NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Bayangan di Balik Kuku

Adrian ngerasa jantungnya kayak mau copot. Bintik-bintik item yang tadi dia liat di dalem botol tanah itu ternyata bukan halusinasi gara-gara dia kebanyakan dapet transfer data.

Benda itu nyata. Bentuknya kecil-kecil, lebih halus dari pasir, tapi gerakannya lincah banget kayak punya kaki seribu. Pas bintik itu nyentuh kulit punggung tangannya, rasanya bukan gatal atau perih, tapi dingin yang nusuk sampai ke tulang, seolah-olah ada es batu kecil yang lagi jalan di bawah kulitnya.

"Adrian? Lu kenapa? Muka lu kok pucat banget gitu?" Sekar nanya sambil megang pundak Adrian. Dia baru aja mau ngambilin segelas air anget buat Adrian yang badannya masih kelihatan gemeteran.

Adrian mau jawab, tapi tenggorokannya mendadak kaku. Dia ngelihat ke arah tangannya lagi. Bintik-bintik hitam itu pelan-pelan mulai nyelip di balik sela-sela kukunya, terus menghilang masuk ke dalem daging.

Cahaya perak yang biasanya berpendar dari nadinya sekarang mendadak redup, ganti jadi warna abu-abu gelap yang suram. "Gua... gua nggak apa-apa, Kar. Cuma kedinginan aja," bohong Adrian.

Dia buru-buru nutupin tangannya pake handuk anget yang dikasih Sekar tadi. Dia nggak mau Sekar panik. Dia nggak mau semua orang di kapal selam ini tahu kalau dia mungkin baru aja ngebawa "penumpang gelap" yang nggak diundang.

Kapal selam kelompok 'Akar' itu terus melaju tenang di kedalaman laut. Ruangannya jauh lebih manusiawi daripada 'The Hive' milik Aris. Di sini banyak tanaman asli yang ditaruh di dalem akuarium oksigen, baunya juga harum bunga melati sama tanah basah,

bukan bau logam angus. Tapi buat Adrian, kenyamanan itu kerasa palsu. Suara berat dari kedalaman laut tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya: Tanah itu adalah penjara buat 'Dia'.

Seorang pria tua dengan rambut putih yang dikuncir rapi jalan mendekati mereka. Dia pake seragam hijau tua dengan logo akar melingkar di dadanya. Wajahnya ramah, tapi matanya punya kedalaman yang sama kayak laut di luar sana.

"Selamat datang, Tuan Muda Adrian. Saya Jatmiko, koordinator operasional kelompok 'Akar' wilayah Nusantara," ucap pria itu sambil nunduk hormat. "Kami sudah lama menunggu momen ini. Momen di mana pewaris Malabar akhirnya memilih jalan yang benar."

Adrian nyoba buat senyum sopan. "Makasih, Pak Jatmiko. Tapi kayaknya sebutan Tuan Muda udah nggak pantes lagi buat gua. Gua cuma orang yang baru aja kehilangan rumah... lagi."

Jatmiko ketawa kecil, suaranya renyah kayak bapak-bapak di desa. "Rumah itu bukan cuma soal bangunan di puncak gunung, Nak. Rumah itu ada di mana akar kita berpijak. Dan apa yang kamu bawa di botol itu... itu adalah rumah yang sesungguhnya."

Adrian ngelirik botol kaca yang sekarang tergeletak di meja di depannya. Botol itu kelihatan kosong sekarang, cuma ada sisa-sisa tanah yang nempel di dinding kacanya. "Pak Jatmiko, sebenernya tanah ini apa sih? Ibu gua bilang ini kunci buat dunia baru. Tapi barusan... gua denger suara aneh yang bilang kalau ini penjara."

Muka Jatmiko mendadak berubah serius. Dia ngasih isyarat ke asistennya buat ninggalin mereka bertiga dia, Adrian, dan Sekar di ruangan privasi itu. Dia duduk di depan Adrian, tangannya yang udah keriput tapi kuat itu ditaruh di atas meja.

"Dengerin saya baik-baik, Adrian. Malabar itu punya sejarah yang lebih tua dari perusahaan bokap kamu. Beratus-ratus tahun lalu, leluhur kita nemuin kalau tanah di sana punya 'kesadaran'. Bukan cuma sekadar benda mati, tapi punya energi yang bisa nyembuhin atau ngerusak. Orang-orang dulu nyebutnya 'Napas Bumi'," Jatmiko mulai bercerita dengan nada suara yang rendah.

"Bokap kamu, dengan segala kecanggihannya, nyoba buat digitalisasi energi itu. Dia pengen bikin energi itu jadi kode angka biar bisa dikontrol. Tapi dia lupa satu hal energi alam itu nggak bisa dikurung tanpa ada penyeimbangnya. Itulah gunanya tanah di botol itu. Tanah itu mengandung antimatter biologis, sesuatu yang bisa ngeredam kegilaan sistem perak itu."

Sekar ngerutin dahi. "Terus suara yang didenger Adrian tadi? Soal 'Dia' yang dikurung di dalem botol?" Jatmiko narik napas panjang. "Itu adalah risiko terbesar kita. Napas Bumi itu punya dua sisi. Sisi yang terang... dan sisi yang gelap.

Sisi gelapnya adalah keinginan alam buat ngambil balik semua yang udah diambil manusia. Kita nyebutnya 'Sang Pemangsa'. Dia adalah parasit organik yang nunggu momen buat keluar. Selama ini dia tidur di dalem tanah Malabar, ditenangkan sama ritual dan cara-cara lama. Tapi begitu bokap kamu ngebangun menara giok itu, Sang Pemangsa mulai bangun karena dia ngerasa ada energi yang sangat besar buat dimakan."

Adrian ngerasa bulu kuduknya berdiri. Dia ngerasain bintik hitam di balik kukunya mulai gerak lagi, kali ini lebih dalem, menjalar ke arah urat nadinya. "Kalau... kalau Sang Pemangsa itu keluar, apa yang bakal terjadi, Pak?" "Dia bakal nyari 'Inang'," jawab Jatmiko pendek.

"Dia bakal masuk ke sistem saraf yang paling kuat, yang paling terkoneksi sama jaringan global, buat nyebarin kegelapan itu ke seluruh dunia. Dan saat ini, nggak ada saraf yang lebih kuat daripada saraf kamu, Adrian."

Adrian diem seribu bahasa. Dia ngerasa pengen muntah. Ternyata dia bukan cuma bawa penyelamat, dia bawa kehancuran di dalem badannya sendiri. Dia ngelihat ke arah Sekar yang matanya penuh kekhawatiran.

"Gua harus keluar dari sini, Pak. Gua harus diasingkan sebelum benda ini nguasain gua," bisik Adrian. "Nggak segampang itu, Nak," Jatmiko ngegeleng. "Kalau kamu keluar sekarang, Aris atau pihak-pihak lain yang haus kekuatan bakal nangkep kamu.

Kamu itu sekarang adalah 'Cawan Suci' buat mereka. Kamu harus belajar cara naklukin Sang Pemangsa itu dari dalem. Kamu harus jadi tuan atas kegelapan itu, bukan jadi budaknya."

Tiba-tiba, kapal selam itu keguncang hebat. Lampu-lampu di ruangan mendadak kedap-kedip, terus berubah warna jadi merah. Suara sirine darurat bunyi melengking.

"Ada apa? Apa Aris nyerang lagi?" teriak Sekar sambil megangin kursi.

Seorang kru lari masuk ke ruangan. "Pak Jatmiko! Sistem navigasi kita error! Ada gangguan magnetik yang sangat kuat dari arah permukaan.

Radar kita nunjukin... ada sebuah pulau yang mendadak muncul di tengah samudera, tepat di jalur kita!" "Pulau? Nggak ada pulau di koordinat ini!" Jatmiko langsung berdiri dan lari ke ruang kendali, diikuti Adrian dan Sekar.

Di layar radar raksasa, Adrian ngelihat pemandangan yang nggak masuk akal. Sebuah daratan luas, bentuknya melingkar sempurna, muncul begitu aja dari dasar laut. Tapi yang bikin aneh, daratan itu nggak terbuat dari tanah atau batu karang. Dari pantulan sonar, daratan itu kelihatan kayak terbuat dari... akar pohon teh raksasa yang saling melilit.

"Malabar Kedua..." gumam Adrian. Dia ngerasain bintik hitam di tangannya bereaksi. Tangannya mulai gemeteran hebat, dan cahaya abu-abu di nadinya mulai berdenyut ngikutin detak jantung pulau misterius itu.

"Adrian, liat mata gua!" Sekar narik wajah Adrian, nyoba buat bikin dia tetep fokus. "Jangan biarin suara itu masuk lagi! Lawan, Adrian!"

Tapi Adrian udah nggak bisa denger suara Sekar lagi. Di kepalanya, dia denger ribuan bisikan yang manggil-manggil namanya. Bisikan itu bukan suara manusia, tapi suara gesekan daun, suara akar yang nembus tanah, dan suara air yang mengalir.

"Selamat pulang, Tuan Muda... singgasana yang asli sudah menunggu,"bisik suara-suara itu.

Kapal selam mereka seolah-olah ditarik oleh arus yang sangat kuat menuju ke tengah pulau akar itu. Mesin kapal selam menderu kenceng, tapi nggak ada gunanya. Mereka keseret kayak mainan di dalem bak mandi.

Tiba-tiba, dinding kapal selam mulai ditumbuhi lumut-lumut hitam yang tumbuh sangat cepat. Lumut itu ngerambat dari celah-celah ventilasi, ngerusak kabel-kabel listrik, dan mulai memenuhi ruangan. Para kru mulai panik, mereka nyoba ngebersihin lumut itu pake alat pemotong, tapi makin dipotong, lumutnya makin banyak.

"Ini Sang Pemangsa! Dia udah mulai bermanifestasi karena deket sama sumbernya!" teriak Jatmiko. Adrian jatuh berlutut. Dia ngerasa badannya panas banget, kayak ada api yang ngalir di pembuluh darahnya. Dia ngelihat ke arah tangannya. Bintik-bintik hitam itu sekarang udah berubah jadi urat-urat hitam yang menjalar sampai ke lehernya.

"Kar... lari... tinggalin gua..." rintih Adrian.

"Gak! Gua nggak bakal ninggalin lu lagi!" Sekar meluk Adrian kenceng-kenceng, nggak peduli kalau urat hitam itu mulai nyentuh kulitnya juga. "Kita hadapin ini bareng-bareng!"

Tiba-tiba, kapal selam itu berhenti bergerak. Suasana mendadak sunyi senyap. Cahaya lampu merah di kapal padam total, diganti sama cahaya hijau neon yang keluar dari lumut-lumut di dinding.

Pintu palka kapal selam terbuka sendiri dengan suara berderit yang menyeramkan. Di luar sana, mereka nggak lagi di bawah air. Kapal selam itu entah gimana caranya udah ada di daratan, di tengah hutan akar yang gelap.

Udara di luar baunya sangat harum, jauh lebih harum dari Malabar yang lama. Tapi itu adalah keharuman yang bikin pusing, keharuman yang bikin orang pengen tidur selamanya.

Sesosok bayangan jalan pelan dari arah hutan akar menuju ke arah pintu palka. Bayangan itu tinggi, kurus, dan jalannya kaku. Pas bayangan itu kena cahaya hijau neon dari dalem kapal, Adrian dan Sekar terkesiap.

Itu adalah Aris. Tapi Aris yang ini udah nggak pake jas rapi lagi. Setengah badannya udah ketutup sama akar-akar kecil yang tumbuh dari dagingnya. Matanya nggak ada pupilnya, cuma ada lubang hitam yang dalem.

"Adrian..." suara Aris terdengar kayak suara gesekan kayu tua. "Terima kasih sudah membawakan kuncinya. Tanpa darahmu, Sang Pemangsa nggak bisa bangun sepenuhnya."

Aris ngangkat tangannya, dan tiba-tiba akar-akar di sekitar palka gerak cepat, nangkep kaki Sekar dan Jatmiko, terus narik mereka keluar dari kapal. "SEKAR!" teriak Adrian. Dia nyoba buat bangun, tapi badannya terkunci.

"Jangan khawatir, Adrian," ucap Aris sambil masuk ke dalem kapal, mendekati Adrian yang nggak berdaya. "Mereka cuma bakal jadi pupuk buat dunia baru kita. Sekarang, kasih tahu gua... di mana kau sembunyikan memori ibumu yang terakhir? Karena tanah ini butuh 'jiwa' buat bisa tumbuh sempurna."

Adrian nyoba buat fokus ke energi peraknya, tapi yang keluar malah energi hitam yang pekat. Dia ngerasa jiwanya mulai ketarik keluar, keganti sama kegelapan yang dibawa Sang Pemangsa.

Pas Aris udah tinggal beberapa senti dari wajah Adrian, tiba-tiba botol tanah yang ada di meja meledak. Pecahan kacanya terbang ke mana-mana, tapi bukannya jatuh ke lantai, pecahan itu melayang di udara, ngebentuk sebuah pola yang rumit.

Dari tengah pecahan itu, muncul proyeksi hologram yang beda lagi. Bukan ibunya, bukan bokapnya. Tapi sosok anak kecil yang wajahnya mirip banget sama Adrian pas masih umur lima tahun.

Anak kecil itu nggak ngomong apa-apa. Dia cuma nunjuk ke arah dada Adrian, terus nunjuk ke arah hutan akar di luar sana. Seketika, seluruh pulau itu bergetar hebat. Suara raungan yang sangat keras terdengar dari bawah tanah, suara raungan yang bikin Aris langsung jatuh tersungkur sambil megangin kepalanya yang kesakitan.

Adrian ngerasa ada kekuatan baru yang masuk ke badannya, kekuatan yang bukan perak dan bukan hitam. Kekuatan itu warnanya cokelat tua, hangat, dan sangat padat.

"Ini... ini bukan Malabar..." gumam Adrian, matanya sekarang bersinar dengan warna tanah yang kuat. "Ini adalah kuburan yang lu bangun sendiri, Ris." Adrian berdiri, ngelepasin semua akar yang ngiket dia cuma dengan sekali hentakan napas. Dia jalan keluar dari kapal selam, menuju ke arah hutan akar yang gelap, ninggalin Aris yang masih merangkak kesakitan.

Tapi begitu dia nyampe di luar, dia liat pemandangan yang lebih gila lagi. Di tengah pulau itu, ada sebuah pohon teh yang ukurannya sebesar gedung pencakar langit. Dan di dahan-dahannya, ribuan orang warga desa Malabar, termasuk Wak Haji, lagi tergantung dalam kondisi tertidur, dengan akar-akar kecil yang masuk ke mulut mereka.

Dan yang paling bikin Adrian membeku adalah di puncak pohon itu, ada sebuah peti mati kaca yang isinya adalah... dirinya sendiri. Versi Adrian yang asli, yang selama ini dia pikir adalah raga yang dia pake sekarang.

Siapakah sosok Adrian yang ada di dalam peti mati kaca itu? Jika yang ada di sana adalah raga asli Adrian, lalu siapakah sosok Adrian yang baru saja keluar dari kapal selam?

Apakah selama ini Adrian hanyalah sebuah kesadaran yang dipindahkan ke dalam wadah buatan, ataukah ini adalah trik dari Sang Pemangsa untuk menyesatkan jiwanya?

Sementara itu, dengan Aris yang mulai berubah menjadi monster akar dan Sekar yang terancam menjadi pupuk bagi pohon raksasa tersebut, rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan oleh kelompok 'Akar' tentang jati diri Adrian yang sesungguhnya?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!