Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokumen Rahasia
Pagi menyapa dengan langit yang sedikit kelabu di atas cakrawala Jakarta. Di lantai teratas gedung Wijaya Group, Sasha duduk di kursi kebesarannya, namun kali ini ia tidak menatap laporan keuangan. Di hadapannya, tersebar beberapa dokumen yang diambil dari gudang pelabuhan semalam. Dokumen-dokumen itu adalah kartu mati bagi banyak orang berkuasa di negeri ini—catatan suap, rekaman pertemuan rahasia, dan bukti penggelapan pajak yang selama ini dikubur rapat oleh keluarga Satya.
Sasha menyesap kopinya, matanya berkilat tajam. Ia merasa seperti seorang dewi perang yang baru saja menemukan senjata pemusnah massal. Dengan dokumen ini, ia tidak perlu lagi bertarung secara terang-terangan di bursa saham atau ruang rapat. Ia cukup membisikkan satu kata di telinga orang yang tepat, dan mereka akan bertekuk lutut.
Gio berdiri di dekat jendela, tangannya berada di saku celana, matanya menyisir setiap sudut ruangan dengan kewaspadaan yang tidak pernah luntur. "Beberapa nama di sana adalah orang-orang yang sangat nekat, Sha. Jika mereka tahu kau memegang kartu ini, mereka tidak akan mengirim pengacara. Mereka akan mengirim pembunuh."
Sasha tertawa kecil, suara tawa yang dingin dan penuh percaya diri. "Biarkan mereka mencoba, Gio. Aku punya kau, bukan?"
"Kau selalu punya aku," sahut Gio pelan, namun nadanya mengandung janji yang mematikan. "Tapi aku ingin kau menggunakan senjata itu dengan bijak. Jangan biarkan kekuatan ini meracunimu seperti ia meracuni Dimas."
Sasha terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Gio. Ia tahu ada garis tipis antara keadilan dan tirani. Namun, di dunia yang penuh serigala ini, ia harus menjadi yang paling buas untuk tetap bertahan hidup.
Siang itu, tamu pertama datang. Seorang pejabat tinggi yang namanya tercantum dalam daftar suap Satya. Pria itu datang dengan angkuh, mencoba menggertak Sasha agar menghentikan penyelidikan internal perusahaan yang mulai merembet ke urusan birokrasi.
Sasha menyambutnya dengan senyum paling manis namun paling palsu yang pernah ia miliki. "Pak Surya, senang sekali Anda sempat berkunjung. Saya baru saja membaca sesuatu yang sangat menarik tentang proyek reklamasi tahun lalu."
Wajah pria itu berubah pucat dalam sekejap. Keangkuhannya menguap seperti embun di bawah terik matahari. "Apa... apa maksudmu, Nyonya Wijaya?"
Sasha menggeser sebuah map kecil ke arah pria itu. "Saya hanya ingin memastikan bahwa dukungan Anda terhadap Wijaya Group tetap stabil. Terutama mengenai izin ekspansi pelabuhan baru kami. Saya yakin Anda tidak ingin dokumen asli dari salinan ini sampai ke meja KPK, bukan?"
Tangan pria itu gemetar saat membuka map tersebut. Ia menatap Sasha dengan tatapan tidak percaya, lalu melirik Gio yang berdiri diam seperti patung maut di belakang kursi Sasha. Di ruangan itu, ia menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan seorang pengusaha muda, melainkan seorang pemangsa yang telah didampingi oleh iblis pelindungnya.
"Apa... apa yang kau inginkan?" tanya pria itu dengan suara yang nyaris hilang.
"Kesetiaan penuh. Dan pastikan semua pergerakan hukum terhadap Dimas Satya berjalan tanpa gangguan. Aku ingin dia membusuk tanpa ada kemungkinan banding," jawab Sasha tenang.
Setelah pria itu pergi dengan langkah gontai, Sasha menyandarkan punggungnya di kursi. Ia merasakan aliran adrenalin yang luar biasa. Ini adalah jenis kekuasaan yang sesungguhnya.
Namun, malam harinya, sisi manusiawi Sasha kembali muncul. Saat mereka berada di dalam mobil menuju perjalanan pulang, Sasha tampak termenung. Kelelahan mental mulai menghantamnya. Mengintimidasi orang dan bermain dengan nasib orang lain ternyata menguras energi batinnya.
Gio menyadari perubahan suasana hati Sasha. Ia meraih tangan Sasha dan menggenggamnya erat. "Cukup untuk hari ini, Sha. Kau sudah melakukan apa yang harus dilakukan."
"Apakah aku menjadi orang yang jahat, Gio? Mengancam orang... memeras mereka?" tanya Sasha lirih.
Gio membawa tangan Sasha ke bibirnya dan mengecupnya pelan. "Dunia ini tidak mengenal hitam dan putih bagi orang-orang di posisi kita. Kau hanya melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi apa yang menjadi milikmu. Jika itu membuatmu disebut jahat, maka biarlah aku yang menjadi lebih jahat darimu agar kau tetap terlihat suci."
Sesampainya di rumah, suasana sunyi menyambut mereka. Sasha segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, mencoba membilas semua beban hari itu. Setelah selesai, ia keluar dengan hanya mengenakan gaun tidur tipis berbahan satin hitam yang menonjolkan setiap lekuk tubuhnya yang indah.
Gio sedang berdiri di balkon, menatap langit malam. Ia sudah melepaskan jasnya, menyisakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya yang kuat. Sasha menghampirinya dan memeluk pinggang Gio dari belakang, menyandarkan wajahnya di punggung pria itu yang hangat.
"Aku butuh kau malam ini, Gio. Lebih dari biasanya," bisik Sasha pelan.
Gio membalikkan tubuhnya dalam pelukan Sasha. Ia menatap wajah wanita itu, menemukan campuran antara kerapuhan dan gairah di matanya. Tanpa berkata-kata, Gio mengangkat Sasha, membawa wanita itu ke ranjang besar mereka.
Malam itu, percintaan mereka terasa berbeda. Tidak ada dominasi kasar atau perebutan kendali. Gio menyentuh Sasha dengan kelembutan yang memabukkan, seolah ingin menyembuhkan setiap luka batin yang Sasha rasakan hari itu. Namun, di balik kelembutan itu, tetap ada api posesif yang membara. Gio mencium setiap inci kulit Sasha, menandai kembali wilayah kekuasaannya dengan cara yang paling intim.
Sasha mendesah pasrah, membiarkan dirinya hanyut dalam perlindungan dan gairah yang hanya bisa diberikan oleh Gio. Di dalam pelukan pria ini, ia tidak perlu menjadi pimpinan Wijaya Group yang ditakuti. Ia hanya perlu menjadi Sasha, wanita yang dicintai dan dijaga sepenuhnya.
Menjelang fajar, saat keduanya masih terengah dalam sisa gairah yang membara, Gio memeluk Sasha dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Sasha akan menghilang.
Sasha menyandarkan kepalanya di dada Gio yang masih berdegup kencang. "Gio, kau tahu... dokumen-dokumen itu membuatku merasa bisa memiliki dunia. Tapi saat ini, aku sadar..."
Sasha menjeda kalimatnya, menatap mata hitam Gio yang nampak berkilat dalam kegelapan kamar. Ia mengusap rahang tegas suaminya itu dengan jari-jarinya yang lentur.
"Apa yang kau sadari, Sha?" tanya Gio dengan suara bariton yang serak dan rendah.
Sasha tersenyum, lalu berbisik tepat di depan bibir Gio, sebuah pengakuan yang membuat jantung Gio berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Aku menyadari bahwa mengendalikan seluruh pejabat di kota ini tidak ada artinya, jika dibandingkan dengan perasaan saat aku berhasil membuat pria paling dingin dan berbahaya seperti kau bertekuk lutut di bawah kendaliku setiap malam."
Gio terkekeh rendah, sebuah suara yang penuh dengan gairah dan kepatuhan yang gelap. Ia membalikkan posisi mereka, kembali menindih tubuh Sasha dan menatapnya dengan pandangan yang sangat posesif.
"Kalau begitu, teruslah kendalikan aku, Ratu. Karena di dunia ini, hanya kau satu-satunya orang yang memiliki kunci untuk membuka pintu neraka atau surga di dalam diriku."
Sasha tertawa kecil sebelum Gio kembali membungkam bibirnya dengan ciuman yang lebih panas dari sebelumnya, memastikan bahwa fajar tidak akan pernah datang terlalu cepat bagi mereka.