Shanaya berdiri di tepi taman halaman rumahnya, angin malam membelai sayap-sayap keabadiannya yang tersembunyi. Bintang mendekatinya, matanya memancarkan cinta yang tak terbantahkan. "Shanaya, aku tahu kita berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu," katanya dengan suara lembut.
Shanaya menoleh, mencoba menyembunyikan air matanya "Bintang, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku...aku bukan seperti kamu. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa kamu terima..." Shanaya mengangkat tangan, menghentikan Bintang yang ingin mendekat. "Tolong, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku tidak bisa menjadi yang kamu inginkan..."
Bintang terlihat hancur, tapi dia tidak menyerah. "Aku tidak peduli dengan apa yang kamu sembunyikan, Shanaya. Aku hanya ingin kamu..."
Apakah Shanaya akan membuka hatinya untuk Bintang atau justru pergi ke langit ketujuh dan meninggalkan Bintang seorang diri di malam yang sunyi ini? Ikuti terus kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1. "Pangeran Penyelamat Shanaya"
Bintang berjalan di koridor kampus, menikmati suasana pagi yang cerah. Ia sedang menuju kelas ketika mendengar suara teriakan dan tawa dari arah kantin. Ia penasaran dan memutuskan untuk melihat apa yang terjadi.
Di dekat perpustakaan, ia melihat sekelompok gadis yang sedang mengolok-olok Shanaya, seorang mahasiswi cantik dan pintar yang biasa disebut sebagai kutu buku. Mereka melemparkan kata-kata pedas dan membuat Shanaya merasa sangat tidak nyaman.
Bintang tidak bisa menahan diri lagi. Ia berjalan ke arah mereka dan berkata, "Woiy, apa yang kalian lakuin ke dia hah...? Tinggalin dia!"
Gadis-gadis itu menoleh ke arah Bintang, salah satu dari mereka berkata, "Loe siapa? Ikut campur urusan orang?" ucap Zaneta yang memang mereka belum saling mengenal satu sama lain dikarenakan masih maba
Bintang tersenyum seringai, "Gue Bintang, dan gue gak suka ngelihat orang dibully. Tinggalin dia, sekarang juga!"
Gadis-gadis itu terkejut dengan keberanian Bintang, tapi mereka tidak mau kalah. Salah satu dari mereka berkata, "Loe mau apa? Loe mau jadi pahlawan kesiangan buat dia gitu hah...?"
Shanaya yang tadinya menangis dan tersungkur di lantai, berdiri dan berkata, "Cukup, gue gak perlu bantuan dari loe..."
Bintang menoleh ke arah Shanaya, "Loe gak perlu sungkan. Gue cuma mau bantu loe aja gak lebih karena gue masih punya hati nurani..."
Gadis-gadis itu akhirnya pergi, meninggalkan Shanaya dan Bintang. Shanaya menundukkan kepala, "Makasih..."
Bintang tersenyum hangat, "Gak perlu berterima kasih. Gue cuma ngelakuin apa yang seharusnya dilakuin..."
Shanaya menatap Bintang, "Gue Shanaya. Makasih loe udah bantu gue..."
Bintang tersenyum, "Sama-sama, Shanaya. Gue Bintang..."
Mereka berdua kemudian duduk di dalam perpustakaan, berbicara tentang apa yang terjadi. Bintang mengetahui bahwa Shanaya adalah mahasiswi baru, dan gadis-gadis itu membullynya karena kecantikannya dan kecerdasannya yang unggul.
Bintang merasa simpati dengan Shanaya, dan mereka berdua kemudian menjadi teman dekat. Shanaya masih terlihat sedikit tak enak, tapi Bintang bisa membutnya lebih santai.
"Gue gak tahu kenapa mereka bisa jahat gitu ya," ucap Shanaya, masih sedikit sedih
Bintang cuma tersenyum, "Mereka mungkin cemburu sama loe. Loe cantik, pintar, dan baik. Mereka gak bisa terima itu..."
Shanaya tersenyum sedikit, "Gue gak tahu kalau loe bisa bilang gitu..."
Bintang tertawa, "Gue cuma bilang apa adanya. Loe memang keren, Shanaya..."
Shanaya blush, "Loe gak usah gitu deh, Bintang..."
Bintang tersenyum dan memandang ke arah Shanaya lekat, "Gue serius, Shanaya. Loe pantas dapet pujian dan nilai yang lebih baik dari mereka..."
Bintang tersenyum, "Gue seneng bisa bantu loe, Shanaya. Loe gak sendirian lagi sekarang..."
Mereka berdua terus ngobrol, dan Bintang bisa lihat Shanaya makin santai. Mereka jadi makin dekat, dan Bintang merasa ada sesuatu yang spesial pada Shanaya.
Mereka memang teman sekelas namun mereka belum saling mengenal satu sama lain dikarenakan masih mahasiswa baru. Apalagi Shanaya yang merupakan mahasiswi pindahan dari salah satu universitas di Surabaya ke kota Jakarta ini.
...****************...
Zaneta berdiri di depan kelas, mata hitamnya menyapu wajah Shanaya dengan penuh kebencian.
"Kalian lihat itu? Shanaya yang tadinya kayak tikus got, sekarang malah deket-deket sama Bintang. Gak tahu diri banget sih," ucapnya dengan nada yang cukup keras, membuat beberapa mahasiswa mahasiswi menoleh ke arah Shanaya
Shanaya yang tadinya duduk tenang, tiba-tiba merasa darahnya mendidih. Tapi sebelum dia bisa membalas, Bintang masuk ke dalam kelas, dengan senyum yang membuat hati beberapa mahasiswi berdebar karena melihat parasnya yang tampan.
"Woiy, Zaneta, apa yang lagi loe omongin?" tanya Bintang, sambil berjalan ke arah Shanaya
Zaneta tersenyum sinis, "Gue cuma ngomongin soal teman loe yang baru itu, Bintang. Shanaya yang tadinya gak ada apa-apanya, sekarang malah jadi pusat perhatian semua orang..."
Bintang berdiri di sebelah Shanaya, "Gue gak tahu apa yang loe maksud, Zaneta. Tapi gue tahu loe gak punya hak untuk ngomongin Shanaya kayak gitu..."
Kelas menjadi sunyi, semua mata tertuju pada Bintang dan Zaneta. Zaneta yang merasa dirinya dihina, mulai kehilangan kontrol.
"Loe ikut campur, Bintang? Loe gak tahu siapa yang loe hadapi," ucap Zaneta dengan nada yang semakin keras
Bintang tersenyum, "Gue tahu siapa yang gue hadapi. Loe yang gak tahu apa yang loe lakuin..."
Dosen masuk ke dalam kelas, membuat Zaneta terpaksa berhenti. Tapi mata hitamnya masih menyapu wajah Shanaya dengan aura penuh kebencian, membuat Shanaya merasa tidak nyaman.
Dosen yang masuk ke dalam kelas, seorang wanita paruh baya dengan ekspresi yang tegas, langsung mengambil alih situasi.
"Apa yang sedang terjadi di sini?" tanyanya, sambil memandang ke arah Zaneta dan Bintang
Zaneta langsung berubah menjadi manis, "Gak ada apa-apa, Bu. Cuma diskusi kecil aja kok hehehe..."
Dosen itu tidak percaya, tapi tidak ingin memperpanjang masalah. "Baik, duduklah semua. Kita mulai perkuliahan kita hari ini..."
Kelas kembali normal, tapi Zaneta masih melemparkan tatapan kebencian ke arah Shanaya. Bintang yang duduk di sebelah Shanaya, menyadari hal itu, langsung mengambil tangan Shanaya dan menggenggamnya erat.
Shanaya merasa jantungnya berdebar, tapi dia tidak menarik tangannya. Dia merasa aman dengan Bintang di sebelahnya.
Setelah perkuliahan selesai, Bintang mengantar Shanaya keluar dari kelas. "Gue gak akan biarin Zaneta ganggu loe lagi," ucapnya dengan nada yang tegas namun lembut
Shanaya tersenyum, "Makasih, Bintang. Loe emang temen yang baik hati..."
Bintang tersenyum balik, "Gue gak akan pernah meninggalkan loe, Shanaya..."
Shanaya dan Bintang jalan beriringan, meninggalkan kelas yang sudah sepi. Mereka berbincang santai tentang pelajaran hari ini, sambil menikmati udara segar di luar.
Zaneta yang kebetulan lewat, melihat mereka berdua dari kejauhan. Dia hampir tak percaya, Shanaya yang tadinya bagi dirinya seperti tikus kotor, sekarang malah kian akrab dengan Bintang.
Muka Zaneta semakin merah padam karena kemarahan. "Gak akan gue biarkan!" gumamnya, sambil menggulung tangannya
Shanaya dan Bintang tidak menyadari bahwa mereka sedang diawasi. Mereka terus berjalan, sampai ke parkiran kampus.
"Gue antar loe pulang ya, Shan," tawar Bintang, sambil menunjukkan motor sport berwarna merah miliknya
Shanaya tersenyum, "Oke, Bintang. Makasih ya..."
Mereka berdua menaiki sepeda motor Bintang, meninggalkan area kampus yang sudah sepi. Zaneta yang masih kesal, melihat mereka pergi dengan hati yang penuh kebencian kini menghentakkan kakinya ke tanah karena saking kesalnya.
Selama di perjalanan pulang, Bintang dan Shanaya ngobrol tentang banyak hal. Mereka membahas tentang hobi, cita-cita, dan bahkan kenangan masa kecil.
"Gue suka banget main gitar," kata Bintang, sambil mengemudi motornya
"Wah, keren! Gue juga suka musik," jawab Shanaya, sambil tersenyum
Mereka terus ngobrol, sampai Bintang bertanya, "Shanaya, kenapa loe gak pernah ikut kegiatan kampus?"
Shanaya sedikit ragu, "Gue... gue gak tahu, mungkin karena gue gak punya teman yang bisa diajak..."
Bintang menoleh ke belakang, "Sekarang loe punya gue..."
Shanaya tersenyum, "Makasih banyak, Bintang..."
Mereka sampai di depan kosan Shanaya, Bintang menghentikan motornya. "Gue antar loe sampai depan pintu," ucapnya.
Shanaya turun dari motor, "Gak perlu, Bintang. Gue bisa sendiri..."
Bintang tersenyum, "Gue tahu, tapi gue mau mastiin loe aman aja..."
Mereka berjalan ke depan pintu, sampai akhirnya Shanaya berhenti. "Makasih, Bintang. Sampai jumpa besok," ucapnya sedikit canggung
Bintang tersenyum, "Sampai jumpa besok juga, Shanaya..."
Keduanya pun saling melambaikan tangan satu sama lain sebagai tanda perpisahan. Bintang kembali menyalakan motornya dan mulai melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata keluar dari area perumahan kos Shanaya.
Shanaya tersenyum sebelum memasuki rumahnya, 'Makasih banyak ya Bin, loe bagaikan pangeran tampan yang jadi superhero gue hari ini...' gumamnya dalam hati