Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Satu Kalimat Penghancur
"Ran?" Suara Adimas terdengar seperti bisikan di telinga Rani.
"Hmm?" Jawab Rani tak kalah pelan.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," Adimas menghela napas kasar, berat sekali rasanya.
"Ya?" Jawab Rani melepaskan pelukannya, kini mata mereka bertemu saat kepala Rani terangkat.
"Aku sudah memiliki kekasih."
Deg!
Deg!
Deg!
Tahu rasanya bagaimana perasaan Rani saat mendengar satu kalimat itu? Hancur? Pasti. Galau? Pasti. Seakan diberi harapan palsu? Itu juga pasti.
Namun, hal yang lebih menyakitkan adalah kini Rani bersama Adimas. Dengan suasana seperti itu, dengan perasaan seperti itu, dan dengan hati yang seperti itu, bagaimana Rani tidak sakit hati?
Dia merasa menjadi benalu dalam hubungan Adimas dan kekasihnya, dia merasa menjadi orang ketiga. Dan itu memang benar, dia merasa bila dirinya seperti jal*ang dan itu memang benar. Rani merasa badannya dipenuhi kotoran, hatinya seolah diberi oli bekas yang kotor dan hitam.
Rani langsung mundur beberapa langkah, wajahnya memucat, kepalanya menggeleng, matanya mulai berair. Bersama dengan matahari yang mulai muncul, kehancuran itu terasa benar di hati Rani.
"Saya mau pulang, Pak." Ucap Rani. Adimas menghela napasnya kasar. Dia menarik lagi Rani ke dalam pelukannya, namun Rani langsung memberontak dengan cepat. Dia mendorong tubuh Adimas dengan paksa.
"Jangan sentuh saya, Pak!" Ucap Rani mendorong lagi Adimas. Adimas tak mendengar, dia terus memeluk Rani, tak peduli bagaimana Rani memberontak di sana.
"Lepaskan saya!" Teriak lagi Rani, dia mendorong dengan begitu kencang hingga memberi jarak antara dirinya dan Adimas.
Plak!
Satu tamparan telak kini hinggap di pipi kiri Adimas, tamparan itu berhasil membuat telinga Adimas berdengung. Rani langsung mundur, kakinya yang tidak menggunakan alas itu berlari cepat.
Saat itu dia hanya membawa ponsel dan uang dua ratus ribu di balik pelindung ponselnya, namun Rani terus berlari ke arah jalan raya. Dia ingin pulang, dia tak ingin melihat Adimas, dia tidak ingin menjadi wanita perusak hubungan orang.
Adimas tentu mengejarnya, namun Rani berlari sekuat tenaga. Kakinya bahkan sampai berdarah akibat terkena banyak serpihan runcing di jalan yang entah apa.
"Ran!" Teriak Adimas. Adimas sendiri tak menyangka akan reaksi Rani.
Dia tak ingin membohongi Rani, dia ingin memberi tahu segalanya. Dia ingin mengungkapkan semua perasaannya, namun Rani malah berlari tanpa menengok ke belakang.
Rani bersembunyi di sebuah toilet umum, dan Adimas tak menemukannya. Rani menangis di sana, rasa sakitnya sungguh luar biasa.
"Hiks... Hiks... Haa..." Tangis Rani. Dia langsung melihat ponselnya. Dia memesan sebuah taksi online.
Dan saat taksi itu sampai, Rani langsung meluncur dengan taksi itu pulang. Dia tak memedulikan lagi tentang apa pun, dia hanya ingin pulang sekarang.
"Pak, bisa pakai QR bayarnya?" Tanya Rani. Pengemudi taksi online itu mengangguk.
"Bisa, Neng." Jawab pengemudi taksi online itu. Mereka pun meluncur meninggalkan Pangandaran. Rani dengan tangannya yang bergetar menerima banyak pesan dan panggilan dari Adimas.
Rani terisak, dan menghapus air matanya beberapa kali dengan kasar. Dia langsung memblokir nomor Adimas, hingga sebuah nomor asing kembali menghubunginya dan dari pesannya itu jelas adalah Adimas dengan nomor bisnisnya. Rani kembali memblokirnya.
Adimas yang kini berada di mobilnya terus mencoba menghubungi Rani. Melihat gadis itu berlari tanpa alas kaki, dengan kaki berdarah, membuat hatinya tercabik dan merasa sakit luar biasa.
Hati Adimas hancur melihat Rani yang pergi meninggalkannya. Adimas sadar akan kesalahannya. Adimas langsung memukul setir di hadapannya.
"Argh!" Pekik Adimas, dadanya turun naik dengan perasaan yang lebih hancur dari Rani. Perasaannya yang sangat mendalam untuk Rani membuatnya kehilangan kendali penuh akan tubuhnya sendiri.
"Bang?" Adimas langsung menghubungi David kala itu. Terdengar suara David yang baru bangun tidur.
"Emm?" Suaranya serak.
"Aku ada hal penting, tolong cari nomor ini di mana dia sekarang?" Ucap Adimas. David dengan malas mengambil laptopnya dan melihat nomor yang diberikan Adimas.
"Di..." David memberi tahu tempat Rani berada. Adimas menghela napas kasar.
"Dia juga lagi di taksi online, tujuannya ke rumah dia kayaknya." Ucap David. Adimas menghela napas kasar.
"Baiklah, terima kasih." Adimas langsung tancap gas, sedangkan David ya jelas dia lanjut tidur.
Adimas langsung tancap gas, dan sekitar tiga jam dengan kecepatan ala orang kesurupan dia akhirnya sampai di depan rumah Rani.
"Pak Adimas, Raninya mana?" Tanya Ibu Rani yang baru keluar rumah dengan keranjang belanjaannya.
Deg!
Jantung Adimas seperti dihantam sesuatu, sesak rasanya. Di mana Rani?
"Mau ke mana, Bu?" Tanya Adimas. Ibunya Rani tampak curiga.
"Sayur-sayur!" Tukang sayur nampak berkeliling.
"Beli sayur, Pak Adimas." Ucap Ibunya Rani sembari memberhentikan tukang sayur itu.
Beberapa saat kemudian sebuah mobil juga masuk parkir di sana. Rani keluar dari mobil itu dengan wajah sembab. Namun wajahnya nampak biasa-biasa saja.
"Mah, beli jengki ya!" Teriak Rani. Mamahnya yang melihat Rani keluar dari mobil yang berbeda dari mobil Adimas nampak bingung. Namun dia tersenyum, karena keduanya datang hampir bersamaan.
"Iya," Jawab Ibunya. Rani langsung berjalan ke rumah dengan bersiul seperti biasanya.
Adimas terdiam. Rani akan masuk ke rumahnya, namun tangan Adimas berhasil menghentikannya. Rani menatap sekeliling, di sana banyak tetangganya juga yang sedang membeli sayur.
"Wah Pak Adimas, sampai duluan ya?" Tanya Rani. Senyum yang dipaksakan itu terlihat jelas di sudut bibirnya. Air mata Rani tak sengaja jatuh dari pipinya.
"Gak mau nawarin dulu teh, Ran?" Tanya Adimas. Rani melepaskan genggaman tangan Adimas pada lengannya.
"Aku ngantuk, Pak, mau turu, hehe..." Cengir Rani berusaha mengusap air matanya lagi.
"Boleh minta minum dulu?" Pinta Adimas. Rani menggertakkan giginya dan menghela napas kasar.
"Mari, Pak." Ucap Rani akhirnya. Adimas pun mengekor di belakang Rani dan masuk ke dalam rumah itu.
Saat pintu rumah sudah tertutup, Adimas langsung menarik tangan Rani dan mengangkat kedua tangan Rani ke atas kepalanya. Kedua kakinya ditahan hingga Rani tak bisa bergerak.
"Apa yang Anda lakukan, Pak!" Pekik Rani. Adimas menarik tengkuk Rani dengan paksa dan menempelkan bibir mereka.
Mata Rani langsung terbelalak, kakinya mencoba melawan sekuat tenaga. Saat sudah mendapatkan celah, dia langsung menundukkan badannya.
Bukh!
Satu pukulan dilayangkan Rani. Adimas sejenak kehilangan keseimbangannya. Rani tak menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung memelintir lengan Adimas.
Brak!
Adimas berhasil dikunci dan dilempar oleh Rani. Kedua tangan Rani berhasil lepas, dia langsung mengusap bibirnya dengan kasar. Tubuh Rani refleks memasang kuda-kuda, matanya tajam seolah siap dengan serangan apa pun.
"Saya bukan wanita seperti apa yang Anda bayangkan, Pak! Saya tidak ingin melihat Anda! Silakan keluar!" Teriak Rani, yang akhirnya terdengar oleh sang Mama yang kini ada di depan pintu.
"Ran, bukan, bukan begitu maksudku." Adimas mulai mendekat. Ibunya Rani masuk dan melihat apa yang terjadi di sana.
"Pak, sepertinya Rani butuh istirahat." Ucap sang Ibu. Adimas memijat keningnya sendiri.
"Bu, tolong biarkan saya bicara pada Rani. Hanya sebentar." Ucap Adimas. Ibunya Rani sadar ada sesuatu yang belum mereka bicarakan dengan benar.
"Enggak, Mah! Aku gak perlu bicara apa pun lagi dengan Pak Adimas." Rani langsung berlari ke lantai dua tempat kamarnya berada. Dia langsung mengunci kamarnya dan tidak keluar lagi.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang