Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tegak Berdiri di Tengah Badai Fitnah
Pagi itu, Jakarta belum sepenuhnya terbangun ketika sebuah artikel digital meledak di jagat maya. Judulnya yang bombastis—“Skandal CEO: Membeli Putri Sahabat dengan Mahar Nyawa”—terpampang di berbagai portal berita gosip dan menyebar secepat api di atas jerami kering melalui grup-grup percakapan. Artikel itu tidak hanya menyerang Donny dengan tuduhan manipulasi bisnis, tetapi juga memojokkan Arman sebagai ayah yang "menjual" anaknya demi melunasi hutang budi dan biaya pengobatan.
Katya terbangun oleh getaran ponselnya yang tak henti-henti. Ratusan notifikasi masuk ke akun media sosialnya. Hinaan, caci maki, hingga sebutan "gadis materialistis" memenuhi kolom komentarnya. Ia duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya gemetar membaca kalimat-kalimat keji dari orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
"Ya Allah..." bisik Katya, air matanya jatuh mengenai layar ponsel.
Namun, saat ia mendengar suara batuk ayahnya dari ruang tengah, Katya seketika menghapus air matanya. Ia teringat nama yang diberikan Donny: Katyamarsha. Lembut namun kuat. Ia tidak boleh hancur sekarang. Ayahnya baru saja pulih, dan Donny sedang bertempur di luar sana. Jika ia lemah, maka narasi fitnah itu akan menang.
Katya segera bersiap. Ia mengenakan kemeja kerja yang rapi, memoles wajahnya agar tampak segar meski matanya sembab, dan keluar menemui ayahnya.
"Ayah, jangan buka berita hari ini ya," ujar Katya sambil berusaha tersenyum tenang.
Arman menatap putrinya dengan tatapan sedih. Ia memegang ponselnya sendiri. "Terlambat, Ya. Ayah sudah baca. Maafkan Ayah... gara-gara penyakit Ayah, kalian jadi dihina seperti ini."
"Bukan salah Ayah. Ini ulah orang-orang yang tidak suka melihat Om Donny bahagia," Katya menggenggam tangan ayahnya. "Ayah percaya pada Katya dan Om Donny, kan?"
Arman mengangguk mantap. "Sangat percaya."
"Kalau begitu, biarkan Katya yang selesaikan ini. Katya bukan bayi lagi, Yah."
---
Sementara itu, di kantor pusat, suasana mencekam. Donny duduk di ruang rapat besar menghadapi jajaran direksi dan pemegang saham. Sandra, adik iparnya, duduk di ujung meja dengan senyum kemenangan yang tersungging di bibirnya.
"Citra perusahaan sedang dipertaruhkan, Donny," ujar salah satu direktur senior. "Berita ini menyebutkan ada aliran dana pribadi ke keluarga calon istrimu yang menggunakan aset yayasan. Ini bisa dianggap penggelapan."
Donny menatap mereka satu per satu dengan tatapan sedingin es. "Semua dana yang keluar untuk pengobatan sahabat saya berasal dari rekening pribadi saya yang sudah diaudit. Tidak satu rupiah pun milik yayasan yang tersentuh. Saya memiliki buktinya."
"Tapi moralitasnya, Donny!" sela Sandra dengan suara melengking. "Kamu menikahi anak dari orang yang kamu bantu secara finansial. Dunia menyebutnya transaksi, bukan cinta. Kamu memanfaatkan posisi mereka yang lemah!"
Sebelum Donny sempat menjawab, pintu ruang rapat terbuka. Sosok Katya berdiri di sana. Para staf keamanan mencoba menahannya, namun Katya melangkah masuk dengan wibawa yang tak terduga.
Donny berdiri, terkejut. "Katya? Kenapa kamu di sini?"
Katya mengabaikan Donny sejenak dan berjalan menuju tengah meja rapat. Ia meletakkan sebuah map cokelat yang berisi dokumen beasiswa Rian yang telah dibatalkan dan bukti pengembalian sebagian dana yang pernah ia kumpulkan dari tabungan pribadinya.
"Nama saya Katyamarsha," suara Katya menggema di ruangan itu, tenang namun mengandung kekuatan yang membuat semua orang terdiam. "Saya berdiri di sini bukan sebagai asisten junior, tapi sebagai wanita yang dituduh dalam artikel sampah itu."
Katya menatap Sandra dengan tajam. "Jika pernikahan kami dianggap transaksi, maka sayalah pihak yang paling merugi, karena saya menyerahkan seluruh masa muda dan hati saya pada pria ini. Tapi faktanya, tidak ada angka yang bisa membayar cinta Pak Donny kepada ayah saya sebagai sahabat, dan tidak ada mahar yang cukup tinggi untuk membeli kesetiaan saya."
Katya membuka ponselnya, menunjukkan sebuah rekaman suara yang ia ambil secara diam-diam saat Sandra mendatangi butik tempo hari. Di rekaman itu, suara Sandra terdengar jelas mengancam akan merusak reputasi Donny jika tidak diberikan sejumlah uang.
Wajah Sandra mendadak pucat pasi.
"Dewan direksi yang terhormat," lanjut Katya. "Yang kalian lihat di berita adalah fitnah yang disusun oleh rasa iri hati. Yang kalian lihat di hadapan kalian adalah seorang pria yang terlalu baik hingga ia rela dicaci demi melindungi martabat sahabatnya. Jika Pak Donny harus mundur karena berita ini, maka perusahaan ini kehilangan pemimpin terbaiknya hanya karena percaya pada dongeng seorang pendendam."
Donny menatap Katya dengan rasa bangga yang meluap-luap. Ia tidak menyangka gadis yang ia beri nama itu akan memiliki keberanian sebesar ini.
Rapat dibubarkan dengan kepastian bahwa Donny tetap menjabat, dan tim hukum perusahaan akan menuntut portal berita tersebut beserta Sandra atas pencemaran nama baik.
---
Setelah ruangan sepi, Donny menghampiri Katya. Ia memegang kedua bahu Katya, menatapnya dalam-dalam. "Kamu nekat sekali, Katya. Kamu bisa saja dipermalukan lebih jauh."
"Katya nggak peduli, Om. Katya nggak mau Om berjuang sendirian," Katya menyandarkan kepalanya di dada Donny. "Om sudah menjaga Katya selama dua puluh satu tahun. Sekarang giliran Katya yang menjaga Om."
Donny memeluknya erat, mencium puncak kepala Katya. "Terima kasih, Sayang. Kamu benar-benar Marsha... perempuan yang kuat dengan hati yang hangat."
Namun, perjuangan belum berakhir. Sore itu, saat mereka pulang ke rumah Arman, mereka menemukan kerumunan wartawan di depan pagar. Arman tampak berdiri di teras, menghadapi mereka dengan tenang.
"Ayah!" Katya berlari turun dari mobil Donny.
Arman mengangkat tangannya, memberi kode agar Katya tetap tenang. Arman menatap kamera-kamera yang menyorotnya.
"Saudara-saudara sekalian," suara Arman terdengar berwibawa. "Saya adalah Arman, ayah dari Katya dan sahabat dari Donny. Saya ingin mengatakan satu hal: Saya tidak menjual anak saya. Saya menyerahkan anak saya kepada pria yang paling saya percayai di dunia ini. Pria yang sudah mencintai anak saya bahkan sebelum anak saya bisa bicara. Jika dunia menyebut ini skandal, maka saya menyebutnya keajaiban. Dan saya, sebagai ayahnya, memberikan restu lahir dan batin."
Pernyataan Arman yang tulus dan berani itu seketika mendinginkan suasana. Para wartawan terdiam. Narasi "penjualan anak" itu runtuh seketika oleh ketegasan seorang ayah.
---
Malam harinya, di bawah langit Jakarta yang mulai tenang setelah badai, Donny dan Katya duduk di taman belakang rumah Arman. Persiapan pernikahan kembali dilanjutkan, kali ini dengan dukungan publik yang berbalik arah karena terharu oleh pembelaan Katya dan restu Arman.
"Seminggu lagi, Katya," bisik Donny sambil menggenggam tangan Katya.
"Iya, Om. Seminggu lagi nama Katyamarsha akan berganti."
"Tidak akan berganti sepenuhnya," Donny mengecup jemari Katya. "Kamu akan tetap menjadi Katyamarsha saya. Hanya saja, mulai seminggu lagi, saya memiliki hak resmi untuk memelukmu setiap kali kamu merasa dunia terlalu berisik."
Katya tersenyum, menyandarkan wajahnya di bahu tegap Donny. "Om, setelah menikah nanti... apakah Om tetap akan memanggilku dengan sebutan 'Om'?"
Donny terkekeh pelan. "Mungkin butuh waktu untuk membiasakan diri memanggilmu 'Istriku'. Tapi percayalah, di dalam hati saya, kamu sudah menjadi ratu sejak lama."