NovelToon NovelToon
Dikira MONTIR Ternyata SULTAN

Dikira MONTIR Ternyata SULTAN

Status: tamat
Genre:Konglomerat berpura-pura miskin / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Moms TZ

Merasa ditikung saudara kembarnya, Darren memilih keluar dari rumah mewah orang tuanya, melepas semua fasilitas termasuk nama keluarganya.

Suatu hari salah seorang pelanggan bengkelnya datang, bermaksud menjodohkan Darren dengan salah satu putrinya, dan tanpa pikir panjang, Darren menerimanya.

Sayangnya Darren harus menelan kekecewaan karena sang istri kabur meninggalkannya tepat di hari pernikahan mereka.

Bagaimana nasib pernikahan Darren selanjutnya?
Apakah dia akan membatalkan pernikahannya dan mencari pengantin penganti?

Temukan jawabannya hanya di sini

"Dikira Montir Ternyata Sultan" di karya Moms TZ, bukan yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Terpesona

Sore itu cuaca tampak mendung, membuat Darren memutuskan untuk pulang lebih awal dari bengkelnya. Dia melirik ke arah Bayu, yang sedang sibuk mengutak-atik mesin motor.

"Bay, sebaiknya kita tutup saja bengkelnya, sepertinya mau hujan deras," kata Darren.

"Baik, Mas," jawab Bayu.

Bayu mulai membereskan peralatan. Darren membantu mengangkat beberapa spare part ke dalam bengkel. Mereka menutup dan mengunci pintu bengkel.

"Saya duluan ya, Bay. Hati-hati di jalan," kata Darren.

"Siap, Mas. Hati-hati, juga," jawab Bayu.

Darren meninggalkan bengkelnya, dia mengendarai motornya dengan santai. Saat melintas di jalanan yang sepi, dia melihat seorang gadis duduk di pinggir jalan. Dia lantas menghentikan motornya dan bertanya, "Ada apa dengan motornya, Mbak?"

Gadis yang tak lain adalah Ajeng itu mengangkat wajahnya. Seketika jantungnya seakan berhenti berdetak. Matanya membulat sempurna serta bibirnya sedikit terbuka.

Di hadapannya, duduk di atas motor seorang pria dengan aura yang begitu kuat. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin senja, justru menambah kesan maskulin yang memikat. Mata hitamnya menatap Ajeng dengan tatapan teduh, tetapi mampu menghipnotisnya dalam sekejap.

Darren tersenyum melihatnya, lalu kembali bertanya, "Motornya kenapa, Mbak?"

"Oh..." Seakan baru tersadar dari tingkah konyolnya, Ajeng pun tersipu malu.

"M-mogok, Mas. Nggak tahu kenapa ini, " jawab Ajeng, suaranya bergetar tanpa bisa dikendalikan. Ia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya di balik senyuman tipisnya.

Darren memeriksa motor Ajeng dengan cekatan. "Sepertinya ini businya, Mbak. Kebetulan ada bengkel di dekat sini. Mau saya bantu?" tanya Darren.

"Beneran, Mas? Nggak ngerepotin?" tanya Ajeng, matanya tak lepas dari wajah Darren. Ia merasa seperti sedang bermimpi. Pria ini... terlalu sempurna untuk menjadi nyata.

"Nggak kok, Mbak. Mari, ikut saya," ucap Darren sambil tersenyum ramah. Senyum itu... senyum yang mampu meluluhkan hati Ajeng dalam hitungan detik.

Darren turun dari motornya dan mendekati motor Ajeng. Gadis itu hanya bisa terpaku, menyaksikan setiap gerakan Darren dengan tatapan penuh kekaguman.

Darren dan Ajeng tiba di bengkel, ketika Bayu akan menutup rolling door, tetapi dia urungkan begitu melihat Darren kembali bersama seorang gadis.

"Lah, kok balik lagi, Mas? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Bayu sambil melirik ke arah Ajeng.

"Nggak ada. Cuma tadi di jalan aku lihat motor mbaknya ini mogok," jawab Darren.

"Tolong, kamu ambilkan busi yang baru, ya," imbuhnya.

"Siap, Mas!" ujar Bayu, bergegas mengambilkan busi baru di etalase, lalu memberikannya kepada Darren.

"Makasih, Bay. Kamu duluan saja, keburu malam," ucap Darren.

Bayu mengangguk, kemudian pamit pulang, meninggalkan Darren dan Ajeng berdua di bengkel. Darren mulai memasang busi baru.

"Mas sering bantu orang yang motornya mogok, ya?" tanya Ajeng mencoba memecah kecanggungan.

"Kadang-kadang saja kalau lagi sempat. Atau kebetulan kalau lihat ada yang kesusahan kayak Mbak tadi," jawab Darren sambil matanya fokus pada pekerjaannya.

"Nah, beres! Coba dinyalakan, Mbak," ucap Darren.

Ajeng mencoba menyalakan motornya, dan motor pun langsung menyala dengan sempurna.

"Yess! Makasih banyak ya, Mas." Ajeng kemudian mengeluarkan dompetnya dan berniat untuk membayar ongkos perbaikan, tetapi Darren menolaknya.

"Tidak usah, Mbak. Saya ikhlas menolong," jawab Darren sambil menangkupkan kedua tangannya.

"Wah, bener-bener menolong ternyata. Makasih banget ya, Mas," ujar Ajeng dengan senang.

"Sama-sama. Hati-hati di jalan ya, Mbak," kata Darren sambil membereskan peralatannya.

"Mas... Emmm, boleh minta nomor ponselnya, nggak?" tanya gadis itu, menatap Darren dengan pandangan penuh arti.

Darren terdiam sesaat sambil menggaruk pelipisnya.

"Nggak boleh, ya? Maksud aku kalau misalkan motorku tiba-tiba mogok lagi di jalan, aku bisa menghubungi nomor masnya, gitu," ujar Ajeng beralasan.

Darren tersenyum lalu mengangguk dan memberikan nomor ponselnya.

Setelah saling menyimpan nomor ponsel masing-masing, keduanya lantas berpisah meninggalkan bengkel tersebut, setelah Darren mengunci pintu bengkelnya.

*

Sesampainya di rumah, Ajeng langsung memarkirkan motornya di teras. Wajahnya masih berseri-seri ketika ia mengucap salam dan memasuki rumah.

"Baru pulang, Jeng?" tanya sang ibu.

Namun, Ajeng hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan orang tuanya. Ia berjalan melewati mereka menuju kamarnya.

Pak Haris dan Bu Hasna saling pandang dengan tatapan bingung. Mereka menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku putri sulung mereka yang lain dari biasanya. "Ada apa dengannya?" pikir Bu Hasna.

Ajeng masuk ke kamarnya, lalu merebahkan diri di kasur sambil memeluk bantal. "Ternyata dia seganteng itu?" Ia masih senyum-senyum sendiri sambil membayangkan wajah Darren.

Sementara itu, begitu sampai di kost-annya, Darren segera memasuki kamarnya setelah memarkirkan motornya di garasi. Dia meletakkan helmnya di atas meja, lalu merebahkan diri sejenak di tempat tidur, sambil memejamkan mata.

Sesaat kemudian Darren bangkit dari tempat tidur dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.Dia tidak ingin melewatkan sholat maghrib di masjid.

Selesai sholat maghrib, Darren duduk di teras masjid bersama jama'ah yang lain. Dia merasakan seseorang menepuk bahunya, dan langsung menoleh. Wajahnya tersenyum saat melihat Pak Haris, yang langsung duduk di sampingnya.

"Mas Darren, gimana kabarnya?" tanya Pak Haris dengan hangat.

"Alhamdulillah, Pak." jawab Darren sambil mengangguk.

Pak Haris tersenyum. "Setelah sholat isya' nanti, bagaimana jika Mas Darren ke rumah saya?"

"Seperti yang saya katakan tempo hari, saya ingin mengenalkan Mas Darren pada putri sulung saya," ucapnya sambil tersenyum penuh harap.

Darren tidak bisa menolak kala matanya berserobok dengan netra tua Pak Haris. Dia melihat begitu banyak harapan di sana. Lantas apakah dia tega memupuskan harapan itu? Darren orang yang tidak tegaan, dia pun mengangguk mengiyakan permintaan Pak Haris.

"Terima kasih, Mas Darren," ucap Pak Haris tulus, meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat.

*

Selesai sholat isya' berjamaah, Pak Haris dan Darren langsung pulang. Keduanya mengucap salam dan disambut dengan senyuman hangat oleh Bu Hasna

"Mari, silakan masuk, Mas Darren," ucap Bu Hasna ramah.

"Terima kasih, Bu." Darrel menyalami Bu Hasna dan mencium tangannya takzim.

"Tidak usah sungkan, Mas Darren. Anggap saja seperti rumah sendiri," ujar Pak Haris.

"Sudah disiapkan makan malamnya, Bu?" tanya Pak Haris selanjutnya pada istrinya.

"Sudah, Pak. Itu si Ajeng lagi bikin minum di belakang," jawab Bu Hasna sambil tersenyum.

"Ya sudah, kebetulan bapak sudah lapar. Ayo, Mas Darren!" Pak Haris kemudian mengajak Darren ke dapur diikuti Bu Hasna di belakang mereka.

Di dapur, tampak Ajeng sedang menata makanan di meja makan. Saat ia melihat siapa yang datang bersama bapaknya, matanya langsung membulat, sendok di tangannya nyaris jatuh.

"Ajeng, kenalkan, ini... Mas Darren," kata ayahnya sembari senyum lebar.

Ajeng membeku di tempatnya. 'Jadi Darren ini yang mau bapak jodohkan denganku?' pikirnya. Senyum kikuk terbit di bibirnya. "Eh, halo, Mas Darren," sapanya sedikit gugup.

Darren lebih terkejut lagi saat menyadari bahwa gadis yang sore tadi dia tolong karena motornya mogok di jalan adalah putri Pak Haris. Dia berusaha untuk tetap tenang dan menyembunyikan keterkejutannya, tidak ingin membuat situasi menjadi canggung.

Darren lantas mengulurkan tangannya sambil tersenyum, Ajeng menyambutnya dan merasa sedikit gugup, tetapi berusaha untuk tetap bersikap biasa.

Makan malam pun dimulai, dengan suasana menjadi lebih santai. Selama itu, Ajeng tidak bisa tidak mencuri-curi pandang ke arah Darren, yang sedang asyik menikmati hidangan yang disajikan. Semua tak luput dari pandangan Pak Haris serta Bu Hasna, yang saling bertukar pandang dengan tersenyum puas.

"Mas Darren, bagaimana makanannya? Apakah enak?" tanya Bu Hasna sambil menyodorkan hidangan lainnya.

"Sangat enak, Bu. Terima kasih," jawab Darren dengan sopan.

Ajeng kembali mencuri pandang ke arah Darren, dan kali ini pandangannya bertemu dengan Darren. Mereka berdua tersenyum, dan Ajeng langsung memalingkan wajahnya, merasa sedikit malu.

.

.

.

"Pak, aku sudah memikirkannya, dan sepertinya... aku...?"

Apa to, Jeng? Kok gak diterusin sih?

Jangan lupa like dan komennya 🤗

1
Berto Morgan
mantap bu
Berto Morgan
💪
Berto Morgan
hmmmm kelihatannya menarik ni cerita
kita lihat aja kelanjutan di bab nya
Naufal hanifah
menarik/Good//Good//Good/
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terima kasih bintang 5 nya🫰🫶
total 1 replies
Rino Wengi
harusnya dijelaskan mereka berapa saudara... semuanya dipanggil bang jadi bingung siapa adik siapa abang...
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: dibaca aja, nopel ini sudah tamat kok
total 1 replies
Rino Wengi
yg kakaknya Daniel apa Darren? membingungkan
Makmur Djajamihardja
Damai selalu bersama Ramadhan
Makmur Djajamihardja
belah durennya kapan bro
Makmur Djajamihardja
oh teganya dirimu tega banget bosqu
Makmur Djajamihardja
cinta itu ada 3 demvinisi 1.ciuman yg utama 2. cincin. di jari manis yg diminta 3.cincin bawah yg disita.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: apa itu cincin bawah yg disita? tak paham author🤭
total 1 replies
Makmur Djajamihardja
terpana dan tersihir dewa asmara
Makmur Djajamihardja
Rony. Sianturi adalah anggota trio libels
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: waaah, itu grup musik favorit author,
total 1 replies
Makmur Djajamihardja
fitnah itu lebih. kejam dari pembunuhan bosqu
Makmur Djajamihardja
si nancy harusnya di perkaos rame rame
Lala lala
jadi ingat yutuber yg antar istrinya mau lahiran malah brojol di mobil, si suami yg bantu narik bayi keluar dr jln lahir 😄
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: gak tahu malah
total 1 replies
Lala lala
bahagia koq dgn jalan iblis jkn dasim
Lala lala
baru ini suami keceplosan zinah malah pembaca tak ngamok didukung cerai pulak haha
Lala lala
memang salah panji mabok dan ke maya.. tapi jika dia menikahi maya mgkin pembaca pun lega..ajeng ud kyk istri setan
Lala lala
bosen ah..ajeng malah ngomong kyk gitu
Lala lala
10 digit besar bgtt..super trilyunan 😄
Maksud digit itu
1 digit 1 juta - 9.000.000
2 digit 10 jt - 99.000.000
3 digit 100 jt - 999.000.000
4 digit 1.000.000.000 milyaran ke atas 🙏
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kah, gak tahu, ibu cuma ambil di gugel aja klo salah ya harap maklum🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!