NovelToon NovelToon
Bukan Istri Cadangan

Bukan Istri Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.

​Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.

​Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.

​Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?

Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

​Malam di Jakarta selalu menyimpan dua sisi, kebisingan jalanan yang tak pernah tidur dan kesunyian yang mencekam di balik dinding-dinding kaca gedung pencakar langit.

Di kantornya, Hana masih berdiri mematung di depan jendela, merasakan hangatnya jemari Adrian yang masih mengelus pipinya.

Kata-kata Adrian tentang menyisakan ruang untuknya terus bergaung, menciptakan getaran yang sudah lama tidak Hana rasakan.

​"Duniaku sedang hancur, Adrian. Aku tidak tahu apakah ada ruang yang tersisa untuk hal lain selain rencana ini," bisik Hana, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan ruangan.

​Adrian tidak menjauh. Justru, ia melangkah satu tapak lebih dekat, hingga Hana bisa merasakan panas tubuh pria itu menembus blazer yang ia kenakan.

"Hana, pembalasan ini adalah hidangan yang dingin. Tapi kau... kau tidak boleh membeku bersamanya. Biarkan aku menjadi api yang menjaga agar kau tetap hidup."

​Hana menoleh perlahan. Mata elang Adrian kini melembut, dipenuhi dengan proteksi yang begitu dalam. Tanpa sadar, Hana menyandarkan kepalanya di bahu Adrian.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak perlu menjadi prajurit yang selalu siaga. Ia hanya ingin menjadi Hana.

​Adrian melingkarkan lengannya di bahu Hana, menarik wanita itu ke dalam pelukan yang kokoh.

"Jangan pulang ke apartemen malam ini. Arlan pasti akan menggila di sana meski kau sudah mengganti sandinya. Dia akan menunggu seperti pemangsa yang lapar."

​"Lalu aku harus ke mana?" tanya Hana lirih.

​"Ikutlah denganku. Ke tempat di mana dia tidak akan pernah bisa menemukanmu," Adrian membisikkan itu tepat di telinga Hana, membuat bulu kuduk wanita itu meremang.

​Adrian membawa Hana ke penthouse pribadinya yang terletak di puncak hotel bintang lima miliknya sendiri.

Tempat itu tidak diketahui banyak orang, sebuah tempat peristirahatan yang minimalis namun sangat mewah, didominasi warna gelap dan pencahayaan yang remang.

​Begitu pintu tertutup, suasana berubah menjadi sangat intim. Hanya ada mereka berdua, ditemani pemandangan lampu kota yang membentang luas di bawah sana.

​"Mandilah. Aku sudah menyiapkan pakaian ganti di kamar utama," ucap Adrian sambil menuangkan dua gelas wine merah.

​Hana mengangguk. Ia butuh air panas untuk membasuh rasa kotor yang masih ia rasakan setiap kali mengingat sentuhan Arlan tempo hari.

Di bawah kucuran shower, Hana memejamkan mata. Ia membayangkan wajah Arlan yang mengamuk dan wajah Maura yang ketakutan. Ia tersenyum tipis. Ini baru permulaan.

​Beberapa saat kemudian, Hana keluar dengan mengenakan kemeja sutra berwarna hitam milik Adrian yang terlalu besar untuk tubuhnya.

Kemeja itu menutupi hingga paha atasnya, meninggalkan kaki jenjangnya terekspos. Rambutnya yang masih lembap ia biarkan terurai.

​Adrian yang sedang berdiri di balkon kaca, berbalik. Gelas di tangannya hampir terlepas saat melihat pemandangan di depannya. Hana tampak begitu rapuh namun luar biasa menggoda dalam pakaiannya.

​"Kau terlihat... berbeda," suara Adrian memberat.

​Hana melangkah mendekat, mengambil gelas wine dari tangan Adrian dan menyesapnya sedikit. Matanya menatap Adrian dengan keberanian yang baru ia temukan.

"Adrian, kau bilang kau mencintaiku lebih dari nyawamu sendiri. Apakah itu benar?"

​Adrian meletakkan gelasnya di meja kecil, lalu meraih pinggang Hana, menariknya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. "Setiap kata yang kuucapkan adalah janji, Hana. Aku tidak pernah bermain-main dengan apa yang menjadi milikku."

​"Tapi aku masih milik Arlan di mata hukum," pancing Hana.

​"Hanya di atas kertas, Hana. Tapi di sini..." Adrian menempelkan telapak tangannya di dada Hana, tepat di jantung wanita itu yang berdegup kencang. "Kau tahu siapa yang benar-benar memilikimu."

​Tangan Adrian bergerak naik, membelai leher Hana dengan ibu jarinya, menghapus bayangan tanda yang ditinggalkan Arlan dengan sentuhan yang jauh lebih berkelas.

Ia merunduk, mencium kening Hana lama, lalu turun ke hidung, dan berhenti tepat di depan bibir Hana.

​"Bolehkah?" bisik Adrian parau, meminta izin yang tidak pernah diminta oleh Arlan.

​Hana tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengalungkan lengannya di leher Adrian, menarik pria itu untuk menyatukan bibir mereka.

​Ciuman itu dimulai dengan kelembutan yang memabukkan, seolah Adrian sedang memuja sesuatu yang suci. Namun, saat Hana membalas dengan desahan halus, kendali Adrian mulai retak.

Ciuman itu berubah menjadi tuntutan yang dalam dan penuh gairah. Adrian menggendong Hana, membuat kaki wanita itu melingkar di pinggangnya, dan membawanya menuju ranjang king size yang menghadap langsung ke arah langit malam.

​Di atas ranjang yang dingin, gairah mereka menyala. Sentuhan Adrian terasa sangat berbeda bagi Hana.

Jika Arlan menyentuhnya dengan rasa kepemilikan yang egois seolah dia adalah benda, Adrian menyentuhnya dengan pemujaan yang membuat Hana merasa berharga.

​Tangan Adrian menjelajahi lekuk tubuh Hana dengan penuh penghargaan, setiap sentuhannya meninggalkan sensasi terbakar yang menyenangkan.

Bibirnya berpindah ke leher Hana, memberikan kecupan-kecupan kecil yang membuat Hana mengerang rendah.

​"Adrian..." rintih Hana, jemarinya meremas rambut hitam Adrian.

​"Sebut namaku, Hana. Lupakan pria itu. Malam ini, hanya ada aku dan kamu," bisik Adrian di sela ciumannya.

​Malam itu, di bawah rembulan yang menyaksikan dari balik awan, Hana menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Adrian.

Bukan karena terpaksa, bukan karena kewajiban, tapi karena keinginan murni untuk dicintai oleh pria yang benar-benar menghargainya.

Di dalam dekapan Adrian, Hana merasa utuh kembali. Setiap gerakan, setiap napas yang beradu, seolah menjadi ritual untuk menyucikan dirinya dari masa lalu yang kelam bersama Arlan.

​Gairah yang mereka padukan bukan hanya sekadar kepuasan fisik, melainkan sebuah pernyataan perang terhadap siapa pun yang mencoba memisahkan mereka.

Di titik puncak kenikmatan, Hana membisikkan nama Adrian, sebuah pengakuan bahwa hatinya kini telah menemukan pelabuhan yang sesungguhnya.

​Sementara Hana dan Adrian tenggelam dalam lautan asmara, di kediaman Mahendra, suasananya bagaikan neraka.

Arlan duduk di sofa ruang tamu dengan botol minuman keras di tangannya. Matanya kosong menatap layar ponsel yang masih menunjukkan foto profil Hana.

​"Kau pikir kau bisa bahagia dengannya, Hana?" gumam Arlan, suaranya parau karena alkohol dan amarah. "Aku akan menyeretmu kembali. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan ada orang lain yang bisa."

​Maura, yang berdiri di kegelapan tangga, memperhatikan Arlan dengan rasa benci yang mulai tumbuh. Ia menyadari bahwa ia hanyalah alat bagi Arlan. Rasa takutnya kini berubah menjadi insting bertahan hidup yang licik.

​Jika Arlan hancur karena Hana, aku harus memastikan aku membawa harta yang cukup sebelum kapal ini karam, pikir Maura.

Kembali di dalam kamar hotel, Adrian yang baru saja terjaga dan melihat Hana tertidur pulas di pelukannya. Senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya.

​Ia mencium kening Hana dengan lembut, memastikan wanita itu tidak terbangun. Adrian bangkit dari ranjang, mengenakan jubah mandinya, dan melangkah menuju balkon. Ia menelepon asisten kepercayaannya.

​"Rencana besok, cabut semua saham yang terhubung dengan perusahaan Mahendra. Aku ingin melihat dia benar-benar hancur tanpa harta sepeserpun."

...----------------...

Next Episode ....

1
sunaryati jarum
Maura dan Bara sedang menggali kuburan mereka sendiri
sunaryati jarum
Sama - sama Thoor
Mundri Astuti
minal aidin wal fa'idzin mohon maaf lahir bathin juga buat author🙏
falea sezi
hana sama. kek. pelacur
falea sezi
g usa buat novel lu novel. g jelas muter
falea sezi
maaf Thor pembaca benci wanita murahan berbagi batangan ma madu najis bgt males like
Miss Ra: silahkan bisa out dari novel saya.
total 1 replies
falea sezi
pantes like dikit wong MC oon
Miss Ra: maaf yah kakak...
tolong bisa dijaga gak yah komentarnya?

menulis itu butuh tenaga, pikiran dan strategi, situ tinggal baca ajah, komennya biasa ajah, kalau saya oon, saya gak akan bisa membuat buku sampai lebih dari 10 novel..

jika tidak berkenan dengan ceritanya bisa out dari novel saya..

karena komentar sampah seperti ini gak pantes ada dinovel saya...

🙏🙏🤗
total 1 replies
falea sezi
najis murahan lu hana
falea sezi
novel prett peran utama. bloon
falea sezi
cerai aja najis berbagi batangan
sunaryati jarum
Sebelum menyentuh Hana, orang suruhan kamu sudah ditangkap,Maura.Penderitaan kamu ulah kamu sendiri.Tapi sepertinya Hana wajib terimakasih pada Penipu Maura, karena dia kau mendapatkan suami yang melimpahi kebahagiaan./Smile//Smile/
sunaryati jarum
Sebelum menyentuh Hana, orang suruhan kamu sudah ditangkap,Maura.Penderitaan kamu ulah kamu sendiri.Tapi sepertinya Hana wajib terimakasih pada Penipu Maura, karena dia kau mendapatkan suami yang melimpahi kebahagiaan./Smile//Smile/
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Thewie
💪💪💪💪
sunaryati jarum
Semakin menarik dan bikin penasaran.Awal badai asal buka untuk Hana dan Adrian tapi untuk penipu Maura,dan mantan mertuanya Ny Mira
sunaryati jarum
/Ok/Thoor itu emak tunggu sejak kemarin. untuk semoga segera tumbuh Adrian Yunior untuk membungkam mulut Ny Mira.
Miss Ra: 🤗💪

siaaaapppp
total 1 replies
Thewie
wahhhh pasti seru Thor episode berikutnya.. semangat othor sayang💪
Miss Ra: 🤗💪

siaaapppp
total 1 replies
sunaryati jarum
Ayo mana upnya
Miss Ra: Insyaallah kalo gak siang malem ya kak...

author lagi lumayan sibuk dikerjaan menyambut idul fitri..
🙏
total 1 replies
Thewie
selamat ya Hana dan Adrian.. semoga langsung Dateng si kecilnya. buat kembar ya thor.. kembar 4 ok Thor
Miss Ra: /Facepalm//Joyful//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!