NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 Pertemuan yang Tidak Diinginkan

Mata Rania Wijaya terpaku pada layar ponsel genggamnya, membaca pesan yang baru saja masuk dari Sekar, sekretarisnya yang telah bekerja bersama dia selama tiga tahun terakhir. “Bu Rania, mohon diperhatikan. Besok pukul 10 pagi ada janji temu penting dengan perwakilan PT Saka Perkasa di Restoran Le Château di Bandung. Mereka telah menunjukkan minat besar untuk menjalin kerja sama strategis dengan PT Wijaya Group. Tim manajemen menilai kerja sama ini dapat membawa perkembangan signifikan bagi perusahaan, terutama dalam ekspansi distribusi produk ke seluruh Jawa Barat dan Bali.”

Rania menghela napas perlahan sambil menaruh ponselnya di atas meja kerja yang rapi. PT Saka Perkasa – nama perusahaan itu sudah tidak asing lagi di telinganya. Bahkan, nama tersebut selalu membuatnya mengingat pertemuan tidak menyenangkan yang terjadi hampir dua bulan yang lalu di Jakarta – ketika dia secara tidak sengaja menyerempet mobil mewah milik CEO perusahaan tersebut, kemudian tidak lama setelahnya menumpahkan kopi panas ke atas jas mahalnya yang dibuat khusus dari Italia.

Sejak saat itu, Rania telah menyelesaikan semua masalah dengan baik. Jas Saka berhasil diperbaiki dengan sempurna oleh tempat cuci khusus yang direkomendasikan, dan biaya perbaikan mobil juga telah dia bayarkan tanpa syarat. Meskipun demikian, kesan buruk tentang pria itu tetap ada di benaknya – seseorang yang sombong, dingin, dan sulit untuk diajak berkomunikasi dengan baik.

Mengapa harus perusahaan mereka ya? pikir Rania sambil menatap ke arah jendela gedung pencakar langit yang menunjukkan pemandangan kota Jakarta yang sibuk. Dia tahu betapa pentingnya kerja sama ini bagi perkembangan PT Wijaya Group. PT Saka Perkasa bukan hanya perusahaan kontraksi terbesar di Indonesia, tetapi juga memiliki jaringan distribusi yang sangat luas dan hubungan dengan berbagai pihak penting di seluruh wilayah. Kerja sama dengan mereka akan membuka peluang besar untuk produk makanan dan minuman miliknya memasuki pasar yang belum terjamah.

Malam harinya, Rania tidak bisa tidur dengan nyenyak. Entah mengapa, hati nya terus berdebar-debar dengan kuat setiap kali dia memikirkan janji temu besok. Dia mencoba membaca buku atau menonton film untuk mengalihkan pikiran, namun tidak berhasil. Akhirnya, dia memutuskan untuk mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan untuk pertemuan tersebut, memastikan bahwa tidak ada satu pun detail yang terlewatkan.

Keesokan paginya, Rania bangun lebih awal dari biasanya. Dia memilih setelan jas biru muda yang profesional namun tetap elegan, menyusun rambutnya dengan rapi, dan menggunakan riasan yang cukup alami. Setelah sarapan ringan, dia segera berangkat ke Bandung dengan mengendarai mobilnya sendiri, memilih untuk melewati jalan tol yang lebih cepat agar bisa tiba tepat waktu.

Setelah sekitar dua jam berkendara, Rania tiba di Restoran Le Château yang terletak di kawasan pusat kota Bandung. Restoran yang terkenal dengan desain klasik Prancis ini memang menjadi pilihan favorit bagi para pengusaha dan pejabat untuk mengadakan pertemuan bisnis penting. Dengan suasana yang tenang, dekorasi yang mewah, dan hidangan yang berkualitas tinggi, tempat ini sangat cocok untuk membahas hal-hal penting terkait kerja sama bisnis.

Rania melihat jam di pergelangan tangannya – pukul 09.45 pagi. Dia datang lima belas menit lebih awal agar bisa menyiapkan diri dan memilih tempat duduk yang nyaman. Setelah disambut oleh pramuniaga dengan ramah, dia memilih meja sudut yang terletak di dekat jendela dengan pemandangan taman kecil yang indah. Dia memesan segelas teh hangat dan mulai menyusun berkas-berkas dokumen yang dibutuhkan di atas meja.

Namun, seiring berjalannya waktu dan jam menunjukkan pukul 10.15 pagi, klien yang dinantikan masih belum muncul. Rania merasa sedikit jengkel dan mulai merasa tidak sabar. Dia sudah sangat menghargai waktu dan tidak suka dengan orang yang datang terlambat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dia bahkan sudah berpikir untuk menghubungi Sekar untuk memastikan apakah ada kesalahan dalam jadwal atau tidak.

“Hari ini saya memang datang terlambat beberapa menit. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Nona Rania Wijaya.”

Suara yang dalam dan sedikit dingin itu membuat Rania langsung mengangkat kepalanya. Matanya melebar lebar ketika melihat sosok pria yang sedang berdiri di depan mejanya – sosok yang sudah sangat dia kenal meskipun tidak ingin mengingatnya. Pria tersebut mengenakan jas hitam pekat yang sangat rapi, kemeja putih bersih tanpa satu pun kusut, dan dasi bergaris gelap yang sesuai dengan gaya bisnisnya yang formal. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, dan matanya yang tajam sedang menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Di atas dadanya terlihat nama tag yang jelas tertulis – Saka Pratama, CEO PT Saka Perkasa.

“Kamu?!” teriak Rania dengan terkejut, suara nya sedikit lebih keras dari yang dia inginkan, menarik perhatian beberapa tamu lain di sekitarnya. Dia segera menutup mulutnya dengan tangan dan menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Ini tidak mungkin. Jadi kamu adalah klien yang akan saya temui hari ini?”

Saka hanya mengangguk dengan wajah yang tetap dingin dan kemudian duduk di kursi yang berada di hadapan Rania. Pramuniaga segera datang menghampiri mereka dan Saka memesan segelas kopi hitam tanpa gula. Setelah pramuniaga pergi, dia menatap Rania dengan tatapan yang angkuh dan penuh dengan dominasi.

“Sebelum kita melanjutkan pembicaraan lebih jauh, izinkan saya memperkenalkan diri kembali dengan benar. Saya adalah Saka Pratama, pemilik sekaligus CEO dari PT Saka Perkasa,” ujarnya dengan nada yang sangat formal dan dingin, seolah mereka baru saja bertemu untuk pertama kalinya. “Saya tahu bahwa Anda mungkin merasa terkejut atau bahkan tidak nyaman melihat saya di sini. Namun, bisnis adalah bisnis, dan saya tidak pernah membiarkan perkara pribadi mengganggu keputusan bisnis saya.”

Rania merasa darahnya mulai mendidih karena sikap Saka yang seolah-olah tidak pernah ada masalah antara mereka. Namun, dia segera menenangkan diri dan mengingat tujuan utama dia datang ke sini – untuk menjalin kerja sama yang bermanfaat bagi perusahaan nya. Dia menarik napas dalam-dalam dan kemudian memberikan senyum yang profesional.

“Baiklah Pak Saka. Saya juga akan memisahkan perkara pribadi dengan urusan bisnis,” jawab Rania dengan nada yang tegas namun tetap sopan. “Meskipun saya tidak menyangka bahwa klien penting yang akan saya temui hari ini adalah Anda.”

Saka hanya mengangguk sekali lagi dan kemudian menatap Rania dengan tatapan yang tajam. “Baiklah, mari kita tidak berlama-lama dengan pembicaraan yang tidak perlu. Saya sudah membaca proposal kerja sama yang Anda kirimkan beberapa minggu yang lalu. Namun, saya ingin Anda menjelaskan secara langsung tujuan utama dari kerja sama ini, serta manfaat apa saja yang bisa kami dapatkan sebagai pihak mitra. Saya tidak tertarik dengan kata-kata yang indah dalam proposal semata – saya ingin tahu fakta dan angka yang jelas,” ujarnya dengan nada yang menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sangat fokus pada hasil dan tidak suka dengan pembicaraan yang bertele-tele.

Rania segera mengambil berkas dokumen yang sudah dia siapkan dan mulai menjelaskan dengan jelas dan terstruktur. “Tujuan utama dari kerja sama antara PT Wijaya Group dan PT Saka Perkasa adalah untuk memperluas jangkauan distribusi produk makanan dan minuman kami ke seluruh wilayah Jawa Barat dan Bali. Saat ini, produk kami hanya tersedia di Jakarta dan sekitarnya. Dengan menggunakan jaringan distribusi yang sudah Anda miliki dan pengalaman Anda dalam mengelola rantai pasokan yang luas, kami yakin produk kami dapat mencapai pasar yang lebih besar dengan cepat dan efisien.”

Dia membuka salah satu lembar presentasi dan menunjukkan grafik pertumbuhan penjualan yang sudah dipersiapkan. “Selain itu, kami juga menawarkan kemitraan dalam pengembangan produk baru yang disesuaikan dengan selera masyarakat di wilayah tersebut. Tim riset dan pengembangan kami telah melakukan penelitian pasar yang mendalam dan menemukan beberapa peluang yang sangat menjanjikan. Dengan dukungan sumber daya dan keahlian Anda dalam bidang pemasaran dan distribusi, kerja sama ini memiliki potensi untuk memberikan keuntungan yang signifikan bagi kedua pihak.”

Saka mendengarkan penjelasan Rania dengan saksama, terkadang dia mengambil catatan kecil atau mengajukan pertanyaan yang sangat mendalam tentang data dan perhitungan keuangan yang dia sajikan. Meskipun sikapnya tetap dingin dan angkuh, Rania bisa merasakan bahwa pria ini memang sangat mengerti tentang bisnis dan memiliki visi yang jelas tentang apa yang dia inginkan.

Setelah Rania selesai menjelaskan semua poin penting dalam proposal kerja sama tersebut, ada jeda singkat yang terasa sangat panjang di antara mereka. Saka mengangkat cangkir kopinya dan menyendoknya perlahan, matanya tetap terpaku pada wajah Rania seolah-olah sedang menilai setiap kata yang dia ucapkan.

“Penjelasan Anda cukup jelas dan data yang Anda sajikan juga terlihat meyakinkan, Nona Rania,” ujar Saka dengan nada yang sedikit lebih lunak dari sebelumnya. “Namun, kerja sama semacam ini tidak bisa saya putuskan dalam waktu singkat. Saya perlu melakukan evaluasi lebih lanjut bersama tim eksekutif perusahaan saya. Selain itu, ada beberapa poin dalam proposal tersebut yang perlu kita bahas lebih mendalam dan mungkin disesuaikan agar menguntungkan kedua pihak.”

Rania mengangguk dengan penuh pengertian. “Tentu saja Pak Saka. Saya mengerti bahwa keputusan seperti ini membutuhkan pertimbangan yang matang. Saya siap untuk melakukan diskusi lebih lanjut kapan saja Anda mau, baik di Jakarta maupun di Bandung. Saya juga siap untuk menyesuaikan beberapa poin dalam proposal sesuai dengan kebutuhan dan keinginan perusahaan Anda.”

Saka memberikan senyum yang sangat tipis, seolah itu adalah hal yang sangat sulit baginya untuk dilakukan. “Baiklah. Saya akan menghubungi Sekretaris Anda dalam waktu tiga hari kerja untuk mengatur jadwal pertemuan berikutnya. Semoga kita bisa mencapai kesepakatan yang bermanfaat bagi kedua perusahaan kita,” ujarnya sebelum berdiri dari kursinya. “Sekarang, saya harus pergi karena masih ada rapat penting yang harus saya hadiri di kantor cabang kami di sini.”

Sebelum pergi, Saka berbalik lagi dan melihat Rania dengan tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya – ada sesuatu yang sulit dijelaskan di dalam matanya. “Dan satu hal lagi, Nona Rania. Saya berharap pada pertemuan berikutnya, kita bisa fokus sepenuhnya pada bisnis tanpa ada kejadian tidak sengaja seperti yang terjadi sebelumnya,” katanya dengan nada yang sedikit menyiratkan sesuatu sebelum akhirnya meninggalkan restoran tersebut.

Rania duduk terdiam di mejanya, masih belum bisa percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Meskipun dia masih merasa tidak nyaman dengan kehadiran Saka Pratama, dia tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap profesionalisme pria tersebut dalam menangani urusan bisnis. Dan entah mengapa, di dalam hati yang dalam, dia merasa bahwa pertemuan mereka kali ini bukanlah yang terakhir, dan ada banyak hal yang akan terjadi antara mereka di masa depan.

1
Zellin
terlalu bertele-tele thor..banyak tulisan yang berulang itu2 aja cakap nya..setiap bab aq skip bacanya..jadi bosan terlalu d alur2kan kayak cerita ikan terbang
niadatin tiasmami: gitu ya kak makasih masukannya kak
total 1 replies
F.Room
korupsinya banyak banget si Arga..
niadatin tiasmami: karena keluarga nya juga matre
total 1 replies
F.Room
memang harus dimiskinkan sih itu Arga ga tau diri
Zanahhan226
wah, malah dimanfaatin sih itu..
Zanahhan226
kok aku malah curiga, ya..
F.Room
nyebelin nih harta gono gini..
F.Room
kok parah gini sih si Arga
niadatin tiasmami: tp nanti sadar kak
total 1 replies
F.Room
good, perempuan harus tegas
niadatin tiasmami: apalagi perempuan berduit
total 2 replies
F.Room
engga usah ditangisi temen seperti Maya..
F.Room
yg ga bener mayanya..
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Mampir dan dukung karyaku, yuk!

‎- TRUST ME

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
niadatin tiasmami: ok kak
total 1 replies
F.Room
dari awal aku udah curiga..
niadatin tiasmami: curiga gmn kak
total 1 replies
F.Room
hubungan tanpa uang juga delusi..
niadatin tiasmami: betul sih kak tp hubungan kalau hanya uang gk bagus jg
total 1 replies
F.Room
cowok ga guna
F.Room
kerja woi, jangan ngemis
niadatin tiasmami: gk diterima kerja kak
total 1 replies
F.Room
kena karma
F.Room
rasain dah si arga, cowok ga modal..
F.Room
memang ga tau diri nih
F.Room
ternyata arga memang seorang penjilat
F.Room
duh maya ga tau diri..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!