Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebaran yang Retak
Takbir berkumandang di seluruh penjuru Jakarta, menggema dari masjid ke masjid, dari pengeras suara di gang-gang sempit hingga mal-mal besar yang tutup selama libur.
Pagi itu, Arman terbangun dengan perasaan ganjil. Biasanya, ia akan sibuk membantu Rani menyiapkan ketupat, memakaikan baju baru Aldi, lalu berangkat bersama ke masjid untuk salat Id. Tapi tahun ini, semuanya berbeda.
Nadia sudah bangun lebih dulu. Ia sibuk di dapur, menyiapkan hidangan Lebaran spesial—opor ayam, rendang, sambal goreng ati, dan ketupat yang ia pesan khusus dari tetangga.
Di ruang tamu, tersusun rapi aneka kue kering dalam toples-toples cantik. Semua persiapan dilakukan dengan sempurna, seperti biasa.
"Arman, bangun! Salat Id dulu, nanti keburu," seru Nadia dari luar kamar.
Arman bangkit perlahan. Ia memandangi baju koko baru yang disiapkan Nadia di samping ranjang—warna krem dengan motif bordir halus, dipadukan celana bahan hitam. Hadiah Lebaran dari Nadia. Ia mengenakannya tanpa semangat, lalu keluar.
Nadia sudah menunggu di ruang tamu. Ia tampak anggun dengan gamis brokat warna peach dan kerudung senada, riasan tipis membuatnya berseri.
"Masya Allah, ganteng banget," pujinya, merapikan kerah baju Arman. "Kita berangkat yuk, nanti keburu."
Mereka pergi ke masjid besar di dekat rumah, tempat Nadia biasa salat Id. Di perjalanan, tangan Nadia menggenggam erat tangan Arman. Ia tersenyum bahagia. Ini Lebaran pertamanya sebagai istri, dan ia ingin semuanya sempurna.
Arman membalas genggaman itu, tapi matanya kosong. Pikirannya melayang jauh, ke sebuah desa, di mana Rani dan Aldi mungkin sedang bersiap menuju masjid kampung dengan langkah kecil.
---
Usai salat Id, mereka pulang. Nadia sibuk menyiapkan hidangan, sesekali bercerita tentang rencana halal bihalal dengan teman-teman relawannya. Arman duduk di sofa, memegang ponsel, menatap layar yang menampilkan foto Aldi di galeri.
Ponselnya bergetar. Bukan telepon, tapi pesan singkat dari nomor tak dikenal. Sebuah foto: Aldi memakai baju koko baru warna biru langit, tersenyum lebar dengan latar masjid kampung. Tanpa teks. Hanya foto itu.
Hati Arman langsung hancur. Jari-jarinya gemetar membalas.
[Arman] : Aldi, Nak. Bapak kangen. Bapak minta maaf nggak bisa di sana. Bapak sayang Aldi.
Tidak ada balasan. Mungkin Rani hanya ingin ia melihat, bukan ingin bicara.
Nadia memanggil dari ruang makan. "Arman, makan! Nanti keburu tamu dateng."
Arman menyimpan ponsel, melangkah ke meja makan. Hidangan lezat terhampar, tapi ia hanya bisa menatapnya tanpa selera. Nadia sudah duduk, menunggu.
"Kamu nggak doa dulu?" tegur Nadia lembut.
"Oh, iya." Arman membaca doa cepat, lalu mulai makan. Tapi setiap suapan terasa berat.
---
Siang harinya, tamu mulai berdatangan. Teman-teman Nadia, relawan, beberapa tetangga. Semua memuji hidangan, memuji keramahan Nadia, dan bertanya tentang suaminya.
"Ini suami Mba Nadia? Ganteng, lho. Kerja di mana?" tanya seorang ibu.
"Bantu-bantu urus bisnis saya," jawab Nadia diplomatis, sambil melirik Arman.
Arman tersenyum sopan, menjabat tangan para tamu, menjawab pertanyaan seperlunya. Tapi pikirannya tidak ada di sana. Ia terus membayangkan Aldi yang mungkin saat ini sedang berlarian di halaman rumah mertua, bermain kembang api bersama sepupu-sepupunya.
Pukul tiga sore, ponselnya bergetar. Kali ini panggilan telepon. Dari Rani. Jantung Arman hampir berhenti. Ia bangkit, berjalan ke balkon.
"Arman, mau ke mana?" tanya Nadia.
"Sebentar, angkat telepon."
Di balkon, ia menekan tombol hijau. "Halo?"
"Halo, Pak!" suara ceria di seberang membuat lututnya lemas. Bukan Rani, tapi Aldi.
"Aldi! Nak, sayang! Gimana kabarnya?"
"Aku baik, Pak. Aku dapat baju baru, liat nggak? Aku kirim foto tadi. Bapak suka?"
Arman menahan tangis. "Suka, Nak. Bapak suka banget. Bapak bangga sama Aldi."
"Pak, kenapa Bapak nggak ikut Lebaran di sini? Aldi kangen Bapak. Mama juga kangen."
Pertanyaan polos itu seperti pisau yang menikam jantung Arman. Ia menunduk, air matanya jatuh. "Maafin Bapak, Nak. Bapak ada kerjaan. Tapi Bapak janji, nanti Bapak jemput Aldi. Kita main bareng lagi, ya?"
"Beneran, Pak? Kapan?"
"Secepatnya. Bapak janji."
"Ya udah, Pak. Aldi tunggu. Aldi mau main layangan sama Bapak."
"Iya, Nak. Kita main layangan."
"I love you, Pak."
Arman tersedak. "I love you more, Nak. Sampaikan sama Mama, Bapak minta maaf. Dan Bapak... Bapak sayang Mama."
"Iya, Pak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Telepon berakhir. Arman bersandar di dinding balkon, menangis tanpa suara. Tubuhnya gemetar menahan isak. Di dalam, suara tawa tamu-tamu Nadia terdengar riuh. Dua dunia yang bertolak belakang, dan ia terjebak di antaranya.
Nadia keluar, melihat Arman menangis. Wajahnya berubah. "Arman, kenapa? Kamu kenapa?"
Arman menggeleng, tak mampu bicara.
"Itu tadi Aldi, ya?" tanya Nadia, suaranya datar.
Arman mengangguk.
Nadia menghela napas panjang. Ia ingin marah, ingin kesal, tapi melihat Arman hancur seperti itu, ia tak punya hati. "Masuk yuk, nanti tamu pada nanya."
Arman mengusap air mata, mengatur napas, lalu masuk kembali ke ruang tamu. Ia tersenyum pada tamu-tamu, menjawab pertanyaan, tertawa kecil. Tapi di dalam hatinya, hanya ada satu kalimat yang terus bergema: Aldi nunggu Bapak.
---
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Nadia dan Arman duduk di ruang tamu dalam keheningan. Nadia membuka suara lebih dulu.
"Arman, aku tahu kamu sedih. Tapi hari ini Lebaran, dan kamu... kamu nggak ada di sini sepenuhnya. Aku ngerti, tapi aku juga sakit hati."
"Nad, maaf..."
"Aku nggak butuh maaf. Aku butuh kamu mutusin." Nadia menatapnya tajam. "Kamu mau sama aku, atau kamu mau balik ke mereka? Pilih. Aku nggak bisa terus-terusan begini."
Arman terdiam. Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong. Pilih? Bagaimana bisa memilih antara Nadia yang telah memberinya kenyamanan, dan Rani yang telah memberinya Aldi?
"Aku... aku nggak bisa milih, Nad."
"Lo harus!" suara Nadia meninggi. "Gue nggak bisa terus berbagi dengan bayangan! Gue butuh suami utuh, bukan setengah-setengah!"
Arman menunduk. "Kalau aku pergi, kamu akan baik-baik aja. Kamu kuat, kamu mandiri. Tapi Aldi... dia cuma punya aku. Dan aku udah nyakitin dia dengan pergi."
Nadia membeku. Kata-kata Arman tepat mengenai titik lemahnya. Selama ini, ia merasa cukup dengan kemandiriannya. Tapi di mata Arman, kekuatannya justru menjadi alasan untuk diprioritaskan.
"Jadi, itu jawaban lo?" suara Nadia bergetar.
"Aku nggak tahu, Nad. Tapi aku harus perbaiki hubungan sama anakku dulu. Aku harus jadi bapak buat dia. Itu harga mati."
Nadia menangis. Ia berdiri, berjalan ke kamar, dan menutup pintu. Tidak dibanting, tapi lebih menyakitkan dari itu. Tertutup rapat, seperti hatinya yang mulai menutup untuk Arman.
---
Di kampung, suasana berbeda. Usai makan malam, keluarga besar berkumpul di ruang tengah. Anak-anak bermain petasan kecil di halaman, suara tawa riuh terdengar. Rani duduk di sudut ruangan, memeluk Aldi yang mulai mengantuk.
Aldi mendongak. "Ma, tadi Aldi telepon Bapak. Bapak janji mau jemput kita main layangan."
Rani tersentak. "Loh, telepon Bapak?"
"Iya. Pake HP-nya Om. Aldi minta."
Rani menghela napas. "Terus Bapak bilang apa?"
"Bapak bilang sayang Aldi. Bapak juga bilang sayang Mama." Aldi tersenyum polos. "Kapan Bapak jemput, Ma? Aldi kangen."
Rani menelan ludah. Ia menatap wajah anaknya yang penuh harap. Di balik jendela, suara takbir masih terdengar sayup-sayup. Bulan sabit di langit seolah tersenyum getir.
"Nanti, Nak. Setelah Lebaran. Bapak pasti jemput." Ia mengecup kening Aldi. "Sekarang tidur, ya. Besok kita main ke rumah saudara."
Aldi mengangguk, lalu terlelap dalam pelukan Rani. Rani memandangi wajah anaknya, lalu menatap keluar jendela, ke arah Jakarta yang jauh. Air matanya jatuh, tanpa suara.
Di hari kemenangan ini, ia justru merasa kalah. Kalah oleh keadaan, kalah oleh pilihan, kalah oleh hati yang masih sulit memaafkan. Tapi setidaknya, ia punya Aldi. Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
---
Di balkon, Arman duduk sendirian. Rokok ketiganya hampir habis. Ponsel di pangkuan menampilkan foto Aldi dengan baju koko biru, tersenyum lebar. Ia memandanginya lama, lalu mengetik pesan singkat.
[Arman] : Rani, maaf. Untuk semuanya. Aku janji, setelah Lebaran aku akan jemput kalian. Aku akan perbaiki semuanya. Aku sayang kalian.
Pesan itu terkirim. Tidak ada balasan, setidaknya tidak malam ini. Tapi entah mengapa, menulisnya saja sudah membuat lega.
Malam semakin larut. Takbir masih terdengar dari masjid-masjid, merayakan kemenangan umat Islam setelah sebulan berpuasa. Tapi bagi Arman, takbir malam ini terdengar seperti ratapan. Ratapan untuk semua yang telah hilang, dan semua yang mungkin tak akan kembali.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.