Apa jadinya jika yang menjadi sekretaris di perusahaan adalah istri sendiri? jangankan bisa menggoda karyawan wanitanya bahkan untuk sekedar lirik sana-sini pun tidak akan bisa dilakukan.
Sementara itu, dibalik sikap ceria sang istri ternyata dia harus bertahan menghadapi keluarga suami yang sering menyindirnya karena belum dikaruniai anak. Akankah rumah tangga mereka bisa kuat ataukah harus hancur hanya gara-gara sang istri belum juga dikaruniai keturunan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 Rencana Ashika
Ashika selama perjalanan hanya bisa meneteskan air matanya. "Aku gak nyangka kalau Mas Rio kondisinya separah itu, Bal," seru Ashika.
"Aku juga gak tahu As, Kak Rio kok bisa sampai depresi," sahut Ikbal.
"Si Nathalie ke mana sih? dulu dia ngebet banget ngerebut Mas Rio dari aku, sekarang giliran Mas Rio rapuh, dia malah kabur mana ninggalin anak pula," geram Ashika.
"Dia memang wanita gila," sahut Ikbal.
Ashika benar-benar merasa kasihan kepada Rio. Ashika memilih pulang dan Ikbal langsung mengantarkan Ashika pulang ke rumahnya. Ashika dan Ikbal terkejut kala melihat Nirmala dan Melisa sudah berada di depan rumah kedua orang tuanya sembari menggendong anak Rio dan Nathalie.
"Ngapain mereka ada di depan rumah Mama?" seru Ashika bingung.
Ashika dan Ikbal segera keluar dari mobil. "Kalian ngapain di sini?" tanya Ashika.
"Ashika maafkan Mama, selama ini Mama sudah jahat sama kamu. Mama hanya ingin hidup tenang, dan selama ini hidup kita belum tenang karena belum meminta maaf kepadamu," seru Mama Nirmala dengan mata berkaca-kaca.
"Kak Ashika, Melisa juga minta maaf. Kami sudah mendapatkan karma yang benar-benar sangat menyakitkan. Perusahaan Papa bangkrut, Nathali kabur, dan sekarang Kak Rio masuk rumah sakit jiwa. Selama dia di rumah, Kak Rio terus saja berteriak sebut-sebut nama Kakak. Kak Rio sudah menyesal, mungkin Kak Ashika tidak akan mau kembali dengan Kak Rio tapi setidaknya Kak Ashika tolong maafkan Kak Rio," mohon Melisa dengan delapan air matanya.
"Kamu mau 'kan maafin kita semua?" timpal Mama Nirmala.
Ashika terdiam sejenak, dia menoleh ke arah Ikbal dan Ikbal hanya bisa menyunggingkan senyumannya. "Aku sudah memaafkan kalian dari dulu," sahut Ashika.
Tangisan Nirmala pecah, dia pun langsung memeluk Ashika. "Terima kasih, Ashika. Maafkan Mama karena selama kamu menikah dengan Rio, kami selalu memperlakukan kamu dengan sangat tidak baik. Ternyata penilaian kita selama ini salah pantas Papa Anton sangat menyayangi kamu," ucap Mama Nirmala dengan deraian air matanya.
Ashika melepaskan pelukan mantan mertuanya itu. "Sudah tidak apa-apa. Apa kalian mau masuk dulu?" tawar Ashika.
"Tidak, kita mau pulang saja kasihan Nayla ngantuk," sahut Mama Nirmala sembari mengusap kepala cucunya.
Ashika memperhatikan wajah Nayla dan wajahnya sangat mirip dengan Rio. Tidak ada kata sakit, justru dia merasa kasihan kepada Nayla yang tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. "Ikbal, kamu antarkan mereka pulang," seru Ashika.
"Ok."
"Tidak usah Nak, kita naik taksi saja," tolak Mama Nirmala.
"Tidak, ini sudah hampir malam lebih baik Ikbal antar kalian pulang," sahut Ashika.
"Iya, Ma biar Ikbal antar kalian pulang," sambung Ikbal.
Akhirnya Ikbal mengantarkan mereka pulang.
***
Malam pun tiba.....
Setelah selesai makan malam bersama kedua orang tuanya, Ashika duduk termenung di balkon kamarnya. Tatapannya jauh menerawang ke langit yang luas itu. Dia memikirkan sesuatu hal dan menjadi hutang dia selama ini.
"Ya, Allah apakah Mas Pasha memang ditakdirkan untuk aku? tapi aku masih takut, takut jika Mas Pasha sama seperti Mas Rio akan mencintaiku diawal tapi pada kenyataannya dia meninggalkan aku dan mengkhianati aku dengan wanita lain," batin Ashika.
Hatinya masih ragu untuk menerima Pasha tapi soal perasaan, tidak bisa dipungkiri kalau Ashika juga sudah mulai jatuh cinta kepada Pasha. Pasha adalah orang yang selalu ada pada saat dia membutuhkan, bahkan Pasha selalu menjadi sandarannya selama ini.
***
Satu minggu kemudian....
Sudah tiga hari Ashika dan Pasha tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Ashika mulai merasakan rindu dengan kehadiran sosok Pasha yang selalu membuatnya bahagia. Selama satu minggu ini, dia sudah memikirkan jawaban atas perasaannya.
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 16.00 sore. Ashika menghubungi Ikbal supaya datang ke ruangannya. "Ada apa, As?" tanya Ikbal yang baru saja masuk ke ruangannya.
"Aku ada kerjaan untuk kamu, diluar pekerjaan," sahut Ashika.
Ikbal mengerutkan keningnya. "Maksudnya bagaimana?" tanya Ikbal.
Ashika tersenyum mencurigakan membuat Ikbal semakin bingung. Ashika pun memberitahukan semua pekerjaan yang harus Ikbal lakukan. Seketika Ikbal tertawa kecil mendengar apa yang diinginkan Ashika.
"Serius? kamu gak bercanda 'kan?" tanya Ikbal.
"Seriuslah masa bohong," sahut Ashika.
"Ya, sudah kapan aku mulai melakukannya?" tanya Ikbal.
"Tahun depan," ketus Ashika.
"Ya, sekaranglah Ikbal," sambung Ashika dengan gemasnya.
"Ok, siap laksanakan!" Ikbal kembali tertawa kecil.
Ashika siap-siap pulang ke rumahnya untuk melakukan rencananya. Kebetulan hari ini Pasha berulang tahun dan Ashika segaja sama sekali belum mengucapkan ulang tahun kepada Pasha. Bahkan Ashika sengaja mematikan ponselnya supaya Pasha semakin kesal kepada dirinya.
Sementara itu di kantor Pasha. "Ashika kenapa sih, kok gak ngucapin ulang tahun sama aku? mana ponselnya gak aktif lagi dari tadi malam," kesal Pasha.
Pasha sudah sangat gelisah, dia ingin sekali menemui Ashika tapi pekerjaan dia hari ini sangat padat dan ada beberapa pertemuan penting juga dengan beberapa klien. Sebenarnya Pasha sudah menghubungi Ikbal dan Ikbal bilang jika Ashika sedang ada kerjaan. Padahal Ikbal berbohong karena disuruh oleh Ashika.
Pintu ruangan Pasha diketuk. "Masuk!"
"Maaf Pak, ada orang yang mau bertemu dengan Bapak," seru Sekretaris.
"Siapa?" tanya Pasha.
"Namanya Pak Ikbal dari perusahaan xxx," sahut Sekretaris.
"Suruh dia masuk," sahut Pasha.
"Baik, Pak."
Sekretaris itu keluar dan mempersilakan Ikbal untuk masuk. Pasha sempat bingung karena tidak biasanya Ikbal datang ke kantornya padahal dia bisa saja menghubunginya lewat ponsel. "Halo, Bang!" seru Ikbal.
"Bal, ada apa? tumben datang ke sini?" tanya Pasha bingung.
"Ponsel Abang mati ya? aku telepon dari tadi gak nyambung-nyambung," seru Ikbal.
"Astaga, iya lupa tadi Abang matiin karena kesal ngehubungi Ashika gak bisa," kesal Pasha.
"Abang bisa ke rumah Ashika gak sekarang?" seru Ikbal lagi.
"Ada apa?" tanya Pasha mulai panik.
"Tadi Ashika pingsan di kantor, dia langsung dibawa pulang ke rumah," sahut Ikbal.
Pasha langsung menyambar jasnya dan mengambil kunci mobilnya. "Kenapa gak bilang dari tadi," ucap Pasha panik.
Ikbal berlari menyusul Pasha. "Tunggu Bang!" teriak Ikbal.
"Apa lagi, Bal?" kesal Pasha.
"Tadi kata sekretaris Abang, sekarang masih ada pertemuan dengan klien Abang," sahut Ikbal.
"Sudah aku batalkan, memangnya apa yang lebih penting dari Ashika," seru Pasha kembali berlari masuk ke dalam mobilnya.
Pasha dengan cepat melajukan mobilnya meninggalkan Ikbal. Ikbal hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Pasha yang terlihat panik dan khawatir itu. "Bang Pasha kayanya memang benar-benar mencintai Ashika," gumam Ikbal.
Ikbal mengirim pesan kepada Ashika. "Aku sudah membuat Bang Pasha panik dan khawatir, aku sudah berdosa berbohong pokoknya tidak mau tahu, dosa aku tanggung sama kamu."
Seketika Ashika terkekeh melihat pesan dari Ikbal. Ikbal adalah orang yang dari dulu selalu membantunya.
.lili kyk nya kecintaan sm boy deh..
.ayo lili sadar lah . tunjukan km kuat.. jg nangisan