NovelToon NovelToon
Api Jatayu Di Laut Banda

Api Jatayu Di Laut Banda

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kutukan / Dokter / Romansa Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Harem
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Perahu kecil mereka meninggalkan pulau tersembunyi saat matahari sudah tinggi. Ombak Laut Banda kembali tenang seperti dulu—terlalu tenang, seolah laut sedang menahan napas setelah badai panjang. Bola cahaya emas yang terbentuk dari empat kristal sekarang tidak lagi melayang di depan Banda; ia menyatu ke dalam dadanya, menjadi denyut hangat yang konstan, seperti jantung kedua yang tidak pernah lelah.

Banda duduk di haluan, memandang horizon. Tubuhnya terasa lebih ringan—kutukan yang selama ini menggerogoti pikirannya sudah hilang, tapi bekasnya tetap ada: rasa bersalah atas Kirana, ketakutan kalau suatu hari kegelapan luar kembali, dan pertanyaan yang belum terjawab: apa yang sebenarnya terjadi setelah cahaya mematahkan kutukan?

Jatayu duduk di sampingnya, rambutnya berkibar ditiup angin laut. Ia tidak lagi membawa golok di pinggang—senjata itu tertinggal di altar kuil bawah air sebagai tanda akhir dari peran pembunuhnya. Tangan Jatayu menggenggam tangan Banda, jari mereka saling terkait erat, seperti takut kalau melepaskan akan kehilangan satu sama lain lagi.

“Kau diam sekali,” kata Jatayu pelan.

Banda tersenyum tipis. “Aku cuma mikir… kita sudah menang. Tapi rasanya tidak seperti kemenangan. Seperti kita hanya menunda sesuatu yang lebih besar.”

Bayu, yang mengemudikan perahu, mendengar dari belakang. “Mungkin memang begitu. Naga Cahaya bilang kegelapan luar itu lebih tua dari empat raja. Mungkin kutukan hanya pintu masuknya. Kita tutup pintu itu, tapi pintu lain mungkin masih terbuka di suatu tempat.”

Jatayu menatap laut. “Aku pernah dengar cerita dari klan Phoenix tentang ‘Bayang Asli’—kegelapan yang ada sebelum cahaya pertama muncul. Ia bukan musuh yang bisa dibunuh. Ia adalah kekosongan. Dan kalau kekosongan itu lapar… ia akan mencari cara masuk lagi.”

Banda merasakan denyut di dadanya—bukan sakit, tapi seperti peringatan lembut. “Kalau itu benar… apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita sudah kehilangan Kirana. Kita hampir kehilangan satu sama lain. Kalau kegelapan datang lagi, apa yang tersisa untuk kita pertahankan?”

Jatayu menoleh ke arahnya. Matanya kuning keemasan masih sama, tapi sekarang ada kedalaman baru—kedalaman yang lahir dari duka dan cinta yang bertahan. “Kita pertahankan apa yang Kirana percayai. Kita pertahankan harapan bahwa api dan air bisa menyatu tanpa saling menghancurkan. Kita pertahankan hidup yang kita punya sekarang.”

Bayu menambahkan kayu kecil ke perapian kecil di tengah perahu—api unggun sederhana yang mereka buat untuk menghangatkan tubuh setelah menyelam. “Dan kita ceritakan ini pada orang lain. Biar mereka tahu bahwa kutukan bisa dipatahkan. Biar mereka tidak takut pada darah campuran lagi.”

Banda mengangguk pelan. “Kita pulang ke Karangwangi dulu. Kita beri tahu Ibu Sari. Kita beri penghormatan untuk Kirana. Lalu… kita lihat apa yang akan datang.”

Perahu melaju pelan. Matahari naik semakin tinggi, tapi angin mulai berubah—dari selatan, hembusan dingin membawa bau yang tidak seharusnya ada di laut: bau tanah basah, bau lumpur yang hidup.

Jatayu menegang. “Itu… bau Naga Tanah.”

Banda berdiri. “Dia seharusnya sudah hancur.”

Bayu memandang ke belakang. Di kejauhan, di tempat pulau tersembunyi seharusnya berada, kabut hitam mulai naik lagi—bukan kabut biasa, tapi kabut yang bergerak seperti tentakel. Dari dalam kabut itu, suara gemuruh terdengar—bukan raungan, tapi suara tanah yang bergeser, seperti sesuatu yang seharusnya mati mulai bernapas lagi.

“Kalian pikir cahaya cukup untuk mengusir kegelapan?” suara itu menggema dari laut, suara Naga Tanah yang sekarang lebih dalam, lebih dingin. “Aku bukan tubuh. Aku adalah iri yang abadi. Dan iri tidak pernah mati. Ia hanya menunggu.”

Ombak di sekitar perahu mulai bergolak. Bukan ombak biasa—ombak hitam yang membawa serpihan lumpur dan batu kecil. Satu gelombang menyambar ke arah perahu, hampir membalikkan mereka.

Jatayu melompat ke haluan, api Phoenix menyala di kedua tangannya. Ia melemparkan badai api ke gelombang hitam itu—api membakar lumpur, uap hitam meledak, tapi gelombang baru muncul, lebih besar.

Banda mengulurkan tangan ke laut. Kekuatan Naga Laut bangkit lagi—ombak bening naik dari bawah perahu, membentuk dinding air yang menghalangi gelombang hitam. Air bertabrakan dengan lumpur—uap pekat menyelimuti semuanya.

Bayu berteriak sambil memegang kemudi. “Kita tidak bisa lawan dia selamanya! Perahu ini tidak akan tahan!”

Banda merasakan kutukan lama berbisik lagi—tapi kali ini bukan suara Naga Tanah, melainkan suara Kirana yang lembut: “Jangan lawan dengan kekuatan. Lawan dengan apa yang dia tidak punya: cinta.”

Banda menoleh ke Jatayu. “Pegang tanganku.”

Jatayu menggenggam tangan Banda erat. Api dan air bertemu lagi—cahaya emas meledak dari titik kontak mereka, lebih terang dari sebelumnya. Cahaya itu menyebar ke seluruh perahu, membentuk perisai emas yang menolak gelombang hitam.

Bayu ikut memegang tangan mereka berdua—tangan manusia biasa yang tidak punya kekuatan, tapi penuh kesetiaan. Cahaya emas semakin kuat, menyelimuti mereka bertiga seperti pelukan dari Kirana dan Garini sekaligus.

Gelombang hitam meraung terakhir, lalu surut. Kabut hitam di kejauhan menghilang perlahan, meninggalkan laut yang kembali tenang.

Banda, Jatayu, dan Bayu terengah-engah. Cahaya emas meredup, tapi tetap ada di dada Banda—denyut kecil yang tidak pernah padam lagi.

Jatayu memeluk Banda erat. “Kita menang… lagi.”

Bayu tertawa lelah. “Aku pikir kita sudah mati tadi.”

Banda menatap laut yang sekarang damai. “Bukan menang. Kita hanya mengingatkan dia bahwa iri tidak selalu harus menghancurkan. Bahwa ada yang lebih besar dari kesepian.”

Mereka melanjutkan perjalanan ke Karangwangi. Pulau tersembunyi menghilang di belakang kabut tipis—bukan hilang selamanya, tapi tertidur lagi, menunggu generasi berikutnya kalau kegelapan luar benar-benar datang.

Di kejauhan, rumah panggung Ibu Sari terlihat. Dan di beranda, seorang wanita tua berdiri menunggu—dengan kalung matahari Kirana di lehernya, seperti tanda bahwa cahaya tidak pernah benar-benar hilang.

Mereka pulang.

Tapi cerita mereka belum selesai.

Karena di dalam dada Banda, cahaya emas itu berbisik pelan:

“Kegelapan luar masih menunggu. Tapi sekarang… kalian siap.”

Dan Laut Banda bergulung pelan, menyanyikan lagu baru—lagu tentang api, air, dan cinta yang lebih kuat dari kutukan apa pun.

1
Sibungas
mantab thor ceritane lanjutttt. 👍
Kashvatama: makasih supportnya🙏
total 1 replies
Sibungas
alur cerita nya bagus. 👍
Kashvatama: terimakasih banyak. semoga bisa kasih karya yg konsisten menarik 🙏
total 1 replies
Sibungas
cerita cukup menarik utk d ikuti.. lanjutt thor🤭
Kashvatama: terimakasih supportnya 😍
total 1 replies
Kashvatama
kisah fantasi petualang dan romansa antara Jatayu dari kaum Phoenix dan Banda sang reinkarnasi Naga Laut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!