Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Respon yang Dingin
Jam dinding menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Nayara duduk di sofa ruang tamu, mata sembab, tangan gemetar memegang sebuah benda kecil plastik putih. Garis merah dua. Jelas sekali. Tidak salah lagi.
Hamil.
Dia hamil.
Nayara tertawa pelan. Tertawa sambil menangis. Air matanya jatuh membasahi testpack yang dipegangnya erat. Ya Allah, ini yang dia tunggu-tunggu. Ini yang dia minta dalam setiap doanya. Anak. Buah cinta dari pernikahannya dengan Gilang.
Sejak tiga hari lalu Nayara merasa aneh. Mual-mual tiap pagi, pusing kalau cium bau amis, badan lemas. Awalnya dia pikir cuma masuk angin biasa. Tapi ketika telat datang bulan dua minggu, hatinya langsung berdebar. Jangan-jangan?
Sore tadi, diam-diam Nayara beli testpack di apotek. Dia bilang ke Gilang mau ke salon, padahal cuma mau beli testpack. Malu kalau ketahuan terus hasilnya negatif. Malu sama Gilang. Malu sama diri sendiri.
Tapi hasilnya positif. Positif! Nayara hamil!
Sejam yang lalu Nayara sudah mandi, pakai baju tidur yang paling bagus, yang warna ungu muda dengan renda di bagian dada. Gilang suka warna ungu. Nayara juga sempat masak mie goreng pedas, makanan favorit Gilang kalau lagi capek. Dia tunggu Gilang pulang, mau kasih kejutan. Mau lihat wajah Gilang yang pasti bakal senang luar biasa.
Suara mesin mobil terdengar dari luar. Nayara langsung berdiri, merapikan rambutnya yang tergerai, menyembunyikan testpack di balik punggung. Jantungnya berdegup kencang. Dag dig dug. Dag dig dug. Seperti genderang perang.
Pintu terbuka. Gilang masuk dengan wajah kusut, dasi sudah lepas entah di mana, kemeja putihnya kusut dengan kancing atas terbuka. Mata merah, seperti orang yang kurang tidur berhari-hari.
"Mas!" Nayara menyambut dengan senyum lebar. "Akhirnya pulang juga!"
Gilang hanya melirik sekilas, lalu melempar tas kerjanya ke sofa. Bunyi gedebuk keras. Nayara tersentak sedikit.
"Capek banget. Jangan berisik." Suara Gilang serak, galak.
Senyum Nayara sedikit luntur. Tapi dia coba bertahan. "Aku masakin mie goreng, lho. Masih hangat. Mau makan dulu, Mas?"
"Tidak."
"Tapi, Mas kan belum makan malam. Kasihan nanti sakit perut."
"Bilang tidak ya tidak!" Gilang membentak. Keras. Suaranya menggelegar di ruang tamu yang sepi.
Nayara terdiam. Bibirnya bergetar. Gilang tidak pernah bentak dia sekeras ini. Tidak pernah. Bahkan waktu Nayara tidak sengaja jatuhkan piring kesayangan Gilang sampai pecah, Gilang cuma bilang, "Sudahlah, tidak apa-apa."
Tapi sekarang? Cuma ditawarin makan aja dibentak.
Gilang berjalan gontai ke arah tangga, seperti mau naik ke kamar. Nayara panik. Ini kesempatannya! Sekarang atau tidak sama sekali!
"Mas, tunggu!" Nayara berlari kecil, menarik lengan baju Gilang. "Aku, aku ada yang mau kasih tahu."
Gilang berhenti, menoleh dengan tatapan malas. "Apa? Cepat. Aku ngantuk."
Nayara menarik napas dalam-dalam. Tangannya berkeringat dingin, gemetar waktu mengeluarkan testpack dari balik punggung. "Ini, Mas. Lihat."
Gilang menatap benda di tangan Nayara. Diam beberapa detik. Seperti butuh waktu untuk otaknya memproses apa yang dia lihat.
"Aku hamil, Mas." Nayara tersenyum, air mata bahagia sudah berkumpul di pelupuk matanya. "Kita, kita akan punya anak."
Nayara menunggu reaksi Gilang. Menunggu Gilang tersenyum lebar, memeluknya erat, memutar-mutar tubuh Nayara sambil tertawa bahagia seperti di film-film. Menunggu Gilang bilang, "Benaran? Kamu hamil? Ya ampun, sayang! Aku senang sekali!"
Tapi yang keluar dari mulut Gilang cuma satu kata.
"Oh."
Nayara mengernyit. "Mas?"
"Bagus." Gilang mengangguk pelan, wajahnya datar. Seperti orang yang baru dikasih tahu kalau makan siang hari ini menu ayam goreng. Datar. Tidak ada ekspresi apa-apa.
"Bagus? Cuma, cuma itu doang?" Suara Nayara mulai bergetar.
Gilang melepas tangan Nayara dari lengannya, pelan tapi tegas. "Terus mau aku bilang apa lagi? Aku capek, Nayara. Besok aja kita bahas. Sekarang aku mau tidur."
Dan Gilang naik tangga. Begitu saja. Meninggalkan Nayara yang berdiri terpaku di bawah dengan testpack di tangan.
Nayara tidak bergerak. Tidak bisa bergerak. Kakinya seperti tertanam di lantai marmer dingin itu. Otaknya kosong. Benar-benar kosong. Seperti komputer yang tiba-tiba mati total.
Ini, ini bukan seperti yang dia bayangkan.
Gilang harusnya senang. Harusnya bahagia. Harusnya memeluk Nayara, mengangkat Nayara, bilang terima kasih sudah kasih kabar gembira.
Tapi yang Nayara dapat cuma "oh" dan "bagus" yang dingin sekali.
Nayara berjalan lunglai ke meja makan. Duduk di kursi yang tadi dia tunggu-tunggu buat Gilang. Piring mie goreng masih di sana, masih tertutup tudung saji plastik. Uap panasnya sudah hilang, pasti sudah dingin sekarang.
Nayara menatap piring itu kosong. Tangannya masih memegang testpack, menggenggamnya erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Kenapa? Kenapa Gilang begitu? Dia tidak senang? Tidak mau punya anak? Atau, atau Nayara salah waktu kasih tahunya? Mungkin Gilang terlalu capek jadi tidak bisa kasih respon yang baik?
Iya, pasti itu. Pasti karena Gilang capek. Besok kalau Gilang sudah istirahat cukup, pasti dia bakal minta maaf. Pasti dia bakal peluk Nayara, cium perut Nayara, bilang dia senang jadi calon ayah.
Pasti.
Tapi kenapa air mata Nayara tidak berhenti jatuh?
Kenapa dadanya sesak seperti ditimpa batu besar?
Kenapa tangannya gemetar tidak terkendali?
Nayara menundukkan kepala, memeluk perutnya sendiri yang masih rata. Di dalam sana ada janin kecil. Calon bayinya. Calon anak Gilang. Makhluk mungil yang belum punya bentuk, tapi sudah ada. Hidup. Bernapas dalam perutnya.
"Maafin Mama, sayang," bisik Nayara pelan, suaranya serak. "Maafin Mama karena Papa tidak senang sama kehadiran kamu."
Air mata makin deras. Nayara mencoba menahan isakannya, tapi gagal. Tubuhnya bergetar, bibirnya bergetar, semuanya bergetar tidak terkendali.
Ini seharusnya momen paling bahagia dalam hidup Nayara. Momen di mana dia tahu dia akan jadi ibu. Momen di mana dia bisa membayangkan bayi mungil di pelukannya, tertawa, memanggil "Mama" dengan suara cempreng.
Tapi sekarang? Momen indah itu hancur. Hancur berkeping-keping karena reaksi dingin Gilang.
Nayara teringat waktu bulan madu di Bali. Gilang bilang, "Nanti kalau sudah ada anak, rumah ini tidak akan sepi lagi." Waktu itu Gilang tersenyum, mata berbinar-binar, seperti tidak sabar punya anak.
Tapi sekarang? Anak yang dia tunggu-tunggu sudah ada di perut Nayara, kenapa malah dingin begitu?
Apa yang berubah?
Apa yang salah?
Apa Nayara yang salah?
Nayara menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis sekeras yang dia bisa. Tidak peduli kalau Gilang dengar dari atas. Tidak peduli kalau tetangga sebelah dengar. Dia tidak kuat lagi menahan.
Sakit. Sakit sekali.
Bukan sakit fisik. Tapi sakit yang lebih dalam dari itu. Sakit yang bikin Nayara merasa seperti jantungnya dicabut paksa dari dada.
"Ya Allah," isak Nayara di sela tangisannya. "Kenapa dia begitu? Kenapa dia tidak senang? Apa aku salah? Apa aku kurang baik jadi istri? Ya Allah, aku tidak kuat."
Tapi Allah tidak menjawab. Hanya keheningan malam yang menemani tangisan Nayara.
Nayara menangis sampai tidak ada air mata lagi. Matanya bengkak, hidungnya mampet, tenggorokannya sakit. Tubuhnya lemas seperti kain pel yang diperas kering.
Dia menatap piring mie goreng yang sudah pasti dingin itu. Tidak ada nafsu makan sama sekali. Perutnya mual. Mungkin karena hamil muda, atau mungkin karena hatinya terlalu sakit sampai perut ikut-ikutan sakit.
Nayara berdiri, mengangkat piring itu dengan tangan gemetar. Berjalan ke tempat sampah, membuka tudung sajinya, lalu membuang semua mie goreng itu.
Sia-sia. Semua sia-sia.
Dia masak dengan harapan Gilang bakal makan sambil senyum, sambil bilang terima kasih. Tapi sekarang masakan itu berakhir di tempat sampah.
Seperti harapan Nayara. Berakhir di tempat sampah hati Gilang.
Nayara mencuci piring dengan air dingin. Tangannya kaku, gerakan mekanis. Otaknya kosong. Hatinya lebih kosong lagi.
Selesai mencuci, Nayara berdiri di tengah dapur sendirian. Lampu dapur terlalu terang, bikin matanya perih. Tapi dia tidak mematikan lampunya. Dia butuh cahaya. Kalau gelap, dia takut tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Nayara menatap perutnya lagi. Tangannya mengelus pelan, merasakan kehangatan kulit sendiri.
"Mama janji akan sayang sama kamu," bisik Nayara. "Walau Papa tidak sayang, Mama akan sayang berlipat-lipat. Mama janji."
Dan Nayara berdiri di sana sampai pagi. Tidak tidur. Tidak kemana-mana. Hanya berdiri, memeluk perutnya sendiri, mencoba memberi kehangatan pada janin yang mungkin bisa merasakan kesedihan ibunya.
Gilang di atas sana tidur nyenyak. Tidak tahu atau tidak peduli kalau istrinya menangis seharian di bawah.
Tidak tahu atau tidak peduli kalau dia baru saja menghancurkan hati istri yang sangat mencintainya.
Tidak tahu atau mungkin memang tidak peduli sama sekali.
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭