NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suara Angin mengibas dedaunan terasa lebih jelas, di tengah kebisuan malam yang membuat dua manusia beda generasi itu saling membisu.

Gus Hafiz menatap Anisa lama.

Tatapan yang berbeda.

Lebih dalam dari biasanya.

“Karena Mas sudah menunggu.”

“Menunggu siapa?”

“Kamu.”

Jantung Anisa berhenti sepersekian detik.

“Aku?”

Gus Hafiz mengangguk pelan.

“Kamu ingat waktu kelas lima MI, kamu pernah jatuh dari sepeda di depan masjid?”

Wajah Anisa seketika berubah.

“Kok Gus tau...?”

Gus Hafiz tersenyum.

“Mas yang bawa kamu ke rumah waktu itu.”

Ingatan lama yang hampir pudar tiba-tiba muncul.

Anak kecil dengan lutut berdarah.

Seorang santri remaja yang menggendongnya sambil memarahi pelan karena ceroboh.

“Sejak itu Mas perhatiin kamu,” lanjutnya tenang. “Bocah kecil yang cerewet, tapi kalau nangis bikin Mas ndak tega.”

Anisa tercekat.

“Haaa… itu aku bahkan masih kecil Gus”

Anisa menjawab dengan malu.

“Iya. Kamu masih kecil. Karena itu Mas harus menunggu.”

Nada suaranya berubah lebih dalam.

“Mas ndak pernah tertarik pada perempuan yang lain. Mas cuma menyimpan satu nama. Mas cuma menunggu kamu cukup umur. Cukup dewasa. Cukup siap.”

Air mata Anisa kembali jatuh.

Kali ini tangisnya bukan karena sakit hati.

Melainkan karena seluruh ketakutannya runtuh dalam sekejap.

“Jadi… selama ini…” suaranya gemetar, “Mas ndak pernah…”

“Ndak pernah,” potongnya lembut. “Mas cuma jaga jarak supaya ndak ada yang salah paham. Mas sengaja bersikap tegas ke kamu supaya kamu ndak merasa diawasi.”

Anisa benar-benar tak mampu berkata apa-apa.

Selama ini ia merasa dirinya hanya masik ke ruang yang salah.

Ternyata…

Dirinya adalah tujuannya.

“Kenapa Gus ndak pernah bilang?” bisiknya.

Gus Hafiz tersenyum tipis.

“Karena Mas belum waktunya.”

Ia mengangkat tangan, mengusap pelan pipi Anisa yang basah.

Anisa terisak pelan.

“Bodohnya aku…”

Gumam Anisa.

“Bukan bodoh,” sanggahnya lembut. “Kamu cuma takut.”

Hening sejenak.

Angin malam semakin dingin, tapi hati Anisa terasa hangat luar biasa.

“Jadi selama ini…” ia mencoba memastikan lagi, “yang Gus tunggu… benar-benar aku?”

Gus Hafiz tersenyum, kali ini lebih jelas.

“Hem... Sampai Mas hafal cara kamu mengikat pita rambut waktu kecil.”

Anisa terkesiap.

Astaga.

Berarti ia memang diperhatikan sejak lama, oleh laki-laki di hadapannya.

“Dan Mas ndak pernah menyesal,” lanjutnya. “Karena yang Mas tunggu ternyata tumbuh jadi perempuan yang Mas banggakan.”

Air mata Anisa jatuh lagi.

Namun kali ini ia tidak ragu.

Anisa melangkah mendekat dan tanpa sadar ia memeluk Gus Hafiz dengan sadar.

Pelukan kedua mereka malam itu terasa berbeda.

Bukan lagi pelukan karena rapuh.

Tapi pelukan karena akhirnya tahu,

ia bukan bayangan siapa pun.

Ia adalah satu-satunya.

Gus Hafiz mengecup puncak kepala Anisa lembut.

"Masih mau lari dari Mas?"

Bisik Gus Hafiz setengah menggoda.

Anisa mengangkat wajahnya, sedikit mendongak.

“Tapi… cincin itu…”

Anisa menunjuk pelan ke jari manis Gus Hafiz. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia memberanikan diri.

Mata Gus Hafiz menyipit.

“Ini…?” tanyanya santai sambil mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin perak sederhana yang melingkar di jarinya.

Anisa mengangguk pelan.

“Bukankah itu cincin couple yang Gus pesan khusus untuk seseorang?”

Ada jeda beberapa detik.

Gus Hafiz menyipit.

“Iya. Mas pesan khusus.”

Jantung Anisa kembali berdegup tak karuan.

“Untuk siapa?” tanyanya pelan, meski ia takut dengan jawabannya.

Gus Hafiz merapatkan pelukannya.

“Untuk istrinya Mas.”

Anisa tercekat.

“Di bagian dalamnya,” lanjutnya pelan, “ada nama kamu.”

“Namaku?” Anisa refleks mendekat.

Gus Hafiz melepas cincin itu perlahan, lalu menunjukkannya. Di bagian dalam terukir huruf kecil inisial A.

Anisa menutup mulutnya.

"Jadi itu bukan inisial nama Ustadzah Afifah?"

Gus Hafiz mencubit hidung Anisa pelan

"Tentu nggak, itu namamu."

Senyum manis seketika terbit dari bibir Anisa.

“Kamu tahu? Mas sengaja pakai ini sendirian dulu,” ujarnya tenang.

Lalu ia merogoh saku jasnya.

Dari sana, ia mengeluarkan satu cincin lagi yang bermatakan berlian kecil.

Anisa membeku.

“Ini sengaja ndak Mas pasang di jarimu,” bisiknya lembut. “Karena Mas ndak mau kamu jadi sorotan. Kamu masih pelajar. Kalau ada cincin di jarimu, orang akan banyak bertanya.”

Nada suaranya bukan alasan yang dibuat-buat. Itu alasan yang dipikirkan matang, oleh pria dewasa seperti Gus Hafiz.

“Mas ndak mau kamu tertekan karena status. Mas mau kamu tetap sekolah dengan tenang.”

Anisa menatap cincin itu dengan mata berkaca-kaca.

Selama ini ia mengira cincin itu simbol cinta untuk orang lain.

Ternyata, ia hanya disembunyikan demi melindunginya.

Gus Hafiz mengambil tangan Anisa perlahan. Tidak terburu-buru. Tidak memaksa.

“Kamu lihat di sini,” ujarnya sambil memutar cincin itu agar ia bisa membaca bagian dalamnya.

Terukir dua inisial kecil:

HA & AF.

“Itu Hafiz Arsyad dan Anisa Fadillah,” bisiknya pelan.

Nada suaranya begitu dekat, membuat Anisa merasakan getaran halus di hatinya. Bukan karena godaan, melainkan karena kesungguhan.

“Mas sudah pesan ini bahkan sebelum kamu datang ke Ponorogo,” lanjutnya. “Mas cuma nunggu waktu yang tepat.”

Air mata Anisa jatuh lagi, tapi kali ini ia tersenyum.

“Jadi selama ini… aku cuma salah paham?”

Gus Hafiz mengangguk kecil.

“Kamu terlalu sibuk takut kehilangan, sampai lupa melihat siapa yang sedang memegang tanganmu.”

Anisa menunduk, merasa malu sekaligus terharu.

Gus Hafiz tidak langsung memasangkan cincin itu. Ia justru meletakkannya di telapak tangan Anisa.

“Kalau suatu hari nanti kamu benar-benar yakin sama Mas,” katanya lembut, “kamu yang pakai sendiri. Bukan karena Mas. Tapi karena kamu mau.”

Anisa menatap cincin itu lama.

Lalu menatap lelaki di depannya.

Lelaki yang ternyata sudah menunggunya sejak kecil.

Lelaki yang mencintainya dalam doa.

Lelaki yang mencintainya dalam diam.

Tangannya mengepal pelan menggenggam cincin itu.

“Kenapa Gus yakin aku yang jadi jodoh panjenengan…?”

Suara Anisa pelan, tapi penuh rasa ingin tahu. Seolah ia masih belum berani percaya sepenuhnya.

Gus Hafiz tersenyum. Bukan senyum menggoda. Senyum seseorang yang sudah lama menyimpan rahasia manis.

“Karena Mas tahu,” jawabnya tenang, “sejak dulu orang tua kita, terutama Romo, memang sudah berniat menjodohkan kita.”

Anisa terdiam.

“Iya,” lanjutnya pelan. “Awalnya Mas cuma dengar sepintas. Mas ndak terlalu ambil pusing. Tapi waktu Mas tahu nama yang disebut itu kamu…”

Ia berhenti sebentar.

“Mas senang.”

Anisa menatapnya, tak berkedip.

“Senang?” ulangnya pelan.

Gus Hafiz mengangguk.

“Karena Mas memang sudah menunggu kamu. Jadi waktu tahu orang tua juga merestui arah itu, Mas merasa… ya sudah, mungkin ini memang jalannya.”

Angin malam kembali berhembus pelan.

“Dan soal kejadian kamu masuk kamar Mas waktu itu…” ia tersenyum tipis, sedikit geli mengingatnya. “Mas anggap itu bukan kebetulan.”

Wajah Anisa langsung merah.

“Gus…”

“Kalau ndak ada kejadian itu, mungkin pernikahan kita bakal lebih lama lagi. Atau bahkan gagal karena kamu keburu nolak.”

Anisa mendelik.

“Memang Gus tahu aku bakal nolak?”

Gus Hafiz tertawa kecil.

“Mas kan ustadzmu. Mas tahu betul kamu itu gimana.”

Anisa mengernyit.

“Mas tahu kamu sebel sama Mas.”

Anisa spontan menutup mulutnya.

“Kok tahu?”

“Karena tiap Mas masuk kelasmu, kamu satu-satunya, santriwati yang mukanya ditekuk.”

Anisa benar-benar tak menyangka, ternyata Gus Hafiz memperhatikan tingkahnya sejak dulu.

“Dasar penguntit...?”

"Penguntit...?"

Gus Hafiz menyipit.

Anisa mengangguk.

“Kalok ndak tukang nguntit, ndak mungkin tahu.”

Gus Hafiz tersenyum lembut.

“Ndak gitu juga. Mas belajar memahami kamu. Pelan-pelan. Dari kamu kecil sampai sekarang.”

Hening sejenak.

Anisa menunduk, memainkan cincin di tangannya.

Tiba-tiba suara ponsel Gus Hafiz berdering nyaring dari dalam saku jasnya.

"Umi telpon..." ucap Gus Hafiz.

Seketika wajah Anisa pias.

Luka itu kembali terasa sakit di dadanya.

1
Elen Gunarti
huh mlai dilema
Pa Dadan
karyanya bagus
Simkuring, Prabu
mana kelanjutannya
Alim
akhirnya
Elen Gunarti
jujur lah Anisa biar semua jelas
Alim
😭😭😭
Listio Wati
mewek baca y
Elen Gunarti
huh nyesek bingot ceritay, double up Thor
Listio Wati
kasihan bener si anisa
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
Elen Gunarti
ceritanya bgus tp up-nya lama Thor
Zizi Pedi: makasi kk🥰
total 1 replies
Elen Gunarti
kuintip bolak balik blm up🤭
Elen Gunarti
double up Thor 👍👍👍👍
Elen Gunarti
lanjut
Elen Gunarti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!