Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Beberapa hari kemudian, aroma antiseptik rumah sakit akhirnya berganti dengan udara bebas.
Dokter memperbolehkan Akhsan pulang meski tubuhnya masih dibalut beberapa perban di balik kemejanya.
Di lobi rumah sakit, Papa Hermawan dan Mama berdiri mengantar mereka.
Papa menepuk bahu Akhsan dengan tatapan penuh beban, sementara Mama hanya bisa menatap Akhsan dengan pandangan yang masih menyisakan sisa-sisa keterkejutan atas rahasia besar itu.
"Akhsan, jaga Zahra baik-baik. Dia istrimu sekarang. Mulailah hidup baru kalian di rumah baru kalian," ucap Papa dengan suara rendah, seolah sedang memberikan instruksi bisnis yang tak boleh dibantah.
Akhsan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengulas sebuah senyum sinis yang membuat bulu kuduk Zahra meremang.
Tatapannya kemudian beralih pada Zahra yang berdiri kaku di sampingnya.
"Masuk ke mobil, Zahra," perintah Akhsan dingin. Nada bicaranya tidak menyisakan ruang untuk diskusi.
Zahra masuk ke dalam mobil dengan perasaan was-was. Namun, alih-alih melaju ke arah perumahan elit tempat rumah baru yang disiapkan Papa sebagai hadiah pernikahan sekaligus mas kawin, Akhsan justru memacu mobilnya ke arah yang sangat ia kenal.
"Kita mau ke mana, Mas? Ini bukan jalan ke rumah kita," tanya Zahra pelan.
"Diam dan duduk saja," sahut Akhsan tanpa menoleh.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang asri, namun kini suasananya tampak mendung oleh duka. Itu adalah rumah orang tua mendiang Gea.
Ibu Gea keluar dari pintu depan. Wajahnya yang pucat dan mata sembapnya langsung tertuju pada Akhsan, namun begitu matanya menangkap sosok Zahra, tatapannya berubah menjadi tajam dan sinis.
"Akhsan, kamu sudah datang," sapa Ibu Gea dengan suara serak.
Ia mengabaikan uluran tangan Zahra yang hendak menyalami.
Mereka duduk di ruang tamu yang masih menyisakan foto Gea dengan pita hitam di sudut ruangan.
Suasana terasa sangat mencekam disaat Ibu Gea menatap Zahra dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah Zahra adalah pencuri yang tertangkap basah.
"Akhsan, maaf jika Ibu bertanya sekarang, di saat kalian baru saja... 'resmi'," ucap Ibu Gea dengan penekanan pahit pada kata terakhir.
"Apakah rumah yang tadinya disiapkan untuk mas kawin Gea, masih tetap untuk anak Ibu, atau..."
Ibu Gea menggantung kalimatnya, matanya menghujam wajah Zahra yang tertunduk lesu.
Tanpa keraguan sedikit pun, Akhsan merogoh saku jasnya.
Ia mengeluarkan sebuah kunci dengan gantungan perak dan meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Ibu Gea.
"Rumah itu milik Gea, Bu. Sampai kapan pun, itu adalah haknya. Silakan Ibu simpan kuncinya, atau lakukan apa pun yang Ibu mau dengan rumah itu," ucap Akhsan tegas, tanpa ekspresi.
Zahra tersentak. Kepalanya mendongak dengan mata membelalak.
"Mas, tapi rumah itu kan mas kawinku? Di buku nikah dan di depan penghulu, rumah itu adalah hakku..."
Suara Zahra bergetar. Bukan karena ia gila harta, tapi mas kawin adalah simbol kehormatan seorang istri dalam pernikahan.
Mengambilnya dan memberikannya kepada orang lain adalah bentuk penghinaan paling nyata yang bisa dilakukan seorang suami.
Akhsan menoleh ke arah Zahra, senyum sinisnya kembali terkembang, lebih tajam dari sebelumnya.
"Mas kawin?" desis Akhsan rendah.
"Kamu sudah mendapatkan namaku, posisi sebagai istriku, dan perlindungan dari keluargaku. Jangan serakah, Zahra. Kamu mengambil nyawa Gea, maka sudah sepantasnya kamu memberikan apa yang seharusnya menjadi miliknya."
Ibu Gea menerima kunci itu dengan tangan gemetar, lalu menatap Zahra dengan senyum kemenangan yang pahit.
"Terima kasih, Akhsan. Kamu memang laki-laki yang tahu diri, tidak seperti orang lain yang hanya tahu cara merebut."
Zahra merasa seolah ditampar di depan umum. Dadanya sesak, air matanya sudah di ujung pelupuk, namun ia mencoba menahannya.
Akhsan tidak hanya merampas haknya secara materi, tapi juga menginjak-injak martabatnya di depan ibu dari wanita yang selalu ia jadikan tandingan.
"Ayo pergi, karena tugas kita di sini sudah selesai."
Pintu mobil dibanting dengan keras hingga menimbulkan dentuman yang memekakkan telinga.
Begitu mobil melaju menjauh dari pelataran rumah mendiang Gea, atmosfer di dalam kendaraan itu mendadak berubah menjadi medan perang yang mencekam.
Zahra tidak bisa lagi membendung sesak di dadanya.
Tangannya mencengkeram sabuk pengaman hingga buku-bukunya memutih.
"Kenapa, Mas? Kenapa kamu setega itu?" suara Zahra pecah, bergetar hebat oleh isak tangis yang tertahan.
"Rumah itu mas kawinku. Kamu menyebutnya di depan penghulu! Memberikannya pada Ibu Gea sama saja kamu menganggap pernikahan kita ini tidak sah secara kehormatan!"
Akhsan tidak mengerem. Ia justru menginjak pedal gas lebih dalam, membelah jalan raya dengan kecepatan yang membahayakan.
Gurat rahangnya mengeras, tatapannya lurus ke depan dengan kilat kemarahan yang meluap-luap.
"Kehormatan?" Akhsan tertawa getir, suara tawanya terdengar seperti parutan logam.
"Jangan bicara soal kehormatan padaku, Zahra! Kamu mendapatkan pernikahan ini dengan cara yang paling kotor. Kamu berdiri di atas nisan Gea untuk memakai gaun itu!"
"Aku tidak pernah merencanakan kecelakaan itu, Mas! Demi Allah!"
"Berhenti menyebut nama Tuhan!" bentak Akhsan hingga urat lehernya menegang.
"Setiap kali aku melihat wajahmu, aku melihat maut yang menjemput Gea. Kamu ingin rumah itu? Kamu ingin harta? Bukankah tujuanmu menikahiku hanya untuk memuaskan obsesimu?"
"Aku mencintaimu! Hanya itu dosaku!" teriak Zahra histeris.
Mendengar kata 'cinta', Akhsan mendadak menginjak rem dengan paksa.
Ban mobil berdecit keras di atas aspal, meninggalkan bekas hitam yang panjang.
Mobil itu berhenti kasar di pinggir jalan raya yang cukup sepi, jauh dari pemukiman warga.
Tanpa peringatan, Akhsan condong ke arah Zahra.
Ia membuka kunci pintu penumpang dan mendorong tubuh istrinya dengan kasar agar keluar dari mobil.
"Turun!" bentak Akhsan.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Ini di tengah jalan, Mas!" Zahra berusaha bertahan, jemarinya mencengkeram jok mobil dengan panik.
"Aku bilang TURUN!" Akhsan tidak peduli.
Dengan sisa tenaga pasca-operasinya yang sebenarnya masih nyeri, ia mendorong bahu Zahra hingga gadis itu terjerembap jatuh ke aspal yang panas.
Brak!
Zahra tersungkur. Lututnya menghantam aspal hingga perih menyengat, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan hancurnya harga diri yang ia rasakan.
Ia menatap Akhsan dari bawah, air mata membasahi wajahnya yang kini kotor oleh debu jalanan.
"Mas Akhsan, jangan tinggalkan aku di sini..." rintih Zahra.
Akhsan menatap Zahra dari balik kemudi dengan sorot mata yang murni berisi kebencian.
Tidak ada lagi sisa-sisa tatapan seorang kakak yang dulu pernah melindunginya.
"Kamu ingin memiliki hidupku, kan? Sekarang rasakan bagaimana rasanya hidup tanpa arah, sama seperti hidupku yang kamu hancurkan," ucap Akhsan dingin.
Tanpa menoleh lagi, Akhsan menarik pintu mobil dan menguncinya.
Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu yang beterbangan dan sosok Zahra yang bersimpuh sendirian di bahu jalan raya.
Zahra terisak pelan, menatap bayangan mobil yang semakin mengecil di kejauhan.
Langit di atas sana mulai mendung, seolah bersiap menumpahkan air mata yang sama derasnya dengan hatinya yang kini telah hancur berkeping-keping.
Hujan semakin deras mengguyur, membuat pandangan Zahra kian buram.
Di tengah keputusasaan itu, sebuah motor tua berhenti di sampingnya.
Pengemudi ojek yang sudah sepuh itu menatap iba pada kondisi Zahra yang memprihatinkan.
"Mari, Neng. Bapak antar. Tidak usah bayar, Bapak tidak tega lihat Neng jalan kaki hujan-hujan begini dengan kaki berdarah," ucap pria tua itu tulus.
Zahra, yang sudah hampir kehilangan kesadaran, hanya bisa mengangguk lemah.
Ia duduk di belakang dengan tubuh menggigil hebat sepanjang perjalanan menuju rumah baru mereka.
Sesampainya di depan gerbang, Zahra turun dan membungkuk hormat mengucapkan terima kasih. Namun, saat ia berbalik, pintu rumah sudah terbuka lebar.
Akhsan berdiri di sana dengan tangan bersedekap, menatap pemandangan itu dengan sorot mata yang penuh penghinaan.
"Bagus sekali," suara Akhsan membelah suara hujan, terdengar sangat tajam.
"Baru berapa jam aku tinggalkan, kamu sudah tahu cara mencari 'tumpangan' gratis."
Zahra mendekat dengan langkah pincang. "Mas... Bapak itu hanya menolongku. Tasku ada di mobilmu, aku tidak punya uang..."
"Jangan buat alasan!" potong Akhsan kasar. Ia melangkah maju, menatap pengemudi ojek itu dengan jijik lalu kembali menatap Zahra.
"Sekali murahan ya murahan," ucap Akhsan tepat di depan wajah Zahra.
"Setelah gagal merebut hatiku, sekarang kamu menjual diri pada tukang ojek agar bisa pulang?"
Zahra terkesiap, dadanya sesak hingga ia sulit bernapas.
"Mas! Jaga bicaramu! Dia sudah tua, dia menolongku!"
Bibi Renggo, asisten rumah tangga senior di sana, berlari keluar membawa handuk setelah mendengar keributan.
Ia terpekik melihat kondisi Zahra yang basah kuyup dengan darah yang mulai memucat karena air hujan di kakinya.
"Ya Allah, Non Zahra! Kenapa bisa begini?" Bibi Renggo merangkul bahu Zahra yang bergetar.
"Non, mari Bibi obati. Lukanya parah ini, nanti infeksi," ucapnya penuh kekhawatiran.
Zahra menyandarkan tubuhnya pada Bibi Renggo, air matanya kini benar-benar luruh, menyatu dengan air hujan.
Ia menatap Akhsan, berharap ada sedikit rasa kasihan di mata suaminya.
Namun, Akhsan justru membuang muka dan berdecak jijik. "Drama," ucap Akhsan pendek.
Ia berbalik masuk ke dalam rumah, meninggalkan Zahra yang hampir tumbang di pelukan Bibi Renggo.
Bagi Akhsan, rasa sakit Zahra adalah hiburan bagi dendamnya atas kematian Gea.
Di ruang tengah yang sunyi, Akhsan duduk dengan santai di sofa kulit, seolah baru saja menyelesaikan tontonan yang menghibur.
Ia melirik Zahra yang masih menggigil di ambang pintu, lalu berucap tanpa perasaan.
"Buatkan aku kopi. Hitam, tanpa gula," perintahnya datar.
Bibi Renggo yang sedang memegang kotak p3k terperangah.
Ia menatap kondisi kaki Zahra yang masih mengeluarkan darah dan pakaiannya yang menempel basah ke tubuh.
"Aduh, Den Akhsan. Biar Bibi saja yang membuatkannya. Non Zahra harus segera ganti baju dan diobati kakinya, Den. Ini bisa infeksi," sela Bibi Renggo dengan nada memohon.
Akhsan menoleh perlahan, matanya menatap Bibi Renggo dengan sorot yang mengintimidasi.
"Istriku itu Bibi atau Zahra?" tanyanya dingin.
Pertanyaan itu seketika membungkam Bibi Renggo.
Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan, melainkan penegasan bahwa Zahra adalah "properti" miliknya yang bisa ia perintah sesuka hati.
Zahra memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.
Ia menyentuh lengan Bibi Renggo pelan, memberikan isyarat agar wanita tua itu tidak terseret dalam kemarahan Akhsan.
"Bibi masuk saja ke kamar. Biar Zahra yang buatkan kopinya," bisik Zahra lirih.
"Tapi, Non..."
"Nggak apa-apa, Bi. Zahra bisa."
Zahra kemudian melangkah menuju dapur. Setiap langkahnya adalah perjuangan melawan rasa nyeri yang menusuk-nusuk lututnya yang luka.
Suara seretan kakinya yang pincang di atas lantai marmer terdengar sangat menyayat hati, namun Akhsan tetap bergeming di kursinya, bahkan tidak menoleh sedikit pun.
Di dapur, dengan tangan yang masih bergetar karena kedinginan, Zahra menyalakan kompor.
Ia menahan ringisan saat air panas yang ia tuang ke cangkir hampir mengenai tangannya karena pandangannya yang mulai berkunang-kunang.
Zahra membawa cangkir kopi itu kembali ke ruang tengah dengan langkah yang sangat perlahan, menjaga agar kopi itu tidak tumpah meski setiap tumpuan kakinya terasa seperti menginjak duri.
Ia meletakkan kopi itu di meja di depan Akhsan.
"Kopinya, Mas," ucap Zahra.
Akhsan menatap cangkir itu, lalu menatap Zahra yang tampak pucat pasi.
Alih-alih meminumnya, ia hanya menatap kopi itu dengan senyum miring.
Akhsan menyesap kopi hitamnya perlahan, menikmati uap panas yang mengepul di antara wajahnya yang dingin.
Ia melirik Zahra yang masih berdiri gemetar dengan kaki bersimbah darah dan baju yang mulai mengering kaku di tubuhnya.
"Tetap di situ. Temani aku sampai kopi ini habis," perintah Akhsan tanpa perasaan.
Zahra hanya bisa mematung, mencengkeram jemarinya sendiri untuk menahan rasa sakit yang menjalar dari lutut hingga ke pinggang.
Setiap detik terasa seperti jam baginya. Setelah beberapa menit yang menyiksa, Akhsan meletakkan cangkirnya yang masih tersisa separuh.
"Setelah ini, kerjakan tugas kuliah kamu. Jangan biarkan otakmu tumpul hanya karena drama kecelakaan ini," ucapnya ketus.
Zahra mendongak, matanya yang sembap menatap suaminya dengan sisa keberanian.
"Aku sudah mengerjakannya, Mas," jawab Zahra pelan.
Tanpa menunggu balasan lagi, ia membalikkan badan, menyeret langkah pincangnya menuju kamar utama, berharap bisa segera mengunci diri dan mengobati luka-lukanya.
Namun, baru beberapa langkah, sebuah cengkeraman kuat menghantam lengannya.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kamar itu?" desis Akhsan.
Ia menarik lengan Zahra dengan kasar, mengabaikan rintihan kesakitan istrinya.
Akhsan menyeret Zahra menjauh dari kamar utama dan membawanya menuju koridor belakang, lalu membuka paksa sebuah pintu kayu.
"Tempatmu di sini," ucap Akhsan sembari memasukkan Zahra ke kamar tamu yang dingin dan kosong.
"Jangan pernah bermimpi untuk tidur di ranjang yang sama denganku. Kamar itu milik Gea, dan kamu tidak pantas menghirup udara di sana."
Akhsan membanting pintu itu dari luar, meninggalkan Zahra yang jatuh terduduk di lantai kamar tamu yang asing, sendirian dalam kegelapan.