Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.
Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.
Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 10
Napas mereka beradu dengan deru angin malam. Raka dan Keyra tidak berhenti berlari hingga mereka mencapai area belakang gimnasium, tempat tumpukan matras tua dan peralatan olahraga yang rusak dibiarkan menumpuk. Jantung Raka memukul-mukul rongga dadanya seolah ingin menjebol tulang rusuk, sementara Keyra membungkuk, menumpukan kedua tangan pada lututnya, mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin.
"Lo... lo yakin dia nggak ngikutin?" tanya Keyra di sela napasnya yang putus-putus. Rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan, beberapa helai menempel di keningnya yang berkeringat.
Raka menegakkan tubuh, mengintip dari balik sudut tembok gedung gimnasium yang gelap. Matanya menyisir area koridor terbuka yang menghubungkan gedung utama dengan area olahraga. Sepi. Hanya ada lampu taman yang berkedip suram dan bayangan pohon angsana yang bergoyang tertiup angin. Tidak ada tanda-tanda Julian ataupun langkah kaki pantofel yang mengerikan itu.
"Bersih," desis Raka, lalu merosot duduk di lantai semen yang dingin. "Gila. Itu tadi apa? Hologram? Di ruang arsip sekolah? Gue rasa otak gue perlu di-restart."
Keyra ikut duduk di sebelahnya, mengatur napas agar lebih teratur. "Gue udah bilang, kan? Ada anomali. Julian itu pusatnya. Apa yang kita liat tadi bukan teknologi tahun ini, Raka. Itu... itu lebih maju dari apa pun yang pernah gue baca di forum deep web."
Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara jangkrik dan deru napas mereka yang perlahan menenang. Adrenalin yang tadi memuncak kini perlahan surut, digantikan oleh kesadaran akan posisi mereka. Mereka duduk bersisian di tempat tersembunyi, di belakang gedung olahraga yang gelap, pada jam di mana seharusnya murid-murid sudah pulang atau berada di asrama.
"Kita harus susun rencana," kata Raka, menoleh ke arah Keyra. Jarak wajah mereka ternyata lebih dekat dari yang dia perkirakan. Dia bisa mencium aroma samar vanila dari sampo gadis itu, bercampur dengan keringat dan debu ruang arsip.
Keyra menatap balik, matanya yang tajam kini terlihat sedikit rapuh karena guncangan barusan. "Bukti foto gue gagal. Kita nggak punya apa-apa buat ngelawan dia kalau dia sadar kita yang ngintip."
"Dia pasti curiga. Tapi dia nggak liat muka kita, kan? Lampu mati pas kita lari," Raka mencoba optimis, meski tangannya masih sedikit gemetar.
"Semoga," gumam Keyra. Tanpa sadar, tangannya mencengkeram lengan jaket Raka, mencari pegangan karena kakinya masih terasa lemas. "Raka, kalau dia beneran bisa 'reset' memori kayak yang dia bilang..."
"Gue nggak bakal lupa," potong Raka tegas, menatap lurus ke manik mata Keyra. "Gue bakal catat semuanya. Kita berdua bakal saling ingetin."
Momen itu terasa berat, penuh dengan ketegangan konspirasi yang mengikat mereka berdua. Raka meletakkan tangannya di atas tangan Keyra yang mencengkeram jaketnya, sebuah gestur penenang yang impulsif.
"OH. MY. GOD!"
Suara pekikan cempreng itu memecahkan gelembung ketegangan mereka seketika. Raka dan Keyra tersentak kaget, melompat berdiri saking paniknya, seolah baru saja tertangkap basah sedang merakit bom.
Di ujung lorong samping gimnasium, berdiri Sisi—sekretaris kelas yang juga merangkap sebagai admin akun lambe-turah sekolah secara tidak resmi. Mulutnya menganga lebar, matanya membulat sempurna menatap Raka dan Keyra bergantian. Di tangannya ada kantong plastik berisi jajanan dari minimarket depan sekolah, yang sepertinya baru saja dia beli secara diam-diam.
"Sisi?" Raka tergagap. Otaknya berputar cepat mencari alasan logis kenapa Kapten Basket dan Si Gadis Teori Konspirasi mojok di tempat gelap.
"J-jangan salah paham," Keyra mengangkat tangan, wajahnya memerah padam. Bukan karena malu romantis, tapi karena panik posisinya ketahuan. "Kita cuma..."
"Cuma apa?!" potong Sisi antusias, senyum lebar mulai merekah di wajahnya. Dia menunjuk tangan Raka yang—sialnya—masih setengah menggenggam pergelangan tangan Keyra. "Gue cariin Raka buat minta tanda tangan proposal ekskul, ternyata lagi asyik berduaan sama Keyra di tempat gelap? Wah, gila sih. Plot twist banget!"
"Si, dengerin dulu," Raka maju selangkah, mencoba menggunakan pesona kapten basketnya untuk meredam situasi. "Kita lagi bahas... strategi. Ya, strategi."
"Strategi apa? Strategi cinta?" Sisi terkikik, lalu mengeluarkan ponselnya dengan kecepatan cahaya. Jari-jemarinya menari di atas layar. "Pantesan lo akhir-akhir ini aneh, Ka. Nolak ajakan jalan Cindy, sering ngilang pas istirahat. Ternyata selera lo yang unik kayak Keyra. Gemes banget sih! Si Pangeran Sekolah sama Si Alien Cantik!"
"Jangan diposting!" seru Keyra dan Raka berbarengan.
Tapi terlambat. Bunyi 'sent' dari aplikasi chat terdengar nyaring. Sisi mengedipkan sebelah matanya. "Ups. Keikirim ke grup angkatan. Sorry not sorry! Lagian kalian cocok kok. Bye, lovebirds! Lanjutin aja, gue nggak bakal ganggu!"
Sisi berbalik dan berlari kecil meninggalkan mereka, meninggalkan jejak bencana sosial yang mungkin lebih merepotkan daripada Julian untuk sementara waktu.
Raka mengusap wajahnya kasar. "Mampus."
"Ini bencana," desah Keyra, memijat pelipisnya. "Sekarang seluruh sekolah bakal liatin kita. Gerak-gerik kita bakal dipantau. Gimana kita mau nyelidikin Julian kalau semua mata tertuju ke kita?"
Raka terdiam sejenak, lalu sebuah ide gila melintas di kepalanya. Dia menatap Keyra dengan serius. "Justru itu, Key."
"Hah? Apanya?"
"Kalau semua orang mikir kita pacaran, Julian nggak akan curiga kalau kita sering bareng," jelas Raka, nadanya semakin yakin. "Dia bakal mikir kita cuma dua remaja bodoh yang lagi kasmaran, bukan dua detektif yang mau bongkar rahasia dia. Gosip ini... ini bisa jadi tameng kita."
Keyra tertegun, mencerna logika Raka. "Lo mau kita... pura-pura pacaran?"
"Lo punya ide yang lebih bagus buat jelasin kenapa kita mojok di belakang gimnasium malem-malem?" tantang Raka.
Keyra mendengus, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. "Oke. Tapi jangan harap gue bakal manggil lo 'Babe' atau semacamnya."
***
Keesokan harinya, SMA Harapan Bangsa gempar. Gosip menyebar lebih cepat daripada virus flu di musim hujan. Saat Raka melangkah masuk ke gerbang sekolah, dia bisa merasakan perubahan atmosfer yang drastis. Tatapan memuja yang biasanya dia terima kini bercampur dengan tatapan bingung, kaget, dan patah hati.
Di koridor utama, Keyra sedang berjalan menuju lokernya. Dia tampak risih. Beberapa siswi populer berbisik-bisik sambil meliriknya sinis, sementara anak-anak klub sains menatapnya seolah dia baru saja memenangkan Nobel Perdamaian karena berhasil menaklukkan Raka.
Raka menarik napas panjang, lalu melakukan aksinya. Dia berjalan menghampiri Keyra, memecah kerumunan. Dengan santai, dia menyandarkan sikunya di loker tepat di sebelah kepala Keyra.
"Pagi," sapa Raka, suaranya cukup keras untuk didengar radius lima meter.
Keyra meliriknya tajam, tapi dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi senyum canggung yang dipaksakan. "Pagi... Raka."
"Nanti istirahat bareng?" tanya Raka, kali ini sambil menyelipkan sejumput rambut Keyra ke belakang telinga. Tindakan itu memicu paduan suara pekikan tertahan dari arah mading.
"Boleh," jawab Keyra kaku. "Asal lo nggak keberatan dengerin teori gue soal kenapa kantin sekolah sebenernya adalah laboratorium eksperimen gula."
"Apapun buat lo," Raka mengedipkan mata.
"Ekhem."
Suara dehaman itu terdengar halus, sopan, tapi mampu membuat suhu udara di koridor turun beberapa derajat. Kerumunan siswa yang berbisik-bisik seketika terdiam dan membelah jalan.
Julian berjalan mendekat. Seragamnya licin tanpa kerutan, lencana Ketua OSIS berkilau di dadanya, dan senyum ramahnya terpasang sempurna. Namun, Raka bisa melihatnya. Di balik kacamata bingkai tipis itu, mata Julian tidak tersenyum. Tatapannya dingin, menyelidik, dan tajam seperti pisau bedah.
"Wah, jadi gosip itu benar?" Julian berhenti tepat di depan mereka. Dia menatap Raka, lalu beralih ke Keyra. "Kombinasi yang... tidak terduga. Selamat ya."
"Makasih, Jul," jawab Raka, berusaha agar suaranya terdengar santai dan tidak defensif. Dia merangkul bahu Keyra, menarik gadis itu lebih dekat seolah menantang Julian. "Namanya juga perasaan, nggak bisa ditebak, kan?"
Julian terkekeh pelan, tapi matanya menyipit saat melihat tangan Raka di bahu Keyra. Ada kilatan emosi yang sulit diartikan di sana—bukan sekadar cemburu, tapi lebih seperti gangguan. Seolah ada variabel yang tidak seharusnya ada dalam persamaan matematikanya yang sempurna.
"Tentu," kata Julian lambat-lambat. Dia melangkah maju sedikit lagi, menginvasi ruang pribadi mereka. "Cuma mau ngingetin, Raka. Fokus kamu harusnya di tim basket. Final sebentar lagi. Jangan sampai... gangguan kecil merusak performa besar."
Kata 'gangguan' itu diucapkan dengan penekanan yang membuat bulu kuduk Keyra meremang. Itu bukan saran teman. Itu peringatan.
"Tenang aja, Pak Ketua," sahut Keyra tiba-tiba, memberanikan diri menatap mata Julian. "Raka jago multitasking. Dia bisa main basket sambil... menjaga apa yang penting buat dia."
Julian menatap Keyra lama, seolah sedang memindai data di dalam kepala gadis itu. "Baguslah kalau begitu," ujarnya datar. "Saya senang melihat murid-murid bahagia. Tapi hati-hati, koridor sekolah punya banyak mata. Kalian nggak pernah tahu siapa yang sedang mengawasi."
Dengan senyum terakhir yang tidak mencapai mata, Julian berbalik dan berjalan pergi. Langkah kakinya terdengar tegas di lantai keramik. Raka dan Keyra tetap berdiri diam sampai punggung Julian menghilang di belokan tangga.
Raka melepaskan rangkulannya, tapi tetap berdiri dekat agar pembicaraan mereka tidak terdengar orang lain. "Dia curiga," bisik Raka.
"Banget," balas Keyra, tangannya gemetar pelan saat menutup pintu loker. "Dia nggak seneng kita bareng. Bukan karena dia suka sama gue atau lo, tapi karena kita berdua adalah anomali yang nggak bisa dia prediksi."
"Bagus," Raka menyeringai tipis, meski keringat dingin mengalir di punggungnya. "Kalau dia sibuk ngurusin hubungan palsu kita, dia bakal lengah jagain rahasia aslinya. Permainan dimulai, Key."
Keyra mengangguk, menatap lorong tempat Julian menghilang. "Dan kali ini, kita nggak cuma jadi penonton."