NovelToon NovelToon
My Sexy Daddy

My Sexy Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / One Night Stand / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Careerlit
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.

Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.

Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.

Farris Delaney.

Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.

Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.

୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Gangster

...୨ৎ──── F A R R I S ────જ⁀➴...

"Di mama kamar mandinya?" tanyaku.

Eva menjauh dariku dan menunjuk ke sebuah pintu tertutup. "Di sana!"

Aku berdiri dan jalan beberapa langkah. Begitu buka pintunya, aku melihat sebuah kamar dengan ranjang rapi, seprai dan bantal warna pink.

Aku masuk ke kamar mandi, menutup pintu, dan buang air. Saat cuci tangan, aku melihat keranjang baju kotor berisi celana pendek ketat dan kaus yang Eva pakai Jumat malam.

Teringat seks yang luar biasa itu, batangku mulai keras. Tapi aku geser ke posisi yang lebih nyaman, lalu aku abaikan karena aku enggak berniat tidur dengan Eva malam ini.

Aku melihat sekeliling. Isinya cuma shower, kloset, dan wastafel kecil. Satu-satunya lemari di atas wastafel penuh produk kebersihan. Pasta giginya sudah dipencet sampai habis. Enggak mungkin masih ada sisa di dalamnya.

Aku kepikiran, betapa miskinnya Eva, dan ada sesuatu di dalam diriku yang ingin sekali menolong dia. Tapi aku merasa kalau aku mencoba bantu, dia bakal kehilangan kendali dan itu akan jadi akhir dari kita.

Aku cuma harus sabar sampai kita benar-benar jadi pasangan resmi.

Keluar dari kamar mandi, aku balik ke sofa dan duduk lagi. Mataku menjelajah wajah Eva saat aku melingkarkan lengan di bahunya, berharap bisa membawa dia keluar dari tempat ini.

Sabar, Farris.

Dia bersandar ke aku, telapak tangannya mengusap sweater Balenciaga-ku, lalu bertanya, "Kenapa kamu suka lihat aku nari?"

"Itu bikin aku tenang," jawabku jujur. "Ada sesuatu dari gerakan kamu yang membuatku terpesona."

Dia mendongakkan kepala buat melihatku, dan kami saling tatap sebentar sebelum aku bilang, "Aku suka banget lihat kamu."

"Sama."

Aku menurunkan kepala dan pelan-pelan menempelkan bibirku ke bibirnya. Saat dia coba memperdalam ciuman, aku angkat tangan ke wajahnya dan menahan rahangnya supaya dia tetap di tempat. Aku jaga ritmenya tetap lambat, menikmati waktu untuk menjelajahi mulutnya dan mengingat rasanya.

Eva menjadi enggak sabaran dan mencoba naik ke pangkuanku, tapi dengan gerakan cepat, aku tahan dia di sofa dan mengaitkan jari-jariku di lehernya.

Aku memaksa dia untuk pelan-pelan, sementara aku terus mencium dia dengan lembut.

Napasnya jadi enggak teratur, dan jari-jarinya makin kuat mencengkeram lenganku, sementara lidahku membelai lidahnya.

Saat akhirnya aku terlepas dari mulutnya dan mengangkat kepala, mata Eva terbuka pelan dan dia menatapku tajam.

Aku enggak tahu sudah berapa lama kami berciuman, tapi aku menikmati tiap detiknya. Udara makin dingin tiap menit berlalu.

Saat tempat ini berasa seperti freezer, aku mengangkat kepala dan meringis ke Eva. "Di sini memang selalu sedingin ini?"

"Enggak. Kayaknya pemanasnya rusak lagi." Dia melirikku minta maaf. "Kopi?"

Ujung bibirku terangkat, dan aku kasih satu ciuman lembut lagi ke bibirnya sebelum duduk tegak. "Boleh tuh."

Eva berdiri, jalan ke dapur, dan menyiapkan dua cangkir kopi. Dia menambahkan satu gula ke kopiku dan tiga ke miliknya, sebelum membawa cangkir-cangkir itu ke ruang tamu.

"Makasih," gumamku sambil menerima kopinya.

Dia duduk lagi dan melipat salah satu kakinya ke bawah tubuhnya. Begitu nyaman, dia meneguk kopi sambil menatapku.

"Pemanasnya sering mati?" tanyaku, khawatir dia tidur kedinginan.

"Iya, tapi aku punya selimut cadangan, jadi jangan khawatir. Besok aku bakal minta penjaga gedung buat benarin."

Mendengar itu membuatku agak lega.

Kami diam sebentar sebelum dia berkata, "Aneh ya."

"Kenapa?"

"Walaupun kamu suka balet dan opera, rasanya ada sesuatu di diri kamu yang enggak bisa aku tebak."

Kakinya mengusap tulang keringku naik turun saat dia mengaku, "Dan itu efeknya aneh banget ke aku. Bikin aku pingin ngubek semua pakaian mahal kamu ini buat tahu apa yang kamu sembunyiin."

Dia menatapku dari balik bibir cangkir dan berbisik, "Kamu punya sisi gelap kan, Farris?"

Kamu enggak tahu apa-apa, Sayang. Di belakang aku ada daftar panjang mayat-mayat yang sudah aku bunuh, tapi itu obrolan lain waktu.

Aku angkat tangan ke wajahnya, menggeser jari-jariku menyusuri garis seksi rahangnya. "Semua orang punya sisi gelap."

Dia menghabiskan sisa kopinya dan meletakkan cangkir di meja yang rapuh sebelum kembali meringkuk di sampingku.

Setelah beberapa menit hening, dia bertanya, "Kamu benar-benar mau pacaran sama orang kayak aku?"

Aku jawab tanpa ragu, "Iya."

Dia mendongakkan kepala buat menatap mataku. "Menurut kamu, ini bisa berjalan?"

Aku mengangguk. "Pasti."

Tatapannya mencari sesuatu di mataku. "Kamu bakal nyakitin hati aku?"

Aku taruh kopiku di meja supaya bisa menempelkan tangan ke pipinya, menatapnya serius, lalu berjanji, "Aku enggak akan pernah sengaja nyakitin kamu."

Dia mendekat sampai napasnya menghangatkan bibirku. "Terus, kita harus gimana sekarang?"

"Kita pacaran," gumamku sebelum menggesekkan mulutku ke mulutnya. "Biar kita enggak saling ketemu orang lain lagi. Aku enggak mau mendua atau diduain."

"Aku juga enggak mau," bisiknya sambil merangkak naik ke pangkuanku. "Kalau kamu selingkuh, aku bakal nyoret mobil sport kamu."

Aku tertawa. "Aku tipe cowok yang hidup buat satu perempuan dalam satu hubungan!"

"Bagus." Dia mencium dagu dan leherku, lalu berbisik di kulitku, "Kamu wanginya enak banget."

Aku melingkarkan lengan ke sekelilingnya dan menariknya ke dadaku sementara mulutku kembali menemukan mulutnya. Sekali lagi, aku harus melatihnya supaya bisa berciuman lebih dalam.

Aku angkat kepala dan bertanya, "Kamu belum pernah jalan sama cowok?"

Dia tertawa. "Itu kuno banget. Enggak ada lagi yang begitu."

"Aku masih." Mataku membelai wajah cantiknya. "Aku cuma suka ciuman aja."

"Ngomongin soal kuno, umur kamu berapa?" tanyanya.

"Tiga puluh satu. Kamu?"

"Enggak setua kamu," katanya menggoda. "Dua puluh empat."

HPku mulai berdering dan Eva turun dari pangkuanku. Aku mengubek saku dan melihat nama Tully muncul larut malam begini, jadi aku bilang, "Aku harus angkat teleponnya."

"Enggak apa-apa."

Aku berdiri dan jawab.

...📞...

"Ada apa?"

^^^"Braun bilang kamu lagi jalan sama seseorang. Kenapa aku jadi orang terakhir yang tahu?"^^^

"Masih baru. Aku rencananya mau cerita saat ketemu nanti."

^^^"Siapa namanya?"^^^

"Eva."

Aku berhenti sejenak, mataku melirik ke dia waktu sadar aku enggak tahu nama belakangnya.

"Nama belakang kamu siapa?" tanyaku.

Dia mengernyit ke arahku. "Emangnya siapa yang nanya?"

"Aku lagi kencan,"

"Nanti aku telepon lagi habis ini."

^^^"Datang minum-minum."^^^

"Oke."

Aku tutup telepon dan fokus lagi ke Eva. "Jadi, nama belakang kamu siapa?"

"Rosamund." Dia tunjuk HPku dengan dagunya. "Tadi kamu ngomong sama siapa?"

"Salah satu teman aku."

"Oh."

Aku mendekat, membungkuk ke arahnya, dan mencium bibirnya. "Aku pulang dulu. Udah malam dan kamu kayaknya perlu tidur."

"Iya." Dia berdiri dari sofa dan mengantarku ke pintu. "Makasih buat malam ini."

Aku cium bibirnya lagi. "Sama-sama."

Aku keluar dari apartemen dan turun lewat tangga. Begitu keluar gedung, aku langsung melihat salah satu pengintai dari gangster lokal, sebelum dia belok lari ke sudut jalan.

Aku pencet remote buat buka pintu SUV dan masuk. Mesin aku nyalakan, lalu aku jalan pelan dari pinggir jalan, mataku menyisir sekitar area saat menyetir. Kurang dari satu setengah kilometer, aku melihat sedan hitam milik Ambon. Begitu aku berhenti di belakangnya, dia turun sementara teman-temannya tetap di mobil.

Saat dia sampai di samping SUV aku, aku turunkan kaca.

"Tuan Delaney," katanya dengan nada hormat. "Enggak biasanya kami lihat Tuan di sekitar sini."

Mataku terkunci ke matanya, dan dengan seluruh kekuatan Marunda di suaraku, aku bilang, "Kalau sampai terjadi apa pun pada Eva Rosamund atau tetangganya, Nasrin, bakal ada neraka yang harus kalian bayar."

"Dia cewek Tuan?" tanyanya. Saat aku mengangguk, dia bilang, "Aku bakal sebarin kabarnya."

"Mau nambah penghasilan?" tanyaku.

"Aku selalu butuh duit tambahan." Dia melirik sekitar. "Apa yang Tuan mau?"

"Jaga Eva tetap aman tanpa dia tahu."

Dia mengangguk, matanya terus bergerak mencari kemungkinan ancaman. "Siap. Bakal aku lakuin."

Saat aku mulai menutup jendela, Ambon balik ke sedannya dan masuk. Ambon dan anak buahnya menunggu aku lewat dulu, sebelum mengikuti sampai perbatasan Gang Royal. Lampu mereka berkedip, mereka putar balik, lalu pergi ke arah semula.

Merasa lebih tenang karena Eva punya semacam perlindungan, aku menyetir ke rumah Tully.

1
Aditya hp/ bunda Lia
keluarga Marunda berkumpul dan Eva akan menjadi bagian nya nanti
Aditya hp/ bunda Lia
masa farris gak beliin baju?
Adellia❤
ya ampuun farriss ampe rela bersih" 😂😂
Adellia❤
sikap eva wajar bangett q yakin semua cewek polos yg enggak punya niat jahat akan bersikap sama kayak eva karna emang spt bumi dan langit minder pasti pesimis juga..
Adellia❤: hihi🤭🤭
total 4 replies
Adellia❤
duit emang bisa ngubah sikap orang😂😂
Adellia❤
enak bangett ya farrisss
Aditya hp/ bunda Lia
manisnya kaliaaaan ... 😍
Aditya hp/ bunda Lia
tuh kan farris gak apa-apa dia Nerima kamu apa adanya .... 👍
Aditya hp/ bunda Lia
mati kalian .....
ollyooliver🍌🥒🍆
lanjuttt
Adellia❤
hujaan tapi panass🔥🔥
Adellia❤
mo sampai kapan vaa
Adellia❤
eva lagi jalan" di pulau kapuk😂😂
Adellia❤
yeeyyy enggak ada sif pagi tidur sampai besok evaa😂😂
Ita Putri
karya yg menarik Thor
JD penasaran Endingnya
DityaR 🌾: Hehe, maciii🙏
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
dingin gini ada yang panas 🤭
Aditya hp/ bunda Lia: segelas teh manis
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
nyanyi dong Farris .... jatuh cinta berjuta rasanya .... ahay sang mafia akhirnya jatuh cinta
Aditya hp/ bunda Lia
Nah ... udah ada bodyguard bayangan Eva 👍
Adellia❤
Eva sekarang km aman termasuk dari sahara😂😂
Adellia❤
ngobrol ajah dulu iclik kemudian🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!