NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Rudal Saraf

Alarm Kota Void meraung, frekuensinya bukan lagi sekadar peringatan, melainkan jeritan mesin yang sekarat. Langit-langit gua yang indah dengan pendar bioluminesensi biru kini bergetar hebat, melepaskan hujan debu beton dan serpihan stalaktit yang menghujam alun-alun. Cahaya merah darurat berdenyut liar, membasuh wajah Li Wei yang masih mendekap Xiao Hu dengan warna darah yang familier.

"Kak Li... aku takut," bisik Xiao Hu. Jemari kecilnya mencengkeram jubah Li Wei begitu erat hingga buku jarinya memutih.

Li Wei merasakan detak jantung bocah itu berpacu di balik dadanya, sebuah ritme yang mengingatkannya pada detak jantung Sersan Han saat pria itu mengembuskan napas terakhir di pipa induk yang hangus. Li Wei menatap pedang Bailong-Jian di tangannya. Bilah itu masih mengeluarkan percikan listrik ungu yang tidak stabil akibat proses sinkronisasi Void yang terputus di angka delapan puluh persen.

"Chen Xi, bawa Xiao Hu ke sektor evakuasi sekarang!" teriak Li Wei di tengah gemuruh ledakan yang mulai merobek gerbang luar.

Chen Xi berlari mendekat, wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi. "Lalu kau? Pedangmu belum stabil, Li Wei! Jika kau memaksa overclock sekarang, sistem sarafmu akan hangus sebelum musuh menyentuhmu!"

"Aku tidak punya pilihan! Rudal saraf itu tidak akan berhenti sampai tempat ini menjadi kuburan massal!" Li Wei mendorong Xiao Hu ke pelukan Chen Xi. "Pergi! Lin, aktifkan protokol pertahanan lapis kedua!"

Lin, yang berdiri di dekat konsol yang meledak, menatap Li Wei dengan mata mekanisnya yang berkedip cepat. "Li Wei, sinyal itu... rudalnya mengunci frekuensi spesifik. Mereka tidak membabi buta. Ada pelacak di dalam sini!"

Li Wei tersentak. Ia meraba saku jubahnya, tempat ia menyimpan chip saraf milik Han—benda keramat yang ia bawa dari laboratorium bawah tanah sebagai bukti persahabatan dan kunci data. Chip itu kini berdenyut dengan panas yang tidak wajar.

"Bajingan itu..." desis Li Wei. Matanya menatap tajam ke arah asap hitam yang mulai memenuhi terowongan masuk. "Zhao Kun menyisipkan pelacak pasif di dalam memori Han. Dia menjadikanku umpan tanpa aku sadari."

"Li Wei, buang chip itu!" teriak Chen Xi sambil menarik tangan Xiao Hu. "Itu adalah jangkar kematian kita!"

Li Wei menatap kepingan logam kecil di telapak tangannya. Chip ini berisi log data keluarga klan Li yang tewas sebagai subjek eksperimen, memori tentang sahabatnya, dan rahasia yang ia pertaruhkan dengan nyawanya. Membuangnya terasa seperti membunuh Han untuk kedua kalinya.

"Kak Li! Ayo lari!" Xiao Hu berteriak dari kejauhan, suaranya hampir tenggelam oleh ledakan rudal kedua yang meruntuhkan pilar utama gerbang.

Li Wei tidak menjawab. Ia merasakan panas dari chip itu merambat ke sarafnya, selaras dengan amarah yang membeku di dalam dadanya. Ia berbalik, menghadap ke arah lubang besar yang kini terbuka di mulut gua, menampakkan langit malam permukaan yang merah dan beracun. Di sana, di balik kabut asap, ia bisa mendengar desis mesin drone tempur yang mulai merayap masuk.

"Kalian evakuasi warga lewat gerbang belakang!" perintah Li Wei pada Lin. "Aku akan menahan mereka di sini."

"Kau gila? Itu satu batalion pasukan khusus!" Lin menancapkan staf energinya ke lantai. "Biarkan sistem pertahanan bio-organik kami yang bekerja!"

"Sistemmu tidak akan tahan melawan gas saraf konsentrasi tinggi milik Zhao Kun!" Li Wei menghunus Bailong-Jian. Pedang itu meraung, frekuensi ungunya membelah udara dengan suara yang menyakitkan telinga. "Lin, katakan padaku... di mana tangki sirkulasi termal utama gerbang ini?"

Lin ragu sejenak sebelum menunjuk ke arah struktur pipa raksasa di bawah jembatan gantung. "Tepat di bawah pijakanmu. Tapi jika itu pecah, uap panas bumi akan membakar apa pun dalam radius lima puluh meter!"

"Itu lebih baik daripada paru-paru mereka meledak karena racun saraf," sahut Li Wei dingin. Ia menoleh ke arah Chen Xi yang masih berdiri mematung di ujung jembatan. "Chen Xi, jaga dia. Jika aku tidak kembali, pastikan rahasia klan Li tidak terkubur bersamaku."

"Li Wei, jangan bicara seolah ini adalah perpisahan," suara Chen Xi bergetar. "Kita sudah melewati neraka laboratorium dan hutan nadir bersama. Kau tidak boleh mati di sini karena kecerobohan Zhao Kun!"

"Ini bukan kecerobohan. Ini adalah penebusan," ujar Li Wei pelan. Ia menatap chip Han untuk terakhir kalinya, lalu dengan gerakan tegas, ia menghantamkan chip itu ke hulu pedangnya.

Suara retakan logam terdengar menyakitkan. Chip itu hancur, namun datanya sempat terisap oleh sirkuit pedang yang lapar. Li Wei merasakan lonjakan informasi yang menyakitkan di kepalanya, gambaran tentang wajah Han yang tersenyum di parit sektor tujuh melintas sekejap sebelum digantikan oleh angka-angka koordinat tempur.

"Selamat jalan, sahabatku," bisiknya.

Sebuah ledakan dahsyat kembali mengguncang. Kali ini, pintu gerbang utama benar-benar hancur, menyemburkan uap kuning pucat yang manis—gas saraf. Li Wei mengaktifkan filter masker zirahnya, namun peringatan merah di penglihatan Neuro-Sync-nya menunjukkan bahwa konsentrasi gas ini terlalu tinggi untuk disaring secara konvensional.

Li Wei melompat turun dari jembatan gantung, mendarat tepat di atas pipa termal raksasa. Di hadapannya, barisan tentara Kekaisaran dengan zirah putih steril mulai bergerak masuk melalui asap, senjata mereka diarahkan tepat ke jantung Kota Void.

"Target teridentifikasi. Perwira Tinggi 09. Eksekusi di tempat," sebuah suara mekanis bergema dari interkom tentara terdepan.

Li Wei berdiri tegak di tengah kepulan uap. Mata ungunya berkilat di balik masker yang retak. "Kalian datang ke tempat yang salah untuk menjemput kematian."

Ia menghantamkan bilah Bailong-Jian ke arah katup utama pipa termal. Logam panas itu terbelah, melepaskan tekanan uap bumi yang luar biasa besar. Uap putih yang membara menyembur ke atas, menciptakan dinding panas yang masif di antara Li Wei dan pasukan pengejar. Gas saraf yang meluncur masuk seketika terurai oleh suhu ekstrem, berubah menjadi kristal-kristal tak berbahaya yang jatuh ke lantai gua.

"Apa yang dia lakukan? Dia mencoba membakar dirinya sendiri?" teriak salah satu tentara di balik dinding uap.

Li Wei merasakan kulitnya mulai melepuh di balik pakaian rami sederhananya, namun sistem saraf Void-nya justru menyerap panas tersebut sebagai energi cadangan. Ia mulai bergerak di dalam kabut uap, bayangannya memanjang seperti hantu di tengah kobaran api dan uap air.

"Aku bukan lagi perwira kalian," suara Li Wei terdengar berat, menggema melalui sistem resonansi gua. "Aku adalah hantu yang kalian ciptakan sendiri."

Satu per satu, tentara di garis depan tumbang tanpa sempat melepaskan tembakan. Gerakan Li Wei terlalu cepat, dibantu oleh Neural Overclock yang melampaui batas amannya. Setiap tebasan pedangnya meninggalkan jejak cahaya ungu yang membekukan aliran Qi di dalam tubuh lawan-lawannya.

Namun, di tengah kemenangannya yang brutal, Li Wei tiba-tiba merasakan hawa dingin yang menusuk tulang belakangnya. Hawa dingin itu bukan berasal dari sistem pendingin gua, melainkan sesuatu yang jauh lebih kuat hingga mampu menembus tirai uap panas yang ia ciptakan.

Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat. Setiap langkah itu meninggalkan jejak es di lantai batu yang membara.

"Uap panas yang cerdik, Li Wei," sebuah suara dingin, sebeku es abadi, merobek keriuhan pertempuran. "Tapi kau lupa bahwa api tidak bisa membakar sesuatu yang sudah mati rasa."

Seorang pria dengan jubah putih panjang yang dilapisi kristal es tipis muncul dari balik asap. Di tangannya, sebuah tombak perak panjang bergetar, memancarkan aura biru pucat yang mematikan.

"Jenderal Han-Bing..." desis Li Wei. Napasnya tersengal, dan darah mulai mengalir dari lubang hidungnya akibat overload saraf.

"Zhao Kun mengirimku untuk menjemputmu, atau setidaknya membawa kepalamu kembali ke laboratorium," pria itu mengangkat tombaknya. Seketika, uap panas di sekeliling mereka membeku menjadi butiran salju yang tajam. "Menyerahlah, murid yang malang. Tubuhmu sudah mencapai batasnya."

Li Wei mempererat pegangan pada pedangnya. "Batas adalah sesuatu yang diciptakan oleh orang lemah, Jenderal. Dan aku... aku punya sesuatu yang layak untuk dipertahankan."

Lantai batu di bawah sepatu bot Li Wei mulai berderak, bukan karena panas, melainkan karena kontraksi mendadak saat es yang diciptakan Han-Bing beradu dengan sisa uap termal. Jenderal Han-Bing melangkah maju, tombaknya berputar dengan presisi mematikan, menyapu sisa kabut panas dan menggantikannya dengan aura biru yang membekukan partikel udara.

"Kau menghancurkan chip itu, Li Wei. Bodoh sekali," Han-Bing menatap sisa abu logam di hulu pedang Li Wei. "Data di dalamnya adalah satu-satunya alasan Jenderal Zhao Kun membiarkanmu bernapas sejauh ini. Sekarang, kau tidak lebih dari subjek gagal yang harus dimusnahkan."

Li Wei terbatuk, ludah berdarah jatuh ke lantai yang kini tertutup lapisan es tipis. "Data itu sudah menyatu dengan pedangku. Jika kau menginginkannya, kau harus mengambilnya dari jantungku."

"Tawaran yang menarik," sahut Han-Bing.

Dalam sekejap, sang Jenderal menerjang. Tombak peraknya melesat secepat kilat, ujungnya memancarkan gelombang kriogenik yang membekukan uap air di lintasannya. Li Wei mengangkat Bailong-Jian, menangkis serangan itu dengan sisa tenaganya. Benturan kedua senjata itu menciptakan ledakan energi yang mengirimkan gelombang kejut ke seluruh aula gerbang.

Li Wei tersungkur ke belakang, lengannya terasa mati rasa. Es mulai merayap naik dari pergelangan tangannya, membekukan jalinan saraf Neuro-Sync yang sedang bekerja keras. Di penglihatannya, indikator sistem berkedip merah, menunjukkan suhu tubuh yang turun ke titik berbahaya.

"Li Wei! Di belakangmu!" teriakan Chen Xi bergema dari lantai atas.

Li Wei tidak menoleh. Instingnya menangkap pergerakan di balik bayangan. Dua drone tempur Kekaisaran meluncur turun dari langit-langit yang runtuh, moncong senjatanya mulai memerah. Di saat yang sama, Han-Bing kembali menyerang dengan tikaman vertikal yang bertujuan membelah kepala Li Wei.

Dilema menghantam Li Wei secepat peluru. Jika ia menangkis tombak Han-Bing, drone akan menembaknya. Jika ia menghindar, Han-Bing akan menggunakan celah itu untuk menghancurkan pilar penyangga terakhir tempat Chen Xi dan Xiao Hu berdiri.

"Solusi ketiga..." desis Li Wei, giginya bergeletuk menahan dingin.

Ia melepaskan pegangan satu tangannya pada Bailong-Jian, membiarkan pedang itu menggantung di udara oleh tarikan magnetik sarafnya. Dengan tangan kirinya, ia menarik dua granat sisa dari sabuknya dan melemparnya bukan ke arah musuh, melainkan ke langit-langit yang sudah retak tepat di atas tangki tekanan yang tersisa.

BOOM!

Reruntuhan beton masif jatuh menimpa kedua drone, menghancurkannya seketika. Namun, ledakan itu juga memicu pelepasan energi panas bumi yang lebih besar. Li Wei memanfaatkan momentum ledakan untuk berputar, menggunakan putaran tubuhnya untuk menambah daya dorong pada Bailong-Jian dan menghantam sisi tombak Han-Bing.

Benturan itu tidak mematahkan tombak sang Jenderal, namun cukup untuk menggeser posisi Han-Bing ke area di mana uap panas sedang menyembur.

"Argh!" Han-Bing mengerang saat suhu ekstrem yang kontras menghantam perisai esnya, menciptakan retakan mikroskopis pada zirahnya.

Li Wei terengah, ia berlutut dengan satu kaki. Napasnya terlihat seperti kabut putih tebal. "Pergi... Chen Xi! Bawa mereka ke dalam labirin bawah tanah!"

"Kami tidak akan meninggalkanmu di sini sendirian!" Xiao Hu menangis, mencoba melepaskan diri dari pegangan Chen Xi.

"Ini perintah!" raung Li Wei, matanya yang ungu kini bersinar dengan intensitas yang menakutkan, tanda bahwa ia telah memasuki tahap Limit Break. "Jika kalian tetap di sini, kalian hanya akan menjadi beban! Lari!"

Chen Xi menatap punggung Li Wei. Ia melihat getaran di bahu pria itu, sebuah tanda kerapuhan yang disembunyikan di balik postur algojo yang kaku. Ia tahu, Li Wei sedang mengorbankan sisa hidupnya demi memberi mereka waktu satu menit untuk melarikan diri.

"Ayo, Xiao Hu. Kita harus percaya padanya," bisik Chen Xi dengan suara parau. Ia menarik Xiao Hu masuk ke dalam lorong gelap di belakang altar, meninggalkan Li Wei yang kini berdiri sendirian menghadapi sang Jenderal es.

Han-Bing berdiri kembali, membersihkan jelaga dari jubahnya. Wajahnya tetap datar, seolah emosi telah lama membeku di dalam dirinya. "Pengorbanan yang heroik. Tapi sia-sia. Kota ini sudah jatuh, Li Wei. Zhao Kun tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan."

Li Wei berdiri perlahan. Ia bisa merasakan sirkuit di dalam tubuhnya mulai terbakar satu per satu. Rasa sakitnya melampaui apa pun yang pernah ia rasakan di parit Sektor 7 atau gorong-gorong kimia. Ini adalah rasa sakit dari jiwa yang dipaksa melampaui batas biologisnya.

"Mungkin kota ini akan jatuh," ucap Li Wei sambil mengangkat Bailong-Jian ke depan wajahnya. "Tapi aku akan memastikan kau tidak akan ada di sini untuk melihatnya."

Ia mengambil kepingan terakhir dari chip Han yang masih tersisa di sela sarung tangannya—kepingan yang berisi kode enkripsi identitas Han. Dengan tatapan getir, ia memasukkannya ke dalam port darurat di pergelangan tangannya.

"Aktifkan protokol... Hantu Teratai," bisik Li Wei.

Seketika, seluruh pendar ungu pada pedang dan zirah Li Wei berubah menjadi putih menyilaukan. Suhu di sekelilingnya melonjak tajam, menciptakan pusaran energi yang menyedot sisa oksigen di aula tersebut.

"Apa yang kau lakukan? Kau akan meledakkan diri?" Han-Bing mundur beberapa langkah, tombaknya diposisikan dalam mode pertahanan absolut.

Li Wei tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah lorong di mana Chen Xi dan Xiao Hu menghilang. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di bibirnya yang pecah. Ia teringat saat mereka makan biskuit ransum bersama di bunker yang runtuh, satu-satunya momen di mana ia merasa benar-benar hidup di tengah perang abadi ini.

"Maafkan aku, Han. Sepertinya aku menyusulmu lebih cepat dari yang kukira," gumamnya dalam hati.

Dengan satu raungan yang memecah keheningan gua, Li Wei menerjang maju. Ia bukan lagi seorang perwira, bukan lagi seorang algojo, melainkan sebuah rudal manusia yang membawa seluruh dendam dan kasih sayang yang tersisa dalam dirinya. Cahaya putih itu menelan segalanya—es, uap, dan bayangan Jenderal Han-Bing—dalam sebuah ledakan energi yang meruntuhkan gerbang Kota Void sepenuhnya.

Debu dan asap menutupi segalanya. Saat keheningan kembali jatuh, hanya terdengar suara reruntuhan batu yang jatuh satu per satu ke dalam kegelapan. Di kejauhan, di balik dinding-dinding es yang mulai mencair, sebuah sinyal pelacak akhirnya padam secara permanen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!