Hidup dalam takdir yang sulit membuat Meta menyimpan tiga rahasia besar terhadap dunia. Rasa sakit yang ia terima sejak lahir ke dunia membuatnya sekokoh baja. Perlakuan tidak adil dunia padanya, diterima Meta dengan sukarela. Kehilangan sosok yang ia harap mampu melindunginya, membuat hati Meta kian mati rasa.
Berbagai upaya telah Meta lakukan untuk bertahan. Dia menahan diri untuk tak lagi jatuh cinta. Ia juga menahan hatinya untuk tidak menjerit dan terbunuh sia-sia. Namun kehadiran Aksel merubah segalanya. Merubah pandangan Meta terhadap semesta dan seisinya.
Jika sudah dibuat terlena, apakah Meta bisa bertahan dalam dunianya, atau justru membiarkan Aksel masuk lebih jauh untuk membuatnya bernyawa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hytrrahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Di Antara Mereka (b)
Warmam mulai ramai dipadati oleh anggota Destroyer, Mami mulai sibuk memasak dibantu oleh dua ponakannya, Aksel mengamati dari tempat duduknya. Melihat ponakan Mami yang cantik itu, Aksel jadi teringat Meta. Cewek itu sedang membencinya, bahkan sampai mengatakan bahwa ia perusak kebahagiaan Meta. Padahal niat Aksel, apa salahnya jika menerima pertolongan itu saja dan menerima cintanya. Siapa yang mau marah?
Netra Aksel berpindah pada layar ponselnya di atas meja, nama Alvaro tertera di sana dan ada beberapa panggilan tidak terjawab setelah panggilan itu dimatikan. Suasana hatinya semakin memburuk, niat ke sekolah hancur karena persiteruannya dengan Alvaro tadi pagi. Bunda ikut membela Alvaro, tidak memahami dirinya.
Kalau jomblo gini, nih, haus banget sama yang namanya perhatian.
Aksel hanya berdecak, menggaruk bagian belakang kepalanya kesal. Hingga suara Dewa dan tim inti lainnya terdengar, heboh menyebut-nyebut gosip tentang Meta.
"Dari mana aja, sih, lo? Gue cariin nggak ketemu, habis ditolak sama Meta sekarang lo mau deketin Lila?"
"Kalau iya kenapa? Repot banget lo! Kalau lo mau nambah juga silahkan, masih ada Balqis, tuh. Udah cakep, solehot lagi."
"Ye ... setan jahanam lo!"
Bens terkejut menemukan perawakan gagah yang pundaknya sedang tidak tegap, duduk di warmam. Pasalnya, tadi pagi Bens sempat mencari Aksel di gudang sekolah, tepat setelah ia berkumpul dengan tim inti di warmam. Kemudian masuk ke kelas, sehingga berpikir bahwa Aksel menambah waktu istirahat.
Dewa terkekeh, ikut menyusul Bens yang duduk di meja yang Aksel tempati. "Udahlah, Sel, lepasin aja, anaknya nggak mau dikejar dan diperjuangkan. Lo nggak capek jadi tertawaan cowok-cowok seangkatan?" ujarnya mengompori.
"Bener, tuh, junior kita juga pasti ngolok-ngolok elo di belakang!" tambah Pandu.
"Kadang gue suka kasihan sama lo, Sel," celetuk Zelo, membuat Aksel mengernyit.
"Kasihan kenapa lo?"
"Karena semua usaha lo nggak pernah dipandang sama Meta. Cewek kayak Meta keras sama dirinya sendiri, dan lo pasti ngerti harus gimana."
Devon terkikik melihat Zelo. "Zak, si Zelo abis minum air selokan mana jadi waras gini?" tanyanya pada Zaki yang duduk di sebelah.
Cowok itu ikut terkekeh. "Bukan air selokan gue rasa, setannya lagi males bego-begoin, tuh, anak!"
"Emang si Aksel harus gimana, Zel?" tanya Naval.
"Inget, kan, kata mamang tukang parkir? Mundur! Mundur!" jawab Zelo sambil terkikik, membuat teman-temannya terdiam dengan ekspresi datar. Kemudian melayangkan tabokan di pundaknya bergantian.
"Sesat lo emang!" gemas Lerry. "Nggak ada cocok-cocoknya lo jadi temen gue. Pulang lewat mana lo?"
"Tenang, Zel, nanti gue bantuin kalau lo dijegal sama Lerry," balas Zaki.
Zelo tersenyum sumringah. "Ah, Ayang Zaki emang pengertian sama adek," kekehnya, membuat yang lain tertawa jijik.
"Lo mau bantu apa, Zak?" tanya Lerry.
"Bantu ngegotong mayatnya Zelo ke liang lahat! Anaknya suka melenceng dari agama!" balas Zaki yang lagi-lagi membuat Zelo terpojok.
Cowok yang sedang ditertawakan itu memasang wajah pura-pura marah. "Nggak temenan lagi adek sama Ayang Zaki. Adek marah!" ujarnya.
"Geli banget tai!" pekik Xenrak.
Setelah keadaan kembali tenang dan tawa terbahak-bahak itu mereda, Gavar menatap Aksel yang wajahnya sesedih musim hujan. Tidak ada warna lain selain gelap yang mencekam. Walau sudah berusaha menutupi, nyatanya jiwa-jiwa yang sedang patah hati itu sangat mudah dibaca.
"Nggak usah mundur, Sel. Berjuang aja sampai lo capek, suatu saat dia bakalan ngerti kalau lo penting!" Gavar memberikan semangat, tidak mau temannya itu semakin patah hati.
Kevin mengangguk setuju di ujung meja. "Cewek, mah, gitu. Giliran udah pergi baru nyesel, pas lagi diperjuangin suka nggak tau diri!"
"Kesel banget kedengerannya. Pengalaman pribadi, ya, lo?" Xenrak menaikkan sebelah alisnya menatap Kevin, sembari tersenyum tipis.
"Terus apa keputusan lo, Sel? Gue yakin saat ini Meta benci banget sama lo setelah kejadian kemaren."
Aksel berpikir sejenak, bingung menjawab pertanyaan Bens. Kalau ia memaksa, lagi-lagi Meta dan ibunya akan menerima tindak kekerasan, dan Meta pasti akan menyalahkan dirinya. Tapi rasa sayang di hatinya untuk Meta begitu besar, mungkin Aksel akan mencoba sekali lagi, supaya tidak menyesal dikemudian hari.
"Gue mau minta maaf, terus ngajak Meta pacaran sekali lagi. Tapi gue juga mau sama Lila, anaknya ngegemesin!"
...***...
Saat ini, Meta sedang berjalan buru-buru menghampiri pintu kayu yang dicat warna putih, dan di atasnya terpampang tulisan 'Ruang Seni Gemilang' pada papan kayu persegi panjang. Meta sudah telat cukup lama, ia tidak yakin Bu Tria dan teman-temannya masih berada di dalam. Namun saat Meta melongokkan kepalanya, ia menyadari kalau dugaannya salah. Di ruangan ini masih ada Putra, fokus memainkan gitar, memaknai sendunya.
"Putra? Bu Tria sama duo gesrek mana? Maaf, ya, gue telat."
Meta berjalan masuk menghampiri Putra, sebentar lagi waktunya masuk ke kelas, percuma kalau mereka latihan. Toh anggotanya sudah tidak lengkap.
"Kenapa telat banget, Ta? Gue mau tau alasan lo, jangan bikin gue ikut kecewa kayak mereka."
Di kursi dekat Putra, Meta mendudukkan tubuhnya. "Gue lupa kalau hari ini harus latihan," jawab Meta sekenanya. "Udah beberapa hari juga, kan, nggak manggung di Prismatrix Kafe. Gue terlalu sibuk ngurusin hal-hal yang belum saatnya untuk gue tau."
"Lo nggak lagi menghindari tatapan mereka, kan, Ta? Lo nggak pernah lupa sama ruangan ini sebelumnya, gue nggak akan ketipu sama senyuman palsu lo itu."
Tebakan Putra benar, dan Meta tidak ingin menyanggah sebab terlalu cepat ia ketahuan. Putra tidak mudah dibohongi, setahu Meta dia anak orang kaya yang cerdas. Dan lihatlah, cowok itu menelisik ekspresinya lewat sepasang mata indahnya.
"Beneran, Putra. Yoga sama Andre marah, ya, karena gue telat dan bertingkah aneh tiga hari ke belakang?" tanya Meta, sarat akan kekhawatiran. "Bu Tria pasti kecewa banget. Kalau kalian mau ganti vokalis, gue siap, kok."
"Ta! Gue akan bubarin TOP kalau lo mundur. Andre bakalan kehilangan pendapatan dan sekolah nggak akan punya orang-orang kayak kita lagi!"
"Gue nggak bisa kayak gini terus, Tra. Gue malu nunjukin muka gue di hadapan orang-orang!"
"Lo bisa, kok, ngangkat wajah lo dengan angkuh. Mereka nggak tahu kejadian sebenarnya, kan. Kenapa lo harus mengikuti kemauan mereka untuk jadi seperti yang mereka bilang?"
Apa yang Putra katakan benar, sekali lagi dia benar. Meta hanya malu, sangat malu sampai merasa dirinya benar-benar tidak pantas hadir di antara mereka. Meta berasal dari rahim seorang ibu seperti Vina, ia merasa ikut kotor, Meta tidak ingin terlihat dimana-mana untuk saat ini.
"Gue nggak mau janji sama lo, tapi apapun keadaan lo, gue akan selalu bantuin lo, Ta."
Meta menahan air matanya agar tidak tumpah. "Nggak perlu, gue nggak mau!" tegas Meta. "Gue akan semakin kelihatan lemah dan mudah untuk diinjak-injak. Biar gue yang hadapi mereka, tapi untuk sekarang, tolong jangan paksa gue!"
"Gue nggak maksa, gue cuma mau lo berpikir lebih bijak dalam situasi ini, Ta."
"Bijak kata lo? Gimana gue bisa bijak disaat mereka ngatain gue anak yang lahir diluar nikah? Mereka cuma nggak bilang gue anak haram kayak Rega dulu, tapi itu sama aja, Tra! Gue sakit hati dengernya!"
Putra mengigit bibir bawahnya, kemarahan Meta membuatnya khawatir.
"Iya, gue paham gimana perasaan lo. Kalau lo mau lawan mereka, bukan dengan cara menghindar dan mematahkan semua perjuangan lo selama ini. Contohnya TOP, citra baik lo di sekolah, prestasi lo di ekskul, gue nggak mau lo menyesal dan kehilangan itu semua, Ta."
Kedua mata Meta tak lagi bisa menahan, Putra seakan menyadarkannya. "Seharusnya lo nggak usah peduliin gue!"
"Itu karena gue sayang, Ta, sama lo!"