Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
"Jean, aku mau ke tempat Naya sebentar," ucap Diandra dan langsung mengambil tasnya. Ia bergegas menuju apartemen Kanaya. Jean hanya mengangguk patuh.
"Apakah terjadi sesuatu pada Naya? Haruskah aku menghubungi Kevin saat ini? Bagaimanapun juga Kanaya adalah kekasihnya kan?" batin Diandra yang saat itu berada di dalam lift kantornya.
Lift tersebut terbuka. Diandra mengeluarkan ponselnya dan ingin menghubungi Kevin. Karena ia tidak fokus dengan jalannya, Diandra tak sengaja bertabrakan dengan Rizal yang kala itu berkunjung ke kantornya untuk membicarakan bisnis.
"Maaf," ucap Diandra dan langsung melangkah kembali. Rizal meraih tangan Diandra hingga membuatnya menghentikan langkahnya. Diandra menatap Rizal dan mengerutkan dahinya.
"Ada apa?" tanya Diandra.
"Kamu mau ke mana?" Rizal bertanya balik.
"Aku mau ke apartemen Kanaya. Lepaskan aku! Aku buru-buru," ujar Diandra. Namun Rizal menarik kembali tangan Diandra.
"Biar aku antar," ucap Rizal lalu membawa Diandra begitu saja.
Rizal mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Raka hari ini. Menemani Diandra adalah hal terpenting baginya saat ini. Setelah memastikan Diandra masuk ke dalam mobilnya, Rizal mulai menjalankan mobilnya menuju apartemen Diandra. Awalnya Diandra ingin menghubungi Kevin, namun ia urungkan karena Rizal sudah menemaninya.
"Bukannya kamu harus bertemu dengan Papaku hari ini?" tanya Diandra merasa tidak enak jika Rizal mengantarnya dan mengesampingkan pekerjaannya.
Rizal mengusap puncak kepala Diandra dengan lembut. Lalu tersenyum tipis.
"Tidak masalah. Aku bisa menemui Ayahmu kapan saja," balas Rizal dengan santai.
*
Sesampainya di parkiran, mereka langsung menuju ke apartemen di mana Kanaya berada.
"Nay, kamu di mana?" tanya Diandra saat mereka sudah sampai di apartemen Kanaya. Karena tak mendapat jawaban dari Kanaya, Diandra langsung masuk kamar Kanaya dan disusul oleh Rizal.
"Nay, apa kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi?" tanya Diandra yang terkejut melihat kamar Kanaya berantakan. Ia melangkah pelan menuju ranjang dan duduk di tepinya. Kanaya langsung memeluk Diandra dengan erat. Ia kembali terisak. Sedangkan Rizal hanya berdiri tak jauh dari mereka.
"Apa yang terjadi padamu?" Diandra semakin penasaran.
"A-aku kemarin bertemu dengan Kevin, Di," ujar Kanaya. Diandra mengusap lembut pipi Kanaya yang dibanjiri oleh air matanya.
"Lalu kenapa kamu menangis Nay?" ucap Diandra dengan lembut. Ia berusaha menenangkan Kanaya.
"Dia... Dia menolakku saat aku menyatakan perasaanku padanya. Dia jahat, Di," jawab Kanaya. Diandra kembali memeluk Kanaya dengan erat. Ia mengusap punggung Kanaya dengan pelan.
"Jadi, kemarin itu mereka bertemu bukan untuk memulai hubungan kembali?" batin Diandra.
"Dia jatuh cinta pada wanita lain, Di. Hatiku sakit mendengarnya," ucap Kanaya. Tubuh Diandra seketika menegang. Mendengar perkataan Kanaya tadi, membuatnya terkejut.
"A-apa? Si-siapa yang bilang?" tanya Diandra dengan gugup.
"Kevin sendiri yang mengatakannya. Meskipun aku belum tahu siapa wanita itu. Tapi aku yakin memang dia sudah tidak mencintaiku lagi. Aku harus bagaimana, Diandra? Apa yang harus aku lakukan?" Kanaya semakin sedih. Membuat Diandra tak tega melihatnya. Ia juga terkejut dengan pengakuan Kanaya saat ini.
"Nay, sebenarnya aku..."
"Naya, kamu tenangkan diri kamu dulu. Tidak baik jika terus bersedih seperti ini," sela Rizal. Membuat Diandra beralih menatap Rizal sejenak.
Diandra mengiyakan Rizal. Ia menyuruh Kanaya untuk menenangkan diri agar lebih tenang. Lalu Diandra dan Rizal keluar dari kamar Kanaya.
Diandra duduk di sofa. Pikirannya tak tenang. Ia kepikiran dengan apa yang Kanaya ucapkan padanya. Wanita lain? Siapa wanita yang dicintai Kevin tersebut? Diandra masih penasaran akan hal itu.
"Aku tahu, kamu pasti memikirkan Kevin kan?" tanya Rizal yang kini duduk di samping Diandra. Diandra mengangguk pelan. Ia menatap Rizal dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku takut Zal. Bagaimana jika wanita yang ia maksud adalah aku? Aku tidak ingin menyakiti Kanaya." Diandra mengusap wajahnya. Rizal menarik bahu Diandra dan merangkulnya.
"Jangan ceritakan kedekatanmu dengan Kevin pada Kanaya ya. Setidaknya biarkan dia tenang dulu," ujar Rizal.
"Tapi Zal,"
"Sssttt... Kamu tidak ingin membuat Kanaya semakin kecewa kan?"
Diandra mengangguk. Sebenarnya ia tak tenang menyembunyikannya pada Kanaya. Namun ia juga tidak bisa bercerita untuk saat ini.
Beberapa jam berlalu. Setelah Kanaya membaik, Diandra izin untuk kembali ke kantornya. Pekerjaannya banyak yang ia tinggalkan. Ia tidak bisa berlama-lama di sana.
"Memangnya hubunganmu dengan Kevin sudah sampai pada tahap apa?" tanya Rizal yang saat ini mereka sudah berada di dalam mobil.
"Hah?" Diandra merasa terkejut dengan pertanyaan Rizal. Jika ia berkata jujur kalau tidak ada hubungan apapun dengan Kevin, pasti Rizal akan mengejarnya lagi. Disisi lain, Diandra bingung harus berkata apa agar Rizal tidak curiga padanya.
"Kamu sungguh mencintainya?" Rizal menghela napasnya sejenak. Ia hanya melirik Diandra sekilas. Berharap jika jawaban yang keluar dari mulut Diandra adalah penolakan.
"I-iya.. Aku mencintainya," jawab Diandra sambil memalingkan wajahnya. Rizal mencengkram stir mobilnya dengan kuat.
"Tidak boleh cemburu! Tidak boleh marah! Tenang Rizal," batin Rizal.
Beberapa menit berlalu. Mereka sampai di kantor Diandra. Rizal dan Diandra menuju kantor bersamaan. Rizal ingin bertemu dengan Raka untuk membahas bisnisnya.
*
Waktu makan siang telah tiba. Kevin memainkan bolpoinnya sambil senyum-senyum sendiri. Saat ini pikirannya dipenuhi oleh Diandra. Gadis yang ia temui beberapa bulan yang lalu dan kini mampu mengisi hatinya.
Kevin tiba-tiba sangat merindukan momen saat dirinya mengerjai Diandra waktu masih bekerja di kantornya dulu. Membuat Diandra kesal merupakan kepuasan baginya. Kevin sungguh menyukai ekspresi Diandra yang sedang menahan marah kala ia menggodanya.
"Kenapa aku selalu memikirkanmu?" ucap Kevin dengan pelan. Ia tersenyum tipis.
"Tuan muda, sudah waktunya makan siang," ucap Mark kesekian kalinya yang selalu diabaikan oleh Kevin. Kevin menatap Mark dengan tatapan tidak suka.
"Kau berisik sekali! Aku tidak ingin makan siang!" ujar Kevin dengan kesal. Mark hanya menghela napasnya dengan kasar.
"Kau tidak mau makan siang, jika kamu sakit bagaimana?" ucap Ayudia yang tiba-tiba masuk ke ruangan Kevin. Kevin langsung berdiri dan ia sungguh terkejut.
"Ibu," ucap Kevin.
"Ibu membawakanmu makan siang. Makanlah!" Ayudia menaruh rantang berisi makanan itu ke meja.
"Terima kasih Bu," balas Kevin. Ia mulai membuka rantang tersebut dan segera mencicipi makanan itu.