NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Kartu As di Rahim Palsu

Ponsel di saku blazer Siska bergetar untuk kelima kalinya dalam sepuluh menit. Ia tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa yang menelepon. Nomor asing dengan kode area Jakarta Barat. Penagih utang dari meja judi online yang ia masuki minggu lalu tidak mengenal kata sabar.

Siska mematikan ponselnya dengan tangan gemetar, lalu menyelipkannya ke bawah bantal sofa kulit di ruang tengah penthouse. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, tapi karena adrenalin ketakutan. Di seberang ruangan, Hendra duduk di kursi tunggal favoritnya, memutar gelas sloki berisi whisky dengan tatapan kosong namun tajam.

Suasana di penthouse itu bukan lagi dingin karena AC, melainkan beku karena ketidakpercayaan. Sejak presentasi Alana yang memalukan itu, Hendra memperlakukan Siska seperti pegawai magang yang tertangkap mencuri uang kas kecil.

"Mas..." panggil Siska lirih. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur sutra tipis, strategi lama yang biasanya ampuh.

Hendra tidak menoleh. "Saya sudah bilang pada bagian keuangan. Mulai besok, semua tagihan kartu kredit tambahanmu dibekukan. Kamu mau belanja, pakai uang gajimu sendiri. Kalau masih kurang, jual tas-tas yang kamu beli pakai uang mark-up proyek itu."

Siska menelan ludah. Gajinya sebagai 'konsultan' tidak akan cukup menutupi bunga utang judinya yang menggulung setiap jam. Ia butuh akses ke rekening utama Hendra, atau setidaknya aset yang bisa digadaikan. Tapi Hendra sekarang memegang dompetnya seerat ia memegang dendam.

"Kamu masih marah soal marmer itu?" Siska mencoba mendekat, duduk di lengan kursi Hendra. "Aku cuma mau kasih yang terbaik buat kamu, Mas. Vendor itu bilang barangnya asli... aku juga ditipu."

"Jangan anggap saya bodoh, Siska," potong Hendra dingin. Ia menepis tangan Siska yang hendak menyentuh bahunya. "Alana benar. Kamu serakah. Kamu pikir saya tidak tahu bedanya marmer Italia dengan keramik polesan Cina? Saya membiarkanmu bermain-main karena saya pikir kamu setia. Tapi kalau kamu mulai mencuri dari kantong saya, itu beda urusan."

Hendra meneguk habis whiskynya, lalu berdiri. "Malam ini saya tidur di kamar tamu. Jangan ganggu saya."

Ini dia. Momen krisis. Jika Hendra keluar dari pintu itu, Siska tahu posisinya tamat. Ia akan diusir, dikejar debt collector, dan berakhir jadi gelandangan atau mayat di pinggir kali. Otaknya berputar cepat, mencari satu-satunya skenario yang bisa mengikat laki-laki tua yang mendambakan validasi maskulinitas ini.

"Mas, tunggu," suara Siska bergetar. Kali ini ia tidak perlu berakting sedih; ketakutannya nyata.

Hendra berhenti, tangan sudah di gagang pintu. "Apa lagi?"

"Aku... aku telat dua minggu."

Hendra berbalik perlahan. Alisnya bertaut. "Apa maksudmu?"

Siska memegang perutnya yang rata dengan kedua tangan, sebuah gestur naluriah yang sering ia lihat di sinetron. "Aku hamil, Mas. Anak kamu."

Kheningan menyergap ruangan itu. Hanya terdengar dengung mesin pendingin wine di sudut ruangan. Hendra menatap perut Siska, lalu menatap matanya, mencari kebohongan. Siska menahan napas, memaksakan air mata menggenang di pelupuk matanya.

"Jangan main-main," suara Hendra merendah, terdengar berbahaya.

"Siapa yang main-main?!" Siska setengah berteriak, melepaskan kepanikan yang ia rasakan pada penagih utang menjadi emosi tersakiti. "Kamu tuduh aku maling, kamu hina aku di depan anak durhaka itu, padahal di sini... di sini ada penerus kamu! Kamu pikir gampang buat aku?"

Ekspresi Hendra berubah. Dari dingin menjadi ragu, lalu perlahan muncul setitik kebanggaan yang aneh. Bagi pria seusianya, kemampuan untuk menghamili wanita muda adalah trofi keperkasaan tertinggi, bukti bahwa dia belum habis dimakan usia.

"Kamu sudah periksa ke dokter?" tanya Hendra, suaranya melunak drastis.

"Baru test pack. Tadi pagi," bohong Siska lancar. Ia tahu ia punya waktu sekitar empat minggu sebelum perutnya harus mulai terlihat membesar, atau sebelum Hendra menuntut bukti medis. Empat minggu adalah waktu yang cukup untuk memalsukan hasil lab, atau mencari cara lain untuk benar-benar hamil—dengan siapa saja.

Hendra melepaskan gagang pintu dan berjalan kembali ke arah Siska. Ia tidak memeluknya, tapi tangannya terulur kaku, menyentuh bahu wanita itu. "Besok jangan ke kantor. Istirahat. Saya akan suruh orang transfer uang belanja bulanan ke rekening pribadimu. Jangan sampai stres."

Siska menyembunyikan senyum kemenangannya di balik isak tangis palsu yang ia benamkan ke dada Hendra. Ia aman. Untuk sementara.

***

Di seberang kota, di sebuah ruko dua lantai yang disewa Elang untuk operasional 'Terra Architecture', suasana jauh dari kata dramatis. Yang ada hanya bau kopi murah yang menyengat dan suara klik mouse yang ritmis.

Alana duduk di depan layar monitor besar, matanya merah karena kurang tidur. Di sekelilingnya berserakan sampel material—kayu ulin bekas, batu andesit, dan anyaman rotan sintetis. Ia sedang merevisi detail konstruksi untuk 'Blue Coral Resort'. Kemenangan di ruang rapat kemarin hanyalah awal; sekarang ia harus membuktikan bahwa desain "murah"-nya bisa dibangun dengan kualitas bintang lima.

"Mbak Alana, ini rincian harga dari supplier lokal di Gianyar," Rini meletakkan sebuah map di meja yang penuh sesak. "Harganya masuk akal. Masuk di budget kita, bahkan sisa sepuluh persen."

Alana mengangguk, mengambil map itu tanpa mengalihkan pandangan dari gambar CAD. "Bagus, Rin. Simpan sisa budget itu untuk kontingensi. Ayahku pasti akan cari cara untuk menyabotase logistik kita nanti. Kita butuh dana darurat."

"Mbak nggak pulang? Sudah jam sepuluh malam," tanya Rini prihatin. Sejak pindah dari kontrakan kumuh ke apartemen fasilitas Elang, Alana justru makin jarang tidur.

"Tanggung, Rin. Satu potongan melintang lagi," gumam Alana.

Pintu kaca depan ruko terbuka. Lonceng kecil di atasnya berdenting. Elang masuk dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung sampai siku, membawa kantong kertas cokelat berlogo restoran cepat saji.

"Saya pikir arsitek jenius butuh bahan bakar," kata Elang, meletakkan kantong itu di meja rapat yang kosong.

Rini buru-buru membereskan kertas-kertas di meja itu. "Eh, Pak Elang. Malam Pak."

"Malam, Bu Rini. Silakan kalau mau pulang duluan, biar saya yang kunci pintu nanti," ujar Elang sopan namun tegas. Rini menangkap isyarat itu, mengangguk pada Alana, lalu bergegas mengambil tasnya dan pamit.

Kini tinggal mereka berdua. Alana memutar kursi kerjanya menghadap Elang. Ia meregangkan punggungnya yang kaku. Bunyi tulang punggung yang bergemeretak memecah kesunyian.

"Kamu tidak perlu datang tiap malam untuk mengecek investasimu, Elang. Aku nggak akan kabur bawa uang proyek," kata Alana, mengambil burger dari kantong kertas.

Elang menarik kursi lipat besi, duduk di hadapan Alana. "Saya tidak mengecek uang saya. Saya mengecek sekutu saya. Kamu kelihatan seperti mayat hidup."

"Mayat hidup yang baru saja menghemat lima miliar rupiah untuk klienmu," balas Alana sebelum menggigit burgernya. Rasa lapar baru menyerangnya sekarang.

Elang tersenyum tipis. Senyum yang jarang ia perlihatkan di depan umum. "Gunawan sangat puas. Dia menelepon saya tadi sore, memuji keberanianmu memotong ego Hendra Wardhana di depan umum. Tapi saya datang bukan untuk memuji."

Alana berhenti mengunyah. Ia meletakkan burger itu. "Ada masalah? Hendra menuntut lagi?"

"Belum. Tapi diamnya Hendra itu yang berbahaya," Elang mencondongkan tubuh ke depan, ekspresinya serius. "Hendra Wardhana bukan tipe orang yang menerima kekalahan dan diam saja. Dia akan menyerang balik, dan biasanya dia menyerang apa yang paling personal buat musuhnya. Kamu harus siap mental."

"Aku sudah tidak punya apa-apa yang bisa dia ambil, Elang. Ibuku sudah meninggal. Warisanku sudah dia rampas. Rumahku hilang. Reputasiku sudah dia hancurkan dulu. Apa lagi?"

"Justru itu. Orang yang tidak punya apa-apa adalah orang yang paling bebas. Tapi ingat, Siska masih ada di sana. Ular yang terpojok akan menggigit sembarangan."

Alana menatap mata Elang. Ada kekhawatiran di sana yang melampaui kepentingan bisnis. Untuk sesaat, dinding profesional di antara mereka menipis.

"Siska sedang sibuk menyelamatkan lehernya sendiri," kata Alana dingin. "Data yang kutunjukkan kemarin membuat posisinya di mata Ayah goyah. Dia pasti sedang panik mencari cara agar tidak ditendang."

"Dan kepanikan membuat orang nekat," tambah Elang.

Ponsel Alana di atas meja berdenting. Notifikasi Instagram. Alana melirik sekilas, berniat mengabaikannya, tapi nama akun yang muncul di layar notifikasi membuatnya membeku.

Itu akun Instagram Siska. Akun yang dulu sering memposting foto mereka berdua saat liburan, kini memposting sebuah foto baru yang baru diunggah dua menit lalu.

Alana meraih ponselnya. Elang memperhatikannya dengan waspada. "Ada apa?"

Alana tidak menjawab. Ia menatap layar ponsel. Foto itu sederhana: Sebuah tangan wanita dengan manikur sempurna memegang tangan pria tua yang mengenakan jam tangan Rolex emas—jam tangan Hendra. Di tangan wanita itu, terselip sebuah test pack dengan dua garis merah samar.

Caption-nya singkat namun mematikan: *"Berkah di tengah badai. Alhamdulillah. New hope, new heir. #WardhanaJr"*

Alana merasa darahnya surut dari wajah. Ia bukan sedih. Rasa itu sudah lama mati. Yang ia rasakan adalah mual. Ia tahu persis permainan ini.

"Kenapa?" tanya Elang, melihat wajah pucat Alana.

Alana memutar ponselnya, memperlihatkan layar itu pada Elang. "Siska hamil. Atau setidaknya, dia mengklaim begitu."

Elang menatap foto itu, lalu menatap Alana. "Itu mengubah peta permainan."

"Tentu saja," desis Alana, suaranya tajam. "Ayahku terobsesi pada garis keturunan laki-laki. Dia selalu kecewa karena hanya punya aku, anak perempuan. Kalau Siska memberinya harapan soal anak laki-laki... semua dosa Siska akan diputihkan. Mark-up, pencurian, kebohongan, semua tidak akan berarti lagi."

Alana berdiri, mondar-mandir di ruang sempit itu. Energinya yang tadi habis kini terisi kembali oleh kemarahan yang dingin. "Dia menggunakan janin sebagai tameng. Licik."

"Atau dia memang hamil," kata Elang objektif.

"Tidak mungkin. Tiga minggu lalu dia masih minum alkohol bersamaku di pesta ulang tahunku—sebelum aku diusir. Dia perokok berat. Kalaupun dia hamil, waktunya terlalu kebetulan saat dia sedang terdesak finansial."

Alana berhenti mondar-mandir, menatap pantulan dirinya di kaca jendela ruko yang gelap. Bayangan wajahnya terlihat keras, dewasa, dan tanpa ampun.

"Kita harus mempercepat timeline proyek Blue Coral, Elang," kata Alana tiba-tiba.

"Kenapa?"

"Karena begitu berita ini menyebar, saham Wardhana Group akan naik. Investor suka stabilitas dan pewaris baru. Ayah akan mendapatkan suntikan kepercayaan diri lagi. Dia akan punya modal untuk melawan kita di pengadilan atau di lapangan."

Alana berbalik menatap Elang. "Siska baru saja membeli waktu dan perlindungan. Tapi dia lupa satu hal. Kehamilan itu ada batas waktunya. Sembilan bulan. Dia harus membuktikan kebohongan itu setiap hari selama sembilan bulan."

Elang berdiri, merapikan kemejanya. Ia melihat api di mata Alana. Bukan api kesedihan anak yang tergantikan, tapi api seorang jenderal yang melihat celah di benteng musuh.

"Apa rencanamu?" tanya Elang.

"Biarkan dia merasa aman di atas awan," Alana tersenyum miring, senyum yang mengerikan karena begitu mirip dengan senyum ayahnya saat sedang bernegosiasi. "Semakin tinggi dia terbang dengan kebohongannya, semakin sakit saat aku memotong sayapnya nanti. Aku tidak akan menyerang kandungannya—itu terlalu rendah. Aku akan menyerang validitasnya."

Alana mengambil kembali pensil sketsanya. "Pulanglah, Elang. Aku harus menyelesaikan gambar ini. Besok, kita punya perang yang harus dimenangkan."

Elang menatap wanita di depannya dengan rasa hormat yang baru. Alana Wardhana bukan lagi sekadar aset investasi. Dia adalah senjata yang sedang menempa dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!