"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Malam yang Menjadi Saksi
•°~Satu Janji di Ambang Fajar
Di balik pintu yang terkunci rapat,
Dua jiwa bersatu dalam ikatan yang pikat.
Bukan lagi soal kata yang terucap,
Namun tentang rida yang kini menetap.
Engkau adalah pakaian bagiku, dan aku bagimu,
Menghapus dingin, menyatukan rindu.~•°
Di malam yang suci, di bawah saksi langit Kairo,
Cinta kita bersemi, jauh melampaui mimpi yang semu.
Keheningan malam di apartemen kecil itu terasa begitu syahdu. Aroma pengharum ruangan berpadu dengan wangi mawar dari buket yang dibawa Zidan, menciptakan suasana yang semakin intim. Setelah tawa dan cerita masa lalu mereda, suasana perlahan berubah menjadi lebih tenang dan serius.
Zidan menatap Bungah dengan tatapan yang sangat dalam. Ia meraih kedua tangan istrinya, mencium punggung tangannya dengan takzim dan lama. "Dek... terima kasih sudah rida menerima Mas. Mas tahu, akad nikah kita sangat mendadak, dan kita belum sempat melewati masa ta'aruf yang normal seperti orang lain."
Bungah menggeleng pelan, ia memberanikan diri menatap mata suaminya. "Mas, sejak malam di pantai itu, mungkin hati Adek sudah tertambat tanpa Adek sadari. Menjadi istri Mas adalah kehormatan terbesar bagi Adek."
Zidan tersenyum haru. Ia perlahan mendekat, menyatukan keningnya dengan kening Bungah. Napas mereka terasa hangat bersentuhan. Dalam jarak sedekat itu, Zidan bisa mencium aroma lembut dari tubuh istrinya yang selama ini hanya bisa ia bayangkan.
"Malam ini, Mas ingin meminta izinmu," bisik Zidan dengan suara yang bergetar rendah namun penuh kelembutan. "Bukan hanya sebagai pelindungmu, tapi sebagai pemilik sah hatimu dan seluruh dirimu. Apakah kamu siap, Sayang?"
Bungah memejamkan matanya, jantungnya berdebar sangat kencang, namun ada rasa tenang yang luar biasa karena ia tahu ia berada di tangan pria yang tepat. Ia mengangguk pelan, memberikan rida sepenuhnya. "Nggih, Mas. Adek siap... Bimbing Adek, ya?"
Zidan kemudian membimbing Bungah untuk kembali berdoa bersama, memohon keberkahan atas penyatuan mereka malam itu. Di bawah temaram lampu kamar, Zidan memperlakukan Bungah dengan sangat lembut, penuh dengan kasih sayang dan penghormatan, seolah Bungah adalah permata yang paling rapuh sekaligus paling berharga di dunia.
Segala rasa canggung dan malu perlahan luruh, berganti dengan perasaan syukur yang meluap. Malam itu, di kota seribu menara, mereka tidak hanya menyatukan raga, tapi juga menyatukan mimpi dan janji untuk saling menjaga hingga ke surga-Nya. Kairo menjadi saksi bisu betapa indahnya hubungan yang diawali dengan rida Ilahi.
Keesokan paginya, cahaya matahari Kairo masuk melalui celah gorden. Bungah terbangun dengan perasaan yang sangat berbeda. Ia menoleh ke samping dan mendapati Zidan sudah terjaga, sedang bersandar di bantal sambil membacakan muraja'ah Al-Qur'an dengan suara lirih.
Begitu menyadari Bungah bangun, Zidan menghentikan bacaannya dan mengecup kening Bungah dengan lembut. "Selamat pagi, Istriku. Sudah segar?"
Bungah langsung menyembunyikan wajahnya di balik selimut karena teringat kejadian semalam. "Mas Zidannn... jangan dilihatin terus!"
Zidan tertawa renyah, tawa yang penuh dengan kemenangan cinta. "Lho, kan sudah sah? Malunya disimpan dulu, karena hari ini Mas akan jadi ustadz yang galak buat bantu kamu belajar ujian akhir!"
Zidan perlahan membimbing Bungah untuk kembali duduk bersandar. Ia tidak ingin terburu-buru; baginya, malam ini adalah ibadah yang paling agung setelah akad yang mereka ucapkan. Ia meraih jemari Bungah, mengecupnya satu per satu dengan penuh penghormatan.
"Dek, dalam kitab Uqudul Lujain yang sering Mas kaji di pondok, diceritakan betapa mulianya penyatuan dua insan yang saling mencintai karena Allah," bisik Zidan, suaranya kini terdengar lebih dalam dan serak. "Malam ini, Mas bukan lagi gurumu, bukan lagi Gus-mu. Mas adalah suamimu yang ingin memuliakanmu."
Bungah merasakan aliran hangat menjalar ke seluruh tubuhnya saat tangan Zidan dengan lembut membelai pipinya, lalu turun merapikan helai rambut di bahunya. Sentuhan itu sangat hati-hati, seolah-olah Zidan sedang menyentuh barang pecah belah yang sangat mahal harganya.
"A-adek takut, Mas..." bisik Bungah jujur, matanya berkaca-kaca menatap wajah Zidan yang kini begitu dekat.
Zidan tersenyum sangat teduh, ia mengecup kelopak mata Bungah yang bergetar. "Jangan takut. Ada Mas di sini. Kita mulai dengan bismillah, ya?"
Zidan kemudian membimbing Bungah untuk berdoa bersama, sebuah doa yang diajarkan Rasulullah agar pertemuan mereka diberkahi dan dijauhkan dari gangguan setan. Suara Zidan yang merdu saat melantunkan doa itu membuat hati Bungah yang semula tegang menjadi tenang dan pasrah sepenuhnya.
Di bawah temaram lampu kamar asrama yang telah mereka sulap menjadi istana kecil, Zidan memberikan seluruh kasih sayangnya. Setiap sentuhan dan kecupannya adalah bahasa cinta yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Ia membuktikan janjinya di pantai dulu—bahwa ia akan menjadi "matahari" yang menghangatkan dinginnya dunia Bungah.
Malam itu, Kairo menjadi saksi bisu bersatunya dua jiwa yang telah lama bertaut dalam doa. Penantian panjang dari masa seragam SMP hingga bangku kuliah Al-Azhar, berakhir dalam sebuah malam yang penuh keberkahan dan keindahan. Segala lelah dan jarak ribuan kilometer terbayar tuntas dalam dekapan yang halal.
Fajar di Kairo
Cahaya subuh mulai mengintip dari balik gorden. Bungah terbangun dengan posisi kepala bersandar di lengan kekar Zidan. Ia merasakan elusan lembut di pundaknya yang polos. Saat ia mendongak, ia mendapati Zidan sudah menatapnya dengan binar mata yang begitu bahagia.
"Assalamu'alaikum, Zaujati," sapa Zidan dengan suara serak khas bangun tidur, lalu mengecup dahi Bungah lama sekali.
Bungah tersipu, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. "Wa'alaikumussalam, Mas Imam..."
"Ternyata benar kata orang," goda Zidan sambil mengeratkan pelukannya. "Menikah itu enak. Apalagi kalau istrinya sepertimu."
"Mas Zidan! Pagi-pagi sudah mulai!" rengek Bungah sambil mencubit pinggang Zidan, memicu tawa renyah sang Gus yang kini sudah tak lagi dingin.