NovelToon NovelToon
Satu Derajat Celcius

Satu Derajat Celcius

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Diam-Diam Cinta / Fantasi Wanita / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kantin

Markas besar Zayden yang biasanya berantakan kini berubah fungsi menjadi bengkel sastra dadakan. Di atas meja kayu yang penuh bekas sundulan rokok, berserakan buku-buku puisi mulai dari Sapardi Djoko Damono hingga buku kumpulan pantun diskonan pasar malam.

​"Oke, dengerin," Zayden berdiri di atas kursi, memegang kertas dengan gaya orator. "Menurut riset gue, Amy itu suka hal-hal yang berkelas. Dia itu Satu Derajat Celcius. Dingin, tapi kalau gue kasih panas yang pas, dia bakal jadi cair."

​Dio, yang sedang mengunyah gorengan, menyela, "Bos, kalau es mencair jadi air, ntar malah banjir. Lo mau jadi tim SAR-nya?"

​"Bukan itu konsepnya, Dodol!" Zayden menjitak kepala Dio. "Maksud gue, gue harus jadi matahari buat dia."

​"Matahari Jakarta mah bikin emosi, Bos. Mending Bos jadi AC aja, biar adem," timpal Hendi polos.

​Zayden mengabaikan mereka. Ia merapikan seragamnya yang sengaja tidak dimasukkan identitas bad boy-nya tidak boleh hilang sepenuhnya. "Gara, lo pantau Amy di kantin. Begitu dia duduk, gue masuk. Bima, lo tugasnya mainin gitar dari jauh. Harus lagu yang melankolis, jangan lagu koplo!"

​Kantin sekolah sedang ramai saat Amy duduk menyendiri di pojok dengan segelas teh tawar dingin, cocok dengan kepribadiannya. Tiba-tiba, suasana kantin berubah. Bima muncul di balik pohon beringin dekat kantin, memetik gitar akustik dengan nada yang agak meleset sedikit.

​Zayden berjalan perlahan, membawa sebuah mangkuk bakso. Ia duduk di depan Amy tanpa permintaan izin.

​"Amy," panggil Zayden dengan suara yang dibuat seberat mungkin.

​Amy bahkan tidak mendongak dari buku catatannya. "Zayden. Kamu lagi latihan jadi pelayan kantin?"

​Zayden menarik napas panjang, mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya. "Aku baru sadar, Amy. Kamu itu seperti suhu satu derajat celcius. Dingin mu membuatku menggigil, tapi keberadaan mu mencegah hatiku membusuk."

​Amy berhenti menulis. Ia menatap Zayden datar. "Kamu tahu apa yang terjadi kalau air tetap berada di suhu satu derajat?"

​"Apa? Jadi rindu?" tebak Zayden pede.

​"Nggak. Itu suhu yang nanggung. Mau jadi es nggak bisa, mau jadi air biasa juga nggak bener. Sama kayak kamu. Mau jadi anak nakal tapi puitis, mau jadi anak pinter tapi tawuran. Nanggung."

​Zayden terdiam. Skakmat.

​Tiba-tiba, Dio dan Hendi muncul dari balik meja sebelah dengan membawa kipas angin portable dan mengarahkannya ke rambut Zayden agar terlihat seperti efek tiupan angin di film-film romantis.

​"Bos, ayo keluarin jurus terakhir!" bisik Gara menyemangati.

​Zayden berdehem, ia menatap mata Amy dalam-dalam. "Kalau gitu, bantu aku biar nggak nanggung, Amy. Ajari aku caranya jadi nol derajat supaya aku bisa membeku bersamamu, atau ajari aku jadi seratus derajat supaya aku bisa menguap dan selalu ada di udara yang kamu hirup."

​Kantin mendadak hening. Semua siswa menahan napas. Bahkan Bima berhenti memetik gitarnya.

​Amy menatap Zayden selama lima detik, lalu ia menggeser mangkuk bakso Zayden ke samping. "Bakso kamu kemasukan lalat, Zayden. Mending kamu urusin lalat itu daripada urusin suhu udara."

​Amy berdiri, membereskan bukunya, dan berjalan pergi. Namun, tepat sebelum ia benar-benar menjauh, ia menoleh sedikit. "Dan satu lagi... puisi kamu tadi sedikit lebih baik dari yang kemarin. Sedikit."

​Amy menghilang di balik pintu kantin.

Zayden terpaku, tangannya memegang dada kiri.

​"Dia bilang... lebih baik?" Zayden menoleh ke gengnya dengan wajah berseri-seri. "WOI! DIA BILANG PUISI GUE LEBIH BAIK!"

​"WADUH! LANJUTKAN BOS! DIKIT LAGI JADI DUTA PUISI SEKOLAH!" seru Dio kegirangan.

​Zayden kembali duduk, meraih bakso yang sudah ada lalatnya itu dengan senyum lebar. "Lalat ini... lalat ini saksi bisu kemajuan cinta gue."

​"BOS, JANGAN DIMAKAN JUGA BAKSONYA!" teriak Bima panik.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷,

Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

1
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!