Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Gestur yang Mengusik
Keheningan di dalam ruang kelas terasa semakin mencekam seiring berjalannya waktu. Hanya terdengar suara gesekan pena yang terburu-buru dan helaan napas frustrasi dari para mahasiswa. Dion tampak berkali-kali menyeka keringat di dahinya, sementara Thea berulang kali menggigit ujung pulpennya sambil menatap kosong ke arah soal nomor empat yang membahas tentang skalabilitas pasar.
Di tengah kegaduhan sunyi itu, Airin Rodriguez tampak seperti berada di dimensi yang berbeda. Karena sudah menyelesaikan semua jawaban dengan sempurna sejak sepuluh menit yang lalu, ia kini terjebak dalam rasa bosan yang melanda.
Airin meletakkan dagunya di atas telapak tangan kirinya. Jari-jemari tangan kanannya yang lentik dan bersih mulai mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan irama yang tak beraturan. Ia menatap ke luar jendela, memperhatikan daun-daun pohon mahoni yang bergoyang tertiup angin.
Karena merasa pegal dan jenuh hanya berdiam diri, tanpa sadar Airin memonyongkan bibir kecilnya sebuah kebiasaan spontan yang sering ia lakukan saat sedang melamun atau merasa bosan.
Ia tidak sadar bahwa sejak tadi, ada sepasang mata tajam yang tidak pernah benar-benar lepas darinya.
Jordan Abraham berdiri di depan kelas, bersandar pada pinggiran meja dosen dengan tangan terlipat di depan dada. Sosoknya yang tinggi besar dan berwajah sangar itu biasanya membuat siapa pun ciut, namun saat ini, sorot matanya yang dingin perlahan mencair. Ia memperhatikan bagaimana Airin memainkan jarinya, lalu beralih pada ekspresi wajah gadis itu yang tampak menggemaskan dengan bibir yang sedikit dimonyongkan.
Ada secercah rasa gemas yang menyelinap di dada Jordan. Ia yang biasanya dikenal kaku dan tanpa ampun, harus berjuang keras untuk tetap menjaga ekspresi datarnya. Gadis ini... benar-benar tidak sadar sedang berada di tengah ujian yang menentukan? batin Jordan sambil menahan senyum.
Merasa seperti ada yang memperhatikan, Airin secara perlahan memutar kepalanya ke depan. Tepat saat itu, pandangan mereka beradu.
Airin tersentak kecil. Ia mendapati Jordan tengah menatapnya dalam sangat dalam hingga seolah bisa membaca setiap helai pikirannya. Tidak seperti sebelumnya yang hanya sekilas, kali ini Jordan tidak mengalihkan pandangannya. Pria itu terus mengunci netra cokelat bening milik Airin, menantang ketenangan gadis itu dengan aura maskulinnya yang dominan.
Jantung Airin berdegup dua kali lebih cepat. Ia merasa panas menjalar di pipinya. Merasa tak sanggup berlama-lama terjebak dalam tatapan intimidatif namun menghanyutkan itu, Airin segera memutuskan kontak mata. Ia menunduk dalam, berpura-pura kembali merapikan letak kertas ujiannya yang sebenarnya sudah sangat rapi.
Melihat reaksi malu-malu itu, sudut bibir Jordan tertarik ke atas. Sebuah senyum kecil yang sangat tipis hampir tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama muncul di balik berewok tipisnya. Ia merasa menang dalam perang saraf singkat tadi.
"Waktu tinggal lima menit lagi," suara Jordan memecah keheningan, kali ini terdengar sedikit lebih renyah, meski tetap berwibawa.
"Aduh, mampus gue!" gumam Dion setengah berteriak, yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Jordan.
"Dion Pratama, fokus pada kertasmu atau saya anggap selesai sekarang juga," tegur Jordan dingin.
"I-iya, Pak! Maaf!"
Airin yang mendengar teguran itu hanya bisa tersenyum simpul tanpa mengangkat wajahnya. Ia tetap menunduk, namun jemarinya kini tidak lagi mengetuk meja. Ia meremas ujung dress bunga matahari yang dipakainya hari ini, mencoba menenangkan debaran aneh yang muncul sejak tatapan Jordan tadi.
Jordan kembali berjalan mengitari kelas, namun kali ini langkahnya terasa lebih ringan. Saat ia kembali melewati meja Airin, ia sengaja melambat. Ia bisa melihat leher jenjang Airin yang memerah karena malu. Tanpa berkata apa-apa, ia terus berjalan menuju mejanya sendiri.
"Kumpulkan sekarang," titah Jordan kemudian.
Satu per satu mahasiswa maju dengan wajah lesu, kecuali Airin yang melangkah dengan anggun. Saat meletakkan kertasnya di tumpukan paling atas, Airin tetap menjaga pandangannya agar tidak bertemu lagi dengan Jordan. Namun, Jordan justru sengaja berdehem pelan saat Airin berbalik arah.
"Terima kasih, Airin," ucap Jordan dengan nada suara yang sangat rendah, hanya bisa didengar oleh Airin.
Airin hanya mengangguk kecil tanpa suara, lalu segera kembali ke tempat duduknya untuk mengambil tas. Ia ingin segera keluar dari ruangan ini sebelum hatinya semakin tak menentu.