Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.
Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.
______________________________________________
"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.
"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TRAUMA
Jayden sempat tersentak kaget, namun perlahan matanya terpejam. Rasa dingin dari minyak itu dan sentuhan tangan Calista yang ahli membuat kepalanya yang terasa mau pecah mendadak ringan.
"Kau... dari mana pelayan desa belajar memijat seperti ini?" gumam Jayden dengan suara serak, hampir seperti bisikan.
"Sudah kubilang, jangan banyak tanya, nikmati saja," jawab Calista sambil terus memijat.
"Anggap saja ini bagian dari layanan Penyihir Pelindung yang sedang dibicarakan di luar sana," lanjut Calista.
Jayden menarik napas panjang, menghirup aroma lavender dan kayu cendana yang menenangkan.
"Calista, jika suatu saat nanti semua ini sudah benar-benar stabil, apa yang akan kau lakukan? Kau tidak mungkin selamanya menjadi ibu susu Lorenzo," tanya Jayden, masih memejamkan mata nya.
Tangan Calista terhenti sejenak di dahi Jayden, pertanyaan itu membuatnya tersentak.
Di dunia lamanya, masa depan adalah sesuatu yang tidak pasti karena ia bisa mati kapan saja. Tapi di sini?
"Mungkin aku akan membangun pabrik senjata pertama di Florist," jawab Calista dengan nada bercanda yang menutupi keseriusannya.
"Atau mungkin aku akan menjadi penasihat pribadimu yang paling menyebalkan, mana yang lebih kau suka?" tanya Calista, tersenyum miring.
Jayden membuka matanya, menatap wajah Calista yang kini jaraknya hanya beberapa inci darinya.
"Aku lebih suka pilihan kedua, asal kamu berjanji tidak akan meledakkan kediaman ku setiap kali kamu merasa bosan," jawab Jayden, terkekeh kecil.
Calista tertawa kecil, suara tawa yang akhirnya membuat atmosfer di dalam kereta benar-benar mencair.
"Aku tidak janji soal itu, Jay," ucap Calista, meneruskan pijitin nya.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, kereta kuda itu akhirnya berhenti di depan kediaman utama Grand Duke.
Owen membukakan pintu dengan sangat hati-hati.
Begitu mereka turun, para pelayan menyambut dengan barisan yang rapi, namun mereka semua tetap diam sesuai perintah Jayden.
"SALAM YANG MULIA GRAND DUKE!"
"Pangeran Lorenzo baru saja tertidur, Yang Mulia," lapor salah satu pengasuh, mendekat dengan sopan.
Jayden hanya mengangguk, dengan raut wajah datar nya, lalu dia menatap Calista sejenak sebelum melangkah masuk.
"Terima kasih untuk yang di kereta tadi, itu sangat membantuku," ucap Jayden, membawa langkah kaki nya masuk ke dalam kediaman nya.
"Masuklah dan mandi air hangat, aku akan pergi ke dapur sebentar untuk menyiapkan teh herbal yang ku janjikan," ucap Calista.
"Owen, temani dia, pastikan dia tidak membakar dapur hanya karena ingin bereksperimen dengan bubuk mesiu," ucap Jayden sebelum dia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang jauh lebih ringan daripada saat dia berada di alun-alun tadi.
Calista menatap punggung Jayden yang menghilang di balik koridor besar istana, dia tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Owen yang sudah siap mengantarnya.
"Ayo, Owen, kita buatkan Grand Duke kita sesuatu yang bisa membuatnya bermimpi indah malam ini," ucap Calista riang, sangat jauh berbeda dengan kepribadian nya, yang kejam dan keras.
Calista berjalan masuk, menuju dapur, di ikuti oleh Owen di belakang nya, sesuai perintah dari Jayden, walaupun sebenarnya Owen merasa bingung dengan sifat Tuan nya, yang semakin hari semakin aneh.
Dia adalah kesatria yang tangguh, justru akhir-akhir ini Owen mendapatkan tugas dari sang Tuan, untuk mengawal Calista, seperti saat ini, dia sedang mengawal Calista ke dapur.
Sekali lagi, dapur! Bukan medan perang atupun kandang musuh.
Malam semakin larut, dan kediaman Grand Duke yang biasanya sunyi kini terasa seperti sedang menahan napas.
Setelah Jayden mandi air hangat, dia mencoba untuk memejamkan mata di ranjang besarnya. Namun, kegelapan kamar justru menjadi kanvas bagi kepingan memori yang paling ia benci.
Di dalam tidurnya, Jayden kembali ke malam itu, malam ketika dia melihat ayahnya tewas dengan mulut berbusa karena racun yang diberikan ibunya sendiri.
Lalu, bayangan itu berubah menjadi wajah kakaknya yang malang, mati karena pengkhianatan istrinya yang dia cintai.
"Semua wanita adalah racun, Jayden, mereka hanya mencintai tahta, bukan manusia di baliknya..." Suara dingin Isabella seolah berbisik di telinganya.
"TIDAK!"
Jayden tersentak bangun, dengan napas memburu, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Deg
Deg
Deg
Jantung Jayden berdegup sangat kencang hingga terasa menyakitkan.
Trauma itu kembali, rasa jijik dan benci yang mendalam terhadap sosok perempuan kembali menguasai dadanya.
Setiap kali dia menutup mata, Jayden selalu melihat pengkhianatan, bagi Jayden, perempuan adalah simbol kehancuran.
"Pergi!"
"AAAAKKKKHH!"
PRANG
PRANG
Malam itu Jayden kembali kehilangan kontrolnya, dia mengamuk, melempar semua barang yang ada di kamar nya.
Di sisi lain, Calista baru saja selesai menyeduh teh herbal nya, tapi saat dia berjalan melewati koridor kamar Jayden, telinga tajam agen rahasianya menangkap suara barang pecah dan erangan tertahan dari dalam kamar.
Tanpa mengetuk, Calista membuka pintu kamar Jayden dengan kasar.
Brak
"Jayden?!"
Calista menemukan Jayden terduduk di lantai, bersandar pada kaki tempat tidur.
Napas pria itu tersengal-sengal, dan dia tampak sedang mencengkeram dadanya sendiri.
Gelas kristal di sampingnya sudah hancur berkeping-keping.
Begitu melihat sosok wanita masuk, siapa pun itu, insting pertahanan diri Jayden langsung meledak.
"Jangan mendekat!" teriak Jayden, suaranya penuh kebencian dan ketakutan yang bercampur.
"Keluar! Jangan berani kau menyentuhku!" teriak Jayden, beringsut mundur, dengan rahang mengeras.
Calista terpaku di ambang pintu, dia melihat mata Jayden yang biasanya tajam kini penuh dengan ketakutan yang sangat dalam.
Sorot mata itu bukan ditujukan padanya sebagai Calista, melainkan pada trauma yang dia bawa.
"Jayden, ini aku, Calista," ucap Calista dengan suara tetap tenang, meski hatinya sedikit mencelos melihat kondisi pria itu.
"Pergi! Kau! Kalian semua sama saja!" raung Jayden, dengan mata memerah.
"Ibu membunuh Ayah, Ratu mengkhianati Kakak... kalian semua hanyalah ular yang menunggu waktu untuk menggigit!" jerit Jayden, melempar semua barang yang bisa di jangkau oleh tangan nya.
PRANG
PRANG
BRAK
Tanpa menghiraukan teriakan Jayden, dan pecahan beling yang berserakan di lantai, Calista perlahan meletakkan nampan tehnya di meja jauh dari Jayden.
Calista mengerti sekarang, luka Jayden bukan hanya soal kematian ibunya tadi siang, tapi soal tumpukan pengkhianatan yang dilakukan oleh wanita-wanita paling berpengaruh dalam hidupnya.
"Aku bukan ibumu, Jayden, dan aku bukan istri kakakmu," ucap Calista, melangkah maju dengan sangat perlahan, seolah sedang mendekati hewan liar yang terluka.
"BERHENTI!"
Teriak Jayden menghunuskan belati kecil yang selalu dia simpan di bawah bantal ke arah Calista.
"Satu langkah lagi, dan aku tidak akan ragu membunuhmu," ucap Jayden, dengan tangan bergetar.
Calista tidak berhenti, dia justru terus melangkah hingga ujung belati Jayden menyentuh permukaan gaun hitam di bagian dadanya.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.