Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Udara pagi hari Jumat terasa lebih segar dari biasanya. Langit biru pucat terbentang luas, dihiasi semburat emas tipis dari sinar matahari yang baru naik. Di depan rumah besar milik Pak Ramlan, aroma makanan hangat menguar ke udara, harum nasi, lauk berkuah, dan rempah yang menggelitik hidung siapa pun yang lewat.
Sejak subuh, mobil katering hilir-mudik mengantarkan puluhan kotak nasi untuk sedekah Jumat. Meja panjang sudah disiapkan di teras depan rumah, lengkap dengan kardus-kardus bertumpuk rapi berisi makanan siap dibagikan.
Kayla berdiri di sisi meja, mengenakan gamis sederhana lengan panjang dan kerudung polos yang menutupi rambutnya. Wajahnya tampak lebih tenang dibanding beberapa minggu lalu, meski ada garis kelelahan tipis di bawah matanya.
Biasanya, hanya Kayla dan Bu Aisyah yang berdiri di depan pagar untuk membagikan makanan kepada warga yang lewat. Para pekerja bangunan, tukang becak, ibu-ibu yang pulang dari pasar, atau anak-anak yang berangkat sekolah.
Namun, hari ini suasananya berbeda. Di samping Kayla, berdiri Ashabi. Pria itu mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, wajahnya terlihat santai tetapi bersih dan rapi. Ia mengambil beberapa kotak nasi, lalu memberikannya satu per satu kepada orang-orang yang lewat sambil tersenyum sopan.
Kayla sempat meliriknya dari samping. Hatinya terasa hangat melihat bagaimana Ashabi berbicara lembut kepada setiap orang, tak peduli siapa mereka.
“Semoga berkah, Pak,” ucap Ashabi kepada seorang tukang becak yang menerima kotak nasi dengan mata berbinar.
“Amin, Nak. Semoga rezekimu dilapangkan,” jawab pria itu penuh haru.
Setelah beberapa saat, Kayla mulai merasa tenggorokannya kering. Tangan dan kakinya pun terasa pegal karena berdiri cukup lama.
Seolah membaca pikirannya, Ashabi tiba-tiba berbalik dan mengambil sebotol air mineral dari meja kecil di samping mereka. “Kamu pasti capek. Nih, minum dulu,” ucapnya sambil mengulurkan botol itu.
Kayla tertegun sejenak. Perhatian kecil itu membuat dadanya bergetar.
“Terima kasih,” balasnya pelan, menerima botol dengan kedua tangan.
Di belakang mereka, Bu Aisyah yang sedang minum hampir tersedak melihat adegan itu. Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan batuk kecil, lalu mengamati putranya dengan tatapan penuh arti.
Dalam hati, Bu Aisyah bergumam, “Abi, sejak kapan kamu selembut ini pada seorang perempuan?”
Bu Aisyah tidak berkata apa-apa, tetapi senyum tipis terbit di bibirnya.
Ashabi kembali berdiri di samping Kayla. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang aneh, bukan canggung, tetapi sarat dengan sesuatu yang tak terucap.
“Aku dengar Fattan dan Fattah akan ulang tahun hari Minggu nanti,” ujar Ashabi tiba-tiba, memecah kesunyian.
Kayla terkejut. Tangannya yang sedang mengatur kotak nasi berhenti di udara.
“E… iya,” jawabnya gugup, sedikit salah tingkah. “Tapi aku tidak pernah cerita ke kamu…”
Ashabi menoleh menatapnya, bibirnya terangkat sedikit. “Aku punya telinga di mana-mana,” katanya setengah bercanda.
Kayla menunduk, pipinya memanas.
“Kira-kira kado apa yang mereka suka?” tanya Ashabi, menatap Kayla lebih dalam dari biasanya.
Tatapan itu membuat jantung Kayla berdetak tak karuan. Dunia seolah menyempit hanya pada dua pasang mata yang saling bertemu. Kayla menelan ludah, lalu menggeleng pelan.
“Jangan kasih kado apa pun sama mereka,” ucapnya lirih. “Sudah banyak yang kamu berikan kepada kami.”
Ashabi terdiam. Senyum di wajahnya memudar sedikit, berganti dengan ekspresi serius. Namun, di dalam kepalanya, roda pikirannya berputar cepat.
Menjelang Siang rumah besar itu mulai kembali tenang setelah pembagian sedekah selesai. Beberapa pekerja katering membereskan sisa-sisa kardus, sementara Kayla membantu merapikan teras.
Di lantai atas, di balkon yang menghadap halaman belakang, Bu Aisyah menemukan Ashabi sedang duduk santai di kursi rotan, memandang pepohonan dengan secangkir teh di tangannya.
Bu Aisyah mengernyit heran. “Bi, kamu enggak kerja?” tanyanya sambil berdiri di ambang pintu balkon.
Ashabi menoleh, lalu tersenyum kecil. “Lagi ingin libur, Bu.”
Bu Aisyah mendekat, duduk di kursi sebelahnya. “Tumben. Biasanya kamu selalu pergi kerja walau sedang sakit.”
Ashabi hanya menyeringai nakal, tetapi matanya tampak menyimpan sesuatu yang berat. Dalam hatinya, ia teringat dua hari terakhir yang membuatnya jengah.
Zahira dan kedua orang tuanya—Pak Yudi dan Bu Marina—datang ke toko onderdilnya. Bukan untuk membeli, tetapi untuk “mengobrol”. Namun, obrolan itu lebih terasa seperti tekanan halus.
Ingatan masa lalu perlahan menyeruak. Zahira adalah cinta pertamanya. Mereka berpacaran sejak SMA hingga kuliah. Dulu, dunia Ashabi terasa sederhana, bengkel kecil, bau oli, tawa teman-teman, dan Zahira yang selalu mendukungnya.
Sampai suatu hari, Zahira pergi ke luar kota tanpa banyak penjelasan. Ketika Ashabi akhirnya menanyakan kejelasan hubungan mereka.
Bu Marina hanya berkata dingin, “Cari perempuan lain saja, Abi. Zahira akan kami jodohkan dengan pria pilihan ayahnya.”
Lebih menyakitkan lagi, Bu Marina pernah berkata terang-terangan, “Anak bengkel mana pantas jadi menantu kami? Kakakmu saja lebih pantas, kerja di perusahaan besar.”
Bahkan Pak Yudi, ayah Zahira, pernah menyebut Ashabi sebagai “anak pelakor”. Julukan itu menempel di telinganya seperti duri. Padahal, Ashabi tidak pernah meminta dilahirkan dalam situasi seperti itu.
Pak Ramlan dan Bu Aisyah sudah lama menikah, tetapi tidak kunjung dikaruniai anak. Demi keturunan, mereka sepakat mencari istri kedua. Maka, Pak Ramlan menikahi Shanum—kerabat jauh yang masih muda.
Namun, tak disangka, justru Bu Aisyah yang hamil lebih dulu. Ia melahirkan Dalfa.
Meski begitu, Pak Ramlan tetap mempertahankan pernikahannya dengan Shanum.
Pasca melahirkan, kondisi Bu Aisyah sempat lemah. Selama itu, Dalfa dirawat oleh Shanum dengan penuh kasih. Bahkan, Shanum membantu mengurus Bu Aisyah hingga pulih.
Lalu Shanum satu tahun kemudian, dia hamil. Namun, saat melahirkan, ia meninggal dunia.
Ashabi lahir, tetapi kehilangan ibu kandungnya sejak hari pertama. Ia kemudian disusui dan dibesarkan oleh Bu Aisyah, yang ia panggil Ibu sepenuh hati.
Baru saat remaja, Ashabi mengetahui kebenaran itu, setelah beberapa kerabat dari pihak Bu Aisyah memanasi Dalfa dan menyebar gosip di keluarga besar.
Sejak saat itu, Ashabi bertekad tidak akan menggunakan satu rupiah pun uang ayahnya untuk membangun hidupnya. Semua usahanya—bengkel, toko onderdil, dan waralaba kuliner—dibangun dari keringatnya sendiri.
Dan satu hal lagi, Ashabi tidak akan lagi menjalin hubungan dengan orang-orang yang pernah merendahkan dan menghina dirinya.
Malam itu, di kontrakan sederhana yang kini terasa hangat dan hidup, Fattan dan Fattah mondar-mandir tak sabar menunggu hari Minggu. Nayla duduk di lantai sambil menggambar, sementara Kayla melipat pakaian di samping mereka.
“Kak, Om Abi akan diajak, enggak?” tanya Fattan tiba-tiba, matanya berbinar.
Kayla menghentikan kegiatannya sejenak. “Om Abi itu orang sibuk. Kita jangan mengganggunya. Kasihan,” jawabnya lembut.
Fattah langsung mengembuskan napas kecewa. “Yaaaah… enggak seru kalau Om Abi enggak ikut.”
Fattan mengangguk setuju. “Padahal aku sudah bayangin kita naik mobil Om Abi, terus main seharian.”
Kayla menatap wajah polos adik-adiknya, hatinya terasa teriris. Diam-diam, ia berdoa dalam hati, “Ya Allah, andai aku bisa memberikan lebih untuk mereka.”
Larut malam. Dalfa berdiri di depan jendela kaca besar kantornya, memandang lampu kota yang berkelap-kelip. Di atas mejanya tergeletak beberapa berkas, tetapi pikirannya tidak di sana.
Di tangannya, ia menggenggam ponsel. Layar menampilkan foto seorang wanita bergaun merah, itu Queen. Mata amber itu menatap balik ke arahnya. Dua pasang mata amber. Hampir identik. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Dalfa menghubungi seseorang. “Cari tahu semuanya tentang Queen,” ucapnya dingin ketika panggilan tersambung. “Latar belakangnya, riwayatnya, siapa saja yang pernah dekat dengannya.”
dan ahh masih bikin bgg
trus duit dr mna dia apa g di lertanyakan sm org tuanya ya
nnti ada wktunya itu klo sudah autornya berkehendak 🙈🙈🙈
kemasa saja ini orang knp baru muncul aja
trus se enak nya ya
ini baru permulaan ya