Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.
Dandelion, adakah kesempatan untukku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU GADIS YANG SUDAH HANCUR
Deya tak dapat memberikan alasan logis tentang penolakannya pada Rico untuk kedua kalinya. Sehingga membuat sang ayah harus turun tangan. Di dengarnya ucapan sang anak yang begitu menusuk, bahkan tak pernah menyangka bahwa itu keluar dari mulut sang putri.
Samsu berpegang pada apa yang ada di sekitarnya, pandangannya lurus ke depan, matanya berkaca-kaca. Ia saja yang hanya mendengar ucapan itu sangat teriris hatinya, lalu bagaimana Rico yang saat ini kalimat itu tertuju padanya.
“Ayah.” Sesaat setelah pandangan mereka beradu. Deya menafsirkan kemarahan dari balik bola mata sang ayah. Sedangkan yang terjadi, hati Samsu begitu pilu menerima ini.
“Rico mana ?” Samsu berjalan melewati Deya tanpa menoleh kembali ke arahnya. Dipandanginya laki-laki yang saat ini menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Co.” Samsu menyentuh lembut bahu laki-laki itu. Samsu membawa Rico dalam dekapannya, ia tahu bagaiamana perasaan Rico saat ini.
Sementara Deya yang melihat pemandangan itu hanya mematung dengan tatapan tanpa rasa bersalah.
“Apa yang membuat hati mu sampai sekeras batu Deya ?”
“Aku sudah pernah berkali-kali memperingatkan dia tentang hal ini. Jangan meminta lebih dari apa yang bisa ku berikan.”
Deya sudah tak lagi memanggil dirinya dengan sebutan “saya”, namun menjadi “aku”. Setiap gadis itu marah atau kecewa terhadap suatu hal, pasti akan mudah terbaca hanya melalui ucapannya.
“Cukup De, tolong jangan bersuara lagi. Ini akan menambah rasa sakit ku.” Mohon Rico dengan suara parau.
“Buka mata mu Deya, buka selebar-lebarnya. Kurang apa dia di matamu Deya ?” Samsu bertanya dengan nada tegas dan sedikit mengeras hingga terdengar sampai ke ruang tamu.
“Kurangnya hanya satu, kenapa dia menyukai gadis hancur seperti ku.” Dada Deya naik turun, amarah kini mengusai dirinya. “Ayo lah Rico, aku sudah memperingatkan mu berkali-kali tentang hal ini. Kenapa kamu masih saja kekeuh. Temui perempuan yang lebih baik di luar sana. Jangan dengan aku.” Kali ini Deya berucap dengan tercekat-cekat dan air mata yang mulai mengalir.
“Apa ? Apa yang kurang dari kamu ? Apa yang hancur dari mu ? Dari perempuan baik-baik seperti mu ?” Rico angkat bicara.
“Kamu belum bisa menerima penghianatan itu ?” Samsu menebak dan ternyata ucapan itu berhasil membuat air muka Deya berubah seketika. “Apa yang kamu harapkan dari laki-laki yang menghianati mu dan memilih pergi bersama perempuan lain ?”
“Perempuan itu tengah mengandung anaknya ayah.”
“Dan karena alasan ini kamu menolak Rico ?” Samsu bertanya kembali.
“Ayaaah.” Wajah Deya sangat memelas saat itu.
“Dee, masuklah ke kamar mu. Jika sanggup aku akan menelpon mu setelah sampai rumah.”
Tak ada penolakan dari Deya, gadis itu berjalan terburu-buru menuju kamarnya. Dia tak menghiraukan mereka yang berada di ruang tamu rumahnya. Gadis itu membawa tangis yang kini semakin menjadi-jadi. Ayahnya kembali membuka masa lalu yang hingga saat ini masih berusaha ia lupakan, masih berusaha ia kuburkan dalam-dalam.
Sedangkan di bangku samping rumah, Samsu mengajak Rico duduk kembali dan menjelaskan masa lalu Deya yang cukup perih.
Gadis Tangguh itu ditinggalkan oleh laki-laki yang begitu dicintainya dan terlihat juga jika laki-laki itu begitu mencintai Deya. Tepat di hari sidang tugas akhirnya, seorang perempuan datang membawa tangis padanya. Memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi antara ia dengan pacar Deya.
Setelah hari itu, laki-laki yang Deya cintai menghilang tanpa kabar. Deya juga tak lagi berharap kabarnya. Sejak saat itu Deya menjadi berubah, dia bukan lagi sosok yang ceria, dia banyak memilih untuk diam, dalam sunyi malam dia menangis hingga lelah dan tertidur, hal itu terulang kembali di malam selanjutnya.
Beberapa perusahaan yang pernah dikirimkannya lamaran menghubungi Deya untuk mengikuti serangkaian tes, namun ia menolak. Ia bergeming dari kamarnya, ia memilih sibuk dengan dunianya sendiri, dengan dunia yang semakin hari semakin di sesalinya.
Tetapi saat bertemu dengan Dira di salah satu supermarket, membuat Deya menemukan semangat baru, Dira adalah gadis yang hidup lebih dewasa dari umurnya, sejak kecil dia sudah ditinggalkan oleh ayahnya, membuat dia harus membanting tulang hanya untuk sekedar mencukupi kebutuhannya sehari-hari dengan sang ibu yang menjadi ART. Sedangkan ia yang dari kecil sudah tercukupi semuanya. Tak pantas rasanya jika terlalu berlarut-larut dalam kubangan kesedihan. Sehingga dia memutuskan untuk membuka usaha foto copy dan mempekerjakan Dira, dan di saat yang bersamaan Deya diterima di salah satu bank terbesar daerahnya.
Rico mendengarkan dengan saksama apa yang di ceritakan oleh Samsu, membuatnya berpikir betapa terpuruknya Deya saat itu. Betapa kuatnya dia melewati itu semua. Ternyata dibalik ceria nya yang kini terlihat, tersimpan cerita menyedihkan. Jadi wajar saja Deya tak mempercayai perasaannya kini.
***
Setibanya di rumah, Rico segera membersihkan diri dan menghubungi Deya. Namun lebih dulu mengirim pesan singkat.
“De, sudah lebih tenang ? Aku sudah bisa menelpon.”
Tidak ada balasan dari Deya, tetapi pesan itu terbaca. Rico memutuskan untuk melakukan panggilan suara.
“De, Assalamualaikum.” Salamnya setelah telepon itu terangkat.
“Waalaikumussalam.” Suara di seberang sana terdengar serak dan berat.
“Menangislah, jika itu membuatmu sedikit lebih lega. Keluarkan semuanya, aku ada menemani mu.” Tulus Rico tanpa sedikitpun memperdulikan perasaannya sendiri.
“Aku malu, malu sama kamu. Malu sama diri aku.”
“Kenapa harus malu ?” Tanya Rico. “De, setiap orang memiki masa lalunya masing-masing. Aku juga memiliki masa lalu De. Aku tak mempedulikan masa lalu mu. Aku ada disini, untuk saat ini dan untuk masa depanmu.” Pelan Rico mengucapkan itu. Sungguh manis sekali cara laki-laki itu menenangkan Deya.
“Co, maafkan aku. Aku sudah tak lagi percaya bahwa aku layak untuk dicintai. Temui perempuan lain Co, perempuan yang bisa melihat tulus dan baiknya kamu. Jangan menunggu gadis yang hatinya sudah hancur berantakan ini.”
“Aku nggak mau De, aku maunya kamu. Biarkan aku memperbaiki yang sudah hancur berantakan itu De.”
Rico berjalan menuju balkon kamarnya dan memperhatikan bulan yang sedang menyabit.
“Nggak Co, aku nggak ingin kamu memperbaikinya sedangkan bukan kamu penyebab hancurnya.”
“Liat keluar De, bulannya indah ya.” Rico mengalihkan pembicaraan.
Deya menuruti yang di ucapkan Rico. “Iya indah. Dia seperti tersenyum sedangkan aku di bawah sini sedang menangis.”
“Masih ingin menangis ?”
“Aku sudah lelah Co.”
“Sekarang, kembalilah masuk ke kamar mu dan istirahat. Besok mata itu akan sembab. Besok aku temani ke kantor yah. Pulangnya kita makan di café baru buka yang waktu itu kamu ceritakan.”
“Aku belum mengantuk, dan masih ingin ada dibalkon.” Tolak Deya akan saran Rico.
“Aku temani.”
Deya tak lagi bersuara, namun beberapa menit kemudian terdengar isakan kecil yang begitu memilukan. Rico yang mendengar dari seberang telepon ingin sekali rasanya menenangkan gadis itu, membawanya kemanapun yang ia mau, selama bisa membuatnya melupakan kepahitan itu.
“Deee, aku mohon berhentilah menangis. Aku tak sanggup mendengar isakan mu yang seperti menjadi sayatan untuk hatiku. Aku ingin berlari ke arahmu De.” Ucap Rico dalam hati dan seperti ikut merasakan luka yang kembali terbuka itu.