"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
"Ini ambillah." Dexter menyerahkan kartu hitam khusus. Yang hanya dimiliki oleh keluarga Henderson.
"Tapi, kartu yang kamu berikan waktu itu sebagai mahar masih utuh, masih belum aku gunakan," kata Kiandra.
"Itu lain, yang ini lain. Hanya keluarga Henderson yang memiliki kartu ini."
Kiandra menatap Dexter penuh kagum. Secara tidak langsung, dia sudah diakui sebagai keluarga Henderson.
"Kenapa? Kamu sudah menjadi istriku, otomatis kamu juga menjadi bagian keluarga Henderson."
Kiandra merasa terharu. Matanya berkaca-kaca saat mendengar ucapan Dexter. Melihat hal itu, Dexter segera merangkul Kiandra.
"Tidak usah baper, aku tidak ingin punya istri cengeng," kata Dexter.
Kiandra melepaskan diri dari rangkulan Dexter. Lalu memukul pelan dada bidang Dexter. Dexter tertawa, lalu mengusap air mata Kiandra dengan ibu jarinya.
"Ayo berangkat, oma sudah menunggu kita di mansion."
Kiandra mengangguk. Tapi sebelum itu, dia memeriksa kembali riasan wajahnya. Dia tidak ingin make-up nya berantakan.
Padahal Dexter sudah menyediakan kosmetik kalis air, yang hanya bisa dibersihkan dengan pembersih khusus.
"Sudah cantik kok, cantik banget malah," kata Dexter.
Entah sejak kapan mulutnya begitu manis dalam berucap. Padahal sebelum-sebelumnya sikapnya saja dingin terhadap perempuan.
"Kamu sudah biasa ya merayu cewek? Mulut mu manis sekali ketika berkata," ujar Kiandra. Namun, dia senang jika Dexter memujinya terus menerus.
"Enggak kok, baru kali ini," ucap Dexter.
Kiandra tidak lagi berkata, dia melangkah lebih dulu keluar dari kamar. Dexter menyusul dari belakang kemudian menyamai langkahnya dengan Kiandra menuruni tangga.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Dexter memasangkan sabuk pengaman kepada Kiandra.
Wajah mereka hampir bertemu, hanya berjarak beberapa centimeter saja. Kiandra benar-benar dibuat tidak tenang olehnya.
"Jangan terlalu dekat," kata Kiandra pelan.
"Kenapa? Apa aku tidak menarik? Atau aku kurang tampan?" tanya Dexter.
"Justru karena kamu terlalu tampan. Pesona mu terlalu besar. Bagaimana bisa aku tidak tertarik?" Namun ucapan itu hanya diucapkan di dalam hati oleh Kiandra.
"Kenapa diam? Hmm."
"Jalan. Katanya keluarga mu sudah menunggu."
Dexter pun menjalankan mobilnya. Setelah keluar dari pintu gerbang, mobil Dexter pun melaju di jalanan.
Hanya beberapa menit saja, mereka sudah tiba di kediaman Aleta. Pintu gerbang terbuka, mobil Dexter pun masuk.
Di depan mansion sudah banyak mobil yang terparkir. Ketika Aleta memberitahu yang lain, jika Dexter akan membawa istrinya. Mereka pun menjadi penasaran.
Mereka ingin tahu, seperti apa wajah gadis yang berhasil memikat hati seorang Dexter yang terkenal dingin kepada perempuan.
"Ayo," ucap Dexter setelah membukakan pintu mobil untuk Kiandra.
Kiandra tampak ragu. Yang pastinya dia merasa malu. Apalagi ada banyak mobil terparkir, sudah bisa di tebak jika keluarga Dexter begitu banyak.
"Jangan malu-malu, keluarga ku tidak seperti apa yang kamu pikirkan," kata Dexter.
Kiandra mengangguk. Dexter menggenggam tangan Kiandra yang terasa dingin. Dexter ingin tertawa, namun sebisa mungkin ia tahan.
Bagaimana tidak? Kiandra seorang ketua di dunia bawah. Tapi seperti takut-takut ketika ingin bertemu keluarga Dexter.
Mereka masuk setelah mengucapkan salam. Dan terdengar jawaban dari dalam menjawab salam mereka.
Orang yang pertama maju adalah Cahaya. Kemudian disusul oleh Aleta. Keduanya tersenyum melihat Kiandra yang cantik dan terlihat malu-malu.
"Ini nenek buyut dan ini oma," kata Dexter memperkenalkan Cahaya dan Aleta.
"Selamat datang dan selamat bergabung di keluarga kami," ucap Cahaya.
Kiandra tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya tersenyum saja. Kemudian Cahaya dan Aleta menuntun Kiandra untuk berkumpul bersama keluarganya.
Satu persatu Kiandra diperkenalkan kepada keluarga yang hadir. Itu belum semuanya hadir. Baru sesepuh dan beberapa anak kecil yang terlihat mirip.
"Aku pikir kamu tidak laku-laku," kata Ram.
"Kakek buyut, aku hanya menunggu yang cocok saja," ucap Dexter sambil melirik ke arah Kiandra.
Kiandra tidak bisa berkata-kata. Hanya pandangan tertuju pada Ray, Ren, Rasya, Raffa, Rakha, Roy, dan Ram.
Meskipun mereka sudah tua dan keriput, mereka tetap terlihat tampan. Bahkan wajah mereka terlihat mirip.
Kiandra cukup terkejut ketika Dexter memperkenalkan mereka, jika mereka adalah kembar tujuh.
"Apa istri-istri mereka tidak salah mengenali mereka?" batin Kiandra.
Kiandra kemudian melihat ke arah Lina, Lita, dan Lica. Walaupun mereka juga sudah tua, tapi garis kecantikannya tetap terlihat.
Kini Kiandra tahu, jika ketampanan Dexter adalah dari garis keturunan keluarganya. Buktinya, kedua orang tua Dexter terlihat cantik dan tampan.
"Itu Oma buyut, mereka kembar tiga," bisik Dexter.
Kiandra mengalami dan mencium tangan mereka satu persatu. Mereka senang melihat Kiandra yang terlihat cocok dengan Dexter.
"Wah, kalau begitu aku bakal desain gaun pengantin model terbaru lagi nih," kata Viora yang baru datang bersama Ibra.
Viora langsung menghampiri Kiandra, lalu memeluknya. "Panggil Oma," katanya.
"Baik Oma," ucap Kiandra pelan.
"Kamu cantik sekali sayang. Kok bisa kamu mau sama Dexter yang jutek itu," kata Viora. Kiandra tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis saja.
"Kalian belum sarapan, kan?" tanya Aleta.
"Tidak sempat Oma buyut," jawab Dexter.
Sebenarnya ini sudah menjelang siang. Tapi karena Dexter dan Kiandra belum sarapan, jadi mereka diminta untuk sarapan dulu.
"Sekalian makan siang saja, Oma buyut." kata Dexter. "Tidak apa-apa, kan sayang?" ujar Dexter menambahkan. Dan kata sayang itu ditujukan untuk Kiandra.
Kiandra hanya mengangguk. Sebenarnya dia merasa lapar. Hingga Lina pun membawanya ke meja makan untuk sarapan.
"Ngapain ditahan-tahan kalau lapar. Nanti asam lambungnya naik," kata Lina.
"Kamu sih, istri sendiri tidak dikasih makan," kata Lita.
Dexter tidak bisa berkata apa-apa. Dia memang salah. Padahal jika sarapan dulu sebelum pergi, pasti tidak akan diomelin oleh mereka.
Tidak berapa lama datang Arsy dan Zio. Mereka sedikit terlambat, karena ada urusan sedikit.
Tadi pagi-pagi sekali mereka datang ke rumah Denzel. Karena Darlena tiba-tiba pingsan ketika bangun tidur.
Ternyata setelah diperiksa oleh Arsy, Darlena dinyatakan hamil. Orang yang paling bahagia adalah Denzel. Arsy dan Zio juga ikut bahagia, karena mereka sebentar lagi akan mendapatkan cucu.
"Mumpung lagi kumpul, aku ingin menyampaikan kabar gembira," kata Arsy.
Mereka yang tadinya berbicara pun mendadak berhenti. Mereka penasaran dengan kabar gembira apa yang ingin disampaikan oleh Arsy?
"Kabar gembira apa Nak?" tanya Aleta.
"Darlena hamil Ma. Setelah setahun mereka menikah akhirnya dia hamil juga," jawab Arsy.
"Alhamdulillah, akhirnya aku akan dapat cicit," ucap Aleta. Ars hanya tersenyum saja, dengan begitu, berarti mereka sudah tua.
"Harus dirayakan ini," kata Ram.
"Benar, kabar gembira datangnya beruntun," timpal Rendra, atau lebih dikenal dengan Ren.
Mereka akhirnya sepakat untuk mengadakan acara malam ini. Hanya kumpul keluarga, tapi ramainya sudah seperti satu kelurahan.