"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Cemburu sang Iblis yang Lupa Ingatan
Pagi itu, suasana di lantai VVIP Mahendra Medical Center terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangannya yang rusak, melainkan karena aura yang terpancar dari kamar nomor 101. Devan Mahendra duduk tegak di ranjangnya, melipat tangan di dada dengan wajah yang gelap gulita.
Matanya tajam menatap ke arah pintu kaca yang tembus pandang. Di luar sana, di meja perawat, ia melihat "Suster Lulu"—alias Clarissa yang sedang menyamar—tengah tertawa kecil sambil berbincang dengan seorang dokter muda bernama Dokter Adrian.
"Dokter Adrian itu... kenapa dia lama sekali bicara dengan susterku?" gumam Devan, suaranya rendah dan penuh penekanan.
Sekretaris Han yang sedang merapikan berkas di pojok ruangan hanya bisa menghela napas pasrah. "Tuan Muda, Dokter Adrian adalah kepala residen di sini. Wajar jika dia memberikan instruksi pada perawat."
"Instruksi? Sejak kapan instruksi medis membutuhkan senyuman selebar itu? Dan lihat, dia baru saja menyentuh bahu Lulu!" Devan nyaris melempar tablet di tangannya ke arah pintu. "Han, panggil Suster Lulu masuk sekarang. Katakan kakiku kram atau kepalaku mau meledak. Cepat!"
"Tapi Tuan, jadwal periksa Anda baru—"
"SEKARANG, HAN!"
Clarissa masuk ke dalam kamar dengan langkah santai, masih mengenakan masker dan topi perawatnya. Ia melihat Devan yang tampak seperti bom waktu yang siap meledak.
"Ada keluhan apa, Tuan Mahendra yang Terhormat? Sekretaris Anda bilang Anda sedang mengalami 'kematian mendadak'?" goda Clarissa sambil meletakkan stetoskop di meja.
Devan menatapnya tajam, mencoba mencari celah di balik masker itu. "Kau lama sekali di luar. Pasienmu di sini sedang kesakitan, tapi kau malah sibuk tebar pesona dengan dokter residen itu."
Clarissa menahan tawa. Amnesia boleh, tapi sifat posesifnya memang sudah mendarah daging, batinnya geli.
"Dokter Adrian hanya menanyakan jadwal makan Anda, Tuan. Dia sangat perhatian," ucap Clarissa sengaja memanas-manasi.
"Perhatian? Dia itu terlihat seperti buaya kelaparan yang sedang mengincar mangsa," desis Devan. Ia tiba-tiba meraih pergelangan tangan Clarissa, menariknya hingga gadis itu berdiri tepat di samping ranjang. "Dengar, Lulu. Selama kau bekerja merawatku, kau dilarang tersenyum pada pria lain di rumah sakit ini. Itu adalah perintah."
Clarissa mencondongkan tubuhnya, menatap langsung ke mata hitam Devan yang berkilat. "Oh ya? Atas dasar apa? Anda hanya pasienku, bukan pemilik nyawaku."
"Aku adalah Devan Mahendra. Aku memiliki rumah sakit ini, dan jika aku mau, aku bisa memilikimu juga," ucap Devan dengan nada sombong yang sangat familiar.
Clarissa tersenyum di balik maskernya. Ia melepaskan tangannya pelan, lalu mulai membuka balutan perban di bahu Devan. "Simpan kesombongan Anda, Tuan. Sekarang, diamlah. Aku harus mengganti perbanmu."
Saat Clarissa fokus membersihkan luka di bahu Devan, suasana di kamar itu mendadak hening. Jarak mereka sangat dekat. Devan bisa mencium aroma vanila yang menenangkan dari tubuh Clarissa, aroma yang entah kenapa selalu memicu denyut aneh di kepalanya.
"Lulu..." suara Devan melunak. "Kenapa setiap kali kau menyentuhku, aku merasa seperti pernah melakukan ini ribuan kali sebelumnya? Siapa kau sebenarnya?"
Clarissa terhenti sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap bahu Devan yang gagah namun penuh luka—luka yang didapat pria itu saat menyelamatkannya.
"Aku hanyalah suster yang ingin melihatmu sembuh, Devan," bisik Clarissa lirih.
Tiba-tiba, sebuah kecelakaan kecil terjadi. Karena terlalu gugup, gunting medis yang dipegang Clarissa tersangkut di kancing baju perawatnya sendiri. Saat ia mencoba melepaskannya, topi perawatnya tersenggol dan terjatuh, memperlihatkan rambut hitam panjangnya yang indah yang tergerai sempurna.
Tak hanya itu, pengait maskernya pun ikut terlepas.
Wajah Clarissa terpampang nyata di depan mata Devan. Wajah cantik yang anggun, mata yang penuh kecerdasan, dan bibir merah yang selalu ingin ia cium dalam mimpinya selama koma.
Devan membelalak. Ingatannya berputar liar. Bayangan-bayangan fragmen muncul seperti potongan film rusak: Lestari yang sedang memasak... Clarissa yang berteriak di atas pesawat... ciuman di bawah badai salju Alpen...
"Kau..." Devan memegangi kepalanya yang terasa seperti dihantam palu godam. "Kau bukan Lulu. Kau... wanita penipu itu. Clarissa?"
Clarissa tertegun. Ia tidak menyangka penyamarannya akan terbongkar secepat ini. Namun, melihat Devan kesakitan, ia tidak peduli lagi dengan penyamaran itu.
"Devan! Kau tidak apa-apa?" Clarissa memegang wajah Devan dengan kedua tangannya.
"Pergi..." Devan mengerang, mencoba mendorong Clarissa. "Kepalaku... sakit sekali! Keluar dari sini!"
"Tidak! Aku tidak akan pergi!" Clarissa justru memeluk kepala Devan, menenggelamkan wajah pria itu di dadanya untuk menenangkannya. "Tenanglah, Devan. Aku di sini. Jangan dipaksa untuk ingat. Jangan dipaksa..."
Pelukan itu memberikan kehangatan yang familiar bagi Devan. Perlahan, rasa sakit di kepalanya mereda. Devan terdiam di dalam pelukan Clarissa, menghirup aroma vanila yang kini ia yakini adalah milik "Clarissa-nya".
"Kenapa kau melakukan ini?" gumam Devan di dalam pelukan itu. "Kenapa kau menyamar hanya untuk merawat pria yang sudah mengusirmu?"
Clarissa melepaskan pelukannya, menatap Devan dengan mata yang berkaca-kaca. "Karena kau adalah pria bodoh yang melompat dari pesawat demi menyelamatkanku. Kau pikir aku akan membiarkanmu melupakanku begitu saja? Tidak dalam satu juta tahun, Devan Mahendra."
Devan menatap wajah Clarissa lama. Meskipun ingatannya belum kembali seratus persen, hatinya telah memberikan jawaban. Ia menarik tengkuk Clarissa dan menyatukan dahi mereka.
"Kau benar-benar wanita yang berbahaya, Clarissa Wijaya," bisik Devan. "Aku tidak ingat siapa kau sepenuhnya, tapi tubuhku... hatiku... mereka seolah-olah berteriak bahwa kau adalah milikku."
Di saat momen romantis itu berlangsung, pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan keras.
"DEVAN! AKU DATANG!"
Seorang wanita cantik dengan pakaian high-fashion masuk dengan terburu-buru. Itu adalah Elena Grey. Ia tampak terkejut melihat Clarissa yang sudah tidak mengenakan masker dan berada dalam posisi sangat dekat dengan Devan.
"Kau?! Apa yang kau lakukan di sini, Clarissa?!" teriak Elena sinis.
Devan melepaskan Clarissa dan kembali ke mode iblisnya. "Elena? Siapa yang memberimu izin masuk ke sini?"
"Aku tunanganmu, Devan! Ingat?" Elena mencoba mendekat dan meraih tangan Devan. "Jangan dengarkan wanita ini. Dia hanya mengincarmu karena harta Mahendra!"
Clarissa berdiri tegak, merapikan rambutnya dengan anggun. Ia menatap Elena dengan pandangan menghina. "Elena, Elena... kau benar-benar tidak tahu kapan harus menyerah, ya? Devan memang lupa ingatan, tapi dia tidak bodoh."
"Devan, lihat dia! Dia menyamar jadi suster hanya untuk menggodamu!" adu Elena.
Devan melirik Clarissa, lalu kembali menatap Elena dengan dingin. "Memang benar dia menyamar. Dan sejujurnya... penyamarannya jauh lebih menarik daripada kehadiranmu di sini."
"Apa?!" Elena terperanjat.
"Han! Keluarkan Elena Grey dari rumah sakit ini sekarang juga. Dan pastikan Keluarga Grey tidak pernah mendapatkan akses ke satu sen pun investasi Mahendra di masa depan," perintah Devan tegas.
Setelah Elena diseret keluar sambil berteriak histeris, Devan kembali menatap Clarissa. Ia menyeringai nakal.
"Jadi, 'Suster Lulu'... apa jadwal kita selanjutnya? Mandi air hangat?"
Clarissa melempar waslap ke wajah Devan sambil tertawa. "Sembuh dulu, baru bicara soal mandi!"
Meskipun memori Devan masih berupa kepingan yang berantakan, satu hal yang pasti: sang Iblis kembali jatuh ke dalam perangkap cinta sang Ratu.