Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran Zafira
Ditya duduk di motor dengan tangan gemetar, sambil ngeliatin chat terakhir Fira. Nafasnya nggak teratur, dadanya sakit, kepalanya kayak mau pecah.
Anggara kembali, mantan yang ninggalin Fira. Mantan yang membuat Fira hancur berbulan-bulan. Dan sekarang dia kembali, Ditya nggak kuat cuma menunggu. Jarinya langsung pencet tombol telepon di nama Fira.
Tak lama Fira menjawab panggilan dari Ditya.
...📞...
"Hallo."
Suara Fira pelan, serak, seperti habis menangis.
^^^"Fira, apa dia kembali lagi? Apa Anggara beneran kembali?"^^^
Ditya langsung bicara tanpa dan nggak bisa ditahan lagi. Suasana hening sebentar, yang terdengar cuma suara Fira yang menghela nafas pelan.
"Iya, Ditya. Dia kembali lagi."
^^^"Sejak kapan?"^^^
"Kemarin sore, tepatnya di Tugu."
Kemarin, berarti udah seharian Fira menyimpan ini sendirian. Seharian Fira nggak cerita sama Ditya.
^^^"Terus, dia bilang apa? Kenapa dia bisa lenyap begitu lama?"^^^
Fira mulai cerita dengan pelan. Suaranya bergetar di beberapa bagian, cerita tentang ayah Anggara yang sakit keras, Anggara yang malu dan pergi ke Jakarta, tentang gimana dia kerja keras buat ngobatin ayahnya sambil menabung. Dan tentang cincin berlian yang dia bawa.
"Tinggu, dia membawa sebuah cincin?"
Suara Ditya nyaris berbisik, nyaris nggak keluar.
^^^"Iya, Dit. Cincin yang dulu dia janjikan, dan dia minta aku untul menikah dengannya."^^^
Rasanya kayak ditusuk, bukan ditusuk pake pisau kecil, tapi pake tombak yang langsung nusuk tembus dari depan sampe belakang.
"Dan kamu jawab apa?"
^^^"A-aku, aku bilang aku nggak bisa berima dia. Karena sekarang aku udah mempunyai kekasih."^^^
Ditya merasa lega, karena akhirnya Fira menolak Anggara.
"Fira, apa kamu masih sayang sama dia?"
Suara telepon menjadi hening, dan keheningan itu lebih menyakitkan dari jawaban apapun.
^^^"Sebelum dia pergi, mungkin iya. Aku sayang banget sama dia. Tapi... Setelah dia pergi begitu saja, rasa sayang itu perlahan memudar, dan sekarang aku udah sayang sama kamu."^^^
"Fira, apa kamu nggak ingin kembali pada dia? Sedangkan Anggara datang kembali dengan membawa sebuah cincin untuk kamu."
^^^"Aku tahu, dia datang dengan membawa sebuah cincin. Tapi aku udah sayang banget sama kamu, dan aku juga nggak mau mengecewakan kamu. Dan aku juga nggak mau, kalo kamu nanti malah berpikir, kamu cuma pelampiasan aja. Aku nggak mau kehilangan lagi, Ditya."^^^
Ditya menutup mata, menggenggam ponselnya erat, dia nggak nyangka dengan jawaban Fira, yang mengatakan udah sayang banget padanya.
"Fira, jangan kembali lagi sama dia, please! Aku nggak mau kehilangan kamu."
^^^ "Aku nggak akan kembali pada lagi pada Anggara, Dit. Aku udah sayang sama kamu."^^^
"Dan kamu jangan lupa, kalo dia udah nyakitin kamu. Dia ninggalin kamu berbulan bulan tanpa kabar. Dia bikin kamu nangis tiap malem, dan dia nggak pantas dapet kamu lagi."
Fira terdiam, kata-kata City memang benar. Bahwa Anggara sudah pergi begitu saja, dan itu sungguh menyakitkan buat Fira.
^^^"Ditya."^^^
"Iya, Fir."
^^^"Aku udah memilih kamu, dan aku harap kamu nggak mengecewakan aku juga."^^^
"Iya, Fira. Aku janji dan aku akan membuktikan sama kamu, kalo aku nggak akan membuat kamu sakit hati."
Panggilan pun terputus, Fira sudah memilih Ditya. Dan dia nggak akan kembali lagi pada Anggara.
***
Sementara itu di kafe, Fira duduk di lantai kamar ganti, sambil menggenggam ponsel yang baru aja dia matikan.
Ditya berjanji nggak akan membuat Fira kecewa, Fira hanya berharap bahwa ucapan Ditya bukan hanya omong kosong.
Sementara Anggara, dia udah di depan mata dengan cincin, dengan kepastian, dan dengan masa depan yang jelas.
Tiba-tiba, suara Anna terdengar mengetuk pintu kamar ganti dengan pelan.
"Fira, apa kamu ada di dalem? Kamu baik-baik aja?"
Fira membuka pintu sambil maksa senyum.
"Aku baik-baik aja kok, Anna."
"Fira, ada apa? Apa kamu habis nangis?"
Fira menggeleng pelan, "Aku baik-baik aja, Anna."
"Yakin kamu baik-baik aja? Kamu nggak mau cerita sama aku?"
Akhirnya Fira menceritakan semuanya, tentang Anggara yang kembali dengan cincin. Dan Fira lebih memilih Ditya, karena dia udah sayang sama dia.
Anna mendengarkan sambil mengelus punggung Fira.
"Fira, cuma kamu yang tau jawabannya. Coba dengerin hati kamu, siapa yang bikin kamu lebih tenang dan nyaman?"
"Aku udah nyaman sama Ditya, Anna."
"Kalo kamu udah nyaman sama Ditya, lalu kenapa kamu harus bingung. Fira dengerin aku. meskipun Anggara cinta pertama kamu, tapi dia udah nyakitin kamu dengan cara pergi begitu saja. Sedangkan Ditya, dia selalu ada di saat kamu sedang terpuruk. Hingga akhirnya kalian saling jatuh cinta, aku yakin Ditya bisa menepati janjinya."
Fira hanya terdiam, dan mencoba merenungkan apa kata Rania. Dan apa yang di katakan sahabatnya itu memang benar, Ditya yang udah menyembuhkan rasa sakitnya, bahkan dia selalu ada jika Fira membutuhkannya.
Dan malam itu, Fira pulang dengan hati yang lebih tenang. Karena pilihannya yang lebih memilih untuk tetap bersama Ditya, dan mencoba melepaskan Anggara dengan ikhlas.
bab ini kita full karokean...😅😅😅😅
bener gak sih nadanya gini....😅😅😅