, langit berbintang yang jarang ia lihat di Jakarta, dan Kirana di sebelahnya yang sesekali mencuri pandang padanya. Ini adalah momen kebahagiaan yang sederhana dan nyata.
Tapi matanya juga mencari. Di balik nyala api, di antara bayangan pepohonan pinus yang bergoyang ditiup angin malam, dia bisa merasakan kehadiran lain. Dasima. Dia tahu dia ada di sana, mungkin duduk di pagar balkon, menikmati pemandangan yang sama, merasakan kebahagiaan yang sama—atau mungkin, merasakan sesuatu yang lebih kompleks.
Setelah lagu-lagu nostalgia dan canda, Andika menyerahkan gitarnya pada Bowo yang ternyata jago memainkan fingerstyle. Alunan melodi instrumental yang menenangkan mengisi udara. Percakapan pun berlanjut lebih santai, tentang mimpi, tentang ketakutan setelah lulus, tentang kenangan kuliah.
Kirana bercerita tentang tekanan menjadi anak tunggal di keluarga yang mengharapkannya mengambil alih bisnis.
"Kadang aku pengen kayak kalian," ujarnya, matanya berkilat diterpa api. "Bebas memilih jurusan yang disuka, ngejar passion. Aku diatur dari kecil: sekolah internasional, S1 Ekonomi, S2 Manajemen, magang di perusahaan-perusahaan bonafid. Seni? Itu hanya 'hobi' yang boleh dilakukan di sela-sela."
"Tapi loe sekarang bisa koordinasi project seni kayak gini," timpal Siska.
"Karena aku memberontak sedikit," jawab Kirana sambil tertawa. "Dan bertemu kalian… bertemu Ferdy… membuatku merasa punya alasan untuk memberontak lebih jauh." Pandangannya lagi-lagi tertuju pada Ferdy, yang terdiam, mendengarkan.
---
Pukul 22.45
Malam semakin larut. Angin makin kencang, membawa kabut dingin dari lembah. Reza, Siska, dan Bowo sudah mengantuk dan memutuskan masuk ke dalam. Andika dan Roni ikut, membawa sisa makanan dan gelas.
"Gue bantuin beresin dulu," kata Kirana, mulai mengumpulkan piring.
"Biar gue aja," tawar Ferdy, berdiri.
"Kita berdua aja," ujar Kirana cepat.
Mereka berdua membereskan sisa-sisa BBQ dalam keheningan yang nyaman, hanya ditemani oleh desis api yang mulai redup dan kicauan jangkrik dari kebun teh. Setelah semua rapi, Kirana mematikan lampu-lampu balkon, menyisakan penerangan dari api unggun yang masih menyala dan lampu taman yang samar.
"Duduk sebentar lagi, yuk," ajak Kirana, duduk kembali di kursi. "Udara malamnya enak banget."
Ferdy mengangguk, duduk di kursi sebelahnya, tapi menjaga jarak satu kursi kosong di antara mereka. Mereka menatap api, mendengarkan bunyi alam. Suasana menjadi sangat intim, sangat pribadi.
Inilah yang ditunggu-tunggu Dasima sejak
tadi. Melihat mereka berdua sendirian, dalam suasana romantis seperti ini, membuat energi kecemburuannya—yang ia coba tekan sepanjang hari—mulai bergolak. Dia melayang di atas kebun teh, di balik kabut tipis, mengamati.
Ini terlalu sempurna, pikir Dasima dengan cemas. Api unggun, bintang-bintang, keheningan. Dia akan mengatakan sesuatu.
Dan Raden…
Dasima tidak ingin Kirana maju lebih jauh. Tapi dia juga tidak ingin campur tangan kasar. Lalu, sebuah ide iseng—atau mungkin keputusasaan—muncul di benaknya.
Dia ingat, di sekeliling kebun teh dan hutan pinus tua ini, ada banyak energi alam, dan juga makhluk-makhluk kecil non-fisik lainnya: semacam roh penjaga tempat, atau cukup sebut saja demit lokal.
Dengan konsentrasi, Dasima mengumpulkan sedikit energinya dan mengirimkan "sinyal" gelombang energi yang sangat halus ke sekeliling, mengganggu keseimbangan energi para demit kecil yang biasanya tenang.
Efeknya tidak besar bagi manusia, tapi cukup untuk menciptakan… sensasi aneh.
Tiba-tiba, angin yang bertiup sepoi-sepoi berubah menjadi hembusan dingin yang lebih kencang dan berputar-putar di sekitar area balkon, membuat api unggun bergoyang liar dan nyaris padam.
Daun-daun pinus berdesir keras. Dari kejauhan, di kegelapan kebun teh, terdengar suara seperti ranting patah dan bisikan-bisikan yang sangat samar, seperti banyak suara berdesis.
Kirana yang sedang menikmati keheningan, terkejut. Dia merapatkan jaketnya. "Duh, anginnya tiba-tiba dingin banget ya?"
Ferdy juga merinding. Tapi dia merasakan sesuatu yang lain—ada "tanda tangan" energi Dasima di dalam gangguan ini. Dia hampir tersenyum. Dasima lagi iseng.
Tapi efeknya tidak sesuai harapan Dasima.
Kirana, yang merasa tidak nyaman dengan angin aneh dan suara-suara itu, justru secara reflek bergeser dari kursinya, pindah ke kursi kosong di sebelah Ferdy—kursi yang tadi sengaja dikosongkan Ferdy.
"Aku… agak merinding," ujarnya, suaranya sedikit bergetar. "Tempat ini kan sepi, ya. Kadang ada cerita-cerita…"
Angin kembali bertiup kencang, dan sebuah pot bunga kecil di ujung balkon terjatuh dengan suara "pek!" yang membuat Kirana terlonjak.
"ASTAGA!" teriaknya, dan tanpa berpikir, tangannya meraih lengan Ferdy, mencengkeram erat.
Sentuhan itu nyata, hangat, dan penuh ketergantungan. Kirana mendekatkan tubuhnya, mencari perlindungan.
"Maaf, aku… agak takut sama hal-hal ginian," bisiknya, malu-malu namun tidak melepaskan genggamannya.
Ferdy kaku. Tangannya tertahan, tidak bisa menarik diri tanpa terlihat kasar.
"Tenang, mungkin cuma angin biasa," katanya, mencoba menenangkan, sementara dalam hatinya berkata, Dasima, hentikan! Ini malah jadi bumerang!
Dasima, dari atas pohon pinus, melihat adegan itu dengan kekecewaan yang luar biasa. Usahanya justru mempertemukan mereka! Dia menghentikan gangguannya. Angin langsung mereda. Suara-suara aneh hilang. Api unggun kembali stabil.
Tapi kerusakan sudah terjadi. Kirana masih menggenggam lengan Ferdy, dan dia tidak segera melepaskannya. Malah, dalam keheningan yang kembali, dia menyadari kedekatan mereka. Wajahnya memerah, tapi dia tidak menarik diri.
"Maaf…" ucapnya lagi, kali ini lebih pelan. Matanya menatap Ferdy dalam cahaya api.
"Aku… cuma butuh… sebentar."
Ferdy bisa melihat ketakutan yang tulus di
mata Kirana. Dan dia juga bisa melihat… perasaan lain. Dia perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Kirana. "Sudah tenang kan? Anginnya udah berhenti."
Kirana mengangguk, akhirnya melepaskan genggaman dengan enggan. "Iya. Makasih."
Dia tersenyum kecil. "Kamu… selalu tenang ya, Ferdy. Bahkan di situasi… aneh kayak gini."
"Itu cuma angin," ulang Ferdy, berdiri. "Udah larut. Kita masuk ya, udah dingin."
Kirana mengangguk, berdiri juga. "Oke."
Mereka masuk ke dalam vila yang hangat dan terang, meninggalkan api unggun yang masih bersisa.
---
Kamar Ferdy, Pukul 23.30
Ferdy sudah berganti baju, memakai kaos oblong dan celana training. Dia duduk di tepi tempat tidur, mengecek ponselnya. Lalu, dia mendengar sesuatu—bukan suara, tapi sebuah "desahan" yang kesal di dalam kamarnya.
Dia menoleh. Di sudut kamar, di depan jendela yang masih terbuka tirainya, dia bisa merasakan konsentrasi energi yang gelisah.
"Dasima?" panggilnya pelan.
"Aku di sini," jawab sebuah "suara" di kepalanya, namun kali ini terdengar seperti suara perempuan yang sedang cemberut.
Ferdy tersenyum.
"Tadi itu… lo yang bikin angin dan suara-suara aneh?"
"Iya," jawab Dasima, energinya bergetar kesal.
"Aku cuma ingin… mengganggu suasana. Agar dia tidak terlalu nyaman sendirian denganmu. Tapi malah…"
"Malah dia jadi pegangan tangan gue," sambung Ferdy, tertawa kecil. "Gagal total, ya."
"Jangan tertawa! Ini serius!" "suara" Dasima terdengar seperti merajuk. "Aku melihat dia memegangmu. Dan kau tidak langsung menarik diri!"
"Gue nggak bisa narik tangan kasar-cepet gitu dong, kasian dia kaget," bela Ferdy, masih tersenyum.
"Tapi gue tau itu lo. Dan gue… agak gemes sama lo. Iseng banget."
"Aku cemas," aku Dasima, nadanya turun, menjadi sedih.
"Aku melihat bagaimana dia melihatmu. Dan bagaimana dunia kalian cocok. Api unggun, bintang, tawa teman-teman… semuanya sempurna. Dan aku… apa? Hanya angin dingin yang mengganggu."
Ferdy berdiri, berjalan mendekati sumber perasaan itu di sudut kamar. "Lo bukan angin dingin, Dasima. Lo adalah… alasan gue bisa berdiri di sini dengan tenang. Lo yang bikin gue kuat hadapi sidang, yang nemenin gue pas sepi, yang kasih gue keberanian buat jujur sama Kirana."
Dia berhenti, seolah menatap mata yang tak terlihat. "Gue nggak akan bohong. Malam tadi… ada momen di mana gue ngerasa, 'Iya, Kirana ini cantik, baik, dan semuanya mudah bersamanya.' Tapi setiap kali pikiran itu muncul, yang gue inget adalah wangimu."
"Perasaan tenang yang lo kasih. Dan foto wajahmu yang cantik banget di kamera gue. Itu yang bikin gue nggak goyah."
Keheningan. Lalu, sebuah kehangatan yang lembut menyentuh pipi Ferdy, seperti sebuah usapan.
"Kau baik, Raden. Terlalu baik. Aku… aku cuma takut kehilanganmu. Lagi."
"Lo nggak akan kehilangan gue," janji Ferdy, suaranya tegas. "Apa pun yang terjadi. Gue mungkin nggak ngerti segalanya, tapi gue tau satu hal: ikatan kita nggak bisa diputus sama angin Puncak, atau api unggun, atau… wanita cantik sekalipun."
Kali ini, "suara" yang datang adalah sebuah tawa kecil, ringan, dan bahagia. "Baiklah. Aku percaya. Tapi tolong… jangan biarkan dia memegangmu lagi. Aku… cemburu."
Ferdy terkekeh. "Aku janji akan berusaha. Tapi lo juga janji, jangan lagi bikin kejadian aneh. Serem soalnya."
"Janji."
Malam itu, Ferdy tidur dengan perasaan hangat dan lucu. Dia memiliki seorang "pacar" dari alam lain yang bisa cemburu dan iseng. Dan di balik pintu kamarnya, Dasima berjaga dengan perasaan yang lebih ringan. Gagal rencananya, tapi dia mendapatkan pengakuan dan janji yang ia dambakan. mereka berdua tertawa bersama atas kekonyolan mereka sendiri—satu dalam tawa nyata, satu dalam gelak tawa energi yang hanya bisa