Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritme Tanpa Nada
Raka mematikan suara dering itu dengan satu gerakan jari yang terlatih. Ia bangun dengan sentakan napas pendek, seolah tubuhnya baru saja ditarik paksa dari kedalaman air. Sisa-sisa perasaan dari malam Minggu—rasa susu stroberi yang artifisial dan aroma sabun cuci piring jeruk nipis—masih menempel tipis di langit-langit ingatannya. Namun, hari ini adalah Senin. Dan bagi Raka, Senin adalah sebuah benteng.
Ia telah membuat perjanjian tak tertulis dengan dirinya sendiri semalam: Senin adalah hari untuk kembali menjadi mesin. Tidak ada ruang untuk melamun, tidak ada celah untuk nostalgia.
Raka bergerak menuju kamar mandi. Air dingin yang mengguyur kepalanya terasa menusuk, tapi itu yang ia butuhkan. Ia menyabuni tubuhnya dengan sabun batang beraroma *pine* yang maskulin dan generik—sama sekali tidak berbau buah-buahan atau bunga. Ia menggosok kulitnya sedikit lebih keras dari biasanya, seolah ingin mengikis lapisan emosi yang sempat bocor kemarin.
Di depan cermin wastafel, Raka merapikan dasinya. Simpul *Windsor* yang sempurna. Kemeja biru muda yang licin tanpa kerutan. Ia menatap pantulan dirinya. Lingkaran hitam di bawah matanya sedikit terlihat, tapi kacamata membingkainya dengan rapi, menyamarkannya sebagai tanda intelektualitas atau dedikasi kerja, bukan tanda dari jiwa yang kurang tidur karena dihantui masa lalu.
"Fokus," gumamnya pelan pada cermin. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Perjalanan menuju stasiun kereta tidak berbeda dari minggu-minggu sebelumnya, namun kali ini Raka memasang mode otomatis penuh. Ia berjalan cepat, menghindari genangan sisa hujan semalam dengan presisi matematis. Di peron, ia berdiri di titik di mana pintu gerbong biasanya berhenti, membiarkan dirinya ditelan oleh kerumunan manusia yang sama-sama berwajah kaku.
Di dalam gerbong, tubuhnya terimpit di antara seorang bapak paruh baya yang membawa tas ransel besar dan seorang mahasiswa yang sibuk dengan ponselnya. Bau parfum murah bercampur dengan aroma lembap dari jaket-jaket yang belum kering sempurna mendominasi udara. Raka memasang *earphone*-nya. Kali ini, ia tidak memutar lagu pop lawas atau *playlist* melankolis. Ia memilih *podcast* berita ekonomi dengan volume sedang. Suara penyiar yang datar dan penuh istilah teknis membantunya memblokir pikiran yang melantur. Ia membutuhkan logika, data, dan fakta. Hal-hal yang tidak memiliki perasaan.
Sesampainya di kantor, Raka adalah orang pertama yang menyalakan lampu di divisinya. Jam dinding menunjukkan pukul 07.45. Masih ada lima belas menit sebelum jam masuk resmi.
Ia duduk, menyalakan komputer, dan langsung membuka tiga *spreadsheet* sekaligus. Jari-jarinya menari di atas papan ketik, memasukkan rumus, merapikan data, dan membalas surel-surel yang tertumpuk sejak Jumat sore. Ia bekerja dengan kecepatan yang tidak wajar, seolah-olah jika ia berhenti mengetik barang sedetik saja, ingatan tentang suara ibunya di telepon kemarin akan menyusup masuk.
"Wuih, rajin amat, Pak. Kejar setoran buat nikah?"
Suara Bayu memecah konsentrasi Raka. Rekan kerjanya itu baru saja datang, meletakkan tas selempangnya di meja sebelah dengan bunyi *buk* yang cukup keras. Bayu terlihat segar, rambutnya sedikit berantakan karena angin, dan ia membawa aroma kopi susu dari kantin bawah.
Raka tidak menoleh. Ia tetap menatap layar. "Banyak revisi dari Pak Haris. Gue nggak mau lembur lagi minggu ini."
"Senin itu harusnya diawali dengan napas panjang, Ka. Bukan langsung *sprint*," komentar Bayu sambil menarik kursi. Ia melirik layar komputer Raka yang penuh angka. "Gila. Lo beneran nggak santai hari ini."
"Gue cuma mau efisien, Bay," jawab Raka datar.
"Efisien atau pelarian?" celetuk Bayu, setengah bercanda.
Jari Raka berhenti sejenak di atas tombol *Enter*. Pertanyaan itu tepat sasaran, namun Raka memilih mengabaikannya. Ia menekan tombol itu dengan keras. "Terserah lo mau bilang apa. Gue cuma mau kerjaan ini beres."
Pukul 10.00 pagi, mereka masuk ke ruang rapat. Pak Haris memimpin evaluasi bulanan. Ruangan itu dingin, pendingin udara disetel pada suhu terendah. Cahaya proyektor memantul di dinding putih, menampilkan grafik batang yang menunjukkan penurunan performa tim bulan lalu—sebagian besar karena kesalahan fatal Raka di Bab 4 yang untungnya sudah diperbaiki.
Raka duduk tegak, mencatat setiap poin dengan pena tintanya. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan tajam, memberikan solusi taktis, dan bahkan mengoreksi data yang salah pada salindia presentasi rekannya yang lain. Ia tampil brilian.
"Bagus, Raka," puji Pak Haris, mengangguk puas. "Saya senang kamu sudah kembali fokus. Pertahankan ritme ini."
Raka mengangguk sopan. "Terima kasih, Pak."
Namun, di balik wajah tenangnya, Raka merasakan denyutan halus di pelipisnya. Menjadi sempurna itu melelahkan. Ia melirik ke arah jendela kaca ruang rapat. Di luar, langit Jakarta berwarna abu-abu pucat, datar tanpa awan yang dramatis. Pemandangan itu mengingatkannya pada sore hari di sebuah kafe, di mana ia dan mantannya pernah duduk berjam-jam tanpa bicara, hanya mengamati orang lewat.
*“Kamu tahu nggak, diam itu kadang lebih berisik dari ngomong,”* kata wanita itu waktu itu.
Raka mengerjapkan mata, mengusir suara itu dari kepalanya. Ia kembali menatap layar proyektor. *Fokus. Angka. Target.* Ia memutar pena di tangannya dengan gelisah.
Saat jam makan siang tiba, ritme kerja Raka yang gila-gilaan mulai menunjukkan dampaknya. Punggungnya terasa kaku. Bayu berdiri di samping mejanya, menepuk pundaknya pelan.
"Makan, yuk? Anak-anak mau ke warung Padang di belakang. Gue traktir deh, biar muka lo nggak tegang banget kayak kabel listrik."
Aroma rendang dan gulai terbayang sesaat, menggugah selera fisiknya, tapi Raka menggeleng. Keramaian warung makan, suara denting sendok garpu, dan obrolan basa-basi rekan kerja adalah hal terakhir yang ia inginkan. Ia takut pertahanannya akan jebol jika ia harus tertawa palsu menanggapi lelucon mereka.
"Gue bawa bekal," bohong Raka.
Bayu menatapnya curiga. Ia melirik ke bawah meja Raka, tidak ada kotak makan di sana. "Bekal angin?"
"Gue beli roti tadi di stasiun. Gue mau makan di sini aja sambil ngeberesin laporan keuangan."
Bayu menghela napas panjang, seolah menghadapi anak kecil yang keras kepala. "Oke, terserah lo. Tapi kalau lo pingsan, gue nggak mau gotong lo ke klinik, ya. Berat."
Sepeninggal Bayu dan rekan-rekan lainnya, kantor menjadi sunyi. Hanya terdengar dengung halus dari CPU komputer dan suara mesin fotokopi dari ruangan sebelah. Raka menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia melepas kacamata dan memijat pangkal hidungnya.
Ia tidak punya roti. Ia tidak makan apa-apa sejak pagi selain segelas air putih.
Raka membuka laci mejanya, mencari sesuatu yang bisa dimakan. Ia menemukan sebungkus biskuit gandum yang sudah terbuka setengah, sisa minggu lalu. Ia mengambil satu keping dan mengunyahnya perlahan. Rasanya hambar dan kering, menyerap sisa air liur di mulutnya, membuatnya sulit menelan.
Saat itulah ia melihatnya. Di sudut laci yang paling dalam, terselip sebuah struk belanja lama yang sudah lecek. Tinta pada kertas *thermal* itu sudah memudar, tapi Raka masih bisa membaca satu baris tulisan di sana: *Jeruk Mandarin 1kg*.
Ingatan itu datang tanpa permisi. Bukan ingatan besar yang dramatis, tapi potongan kecil yang menyakitkan. Momen ketika mereka berbelanja buah, dan wanita itu bersikeras memilih jeruk satu per satu, memastikan kulitnya mulus dan warnanya oranye sempurna. Raka yang tidak sabaran waktu itu hanya berdiri sambil mengecek ponsel, mengeluh karena prosesnya terlalu lama.
*"Sabar dong, Ka. Kalau kita pilih yang bagus, rasanya pasti manis. Sesuatu yang manis itu butuh usaha,"* ucapnya waktu itu sambil tersenyum lebar, menyodorkan sebuah jeruk ke hidung Raka.
Raka menatap biskuit gandum di tangannya. Rasanya semakin seperti serbuk kayu. Ia melempar sisa biskuit itu kembali ke laci dan menutupnya dengan kasar. Suara laci yang terbanting menggema di ruangan kosong itu.
"Sial," umpatnya pelan.
Ia berdiri, berjalan menuju *pantry* untuk mengambil air. Ia butuh bergerak. Di *pantry*, ia bertemu dengan Dinda, sekretaris dari divisi HRD yang sedang menyeduh teh.
"Eh, Mas Raka. Nggak makan siang?" sapa Dinda ramah.
"Lagi banyak kerjaan, Din," jawab Raka singkat sambil mengisi gelasnya dari dispenser.
Dinda tersenyum tipis. "Mas Raka tuh rajin banget ya. Tapi hati-hati lho, Mas. Tadi saya lihat Mas Raka pas *meeting* mukanya pucat banget. Jangan diforsir."
"Saya nggak apa-apa," sanggah Raka, mungkin terlalu cepat.
"Oh, oke. Cuma ngingetin aja. Soalnya dulu pacar saya juga gitu, gila kerja, eh ujung-ujungnya malah *typhus*," Dinda terkekeh kecil, lalu pamit membawa cangkir tehnya.
Kata "pacar" yang diucapkan Dinda menggantung di udara *pantry* yang berbau kopi instan. Raka menatap air di dalam gelasnya. Permukaannya bergetar sedikit karena tangan Raka yang tidak stabil. Getaran itu bukan karena lapar, tapi karena lelah menahan beban memori yang terus-menerus mencoba mendobrak pintu bendungan yang ia bangun sejak pagi.
Raka meminum air itu dalam sekali teguk, merasakan dinginnya mengalir ke kerongkongan, berharap itu bisa membekukan perasaannya kembali.
Sore harinya, sekitar pukul empat, Bayu kembali ke meja dengan membawa kantong plastik putih. Ia meletakkannya di meja Raka tanpa bicara.
Raka menoleh. "Apaan nih?"
"Roti isi cokelat sama teh kotak. Jangan nolak," kata Bayu tegas, tidak menatap Raka, sibuk menyalakan komputernya sendiri. "Gue tahu lo bohong soal bekal roti tadi. Muka lo udah kayak zombie kurang gizi."
Raka terdiam. Ia menatap roti di dalam plastik itu. Perhatian kecil Bayu selalu tulus, dan itu kadang membuat Raka merasa bersalah karena terus-menerus menutup diri.
"Makasih, Bay," ucap Raka pelan.
"Yoi. Makan sekarang. Gue nggak mau denger bunyi perut lo pas kita lagi hening cipta ngeliatin data penjualan," sahut Bayu cuek.
Raka membuka bungkus roti itu. Gigitan pertama terasa manis. Cokelat murah yang terlalu banyak gula, tapi entah kenapa, rasa itu membuat bahunya sedikit rileks. Ia makan sambil menatap layar komputer, tapi kali ini matanya tidak benar-benar membaca angka.
Ia menyadari satu hal: pertahanan "Mode Otomatis" yang ia banggakan ternyata rapuh. Ia bisa menipu Pak Haris, ia bisa menipu Dinda, tapi ia tidak bisa menipu tubuhnya sendiri, dan ia jelas tidak bisa menipu Bayu sepenuhnya.
Hujan mulai turun lagi di luar, rintik-rintik halus yang memukul kaca jendela lantai 15. Raka mengunyah rotinya pelan-pelan. Ia berhasil melewati hari Senin ini—hampir. Ia produktif, ia dipuji atasan, dan ia tidak melakukan kesalahan fatal. Secara teknis, ini adalah hari yang sukses.
Tapi saat ia melihat tetesan air hujan yang meluncur di kaca, berpacu satu sama lain menuju ke bawah, Raka merasakan kekosongan itu kembali melebar di dadanya. Kesibukan hanya menunda rasa sakit, bukan menyembuhkannya. Garis waktu terus berjalan, menyeretnya ke hari Selasa, Rabu, dan seterusnya, tapi sebagian dari dirinya masih tertinggal di lorong supermarket, di warung mie ayam, dan di dalam kenangan tentang jeruk mandarin yang dipilih dengan penuh kesabaran.
Raka menghabiskan sisa teh kotaknya, meremas kotaknya hingga gepeng, dan membuangnya ke tempat sampah. Ia kembali meletakkan tangannya di atas *keyboard*. Masih ada satu jam sebelum jam pulang. Ia akan menggunakan enam puluh menit itu untuk kembali menjadi mesin, sebelum kesunyian apartemennya nanti malam memaksanya menjadi manusia lagi.
***