Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.
"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.
Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.
Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Regi tak tergantikan
Dar
Suara pintu Alma yang menutupnya dengan keras.
Dengan cepat Armand mendorong pintu yang baru saja di tutup Alma. Berharap Alma belum menguncinya dan benar saja membuat Alma terdorong hingga terjatuh ke lantai.
"Maaf, maaf, Al. Aku hanya..." Belum sampai selesai bicara dengan bermaksud membantu Alma berdiri. Namun tangan Armand dihempas oleh Alma seketika.
Sedangkan Alma merasakan perutnya nyeri, mengingat dia baru saja operasi Caesar dan belum pulih benar.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" Tanya Armand yang khawatir.
Alma yang bertambah marah. "Aku bilang kamu pulang, mas! Pulang! Cepat pulang!" Alma berusaha mendorong Armand keluar pintu rumah supaya Armand pulang.
"Nggak, Al. Sebelum kamu izinkan aku untuk bertemu anak aku, Arkan. Aku nggak akan pulang." Armand kekeh tak mau pulang.
Alma yang mulai habis kesabarannya. Segera mendekati telepon rumah dan menghubungi kantor polisi. Namun belum sampai membuat laporan, Armand sudah mematikan sambungan nya. Membuat Alma geram. Alma dengan wajah marahnya, melengos pergi ke lantai dua yang disusul Armand di belakangnya.
"Aku mohon, Al. Izinkan aku melihat Arkan. Arkan anak aku juga. Aku berhak bertemu Arkan. Kamu tidak boleh memisahkan aku dan Arkan." Armand tidak menyerah begitu saja malam itu.
Membuat Alma berhenti langkah dan keduanya cekcok karena Armand berusaha menghentikan langkah Alma. "Berapa kali aku bilang nggak ya nggak! Bisa-bisanya kamu ya, mas. Setelah kamu tes DNA Arkan diam-diam, padahal kamu yang selingkuh tapi kamu tuduh aku yang selingkuh. Kamu egois, mas." Alma yang mengungkapkan kekecewaan nya.
"Semua ada alasan nya kan aku bilang. Nama Regi, ruangan rahasia mu itu yang dipenuhi dengan semua kenangan laki-laki itu. Dan semua itu tersimpan di dalam rumah kita, Al. Memangnya kamu tidak sadar kalau kamu juga salah? Siapa pria itu? Justru kamu yang membuat aku memutuskan mengambil projek di Amerika. Gara-gara ruangan rahasia mu itu, Al." Armand yang jauh-jauh hari menjelaskan tapi Alma selalu mengelak nya. "Jawab! Siapa laki-laki itu?!" Armand yang marah balik ke Alma.
Alma jantungnya sudah tidak karu-karuan. Kakinya tiba-tiba lemas dan sedikit kliyengan. Sampai dia memegangi rail tangga.
"Kamu nggak bisa jawab, kan?" Tekan Armand lagi.
Beberapa detik kemudian Alma pingsan. Untung saja Armand tahu dan langsung menangkap nya. Armand berteriak memanggil bibi di rumah itu. Memapah Alma menuju bedroom nya. Armand juga menghubungi dokter supaya dengan cepat datang ke rumah untuk memeriksa keadaan Alma.
Bersamaan dengan dokter datang dan Alma yang sudah siuman. Alma disarankan untuk menjaga pola makan nya yang teratur. Tidak banyak yang disampaikan dokter. Hanya memberi Alma vitamin lalu dokter pulang.
Bagi Armand, ini keberuntungan. Mengingat beberapa hari ini dia tidak bisa bertemu dengan Alma dan Arkan, membuat Armand tidak ingin hilang kesempatan untuk berbaikan kembali dengan Alma. "Sekarang kamu makan, ya." Armand yang membawakan nampan yang diatasnya makanan untuk Alma.
Jujur Alma kesal berhadapan dengan Armand. "Aku nggak mau makan." Bersamaan dengan menolak suapan dari tangan Armand.
"Makan!" Paksa pelan Armand yang menyodorkan suapannya kembali ke depan mulut Alma.
Alma membuka mulutnya dengan terpaksa. Mau tidak mau dia harus menerima suapan Armand karena tubuhnya lemas belum makan seharian.
Tidak berselang lama, terdengar suara baby Arkan menangis, Armand dengan segera menimang nya supaya baby Arkan berhenti menangis nya.
Disitu Alma ingin bangkit berdiri, namun perut nya masih nyeri. Tidak suka sebenarnya Arkan digendong Armand. Tapi sepertinya, Armand menang malam ini.
Jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam. Armand bahkan ketiduran di samping baby Arkan dan Alma yang ingin pergi ke bathroom untuk buang air kecil. Alma cukup kesulitan jalan, perutnya nyeri dan membuat Armand terbangun lalu membantunya.
"Nggak usah!" Lagi-lagi Alma menghempas tangan Armand yang berusaha menuntun nya.
"Kamu habis pingsan, Al. Aku harus ikut kamu ke dalam bathroom. Nanti kalau kamu pingsan lagi di dalam, bagaimana?" Armand yang memaksa ikut masuk bathroom.
"Tunggu disini aja! Masak mau ikut masuk?" Alma mulai risih Armand mengikutinya terus. Membentak Armand tetap berdiri di depan pintu bathroom.
"Iya, iya." Jawab Armand yang setelahnya menguap karena terserang kantuk.
Keesokan hari nya.
Alma bahkan hampir lupa jika Armand juga tidur di bedroom nya. Saat dia baru bangun tidur, Armand bahkan sudah menimang baby Arkan yang sudah dimandikan Armand. Armand juga sudah menyiapkan breakfast Alma.
"Celamat pagi, mama." Armand yang menggoda Alma dengan bahasa Arkan.
Alma dibuat salah tingkah dengan sikap Armand pagi itu. Yang harusnya keduanya marahan, bahkan Alma punya wacana menggugat cerai Armand, sepertinya perlahan dia urung kan.
"Cekalang, mama calapan duyu, ya." Armand masih dengan bahasa baby Arkan. Membuat Alma lagi-lagi salah tingkah. "Oh, ya tadi mama telepon, katanya papa sudah dipindahkan dari ruangan ICCU. Kondisi kesehatan papa juga perlahan membaik." Armand menyampaikan pesan ibu Olivia kepada Alma.
Alma masih terdiam. Mengunyah buah potong diatas nampan.
"Hari ini, kita pulang, ya?" Bujuk Armand pada Alma.
Seketika Alma menatap Armand.
"Aku tahu aku salah. Dan kamu harus tahu, Diandra itu hanya hiburan sesaat. Aku nggak ngapa-ngapain, Al sama dia. Demi Allah, Al." Armand berusaha meyakinkan Alma. "Kebetulan dia rekan kerja teman aku. Kalau kamu nggak percaya kamu bisa telepon teman aku." Lanjut Armand memberi penjelasan kepada Alma.
Alma melengos sulit percaya kepada Armand.
"Tolong, maafin aku ya, Al." Armand meraih tangan Alma lalu digenggamnya. "Demi Arkan. Nanti kita pulang." Lanjut Armand membujuk Alma supaya pulang ke rumah kembali.
Namun Alma masih bergeming dan belum sepatah kata pun bicara.
"Aku juga akan lupakan ruangan rahasia mu. Aku tidak akan mempermasalahkan nya lagi. Demi Arkan, Al." Ya, tampak nya Armand mengalah untuk tidak mengungkit terkait ruangan rahasia Alma.
Alma lalu bangkit dan menarik tangan Armand untuk mengikutinya menuruni anak tangga. Membawa nya ke ruang keluarga. Dimana banyak sekali bingkai foto Regi dan Zahrin, Regi dan ibu Olivia, Regi berikut Arsyad dan Arsyla di berbagai kesempatan. Foto-foto tersebut, ibu Olivia tata rapi diatas meja panjang.
Mata Armand terbelalak.
Namun tidak hanya itu saja, Alma masih membawanya ke ruang tamu. Dimana ada bingkai foto besar Regi dan ibu Olivia dengan almarhum suami pertamanya. Bingkai foto pernikahan Zahrin dan Regi yang tertempel di dinding itu. Bingkai foto ibu Olivia dan papa nya. Alma menyuruh Armand memperhatikannya betul-betul.
"Jadi? Siapa laki-laki ini?" Armand bingung, foto Regi juga ada di ruang rahasia Alma. Namun di sini jelas ada foto pernikahan Zahrin dan Regi.
Alma lalu menjelaskan, jika Regi memanglah cinta pertama nya. Zahrin tahu itu. Sebelum papa nya menikahi ibu Olivia. Awalnya hubungan keduanya tidak terikat saudara. Namun setelah papanya memutuskan menikah dengan ibu Olivia, alhasil keduanya menjadi saudara dan pupus sudah harapan Alma menjadi istri Regi terlebih Regi lebih memilih Zahrin, mantan istri Akhyar saat itu.
Armand cukup terkejut mendengar penjelasan Alma.
"Dan apa kamu tahu? Jika sebagian hati kak Regi menyatu dengan hati ku, di dalam sini." Alma yang menunjuk bagian hati nya.
Armand geleng-geleng kepala kecil. Masih belum mengerti apa yang Alma katakan. "Maksud nya?"
"Ya, aku nyaris mati karena kebodohan ku mencintai kak Regi. Sampai akhirnya kak Regi mendonorkan separuh hati nya untuk aku. Aku selamat dari kematian itu. Aku menikah dengan mu dan sekarang ada Arkan. Tapi kak Regi, dia sudah meninggal duluan." Buliran jernih dari kelopak mata Alma yang jatuh bergantian.
"Jadi?" Armand yang mulai paham.
"Aku nggak bisa gantikan kak Regi dengan siapa pun, mas. Termasuk kamu. Kamu nggak akan pernah bisa gantikan posisi dia dalam hidup ku." Alma juga terlihat menegaskan bahwa Regi tidak pernah tergantikan oleh siapa pun sekalipun Armand yang sudah menjadi suaminya.
Mendengar hal itu sedikit menyayat hati Armand. Hati Armand cukup sakit jika pemenangnya masih Regi yang bahkan sudah meninggalkan dunia ini. Namun untungnya Armand tidak tersulut emosi dan lebih banyak diam dan pasrah kala Alma bicara demikian.
Alma pergi. Sementara Armand masih sakit hati terngiang-ngiang dengan ucapan Alma barusan.
"It's okey, Al." Armand berusaha mengusir sakit hati nya. Mencoba tegar dengan apa yang baru saja Alma katakan. Sepertinya dia akan hidup dalam bayang-bayang Regi. Mengingat separuh hati Regi menyatu dengan hati Alma. Begitukah? Bullsyit. Rumah tangga macam apa ini? Jika ternyata pasangan kita sendiri masih tidak bisa meninggalkan masa lalu nya dan akan terus membawa kenangan nya sampai mati.
"Yang ada kamu akan dibanding-bandingkan terus dengan Regi, Mand." Lirih Armand kepada dirinya sendiri. Armand yang sepertinya tidak ada pilihan lain, selain menerima Alma dengan segala bayang-bayang Regi dalam kehidupan rumah tangga nya.
Ponsel Armand sedari tadi berdering. Armand yang kemudian menatap layar ponselnya.
"Siapa? Selingkuhan kamu?" Celetuk Alma yang sepertinya tidak akan melupakan Diandra yang katanya Armand hiburan sesaat nya.
"Bukan." Jawab Armand yang hendak pergi dari hadapan Alma untuk menjawab telepon.
Bersambung