NovelToon NovelToon
Dosa Dibalik Kebangkitan

Dosa Dibalik Kebangkitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama / Kutukan / Fantasi Wanita / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Wati Atmaja

Di sebuah negeri yang dilupakan waktu, seorang jenderal perang legendaris bernama Kaelan dikutuk untuk tidur abadi di bawah reruntuhan kerajaannya. Kutukan itu adalah hukuman atas dosa-dosa yang dilakukannya selama perang berdarah yang menghancurkan negeri tersebut. Hanya seorang gadis dengan hati yang murni dan jiwa yang tak ternoda yang dapat membangkitkannya, tetapi kebangkitannya membawa konsekuensi yang belum pernah terbayangkan.
Rhea, seorang gadis desa yang sederhana, hidup tenang di pinggiran hutan hingga ia menemukan sebuah gua misterius saat mencari obat-obatan herbal. Tanpa sengaja, ia membangunkan roh Kaelan dengan darahnya yang murni.
Di antara mereka terjalin hubungan kompleks—antara rasa takut, rasa bersalah, dan ketertarikan yang tak bisa dijelaskan. Rhea harus memutuskan apakah ia akan membantu atau tidak.
"Dalam perjuangan antara dosa dan penebusan, mungkinkah cinta menjadi penyelamat atau justru penghancur segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wati Atmaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesepian

Malam semakin larut ketika Kaelan meninggalkan menara benteng, langkahnya terasa berat menuju kamarnya. Suasana di benteng Rivendale begitu sepi, hanya terdengar derak kayu tua yang sesekali berderit karena angin malam. Saat ia membuka pintu kamarnya, ruangan itu terasa dingin dan sunyi, mencerminkan isi hatinya.

Kaelan menyalakan lilin di meja kecil di samping ranjang. Ia membuka jubahnya dan menggantungnya di dekat pintu, lalu duduk di kursi kayu yang menghadap jendela kecil. Dari sana, ia bisa melihat lampu-lampu kota Rivendale yang mulai padam satu per satu, tanda bahwa warga perlahan kembali ke rutinitas malam mereka.

Di atas meja, sebotol anggur dan gelas kosong menunggu. Kaelan menuangkan anggur itu perlahan, aroma manisnya memenuhi udara. Ia mengangkat gelasnya, menatap cairan merah itu sejenak sebelum meminumnya dengan perlahan.

“Rea...” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan. Ia menatap kosong ke arah jendela, membayangkan wajah Rea yang biasanya selalu memberinya semangat. Tapi kini, ia hanya ditemani oleh kesunyian dan bayangan pikirannya sendiri.

Setelah menghabiskan anggur, Kaelan berdiri dan berjalan menuju ranjangnya. Ia melepas sepatu, membiarkan tubuhnya terjatuh di atas kasur yang dingin. Matanya perlahan tertutup, meskipun pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran akan kondisi Rea di Elden.

Kaelan merasa dirinya terbangun di kamar yang sama, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela, menerangi ruangan dengan kehangatan yang lembut. Ia mengerjapkan mata, merasa ada seseorang di sampingnya.

Beberapa kali Kaelan berusaha untuk membuka matanya. Cahaya matahari yang lembut menembus jendela kamarnya, menerangi ruangan dengan kehangatan yang menenangkan. Tubuhnya terasa berat, tetapi ada sesuatu yang berbeda hari ini. Ia merasakan kehadiran seseorang di sampingnya.

Kaelan menoleh, dan hatinya hampir berhenti. Di sebelahnya, terbaring Rea, wajahnya damai dalam tidur. Rambut hitam panjangnya terurai di atas bantal, menambah kesan anggun yang memikat. Kaelan memandangnya dalam diam, tak percaya bahwa wanita yang selalu memenuhi pikirannya kini ada di sini, bersamanya.

“Rea…” bisiknya pelan, suaranya penuh keheranan.

Ia mengulurkan tangannya dengan ragu, hampir takut bahwa ini hanyalah ilusi. Ketika jemarinya menyentuh pipi Rea, kehangatan yang ia rasakan membuat dadanya bergetar. Ini terasa nyata—terlalu nyata untuk sebuah mimpi.

Rea membuka matanya perlahan, menatap Kaelan dengan senyum lembut. “Kaelan,” katanya dengan suara lembut, “Kenapa kau melihatku seperti itu?”

Kaelan tidak menjawab. Sebaliknya, ia menarik Rea ke dalam pelukannya, memeluknya erat seolah-olah ia takut kehadiran Rea akan hilang begitu saja. “Aku tidak percaya kau di sini,” gumamnya. “Apakah ini nyata?”

Namun, saat ia melepaskan pelukannya, ia menyadari sesuatu yang aneh. Rea kini mengenakan gaun pengantin yang indah. Gaun itu putih bersih, dengan hiasan renda yang halus, seperti sesuatu yang hanya ada dalam dongeng. Mahkota kecil menghiasi rambutnya, membuatnya terlihat seperti seorang ratu.

Kaelan terdiam, matanya membelalak. “Rea… apa yang terjadi? Mengapa kau…”

Rea tersenyum, tetapi senyumnya mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan—sebuah misteri yang membuat Kaelan merasakan getaran aneh. “Kaelan,” katanya lembut, “Aku di sini untukmu. Kau adalah takdirku.”

Sebelum Kaelan bisa memahami kata-kata itu, semuanya tiba-tiba memudar. Cahaya matahari menghilang, kehangatan Rea lenyap, dan ia mendapati dirinya kembali di kamar yang kosong. Napasnya terengah-engah, dadanya berdebar kencang. Ia menyentuh tempat tidur di sebelahnya, hanya untuk menemukan bahwa itu dingin.

“Ini hanya mimpi,” gumamnya, memejamkan mata. “Tapi… mengapa terasa begitu nyata?”

Kaelan teringat ramalan yang pernah ia dengar dari seorang tetua di kerajaannya. Ramalan yang mengatakan bahwa ia akan dibangkitkan oleh pengantinnya di saat-saat tergelap. Apakah mimpi ini adalah pertanda? Ataukah itu hanyalah refleksi dari keinginannya sendiri?

Ia bangkit dari tempat tidurnya, mencoba menghilangkan kegelisahan yang membebaninya. Setelah mencuci muka, ia melangkah ke kamar mandi, membiarkan air dingin menyegarkan tubuhnya yang lelah. Namun, pikiran tentang mimpi itu terus menghantuinya.

Saat duduk di meja makan, menyantap roti gandum dan secangkir teh hangat, Kaelan termenung. Ia tidak bisa menghilangkan bayangan Rea dalam gaun pengantin itu. Mimpi itu bukan hanya keinginan—itu terasa seperti janji. Sebuah janji yang harus ia perjuangkan, tidak peduli apa pun yang akan terjadi.

“Fokus, Kaelan. Kota ini membutuhkanmu lebih dari apa pun,” gumamnya.

Keluar dari kamarnya, ia menuju gerbang utama Rivendale. Suasana kota sudah lebih tenang dibandingkan beberapa minggu lalu. Pasar mulai berdenyut kembali, dan warga perlahan-lahan kembali beraktivitas. Namun, Kaelan tahu, ancaman wabah belum sepenuhnya hilang, dan bayang-bayang orang di balik kekacauan ini masih menjadi misteri.

Di gerbang utama, Kaelan memimpin patroli harian bersama prajuritnya. Pemeriksaan ketat terus dilakukan terhadap pedagang yang masuk dan keluar dari kota. Ia memeriksa setiap laporan yang masuk, mencari petunjuk tentang pedagang daging misterius yang telah mencemari Rivendale.

Seorang prajurit muda, Roland, mendekati Kaelan dengan laporan. “Tuan Kaelan, tidak ada tanda-tanda pedagang daging yang mencurigakan. Kami sudah memeriksa setiap gerobak yang masuk selama seminggu terakhir.”

Kaelan menghela napas panjang. “Orang itu mungkin sudah meninggalkan Rivendale. Tapi kita tidak boleh lengah. Tetap periksa semua barang dagangan dengan cermat. Pastikan warga kita aman.”

Roland mengangguk, lalu kembali ke posnya. Kaelan berjalan menyusuri pasar, memperhatikan aktivitas pedagang dan warga. Di sudut pasar, ia melihat seorang penjual buah yang tampak gugup saat melayani pembeli. Kaelan mendekatinya dengan langkah tenang.

“Buahmu terlihat segar,” kata Kaelan sambil memeriksa apel di gerobak penjual itu. “Kau mendapatkan ini dari mana?”

Penjual itu terkejut, tetapi segera menjawab dengan nada gugup. “Dari ladang di selatan, Tuan. Saya sudah memeriksa semuanya. Tidak ada yang rusak.”

Kaelan menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Bagus. Pastikan kau tetap memeriksa barang-barangmu. Rivendale tidak bisa mengambil risiko lagi.”

Meski kota mulai pulih, Kaelan tidak bisa melupakan misi utamanya: menemukan pedagang daging yang telah menyebabkan wabah. Ia mengumpulkan prajurit senior di sebuah ruang kecil di benteng untuk menyusun rencana.

“Orang ini licik,” ujar Kaelan, menunjuk peta Rivendale dan desa-desa di sekitarnya. “Dia mungkin sudah meninggalkan kota, tetapi kita harus melacak jejaknya. Fokus pada daerah di luar gerbang selatan dan barat. Itu adalah jalur keluar yang paling mungkin dia gunakan.”

Salah satu prajurit, Sir Gareth, berbicara. “Tuan Kaelan, jika dia benar-benar meninggalkan Rivendale, mungkin dia menuju ke kota lain untuk melancarkan rencana berikutnya.”

Kaelan mengangguk, matanya tajam. “Itu kemungkinan yang harus kita antisipasi. Kirim utusan ke kota-kota tetangga, beri tahu mereka tentang situasi ini. Jika mereka menemukan pedagang mencurigakan, mereka harus segera melaporkannya.”

Di malam harinya, Kaelan mengunjungi beberapa penginapan di Rivendale, berharap mendapatkan informasi dari para pelancong. Di sebuah penginapan kecil di dekat dermaga, ia bertanya kepada pemiliknya.

“Aku sedang mencari pedagang yang mungkin menginap di sini sekitar dua minggu lalu,” kata Kaelan, menunjukkan deskripsi singkat tentang pedagang daging yang dicurigai.

Pemilik penginapan menggeleng. “Aku tidak ingat ada pedagang seperti itu, Tuan. Tapi banyak orang datang dan pergi saat pasar sibuk.”

Kaelan menatapnya sejenak, lalu menyerahkan beberapa koin. “Jika kau mendengar apa pun yang mencurigakan, beri tahu prajurit di gerbang.”

Ketika malam semakin larut, Kaelan kembali ke benteng dengan pikiran yang berat. Usahanya untuk menemukan petunjuk belum membuahkan hasil, tetapi ia tahu ia tidak bisa menyerah. Warga Rivendale bergantung padanya, dan ia tidak akan membiarkan mereka menghadapi ancaman ini sendirian.

Di atas menara benteng, Kaelan kembali berdiri, memandang kota yang mulai tenang. Namun, di balik ketenangan itu, ia tahu ancaman masih mengintai. Ia menghela napas panjang, mencoba menghilangkan kegelisahan yang masih tersisa dari mimpi tentang Rea.

1
seftiningseh@gmail.com
menurut aku episode satu di novel ini sangat bagus aku tarik baru baca sedikit menurut aku pribadi novel ini memiliki sedikit nuansa fantasi
semangat terus yaa berkarya
oh iya jangan lupa dukung karya aku di novel istri kecil tuan mafia yaa makasih
Wati Atmaja: terima kasih ya komentarnya.Aku makin semangat.
total 1 replies
Subaru Sumeragi
Begitu terobsesi sama cerita ini, sampai lahap ngelusin buku dari layar!
Wati Atmaja: makasih kaka. tambah semangat nulis cerita ya
total 1 replies
naruto🍓
Penulis berhasil menghadirkan dunia yang hidup dan nyata.
Wati Atmaja: terima kasih atas komentarnya /Heart/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!