"Manut yo, nek gak manut koe mau jadi anak durhaka!?"
"Perempuan iku musti ayu! musti lues! musti biso sekabehane! Koe ndak perlu berpendidikan tinggi, cukup jadi perempuan yang cantik, semua materi datang padamu, nduk."
Lahir dari keluarga miskin, tinggal di rumah gubuk, tapi memiliki orang tua yang berambisi tinggi untuk menjadi kaya. Rukmini, di tempa menjadi anak yang serba bisa. Dia anak satu - satunya tapi tercekik oleh ke egoisan orang tuanya, sehingga tumbuh dendam dan kebencian pada orang tua nya.
Dia melawan aturan, melawan takdir bahkan melawan Tuhan nya, dengan membuat ikatan perjanjian darah dengan yang gelap hanya agar dia bebas dari orang tua nya, tidak peduli apa konsekunsinya..
"WANI TEKO WANI MATI!"
[Novel RUKMINI ini adalah kisah lengkap tentang Rukmini, Sosok ibu yang ada di novel SUARA]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.8. Rukmini hamil?? [RUKMINI]
Akhir nya Rukmini benar - benar pergi ke kali, dia membawa keranjang pakaian kotor. Aneh nya hari itu tidak ada siapapun yang mencuci di kali, akhir nya Rukmini di kali mencuci sambil nangis sesenggukan karena sakit hati oleh ucapan ibunya sendiri.
"Ibu kok gitu sama aku, kok ibu ndak sayang sama aku." Ucap nya sambil sesenggukan.
"Pateni (Bunuh), nduk."
"DEG!" Rukmini mendengar suara.
"Sopo!" Rukmini menoleh kesana kemari.
Tapi ternyata tidak ada siapapun, Rukmini lalu lanjut mencuci, dan tiba - tiba datang Bagus. Bagus tersenyum melihat Rukmini, dan mendekat. Tapi Rukmini agak takut karena masih trauma..
"Ojo wedi (takut) toh, aku ndak jahat kok." Ucap Bagus.
"Ndak usah denger ucapan ibumu, kalo ndak ada yang mau sama koe, koe nikah sama aku saja." Ucap Bagus, Rukmini tertegun..
"Koe tau ucapan ibuku?" Tanya Rukmini, Bagus mengangguk.
"Iyo, aku ndak sengaja denger. Tapi ndak usah di denger, koe hebat kok. Ibumu yang jahat, nek kamu mau aku bisa kasih ibumu pelajaran." Ucap Bagus, Rukmini agak terenyuh mendengar nya.
Di rumah nya sendiri tidak ada yang membela dia dan Bagus adalah orang pertama yang membela nya, ayah ibunya malah seolah menggampangkan nasib nya, Rukmini meneteskan air matanya.
"Ojo sedih, nek nanti ndak ada yang mau sama koe.. Aku bakal nikah sama koe." Ucap Bagus, padahal usia mereka masih sama di bawah umur.
Tapi.. Sebenar nya di masa itu, anak - anak seusia Rukmini sudah banyak yang di nikahkan. Masa itu belum ada pelegalan minimal umur untuk menikah, dan usia 12 ke atas sudah banyak yang di nikahkan.
Rukmini akhir nya tersenyum, masih ada satu orang yang baik padanya, Bagus. Sejak dari percakapan itu Rukmini dan bagus lebih sering berinteraksi, aneh nya.. Bagus bisa datang le rumah Rukmini, tapi kedua orang tua nya tidak ada yang tahu sama sekali.
Bagus selalu bermain bersama Rukmini, menemani Rukmini di ladang dan membantu Rukmini merapihkan kayu bakar. Rukmini seperti di buat lupa dengan trauma nya, Bagus adalah pahlawan bagi Rukmini.
...\=\=\=\=\=...
Hingga 2 bulan sudah berlalu, bulan ini Rukmini tepat berusia 13 tahun. Dia berulang tahun yang ke 13, tapi ya tentu saja tidak di rayakan.. Rukmini hanya mengingat usia nya kini bertambah. Rukmini juga tiba - tiba seperti orang sakit, wajah nya pucat dan dia selalu mual - mual..
"Rukmini, besok aku ndak bisa main sama kamu dulu, yo. Aku sama simbok mau ke rumah sodara." Ucap Bagus, Rukmini mengangguk.
"Iyo, salam buat simbok. Kalian hati - hati yo." Ucap Rukmini, Bagus mengangguk dan keudian pergi meninggalkan Rukmini.
Interaksi itu tidak sengaja dilihat oleh ayah Rukmini, tapi.. yang ayah Rukmini lihat, anak nya itu bicara sendirian. Rukmini bicara dengan udara kosong, itu yang ayah Rukmini lihat. Ayah Rukmini tidak melihat Bagus..
"Apa Rukmini gendeng?" Gumam ayah Rukmini, dia berjalan menghampiri Rukmini dan melihat ke sekitar.
"Koe ngomong mbe (sama) sopo?" Tanya ayah Rukmini, Rukmini sedikit takut kalau Bagus akan ketahuan oleh ayah nya.
"Ndak pak." Sahut Rukmini, Rukmini lalu pergi. Ayah nya menatap Rukmini dari belakang.
"Koyo ada yang aneh sama anak iku." Gumam ayah Rukmini.
Ayah Rukmini pulang ke rumah dan dia melihat Rukmini memakai kain jarik saja (pinjungan) berjalan masuk ke kamar mandi, tubuh Rukmini juga sudah menunjukan perubahan yang cukup pesat, beda dengan beberapa bulan lalu.
"Pak." Ibunya Rukmini menepok pundak ayah Rukmini.
"Eh!!" Ayah Rukmini terkejut.
"Opo toh?" Tanya ibunya Rukmini.
"Bu, aku merasa ada yang beda sama Rukmini. Dia kol sering ngomong sendiri, aku mergoki dia beberapa kali cekikikan sendiri." Ucap ayah Rukmini, ibunya tertegun.
"Opo iyo?" Ucap ibunya, dia hendak memanggil Rukmini, tapi di larang ayah nya.
"Jangan sekarang bu, anake lagi mandi." Ucap ayah Rukmini, lalu ibunya mengangguk.
Dan tak lama, Rukmini kembali keluar dari kamar mandi, juga masih memakai kain jarik (pinjungan) hanya saja bagian bahu dan rambut nya setengah basah, Rukmini baru mandi.
"Mini, nanti ke ibu." Panggil ibunya, Rukmini berhenti sejenak..
"Iya." Sahut nya, tapi tatapan nya sedikit lain. Seperti ada tatapan benci di mata Rukmini.
Dan setelah berganti pakaian, Rukmini lalu berjalan keluar. Rukmini memakai kaos polos cokelat muda dan rok sepanjang betis warna cokelat tua, rambut nya di biarkan terurai. Saat Rukmini duduk, ibunya juga marasa ada yang berbeda dari Rukmini, kondisi tubuh Rukmini mengingatkan ibunya pada masa dia hamil dulu.
'Jangan - jangan anak iki hamil.' Batin ibunya Rukmini.
Karena tubuh Rukmini jadi berisi, sangat tidak wajar kalau tiba - tiba Rukmini berisi hanya dalam waktu yang singkat, terutama di bagian dada.
"Pak, ibu tak panggil dukun dulu." Ucap ibu nya Rukmini.
"Eh, mau hujan lho bu." Ucap ayah Rukmini, melarang istrinya pergi.
"Sebentar kok." Ucap ibunya Rukmini, dia tetap pergi.
Ayah Rukmini dan Rukmini di tinggal di ruang tamu, Rukmini juga menatap kepergian ibunya.
"Ibu panggil dukun buat apa, pak?" Tanya Rukmini, bapak nya menggeleng.
"Ndak tau. Tadinya ibumu mau nanya koe, tapi malah jadi panggil dukun." Ucap ayah Rukmini, akhir nya Rukmini hanya mengangguk.
Dan benar.. Hujan tiba - tiba turun, Rukmini akhir nya bangun dari duduk nya dan pergi ke kamar nya. Rukmini menata ranjang nya lalu merebahkan dirinya membelakangi pintu, dan dari pintu itu ayah nya berdiri menatap Rukmini.
Rukmini yang sedang memejamkan mata itu terkejut saat tubuh nya di pegang, dia spontan membuka mata dan hendak bangun tapi di tahan, rupanya itu ayah nya.
"Bapak ngapain?!" Ucap Rukmini, dia terkejut sekaligus takut.
"Sssh! Sama bapak sendiri kok berlebihan gitu toh?!" Ucap bapak nya, Rukmini hendak bangun tapi lagi - lagi di cekal.
"Bantuin bapak toh nduk." Ucap bapak nya, seketika ingatan Rukmini kembali memutar pada momen saat dulu dia di mintai bantuan oleh wa Parto.
Bantuan, Rukmini jadi teringat dengan modus wa Parto yang meminta bantuan padanya tapi berujung melecehkan nya sampai berkali - kali.
"Bapak mau apa?" Tanya Rukmini, dia sudah berkaca - kaca.
Tanpa aba - aba lagi, ayah Rukmini itu merebahkan dirinya di belakang Rukmini dan memeluk nya. Rukmini sudah menangis, karena tangan ayah nya menggerayangi tubuh nya, tapi Rukmini tidak bisa melawan.
Sampai tangan ayah nya berhenti di perut Rukmini dan menyadari perut Rukmini agak besar, ayah Rukmini bangun dan membuka kaos Rukmini dan memang terlihat perut Rukmini agak buncit.
"Koe hamil, yo!?" Ucap ayah Rukmini, Rukmini tertegun.
...BERSAMBUNG!...