Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Sore itu, setelah menitipkan motor pada sahabatnya, Kaisar dan Shelina akhirnya masuk ke dalam mobil.
Mesin dinyalakan, suasana di dalam kabin terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.
Perjalanan menuju Yayasan Kampus Pratama memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Gedung yayasan memang berada cukup jauh dari area kampus utama, terletak di kawasan perkantoran elit di pinggir kota.
Sepanjang perjalanan, Shelina duduk di kursi penumpang dengan tangan saling menggenggam di atas pangkuannya. Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya jelas tidak setenang wajahnya.
Kaisar melirik sekilas.
“Kamu tegang,” katanya pelan.
Shelina tersenyum tipis, tapi itu lebih mirip usaha menenangkan diri. “Wajar, kan?”
“Kamu biasanya lebih berani dari ini.”
“Biasanya aku tidak sedang menunggu keputusan yayasan tentang pernikahanku.”
Kaisar terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. Namun, ia tahu, beban di kepala Shelina jauh lebih berat daripada yang ia tunjukkan. Lampu lalu lintas menyala merah, mobil berhenti.
Shelina menghembuskan napas panjang. “Kalau mereka benar-benar memintaku mundur…”
Kaisar memotong lembut. “Jangan mulai lagi.”
Ia memegang kemudi dengan satu tangan, tangan lainnya bergerak pelan menyentuh jemari Shelina singkat, hangat, memberi kekuatan.
“Aku sudah kirim pesan ke Mommy.”
Shelina menoleh cepat. “Mommy Kinara?”
Kaisar mengangguk.
“Iya, aku jelaskan semuanya.”
Shelina terdiam beberapa detik. Ia tahu siapa Kinara. Bukan hanya ibu Kaisar tapi perempuan yang punya pengaruh besar di banyak tempat dan juga orang yang menikahkan mereka waktu itu.
“Kamu yakin beliau akan membantu?” tanya Shelina hati-hati.
Kaisar menatap jalan lagi ketika lampu berubah hijau.
“Aku yakin.”
Nada suaranya bukan sekadar optimis.
“Mommy selalu bilang, kalau kita melakukan sesuatu dengan tanggung jawab, jangan pernah takut berdiri membelanya.”
Shelina menelan ludah. “Tapi ini menyangkut nama yayasan.”
Kaisar tersenyum tipis. “Justru itu.”
Shelina mengernyit halus, tapi Kaisar tidak menjelaskan lebih jauh.
Mobil melaju memasuki kawasan perkantoran yang lebih tenang dan eksklusif. Gedung-gedung tinggi berdiri rapi dengan taman terawat di sekelilingnya.
Semakin dekat tujuan, semakin terasa ketegangan di dada. Shelina kembali terdiam, dia mencoba mengatur napasnya.
Kaisar melirik lagi.
“Hei,” panggilnya lembut.
Shelina menoleh.
“Apa pun yang terjadi di dalam sana, kamu tidak sendirian.”
Tatapan Kaisar mantap. Shelina menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu perlahan mengangguk.
“Baik.”
Beberapa menit kemudian, mobil memasuki halaman gedung Yayasan Kampus Pratama. Bangunannya megah, jauh lebih formal dibanding gedung kampus. Kaca-kaca tinggi memantulkan cahaya senja yang mulai redup.
Kaisar mematikan mesin. Shelina menarik napas panjang.
“Kita hadapi.”
Kaisar tersenyum tipis. “Kita hadapi.”
Shelina menatap bangunan tinggi itu dengan jantung berdegup lebih cepat dari biasanya. Selama ia mengajar di Kampus Pratama, ia belum pernah sekalipun bertemu langsung dengan pemilik yayasan. Ia hanya berurusan dengan dekan, wakil dekan, atau bagian administrasi.
Hanya mereka yang bermasalah yang dipanggil langsung ke sini.
“Itu sebabnya tempat ini terasa seperti ruang sidang,” gumamnya pelan.
“Kamu tidak sedang diadili,” katanya lembut.
Shelina tersenyum tipis. “Semoga saja.”
Kaisar keluar lebih dulu, lalu membukakan pintu untuknya. Begitu Shelina turun, langkahnya sedikit tertahan. Nafasnya terasa lebih pendek.
Tanpa banyak kata, Kaisar menggenggam tangannya. Genggaman itu bukan sekadar sentuhan tetapi itu penenang.
“Bersama,” ucap Kaisar pelan.
Shelina mengangguk.
Mereka melangkah masuk ke lobi gedung yayasan. Interiornya elegan dan tenang. Lantai marmer mengilap, lampu gantung modern, aroma ruangan yang bersih dan profesional.
Di meja resepsionis, dua staf menyambut dengan senyum ramah.
“Selamat sore. Ada yang bisa kami bantu?”
“Kami ada janji bertemu dengan pemilik Yayasan Pratama pukul empat,” jawab Kaisar dengan suara mantap.
Salah satu staf mengecek daftar tamu, lalu tersenyum sopan. “Sudah terjadwal. Silakan menunggu sebentar.”
Shelina merasa heran. Tidak ada tatapan curiga, tidak ada suasana menghakimi. Beberapa saat kemudian, seorang pria berjas rapi mendekat.
“Silakan ikut saya.”
Kaisar mengangguk. Ia kembali menggenggam tangan Shelina, kali ini lebih singkat sebelum mereka berjalan mengikuti pria itu menuju lift khusus.
Lift bergerak naik.
Lantai demi lantai terlewati dalam keheningan. Shelina bisa merasakan detak jantungnya sendiri. Tangannya sedikit dingin.
Kaisar berdiri di sampingnya, tegak dan tenang. Sesekali ia melirik, memastikan Shelina baik-baik saja.
Pintu lift terbuka di lantai paling atas.
Koridor di lantai itu lebih sunyi. Karpet tebal meredam suara langkah mereka. Di ujung lorong, sebuah pintu besar dengan papan nama elegan terpasang.
Pria berjas itu berhenti di depan pintu tersebut.
Ia mengetuk pelan, lalu membuka sedikit.
“Bu, mereka sudah datang.”
Suara dari dalam terdengar tegas namun berwibawa.
“Persilakan masuk.” Shelina menelan ludah.
Pintu ruangan itu terbuka perlahan.
Ruangan luas dengan jendela kaca tinggi memperlihatkan langit senja yang mulai menggelap. Interiornya elegan namun tidak berlebihan dan rak buku besar di sisi kanan, meja kerja kayu solid di tengah, dan satu lukisan abstrak yang mendominasi dinding belakang.
Karyawan yang mengantar mereka melangkah masuk lebih dulu.
“Bu, ada dua orang yang ingin bertemu dengan Anda.”
Wanita yang berdiri membelakangi pintu itu perlahan berbalik.
Ia mengenakan blazer krem dengan rambut tersanggul rapi. Wajahnya tegas, berwibawa, sosok yang jelas terbiasa memimpin.
Namun, saat matanya jatuh pada Kaisar dan Shelina ekspresinya berubah, sedikit terkejut. Hanya sepersekian detik, lalu senyum lembut terukir di wajahnya.
“Silakan duduk,” ucapnya tenang.
Kaisar dan Shelina duduk berdampingan. Suasana ruangan terasa berbeda dari yang Shelina bayangkan. Wanita itu kembali ke kursinya, menyatukan jemari di atas meja.
“Apa tujuan kalian datang kemari?”
Nada suaranya profesional. Shelina dan Kaisar saling pandang sejenak.
Shelina hendak membuka suara namun Kaisar lebih dulu menoleh ke arah papan nama di meja itu.
Tulisan di sana jelas terukir, Amira Pratama Ketua Yayasan Seketika ekspresi Kaisar berubah lebih hangat. Ia berdiri sedikit dari duduknya dan tersenyum sopan.
“Mohon maaf, Bu Amira, kami telah mengganggu waktu kerja Anda.”
Nama itu meluncur begitu alami dari bibirnya. Wanita itu, Amira Pratama dan menatap Kaisar lebih lama. Ada sesuatu dalam tatapan itu. Bukan sekadar tatapan antara pemilik yayasan dan mahasiswa.
Ia tersenyum lembut.
“Tidak apa-apa,” jawabnya pelan. Lalu matanya beralih pada Shelina.
“Kamu pasti Miss Shelina.”
Shelina sedikit terkejut. “Iya, Bu.”
Amira mengangguk perlahan. Tatapannya meneliti, namun bukan dengan niat menjatuhkan.
“Saya sudah mendengar kabar yang beredar sejak pagi.”
Ruangan mendadak terasa lebih hening.
Shelina merasakan jantungnya kembali berdetak lebih cepat.
“Kampus punya aturan,” lanjut Amira tenang. “Dan aturan itu dibuat untuk menjaga profesionalitas.”
Kaisar menarik napas dalam, siap berbicara. Namun, sebelum ia sempat menjelaskan Amira menatapnya dengan sudut senyum tipis.
“Kaisar.” Suaranya berubah sedikit lebih personal.
“Kamu tidak memberi tahu sebelumnya kalau akan datang.”
Shelina langsung menoleh pada Kaisar.
Kaisar tersenyum kecil.
“Saya ingin datang sebagai mahasiswa, Bu. Bukan sebagai…”
Ia berhenti sejenak.
Amira melanjutkan kalimatnya.
“Sebagai anak dari sahabat lama saya?”
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.