NovelToon NovelToon
Terikat Janji Dalam Kegelapan

Terikat Janji Dalam Kegelapan

Status: tamat
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Penyelamat / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Menyembunyikan Identitas / Kekasih misterius / Tamat
Popularitas:253.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Kaivan, anak konglomerat, pria dingin yang tak pernah mengenal cinta, mengalami kecelakaan yang membuatnya hanyut ke sungai dan kehilangan penglihatannya. Ia diselamatkan oleh Airin, bunga desa yang mandiri dan pemberani. Namun, kehidupan Airin tak lepas dari ancaman Wongso, juragan kaya yang terobsesi pada kecantikannya meski telah memiliki tiga istri. Demi melindungi dirinya dari kejaran Wongso, Airin nekat menikahi Kaivan tanpa tahu identitas aslinya.

Kehidupan pasangan itu tak berjalan mulus. Wongso, yang tak terima, berusaha mencelakai Kaivan dan membuangnya ke sungai, memisahkan mereka.

Waktu berlalu, Airin dan Kaivan bertemu kembali. Namun, penampilan Kaivan telah berubah drastis, hingga Airin tak yakin bahwa pria di hadapannya adalah suaminya. Kaivan ingin tahu kesetiaan Airin, memutuskan mengujinya berpura-pura belum mengenal Airin.

Akankah Airin tetap setia pada Kaivan meski banyak pria mendekatinya? Apakah Kaivan akan mengakui Airin sebagai istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Masih Waspada

Airin menggigit bibir bawahnya, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Itu... ini waktunya meneteskan obat matamu," ujarnya pelan, mencoba terdengar biasa saja.

Kaivan tersenyum tipis, hampir tak kentara. "Baik. Aku serahkan padamu," katanya, suaranya tetap tenang namun terasa lebih hangat dari biasanya.

Airin tertegun sejenak, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tak tahu mengapa, tapi ada sesuatu dalam nada suara Kaivan yang membuat perasaannya jadi tak menentu.

"Maaf, sebaiknya kamu tengadahkan wajahmu, agar aku bisa lebih mudah meneteskan obatnya," ujar Airin lembut, suaranya sedikit bergetar namun penuh perhatian.

Kaivan hanya mengangguk kecil dan menurut. Ia mendongakkan kepala perlahan, membiarkan Airin mengambil posisi lebih dekat. Dalam jarak sedekat ini, Kaivan bisa mendengar napas Airin yang sedikit tersengal, mungkin karena gugup.

Dengan hati-hati, Airin menyibak poni Kaivan yang menutupi sebagian matanya. Jari-jarinya menyentuh dahi pria itu dengan sentuhan yang ringan, hampir seperti bisikan. Airin menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya. Ia belum pernah melakukan sesuatu yang terasa seintim ini dengan seorang pria sebelumnya.

Dari gerakan tangan Airin yang gemetar halus, Kaivan bisa merasakan kegugupan itu. "Kau gugup?" tanyanya tiba-tiba, suaranya rendah namun tajam, seperti mencoba membaca isi hati Airin.

Airin terdiam sesaat, merasa pipinya memanas. "Ah, tidak. Aku hanya... takut salah," jawabnya cepat, mencoba terdengar santai meski suaranya tetap bergetar.

Kaivan tersenyum tipis, meski matanya tak bisa menatap Airin. "Tenang saja. Aku percaya kamu tidak akan menyakitiku," ujarnya singkat, dengan nada yang entah kenapa terdengar menenangkan bagi Airin.

Kata-kata itu membuat Airin lebih tenang, meski jantungnya tetap berdegup cepat. Ia pun dengan perlahan meneteskan obat ke mata Kaivan, berusaha sebaik mungkin agar tidak membuat pria itu merasa tidak nyaman.

Tak lama kemudian, Airin sudah selesai memberikan obat tetes mata pada Kaivan. "Emm.. Kak Ivan," Airin kembali memanggilnya dengan nada lembut. "Jangan terlalu khawatir dulu, ya. Aku akan membantumu pergi ke dokter mata. Siapa tahu ini cuma sementara, seperti yang Bu Warti bilang."

Kaivan menoleh ke arah suara Airin, meski pandangannya tetap kosong. "Dokter mata, ya?" gumamnya, nada suaranya rendah tapi masih tenang. "Biayanya pasti mahal. Aku tidak punya uang untuk biaya pengobatan. Dompetku hilang saat terhanyut di sungai."

Airin tertegun, tidak menyangka Kaivan langsung memikirkan hal itu. Ia segera menjawab, "Kamu jangan pikirkan soal itu dulu. Yang penting sekarang, aku akan bantu semampuku. Di kota ada rumah sakit besar, mereka pasti bisa memeriksa kondisimu."

Kaivan menghela napas panjang. "Airin, aku berterima kasih kau sudah mau menolong. Tapi aku juga harus realistis. Aku... aku buta. Aku tidak ingin jadi beban untukmu atau keluargamu."

Airin tersenyum kecil, meski hatinya ikut berat mendengar keraguan pria itu. "Aku tidak menganggapmu beban. Kalau aku ada di posisi kamu, aku yakin kamu pasti akan melakukan hal yang sama untukku."

Kaivan terdiam, kedua tangannya mengepal di atas pahanya. "Aku tidak tahu, Airin. Jika aku berada di posisimu, belum tentu aku bisa melakukan apa yang kamu lakukan padaku. Aku tidak tahu apa aku pantas menerima semua bantuan ini."

Airin menunduk, lalu mendekati Kaivan, meletakkan tangannya di lengan pria itu dengan hati-hati. "Aku tidak tahu bagaimana orang lain akan memperlakukan aku. Tapi, selama aku ada di sini, aku akan bantu semampuku. Jadi, jangan pikirkan hal-hal yang sulit dulu. Yang penting sekarang, kita fokus agar kamu cepat sembuh."

Kaivan merasakan sentuhan lembut di lengannya saat Airin meletakkan tangannya di lengannya. Sentuhan itu hati-hati, seolah Airin khawatir akan membuatnya merasa tidak nyaman.

Biasanya, sentuhan seperti ini membuat Kaivan langsung bereaksi, entah dengan menepisnya atau menjauh. Ia paling tak suka disentuh oleh wanita yang bukan keluarganya, apalagi dalam situasi seperti ini. Tapi entah kenapa, kali ini ia tak bereaksi seperti biasanya.

Ada sesuatu dalam sentuhan itu yang berbeda. Bukan sekadar lembut, tapi tulus. Kaivan bahkan bisa merasakan ketegangan di tangan Airin, seolah gadis itu juga berusaha menjaga jarak emosional di tengah kedekatan fisik ini.

“Maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman,” ucap Airin pelan, mungkin menyadari kebiasaan pria itu yang cenderung dingin.

Kaivan menggelengkan kepala perlahan. "Tidak apa-apa," balasnya singkat, suaranya rendah namun terdengar jujur.

Hatinya berbisik pelan, mempertanyakan mengapa ia merasa tenang kali ini. Mungkinkah karena Airin? Ia tak tahu, tapi untuk pertama kalinya, Kaivan membiarkan dirinya menerima kehangatan itu tanpa perlawanan.

Kaivan menarik napas panjang, lalu mengangguk perlahan. "Baiklah, Airin. Tapi janjikan satu hal padaku."

"Apa itu?" tanya Airin, nada suaranya penuh perhatian.

"Jika aku... jika ternyata aku tidak bisa melihat lagi selamanya, tolong jangan biarkan aku tinggal di sini terlalu lama. Aku tidak ingin menyusahkan hidupmu," katanya pelan, namun penuh keyakinan.

Airin menggigit bibirnya, berusaha menahan emosi yang tiba-tiba menggelegak di dadanya. "Kamu, jangan bicara seperti itu. Kamu pasti sembuh. Aku yakin, kita akan temukan cara untuk membuat kamu bisa melihat lagi."

Kaivan mengangguk kecil, meski raut wajahnya tetap dingin. "Kalau begitu, aku serahkan semuanya padamu, Airin. Maaf jika aku terlihat dingin... mungkin ini caraku menjaga diri dari ketidakpastian."

Airin tersenyum tipis. "Kamu tidak perlu minta maaf. Aku akan ada di sini sampai semuanya membaik."

Kaivan menoleh ke arah suara Airin, meski pandangannya tetap gelap. Ada sesuatu dalam nada suara gadis itu yang entah mengapa membuatnya merasa... aman.

"Aku akan lihat nenek sudah selesai membuat bubur atau belum. Kamu harus makan dan minum obat agar cepat pulih.

Setelah Airin keluar dari kamar, Kaivan duduk diam di dipan sederhana itu. Ia bisa mendengar suara gemericik air sungai dari kejauhan dan desahan angin yang menggerakkan dedaunan. Tangannya meraba perlahan, menyentuh kain sederhana yang menutupi tubuhnya, bukan pakaian mewah yang biasa ia kenakan. Di balik matanya yang kini hanya memandang kegelapan, pikirannya berputar tanpa henti.

"Aku tidak boleh gegabah. Orang-orang seperti mereka... mungkin tulus, tapi aku tak bisa terlalu percaya. Kalau mereka tahu siapa aku, apa yang akan terjadi? Akankah mereka tetap menolong atau malah mengincar hartaku? Tidak, aku harus diam dulu. Ini bukan saatnya mempercayai siapa pun,"gumamnya lirih, hampir tak terdengar.

Kaivan mengepalkan tangan, menahan frustrasi. Sebagai seorang pewaris keluarga konglomerat, ia terbiasa dengan kehidupan yang penuh kepalsuan. Kekayaan sering kali menarik kepura-puraan, bahkan dalam momen-momen terburuk.

"Tapi mereka berbeda... atau setidaknya terlihat berbeda. Gadis itu, Airin, dia begitu peduli meski aku tak bisa memberikan apa-apa. Dan neneknya... suara lembut itu tak terdengar palsu. Tapi tetap saja, aku harus yakin mereka membantu karena kemanusiaan, bukan karena siapa aku. Jika aku membuka segalanya sekarang, aku takkan pernah tahu apakah ketulusan mereka benar adanya."

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang terusik.

"Untuk saat ini, aku adalah Ivan. Pria biasa tanpa nama besar, tanpa kekayaan, tanpa apapun. Jika mereka tulus, aku akan tahu. Jika tidak... setidaknya aku masih punya kendali."

Kaivan berdiam diri lagi, mendengarkan langkah ringan Airin yang mendekat. Ia menghela napas, mempersiapkan diri untuk menjawab setiap pertanyaan dengan hati-hati, tetap menjaga rahasianya.

***

Bidan Warti baru saja melangkahkan kaki memasuki pekarangan rumahnya ketika seorang pria kurus muncul entah dari mana dan berdiri di hadapannya. Napasnya sedikit tersengal, seperti habis berlari.

"Bu Warti," ucap pria itu dengan nada mendesak, "katakan pada saya, siapa pria di rumah Airin itu?"

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Arida Susida
suka bangettt😘😘😘
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
echa purin
👍🏻
Memyr 67
𝗂𝗍𝗎𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝖺𝗉𝖺𝗉𝗎𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄. 𝗐𝖺𝗅𝖺𝗎𝗉𝗎𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗇𝖺𝖿𝗄𝖺𝗁 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 , 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝖽𝗂𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌, 𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗋𝗎 𝗂𝗇𝗂. 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗌𝗈𝗆𝗉𝗅𝖺𝗄
Memyr 67
𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗉𝗈𝗅𝗈𝗌. 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖺𝖽𝖺 𝗄𝖾𝗁𝗂𝖽𝗎𝗉𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝗎𝗋𝗂𝗀𝖺𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖾𝗇𝖽𝗂𝖽𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝗅𝗈𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗃𝖺𝗓𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗎𝖺𝗉 𝖽𝖺𝗇 𝗇𝖺𝗂𝗄 𝗄𝖾 𝗋𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖽𝗈𝗌𝖾𝗇𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖿𝗂𝗋𝖺𝗌𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆
Memyr 67
𝗁𝖺𝗅𝖺𝖼𝗁 𝗀𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗌𝗍𝗋𝖺𝗍𝖾𝗀𝗂, 𝗍𝗎𝗃𝗎𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺
Memyr 67
𝗄𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺, 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝗄𝗅𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗇𝖺𝖿𝗌𝗎 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄. 𝗇𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗅𝗎 𝗅𝖺𝗀𝗂, 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺.
Memyr 67
𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗍𝖺𝗂 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 "𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍" 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗒𝖺, 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗍𝗎𝗉 𝗆𝖺𝗍𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗉𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖻𝖾𝗋𝗍𝖺𝗆𝖻𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗉𝖺𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 k𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝖽𝖺𝗇 𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗍𝗎𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆
Memyr 67
𝗆𝖾𝗅𝗂𝖺𝗁, 𝖻𝖾𝗋𝗌𝗂𝖺𝗉 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋
Memyr 67
𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗎𝗇𝖻𝗈𝗑𝗂𝗇𝗀.
Memyr 67
𝗄𝗅𝖺𝗄𝗎𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗒𝖺? 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗋𝗂𝖼𝗁𝗂𝖾 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌.
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖺𝗅𝗏𝖺 𝗄𝖾𝗃𝖺𝖽𝗂𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺? 𝗁𝖺𝗇𝗒𝗎𝗍 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗄𝖾 𝗍𝖾𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗂?
Memyr 67
𝗎𝗎𝗎𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗌𝖾𝖻𝖾𝗇𝗍𝖺𝗋, 𝖺𝗊 𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖿𝖾𝗋𝖽𝗒 𝗂𝗇𝗂 𝗒𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 2? 𝗒𝗀 𝗌𝖺𝗍𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖾𝗍𝖺𝗁𝗎𝗂 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗁𝖺𝗌𝗋𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺. 𝗁𝖺𝗁𝖺. 𝖾𝗀𝗈𝗂𝗌 𝗌𝗂𝗁, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗎 𝗃𝗎𝗃𝗎𝗋 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗇𝗈𝗋𝗆𝖺𝗅.
Memyr 67
𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾, 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌 𝖽𝗂𝖻𝖺𝖼𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗎𝗋𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝖺𝗄 𝗇𝗂𝗌𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍.
Diana Dwiari
sepasang mata yang mengamati....Hem....kira2 siapa ya...anak buahnya Ferdi atau orang kampung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!