Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Sisi yang Sama
Pertanyaan Gio masih menggantung di udara ketika senja benar-benar tenggelam.
Sasha tidak langsung menjawab.
Ia menatap pria di hadapannya dengan sorot yang sulit dibaca—bukan ragu, bukan pula marah. Lebih seperti seseorang yang sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar perasaan.
Gio tidak mengalihkan pandangan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia membiarkan dirinya berada di posisi menunggu.
Menunggu keputusan Sasha.
“Aku tidak pernah mencari pria yang layak,” ucap Sasha akhirnya, suaranya tenang. “Aku mencari pria yang berani.”
“Berani bagaimana?” tanya Gio pelan.
“Berani tetap tinggal. Bahkan ketika aku sedang sulit dicintai.”
Gio menghela napas kecil, seolah beban tak terlihat di dadanya sedikit terangkat. “Kalau itu ukurannya… maka aku tidak pernah pergi.”
Sasha mendekat selangkah. “Kau hampir pergi.”
“Kapan?”
“Waktu kau memutuskan menanggung semuanya sendiri. Waktu kau pikir melindungiku berarti menjauhkan aku dari kebenaran.”
Gio terdiam.
Ia tahu Sasha benar.
“Aku tidak ingin kau terseret lebih dalam,” katanya jujur.
Sasha menggeleng pelan. “Aku sudah berada di dalam sejak lama, Gio. Kau hanya tidak sadar.”
Keheningan menyelimuti mereka, namun bukan lagi keheningan yang rapuh. Ada pemahaman yang mulai tumbuh di antara keduanya.
Gio akhirnya tersenyum tipis. “Jadi jawabannya?”
Sasha menatapnya lurus. “Ya.”
“Ya?”
“Ya, kau layak berjalan di sampingku.”
Bukan pengakuan dramatis. Tidak ada air mata. Tidak ada pelukan mendadak.
Tapi bagi Gio, itu lebih dari cukup.
Beberapa hari kemudian, perubahan mulai terasa nyata.
Pratama-Wijaya Foundation resmi diluncurkan dalam konferensi pers besar. Sasha berdiri di podium dengan gaun hitam sederhana, elegan tanpa berlebihan. Gio berdiri tidak jauh darinya—bukan mengambil alih sorotan, hanya memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
Kamera berkilat.
Pertanyaan bertubi-tubi datang.
“Apakah ini bentuk penebusan dosa keluarga Wijaya?”
“Apakah restrukturisasi ini menandakan perubahan kepemimpinan permanen?”
“Bagaimana hubungan Anda setelah skandal ini?”
Sasha menjawab satu per satu dengan kepala tegak.
“Ini bukan penebusan,” katanya tegas. “Ini tanggung jawab.”
Ia tidak menghindari masa lalu. Ia tidak pula membiarkannya mendefinisikan masa depan.
Ketika seorang wartawan bertanya, “Apakah Anda dan Tuan Gio kini memimpin bersama sebagai simbol rekonsiliasi dua keluarga besar?” Sasha sempat terdiam sepersekian detik.
Lalu ia menjawab, “Kami tidak memimpin sebagai simbol. Kami memimpin sebagai dua orang yang belajar dari kesalahan generasi sebelumnya.”
Gio menoleh sedikit ke arahnya, sudut bibirnya terangkat samar.
Setelah konferensi selesai dan kerumunan mulai bubar, mereka kembali ke mobil dalam pengawalan ketat.
Di dalam mobil, suasana lebih tenang.
“Kau luar biasa,” kata Gio pelan.
Sasha bersandar, menatap keluar jendela. “Aku hanya jujur.”
“Itu yang membuatmu luar biasa.”
Sasha tersenyum tipis. “Jangan mulai memujiku terlalu sering.”
“Kenapa?”
“Aku bisa jadi terlalu percaya diri.”
Gio terkekeh pelan. “Kau sudah percaya diri tanpa pujianku.”
Malamnya, mereka kembali ke rumah yang kini terasa berbeda.
Bekas ketegangan beberapa minggu lalu perlahan memudar. Renovasi kecil dilakukan. Ruang tamu yang dulu menjadi saksi darah dan tembakan kini dipenuhi bunga segar dan cahaya hangat.
Sasha berdiri di tengah ruangan itu, mengamati perubahan.
“Kau sengaja mengganti semuanya?” tanyanya.
Gio berdiri di belakangnya. “Aku tidak ingin kau mengingat malam itu setiap kali melangkah masuk.”
Sasha menoleh sedikit. “Kau tidak harus melakukan ini.”
“Aku ingin.”
Sasha terdiam sejenak, lalu berjalan mendekat ke meja kecil di sudut ruangan. Di atasnya ada bingkai foto baru—foto mereka saat konferensi tadi siang. Ekspresi serius, namun berdiri berdampingan.
“Kita terlihat seperti aliansi politik,” gumam Sasha.
“Kita memang aliansi politik,” jawab Gio ringan.
“Dan pribadi?”
Gio mendekat. “Itu lebih rumit.”
Sasha menatapnya, menunggu.
“Kita dua orang keras kepala dengan trauma berbeda, mencoba membangun sesuatu yang belum pernah kita lihat contohnya,” lanjut Gio.
“Kedengarannya melelahkan.”
“Memang.”
Sasha tersenyum tipis. “Tapi kau tetap di sini.”
“Aku tetap di sini.”
Keheningan jatuh lagi, kali ini hangat.
Sasha berjalan menuju tangga, lalu berhenti di anak tangga pertama. Ia menoleh pada Gio yang masih berdiri di ruang tamu.
“Gio.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti semua ini runtuh—perusahaan, yayasan, reputasi—apa yang tersisa?”
Gio tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di hadapan Sasha di tangga itu.
“Kau,” jawabnya singkat.
Sasha mengernyit. “Itu jawaban yang terlalu mudah.”
“Tidak.” Gio menatapnya serius. “Jika semuanya runtuh tapi kau masih berdiri di sampingku, maka aku tidak benar-benar kehilangan apa pun.”
Sasha terdiam.
Ia terbiasa mendengar janji besar. Namun kalimat Gio terdengar berbeda—lebih sederhana, lebih jujur.
“Aku tidak menjanjikan hidup tanpa masalah,” lanjut Gio. “Tapi aku bisa menjanjikan satu hal.”
“Apa itu?”
“Aku tidak akan lari.”
Sasha menatapnya lama. Angin malam masuk melalui celah jendela, membawa udara dingin yang lembut.
“Kau tahu,” ucap Sasha perlahan, “aku tidak pernah benar-benar percaya pada konsep ‘selamanya’.”
Gio mengangguk. “Aku juga tidak.”
“Tapi akhir-akhir ini…” ia menggantung kalimatnya.
Gio menunggu.
“Aku mulai percaya pada ‘hari ini’. Pada keputusan yang kita ambil setiap pagi.”
Gio tersenyum tipis. “Itu lebih realistis.”
Sasha turun satu anak tangga, kini jarak mereka sangat dekat.
“Jadi jangan janji selamanya, Gio.”
“Baik.”
“Janji saja bahwa besok pagi kau masih memilihku.”
Gio menatapnya dalam-dalam. “Dan kau?”
Sasha mengangkat dagu. “Aku tidak akan berdiri di sini kalau aku tidak berniat melakukan hal yang sama.”
Hening sejenak.
Gio mengangkat tangannya, menyentuh jemari Sasha perlahan.
“Kalau begitu,” katanya rendah, matanya tak lepas dari wajah Sasha, “mulai besok pagi, dan setiap pagi setelahnya… kita tidak lagi berjalan karena masa lalu atau tanggung jawab.”
Sasha memiringkan kepala sedikit. “Lalu karena apa?”
Gio tersenyum, suaranya lembut namun penuh keyakinan.
“Karena kita memilih. Jadi jawab aku sekali lagi, Sasha—bukan sebagai pewaris Pratama, bukan sebagai Direktur, tapi sebagai wanita yang berdiri di hadapanku sekarang…”
Ia memberi jeda, membuat napas Sasha tertahan.
“Besok pagi, ketika matahari terbit dan dunia kembali menuntut kita, apakah kau akan tetap menggenggam tanganku tanpa ragu?”
Sasha tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tangan mereka yang saling bertaut, lalu mengangkat pandangannya perlahan.
“Aku tidak pernah menjanjikan hidup yang mudah, Gio,” bisiknya lembut. “Tapi selama kau tidak melepaskanku lebih dulu… aku akan tetap di sini.”
Gio tersenyum tipis.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “besok pagi bukan awal dari perang baru.”
Sasha mengangkat alisnya. “Lalu?”
“Awal dari kita.”
Keheningan setelah kalimat itu terasa berbeda—bukan lagi penuh tanda tanya, melainkan penuh keputusan.
Di luar, lampu-lampu kota berpendar seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Jakarta tetap sibuk, tetap bising, tetap kejam pada mereka yang lengah. Tapi di dalam rumah itu, dua orang yang pernah berdiri di sisi berlawanan kini memilih berdiri di garis yang sama.
Sasha menarik napas panjang, seolah mengukuhkan sesuatu di dalam dirinya.
Ia tahu hidup mereka tidak akan pernah sederhana. Akan ada rapat yang melelahkan, pengkhianatan baru, tekanan media, dan mungkin musuh yang lebih cerdas dari Dimas. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian menghadapi semua itu.
Gio menggenggam tangannya sedikit lebih erat.
"Aku berharap, kau akan seperti ini selamanya."