Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJALANAN KE KOTA BESAR
Beberapa minggu setelah Caca mulai mahir dalam teknik pertahanan diri, Pak Hendra membawa kabar baik – klub menggambar mereka terpilih untuk mewakili kecamatan dalam lomba seni tingkat provinsi yang akan diadakan di Palangka Raya.
Selain itu, mereka juga akan mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi galeri seni kota dan mengikuti lokakarya dengan seniman terkenal dari Jakarta.
“Kita akan pergi selama tiga hari dua malam!” teriak Rafi dengan senang saat memberitahu kabar itu kepada keluarga dan warga kampung. “Ini adalah kesempatan besar untuk anak-anak kita menunjukkan bakat mereka dan belajar dari yang terbaik.”
Caca merasa sangat bersemangat tapi juga sedikit gugup. Ini adalah pertama kalinya dia pergi jauh dari kampung dan tinggal di kota besar.
Mama Lila dan ibu Caca segera mulai menyiapkan barang-barang yang diperlukan – dari baju seragam yang rapi hingga makanan bekal khas kampung yang selalu mereka bawa saat bepergian.
Pada hari keberangkatan, seluruh warga kampung datang untuk mengantar mereka di halte bus.
Anak-anak kecil dari klub menggambar memberikan karya gambar mereka sebagai hadiah untuk Rafi dan Caca, sementara Pak Bara memberikan nasihat penting sebelum mereka berangkat.
“Jangan lupa tujuan kalian pergi ke sana ya,” ujarnya dengan suara tegas tapi penuh cinta. “Belajar sebanyak mungkin, tunjukkan bahwa anak-anak dari kampung kita bisa bersaing dengan yang lain, dan selalu jaga diri serta teman-temanmu.”
Perjalanan dengan bus berlangsung sekitar tiga jam. Caca terus melihat keluar jendela dengan kagum, melihat pemandangan yang berubah dari hamparan sawah dan hutan menjadi gedung-gedung tinggi dan jalan raya yang ramai.
Rafi selalu ada di sisinya, menjelaskan setiap hal yang mereka lewati dan membuatnya merasa lebih nyaman.
Setelah tiba di kota, mereka langsung pergi ke hotel yang sudah disiapkan oleh panitia lomba. Caca merasa terkejut melihat kamar hotel yang bersih dan memiliki segala fasilitas yang belum pernah dia rasakan sebelumnya – mulai dari AC yang dingin hingga televisi dengan banyak saluran.
“Siang ini kita akan berlatih di ruang latihan yang disediakan, dan besok pagi adalah hari pelaksanaan lomba,” jelas Pak Hendra saat berkumpul dengan tim klub menggambar yang terdiri dari Rafi, Caca, Dika, dan tiga anak lain. “Malam ini kita akan pergi makan malam di restoran khas Palangka Raya dan mengunjungi alun-alun kota yang sedang ada acara malam.”
Malam itu, mereka pergi ke alun-alun kota yang penuh dengan lampu-lampu warna-warni dan orang ramai yang sedang bersantai.
Caca melihat banyak hal yang baru – dari penjual makanan jalanan yang menjajakan hidangan khas kota hingga anak-anak muda yang sedang bermain musik jalanan.
Saat mereka sedang menikmati es krim di sebuah kios kecil, tiba-tiba Caca melihat seorang pria yang sedang mencoba mengambil dompet dari kantong seorang wanita yang sedang sibuk melihat pameran kerajinan tangan. Tanpa berpikir panjang, dia segera berdiri dan mendekati mereka dengan hati-hati.
Rafi yang menyadari ada yang tidak beres segera mengikuti Caca. Saat pria itu hampir berhasil mengambil dompetnya, Caca dengan cepat menepuk tangan wanita itu dan berkata dengan suara lantang, “Bu, ada serangga besar di bahumu!”
Wanita itu terkejut dan segera menyentuh bahunya, membuat pria itu terkejut dan harus berhenti dari usahanya. Rafi sudah menghubungi petugas keamanan yang ada di sekitar alun-alun, dan pria itu segera ditangkap sebelum bisa melarikan diri.
“Terima kasih banyak ya anak-anak,” ujar wanita itu dengan penuh rasa syukur setelah mengambil dompetnya yang masih aman. “Kalau bukan karena kalian, saya sudah kehilangan dompet yang berisi uang dan dokumen penting.”
Ketika wanita itu melihat seragam klub menggambar yang mereka kenakan, dia langsung tersenyum dengan lebih lebar. “Oh, kalian adalah peserta lomba seni tingkat provinsi ya? Saya adalah ibu dari salah satu panitia lomba, Bu Dewi. Kalian sudah menunjukkan bahwa bukan hanya bakat seni yang kalian punya, tapi juga hati yang baik dan keberanian untuk membantu orang lain.”
Keesokan harinya, hari pelaksanaan lomba tiba. Tema lomba tahun ini adalah “Bumi Kita yang Indah”, dan setiap tim harus membuat lukisan besar yang menggambarkan cinta pada alam dan lingkungan. Rafi dan Caca bekerja sama dengan teman-teman mereka, menggabungkan ide-ide dari kampung mereka – seperti sawah hijau yang luas, hutan yang rindang, dan sungai yang jernih – dengan ide-ide baru yang mereka lihat selama di kota.
Selama proses menggambar, Bu Dewi datang untuk melihat karya mereka dan memberikan pujian hangat. “Karya kalian sangat otentik dan penuh perasaan,” ujarnya dengan kagum. “Kalian benar-benar menunjukkan keindahan alam dari sudut pandang anak-anak yang hidup dekat dengannya.”
Setelah semua tim menyelesaikan karyanya, juri melakukan penilaian dengan cermat. Sementara itu, mereka mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi galeri seni kota yang menampilkan karya-karya seniman terkenal dari seluruh Indonesia.
Caca merasa sangat terinspirasi melihat lukisan-lukisan yang indah dan mendengar penjelasan tentang teknik dan makna di balik setiap karya.
Pada malam hari, acara penutupan dan pemberian penghargaan dilaksanakan di aula hotel besar. Klub menggambar dari kampung mereka berhasil meraih juara kedua – sebuah prestasi yang sangat membanggakan karena mereka bersaing dengan puluhan tim dari seluruh provinsi.
“Kami sangat bangga pada kalian semua,” ujar Pak Hendra saat mengangkat piala bersama anak-anak. “Kalian tidak hanya menunjukkan bakat seni yang luar biasa, tapi juga menunjukkan karakter yang baik dan semangat kerja sama yang tinggi.”
Sebelum pulang ke kampung keesokan harinya, Bu Dewi mengundang mereka untuk mengunjungi rumahnya dan memberikan beberapa buku seni serta alat lukis baru untuk klub mereka. “Saya akan juga merekomendasikan klub kalian untuk mendapatkan bantuan dana dari yayasan kami,” ujarnya dengan senyum hangat. “Semoga kalian bisa terus berkembang dan membawa kebahagiaan melalui seni bagi lebih banyak anak-anak.”
Perjalanan pulang dengan bus terasa lebih menyenangkan dengan penuh cerita dan kenangan baru. Rafi dan Caca duduk beriringan, melihat pemandangan yang semakin jauh dari kota dan kembali ke hamparan alam yang mereka kenal.
“Kita harus membawa anak-anak lain ke kota juga suatu hari nanti ya, Rafi,” ujar Caca dengan penuh semangat. “Jadi mereka juga bisa melihat dunia yang lebih luas dan mendapatkan inspirasi baru untuk menggambar.”
Rafi mengangguk dengan senyum. “Tentu saja, Caca. Kita akan bekerja keras agar klub kita bisa terus berkembang dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua anak-anak di kampung kita. Ini baru permulaan dari banyak hal baik yang akan kita lakukan bersama.”