NovelToon NovelToon
Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Lima tahun lalu, malam hujan hampir merenggut nyawa Kapten Shaka Wirantara.
Seorang wanita misterius berhelm hitam menyelamatkannya, lalu menghilang tanpa jejak. Sejak malam itu, Shaka tak pernah berhenti mencari sosok tanpa nama yang ia sebut penjaga takdirnya.

Sebulan kemudian, Shaka dijodohkan dengan Amara, wanita yang ternyata adalah penyelamatnya malam itu. Namun Amara menyembunyikan identitasnya, tak ingin Shaka menikah karena rasa balas budi.
Lima tahun pernikahan mereka berjalan dingin dan penuh jarak.

Ketika cinta mulai tumbuh perlahan, kehadiran Karina, gadis adopsi keluarga wirantara, yang mirip dengan sosok penyelamat di masa lalu, kembali mengguncang perasaan Shaka.
Dan Amara pun sadar, cinta yang dipertahankannya mungkin tak pernah benar-benar ada.

“Mas Kapten,” ucap Amara pelan.
“Ayo kita bercerai.”

Akankah, Shaka dan Amara bercerai? atau Shaka memilih Amara untuk mempertahankan pernikahannya, di mana cinta mungkin mulai tumbuh.

Yuk, simak kisah ini di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Kamu tak pernah mau berada dipihakku kan, Mas?

Sore itu, suasana di kediaman Wirantara terasa hening, hanya suara mesin mobil hitam yang berhenti di depan gerbang utama memecah keheningan. Dari dalam mobil, tubuh Karina terlihat diseret keluar. Bajunya kusut, wajahnya pucat dengan luka kecil di pipi dan goresan di pelipis.

“Karina!”

Merlin langsung berlari dari teras begitu melihat putri angkatnya. Ia menubruk Karina dengan tangis pecah, memeluk gadis itu seolah takut kehilangan lagi.

“Maaf, Mama … maaf…” isak Karina dengan suara bergetar. “Aku takut sekali … Aku janji tidak akan menganggu mbak Amara lagi,”

Shaka berdiri tak jauh dari sana, dadanya naik turun menahan emosi. Ia baru saja menyetujui tuntutan para penculik, membuka satu jalur kargo udara Wirantara Air, hanya untuk memastikan adiknya dipulangkan dalam keadaan hidup. Dan kini, meski Karina telah kembali, amarah dan rasa bersalah justru menumpuk dalam dirinya.

Haris yang berdiri di samping Shaka menunduk, tahu betul keputusan itu berisiko besar. Tapi bagi Shaka, keselamatan Karina adalah satu-satunya hal yang berarti sore itu. Setelah kondisi sedikit tenang, Karina dibawa masuk ke ruang tamu. Merlin masih menggenggam tangannya erat, sementara dokter keluarga memeriksa luka-luka kecil di wajahnya. Namun, di tengah suasana haru itu, Karina tiba-tiba menatap Shaka dengan mata berair.

“Mas…” suaranya serak, “orang yang menculik aku bilang sesuatu … mereka sebut nama mbak Amara.”

Ruangan langsung sunyi, Shaka menatap Karina dengan dahi mengernyit.

“Apa?”

“Mereka bilang, bos mereka mengenal mbak Amara. Aku nggak tahu maksudnya apa, tapi … aku takut, Mas,” lirih Karina.

Haris menatap Shaka dengan wajah kaku. Tapi Shaka justru menghela napas keras, suaranya meninggi.

“Jangan asal tuduh, Karina! Amara nggak ada hubungannya dengan ini!”

“Mas, aku nggak bohong!” tangis Karina pecah. “Tuan Zico datang ke rumah sakit kemarin, dia ngancam aku! Dia bilang jangan ikut campur urusan mbak Amara, kalau nggak, aku bakal nyesel!”

Ucapan itu membuat Shaka terpaku sesaat. Napasnya tercekat. Ia memejamkan mata, mencoba mencerna kalimat itu.

“Zico … ngancam kamu?” suaranya berubah berat dan dingin. Karina mengangguk, air matanya menetes.

“Aku nggak ngerti maksudnya, tapi aku yakin dia tahu sesuatu, Mas…”

Shaka berdiri. Kursinya bergeser keras menimbulkan suara mengagetkan semua orang di ruangan itu. Tatapannya gelap, penuh kemarahan yang ditahan.

“Shaka, mau ke mana?” tanya Merlin cemas.

“Ke rumah sakit,” jawab Shaka pendek. “Aku mau tanya langsung ke Amara apa sebenarnya yang terjadi.”

Tanpa menunggu jawaban, Shaka melangkah keluar dengan langkah lebar. Haris hanya bisa menatap punggung tuannya yang menjauh, sementara Karina masih menggenggam tangan ibunya erat, tubuhnya bergetar. Dari kejauhan, langit sore mulai memerah, seolah ikut menyulut bara amarah dalam dada Shaka Wirantara yang siap meledak.

Di ruang inap sore itu, suasana begitu tenang. Amara sedang duduk di tepi ranjang, menata barang-barangnya satu per satu ke dalam koper kecil. Wajahnya terlihat pucat, tapi tekad di matanya jelas ia ingin segera pulang, meninggalkan semua luka yang menyesakkan di tempat itu. Namun, ketenangan itu pecah ketika pintu ruang inap terbuka keras.

Shaka berdiri di ambang pintu, rahangnya mengeras, matanya menyala dengan amarah yang menekan.

“Mas Shaka?” Amara mendongak, terkejut.

Pria itu melangkah masuk dengan cepat tanpa berkata apa-apa. Begitu mendekat, tangannya langsung menarik lengan Amara dengan kasar.

“Kita perlu bicara,” suaranya dingin dan dalam.

“Aku nggak mau bicara apa pun lagi,” tolak Amara, mencoba melepaskan genggamannya. Namun Shaka justru menariknya makin kuat, membuat koper yang tadi Amara pegang terjatuh ke lantai.

“Lepas, Mas Shaka! Kamu menyakitiku!” bentaknya.

Shaka menatapnya tajam. “Kau pikir aku akan diam setelah semua yang terjadi?! Setelah aku dengar nama kamu disebut-sebut dalam penculikan Karina?!”

Amara menatapnya tidak percaya. “Mas, kamu datang ke sini cuma untuk menuduh aku lagi?”

Namun Shaka tidak memberi waktu untuk menjawab. Ia menarik Amara ke arah pintu, langkahnya keras, hingga perawat yang berjaga di luar menatap mereka dengan bingung.

“Mas Shaka! Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri!” seru Amara.

Namun Shaka tidak mendengarkan. Dalam satu gerakan cepat, ia mengangkat tubuh Amara ke dalam gendongan.

“Cukup! Kita pulang,” katanya singkat, penuh tekanan.

Amara meronta, meninju dada Shaka dengan lemah, tapi tubuhnya masih terlalu lemah untuk melawan. “Kamu gila! Aku baru saja keluar dari ruang perawatan!”

Tepat ketika Shaka membawa Amara melewati lorong, Zico muncul bersama Tuan Marvionne. Mata Zico langsung membelalak melihat Shaka yang menggendong Amara begitu saja.

“Kapten Shaka! Turunkan Nona Amara!” bentak Zico, melangkah cepat.

Namun Shaka hanya menatapnya tajam tanpa berhenti berjalan. “Ini urusan suami istri. Jangan ikut campur.”

Zico semakin marah dan mencoba mengejar, tapi langkahnya terhenti ketika Tuan Marvionne mengangkat tangan.

“Biarkan saja, Zico,” ucap pria tua itu tenang, dengan senyum samar di bibirnya. “Mungkin mereka sedang ingin memperbaiki hubungan.”

Zico menatapnya tak percaya, tapi tidak berani membantah. Shaka sudah membawa Amara keluar, masuk ke mobil hitam yang langsung melaju meninggalkan halaman rumah sakit.

Di dalam mobil, Amara menatap ke luar jendela dengan rahang mengeras. Ia tak berkata sepatah pun, sementara Shaka mengemudi dengan ekspresi dingin. Sesampainya di apartemen mereka, Shaka turun lebih dulu dan membuka pintu sisi penumpang.

“Turun.”

“Tidak,” jawab Amara datar. “Aku tidak punya alasan lagi untuk ikut denganmu, Mas.”

Shaka mengepalkan tangan, menahan diri beberapa detik, lalu tanpa peringatan mengangkat Amara lagi.

“Kalau kau nggak mau turun dengan baik-baik, aku yang akan turunkan kamu Amara,” desisnya.

“Mas Shaka! Turunkan aku!” Amara berteriak, tapi Shaka tetap melangkah cepat ke lift hingga ke lantai mereka. Begitu pintu apartemen terbuka, Shaka langsung membawanya ke kamar. Napasnya berat, dadanya naik turun penuh emosi yang meledak. Ia menurunkan Amara di tepi ranjang, menatapnya dengan sorot yang campur aduk marah, kecewa, juga takut kehilangan.

“Aku cuma ingin kau berhenti menjauh dariku,” katanya lirih namun tajam.

“Aku menjauh karena kamu selalu menyakiti aku, Mas!” balas Amara, matanya berair.

Dan sebelum ia sempat menambahkan kata apa pun, Shaka mencondongkan tubuhnya dan menekan bibirnya ke bibir Amara, dengan kasar, terburu-buru, seolah ingin membungkam semua perlawanan dengan satu ciuman.

Amara membeku sejenak, matanya membesar karena terkejut, lalu tanpa pikir panjang, ia menampar wajah Shaka sekeras mungkin. Suara tamparan itu menggema di kamar yang sepi.

Amara berdiri gemetar, napasnya tersengal. “Jangan pernah lakukan itu lagi, Mas Shaka,” suaranya bergetar tapi tajam. “Aku bukan boneka yang bisa kau kendalikan sesuka hati.”

Shaka menatap Amara dengan rahang mengeras, napasnya berat menahan emosi yang sudah memuncak. Ia menekan kedua bahu Amara kuat-kuat hingga bahu perempuan itu sedikit terguncang.

“Kenapa kamu lakukan itu, Amara?!” suaranya parau namun tajam. “Kamu pikir aku nggak tahu kamu yang berada di balik penculikan Karina? Hanya supaya aku memperhatikan kamu lagi, ya?!”

Mata Amara membulat, wajahnya pucat seketika. “Apa?” suaranya bergetar. “Kamu pikir aku … menculik Karina, Mas?”

Shaka menatapnya dengan tatapan curiga yang menusuk. “Aku sudah lihat rekaman CCTV rumah sakit. Zico mengancam Karina, dan beberapa jam setelah itu, dia hilang. Lalu tiba-tiba kamu keluar rumah sakit dan pulang ke rumah sore ini, seolah nggak terjadi apa-apa.”

Amara menggeleng kuat-kuat, air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. “Aku nggak tahu apa-apa, Mas Shaka. Aku bahkan masih di rumah sakit waktu Karina diculik. Aku ... aku tidak pernah memikirkan hal gila seperti itu!”

Namun Shaka tidak bergeming. Matanya justru semakin tajam, penuh kekecewaan. “Jangan bohong lagi, Amara. Aku tahu kamu marah, aku tahu kamu kecewa, tapi ini ... ini sudah keterlaluan!”

Suara Shaka meninggi, dia semakin mendekat, hingga jarak di antara mereka hanya sejengkal. “Apa kamu pikir aku akan diam kalau kamu menyakiti orang lain demi dapatkan perhatianku lagi?”

“Mas Shaka!” jerit Amara tertahan, dadanya naik turun menahan tangis. “Kamu salah! Aku nggak pernah minta perhatianmu lagi. Aku bahkan sudah nggak tahu harus berbuat apa supaya kamu percaya sama aku!”

Namun, bukannya mendengar, Shaka justru semakin tersulut. Ia mencengkeram wajah Amara, dan sebelum sempat berpikir, ia kembali mencumbu Amara dengan kasar dan penuh amarah, bukan cinta.

Amara berusaha mendorong dadanya, memukulnya dengan tenaga sisa. “Mas Shaka! Lepas!”

Tapi pria itu terus menekan bibirnya, hingga akhirnya Amara menyerah karena lelah. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. Napasnya tersengal, tangannya lemas menahan dada Shaka. Dengan sisa tenaga, ia berbisik lirih, nyaris seperti rintihan,

“Mas Shaka … bayi kita…”

Suara itu langsung membuat Shaka berhenti. Tubuhnya menegang, napasnya terhenti di tengah udara. Perlahan ia menjauh, menatap Amara yang kini memegangi perutnya dengan wajah pucat. Beberapa detik keheningan menggantung di antara mereka, hening yang menyesakkan.

Namun sebelum Shaka sempat berkata apa pun, ponselnya berdering. Ia menghela napas kasar dan mengangkatnya. Suara Haris terdengar terburu-buru di seberang.

[Pak, jalur udara yang disetujui untuk para pelaku penculikan itu … ternyata sudah disalahgunakan. Semua jaringan penerbangan Wirantara Air diblokir. Kita kehilangan izin operasional untuk sementara waktu.]

Kedua mata Shaka membulat.

“Apa?” suaranya nyaris tak terdengar.

Begitu panggilan terputus, Amara menatapnya dengan sorot marah bercampur getir.

“Mas Shaka … kamu menyetujui jalur itu?”

Shaka menatapnya tanpa menjawab. Amara bangkit dari tempat tidur dengan mata berkaca-kaca.

“Untuk apa? Untuk siapa? Kamu tahu risikonya, tapi tetap kamu lakukan?! Kamu membuat semua orang dalam bahaya!”

Shaka mengepalkan tangannya. “Aku lakukan ini karena kamu!” suaranya meledak. “Kamu yang menculik Karina ... aku cuma ingin menyelamatkan dia!”

Suara itu memecah udara, membuat dada Amara terasa sesak. Ia tertegun, menatap Shaka tak percaya. Satu helai air mata jatuh di pipinya. “Jadi … semuanya karena kamu lebih percaya orang lain daripada aku.”

Shaka tak bisa menatapnya lagi. Ia berbalik, mengambil jaket di sofa. “Aku nggak punya waktu berdebat, Aku harus ke kantor.”

Amara terduduk di tepi ranjang, matanya kosong menatap lantai. Suaranya parau, nyaris tak terdengar, “Sampai kapan pun … sekuat apa pun aku berusaha, kamu memang nggak akan pernah berada di pihakku, kan, Mas Shaka…”

Shaka berhenti di ambang pintu, tapi tak menoleh. Beberapa detik kemudian, pintu tertutup pelan. Dan Amara hanya bisa terisak dalam diam, memegangi perutnya yang nyeri sementara cinta yang dulu ia perjuangkan perlahan berubah menjadi luka yang tak bisa sembuh.

Amara mengambil ponsel dan menghubungi seseorang,

"Zico, jemput aku di apartemen..."

1
Ning Suswati
jgn sampai karinanya dibunuh, biar tau rasanya disiksa lahir dan bathin, dan biarkan dia memohon untuk dibunuh,
Ning Suswati
siapa lagi dirga,
Ning Suswati
ada2 saja kaya gk ada laki2 lagi di dunia ini, dasar kunti laknat, semoga amara selalu didepan🤭
Ning Suswati
emangnya saka bisa apa, waktu ada gangguan di perusahaan wirantara aja amara yg segera bertindak, laupun dia sdh memutuskan untuk bercerai, tapi tetap peduli dg shaka, dan shaka tetap tdk mengakui, boro percaya apa yg sdh dilakukan amara pada perusahaannya, yg dufikirannya cuma nek kunti
Ning Suswati
ya begitulah sakitnya perempuan, bibir bisa memafkan tapi sulit untuk bisa melupakan, bayangkan karena hasutan nek kunti, sampai tdk mengakui anak yg dikandung amara dan banyak lagi, kata2, prilaku yg menyakitkan, lebih percaya orang lain daripada menggunakan otaknya sendiri, aq jadi curhat nih, karena itu aq merasakan
Ning Suswati
ya terserah amara lah, dia yg merasakan, orang lain hanya bisa menasehati dan memberi masukan, tapi gk pernah merasakan pada posisi amara selama 5 thn di sia2kan suami dan berjuang sendiri.
Ning Suswati
ya tuhan semoga amara segera selamat, amara hukan orang biasa kan, paati ada cara untuk bertindak dan menyelamatkan diri
Ning Suswati
semua nya yergantung taqdir, kalau memang bukan jodoh ya paling tidak jgn masuk ke lobang yg sama
Bulan Hampa
sengaja langsung lihat bab ahir kirain benar cerai, gajadi deh.
Ning Suswati
aq suka keputusan amara, laki2 tdk akan pernah berubah total, kalau ada maunya, ber baik2, tapi akan mengulanginya lagi
Ning Suswati
semua kehancuran keluarga saka, ortunya sendiri yg membuat nasib rumah tangga anaknya se hancur2nya, sdh tau ada kunti di dln rumah tapi diam selama ber thn2,
Ning Suswati
sama dong kayanya plan plin plen, sdh basi, emang masih ingin disakiti kembali, laki2 gk akan berubah, kecuali apa y🤔
Ning Suswati
kok zico yg jadi pelampiasan, emangnya ciuaman belum tuntas, sok2an merasa gagah, tapi dikadali laki2 dodol masih aja nyosor.
Ning Suswati
woooiiiii sdh pisah masih aja bikin masalah, selama ini kemana aja gk pernah membela dan percaya sama isteri sendiri, sekarang didekati laki2 lain sewot aja lho, sinting gila miring🤭
Fitri Guntoro
lanjut thor gantung banget deh
Ning Suswati
keegoisan ortu selalu dg nafsu tanpa perasaan, apa imbas dari keegoisan mereka
Ning Suswati
gk malu apa keluarga wirantara masih menyebut cucuku, selama ini kemana aja, membiarkan ular menyebarkan racun dlm rumah tapi tetap diam, pengausaha apa, pengusaha kotoran kali y🤔, biasanya pengusaha itu selalu berfikir dan bertindak, bukan diam seribu kata
Ning Suswati
seringkali kejadian ceritanya seperti ini, terus katanya tdk ingin lagi ketemu, masih ada rasa peduli, tapi apa lukanya amara sdh sembuh, terlalu baik juga jgn
Ning Suswati
terus siapa perempuan dan suaminya yg membela anak dan isterinya, tanpa tau masalah
Ning Suswati
yah kalamaan sampe 5 thn lagi2 5 thn, gk ada kata lain apa y, dan td siapa wanita yg ingin memukul azril, apakah nek kunti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!