Genre: Romance Drama
"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."
Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.
Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.
Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Kebenaran Di Balik Korupsi Yg Dibuatkan
Berita bohong tentang korupsi dana beasiswa menyebar seperti api di padang rumput kering. Dalam waktu beberapa jam saja, nama Bumi Kreatif Indonesia kembali muncul di media dengan berita negatif. Masyarakat Karo yang baru saja mulai mempercayai mereka kini kembali menunjukkan sikap yang tidak puas dan bahkan marah.
"Kita sudah bilang kan! Mereka hanya ingin mengambil keuntungan dari kita!" teriak salah satu warga dengan emosi yang tinggi. "Kita tidak bisa mempercayai orang luar yang datang dengan janji manis!"
Malik berdiri di tengah kerumunan dengan wajah yang penuh kebingungan dan rasa sakit. Dia benar-benar percaya pada Nara dan program mereka, tapi berita yang ada di koran sangat meyakinkan dengan dokumen dan bukti yang tampak sah.
"Silakan beri kami kesempatan untuk membuktikan bahwa ini semua adalah kebohongan!" ucap Nara dengan suara yang jelas dan kuat, membuat seluruh kerumunan menjadi sunyi. "Kami siap untuk membuka semua data keuangan kami dan melakukan pemeriksaan bersama pihak berwenang. Jika ada satu pun uang yang disalahgunakan, kami siap untuk menerima konsekuensinya!"
Pak Haji Dahlan yang melihat semuanya dengan tenang kemudian mengangkat tangan. "Aku tahu kamu dengan baik selama beberapa hari ini, Nara. Aku mau memberi kamu kesempatan untuk membuktikan kebenaranmu. Tapi kamu harus bekerja cepat sebelum berita ini menyebar lebih jauh dan merusak nama baik daerah kita juga."
DI RUANGAN KECIL PUSAT PENDIDIKAN KREATIF
Nara dan timnya berkumpul dengan serius, sedang menghubungi tim hukum dan keuangan kampus di Jakarta. Ponsel Nara terus berdering dengan panggilan dari media dan pihak terkait, tapi dia fokus pada satu hal saja – menemukan siapa yang sebenarnya melakukan kebohongan ini.
"Semua dokumen yang mereka tunjukkan adalah palsu," ucap Rendra dengan suara yang penuh kemarahan setelah berbicara dengan tim keuangan. "Tanda tangan di sana mirip dengan milikku dan Nara, tapi kalau diperiksa dengan cermat akan terlihat bahwa itu telah dimodifikasi secara digital."
"Kita sudah mengetahui siapa yang melakukan ini," tambah Dito yang sedang melihat data dari sistem keamanan kampus. "Ada seseorang yang masuk ke sistem kita semalam dan mengubah beberapa data keuangan. Kami sedang melacak alamat IP yang digunakan untuk melakukan hal itu."
Reza yang sedang berbicara dengan polisi lalu lintas daerah Karo kemudian masuk ke ruangan. "Polisi menemukan kamera tersembunyi di sekitar pusat pendidikan kreatif kita. Mereka juga menemukan jejak kaki yang cocok dengan sepatu yang digunakan Rio Pratama."
"Tapi ini tidak mungkin," ucap Lina yang baru saja datang dari Jakarta dengan membawa dokumen asli. "Rio tidak bisa melakukan ini sendirian. Dia butuh bantuan orang dari dalam kampus yang tahu sistem dan data kita dengan baik."
Nara merenung sejenak. Dia tahu bahwa ada orang di dalam tim yang tidak senang dengan perkembangan program mereka, tapi dia tidak pernah menyangka bahwa ada orang yang bersedia bekerja sama dengan Rio untuk menghancurkan semua yang telah mereka bangun.
"Kita harus mencari tahu siapa orang yang bekerja sama dengan Rio," ucap Nara dengan tekad yang kuat. "Kita tidak bisa membiarkan orang yang tidak bertanggung jawab ini merusak masa depan anak-anak yang kita bantu."
DI KANTOR KEPOLISIAN KARO
Nara dan timnya datang untuk melaporkan kasus pemalsuan dokumen dan penyebaran berita bohong. Mereka membawa dokumen asli yang telah diverifikasi oleh notaris dan ahli forensik digital yang membuktikan bahwa dokumen yang beredar di media adalah palsu.
"Kami akan melakukan penyelidikan secara menyeluruh," ucap Kepala Kepolisian Karo, AKBP Siregar. "Kita tidak bisa membiarkan orang-orang yang melakukan kebohongan ini bebas dan terus merusak nama baik institusi yang bekerja untuk kebaikan masyarakat."
Sementara itu, Reza sedang mengikuti jejak Rio yang terakhir dilihat di sekitar pasar lokal. Dia bertanya kepada beberapa pedagang dan akhirnya menemukan bahwa Rio telah menginap di sebuah penginapan kecil di pinggir kota.
Ketika dia sampai di penginapan tersebut, dia menemukan bahwa kamar yang ditempati Rio sudah kosong. Tapi di atas meja terdapat sebuah kertas dengan tulisan tangan yang terbakar sebagian:
"Kamu tidak akan pernah menang... mereka akan tahu bahwa kamu semua adalah penipu... cari tahu tentang proyek rahasia Pak Bambang..."
Reza segera mengambil kertas tersebut dan menghubungi Nara. Kalimat tentang proyek rahasia Pak Bambang membuat mereka semua penasaran – apa maksudnya? Bukankah semua warisan Pak Bambang sudah mereka terima dan kelola dengan baik?
MALAM HARI – DI RUMAH IBU SANTOSO (IBU PAK BAMBANG)
Nara dan Clara memutuskan untuk pergi ke rumah Ibu Santoso di Jawa Tengah untuk mencari tahu tentang proyek rahasia yang disebutkan oleh Rio. Mereka tiba di rumah tersebut pada malam hari dan langsung disambut oleh Ibu Santoso yang sudah menunggunya dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
"Aku sudah tahu tentang berita yang sedang beredar," ucap Ibu Santoso dengan suara lembut. "Aku tahu bahwa kamu tidak akan melakukan hal seperti itu, Nara. Itu sebabnya aku sudah menunggu kamu untuk memberitahukan sesuatu yang belum pernah aku katakan kepada siapapun."
Dia membawa mereka ke ruangan bawah tanah yang sudah tidak digunakan sejak lama. Di dalam ruangan tersebut terdapat banyak kotak kayu yang penuh dengan dokumen dan rekaman lama.
"Ini adalah semua catatan Pak Bambang tentang proyek yang dia rencanakan sebelum wafat," ucap Ibu Santoso sambil membuka salah satu kotak besar. "Ada sebuah proyek besar yang dia rencanakan bersama beberapa pengusaha ternama di Indonesia – proyek untuk membangun jaringan pendidikan kreatif yang menghubungkan seluruh pelosok negeri."
Dia menunjukkan sebuah dokumen yang berisi nama-nama pengusaha ternama, termasuk beberapa yang sekarang menjadi pesaing bisnis mereka. "Namun tidak semua orang setuju dengan visi Pak Bambang. Ada beberapa orang yang ingin mengambil alih proyek tersebut dan mengubahnya menjadi bisnis yang menguntungkan diri mereka sendiri."
"Apakah salah satu dari mereka adalah orang yang bekerja sama dengan Rio?" tanya Clara dengan suara yang serius.
Ibu Santoso mengangguk perlahan. "Ada seseorang yang dulu bekerja sangat dekat dengan Pak Bambang, tapi kemudian berbalik karena tidak mendapatkan bagian yang dia inginkan. Dia sangat marah dan berjanji bahwa dia akan mengambil alih semua yang dimiliki Pak Bambang suatu hari nanti."
Dia mengambil sebuah foto lama dan menunjukkan kepada mereka seorang pria muda yang berdiri bersama Pak Bambang. "Namanya adalah Hendra Wijaya – sekarang dia adalah pemilik salah satu perusahaan pendidikan terbesar di Indonesia. Dia adalah orang yang paling mungkin bekerja sama dengan Rio untuk menghancurkan program kita."
DI KAMPUS BUMI KREATIF INDONESIA – JAKARTA
Setelah kembali dari Jawa Tengah, Nara dan timnya berkumpul dengan seluruh staf kampus untuk mengungkap siapa yang bekerja sama dengan Rio dari dalam. Dengan bantuan tim keamanan dan ahli teknologi informasi, mereka berhasil melacak bahwa seseorang dari departemen keuangan telah memberikan akses sistem kepada Rio.
"Saya sungguh menyesal," ucap Dewi – seorang staf keuangan yang telah bekerja di kampus selama dua tahun. "Hendra Wijaya datang kepada saya dan mengatakan bahwa dia akan membayar hutang keluarga saya jika saya membantu dia mendapatkan akses ke sistem kita. Saya takut dan tidak punya pilihan lain."
Dewi kemudian memberikan semua bukti yang dia miliki – pesan teks, email, dan rekaman panggilan yang menunjukkan bahwa Hendra adalah dalang di balik semua masalah yang mereka alami, termasuk pemalsuan dokumen dan penyebaran berita bohong.
"Kita sekarang memiliki bukti yang cukup untuk melaporkannya ke pihak berwenang," ucap tim hukum kampus. "Kita bisa membuktikan bahwa semua tuduhan terhadap kampus adalah kebohongan yang direncanakan secara sistematis."
DI KARO – HARI BERIKUTNYA
Nara dan timnya kembali ke Karo dengan membawa semua bukti yang mereka kumpulkan. Mereka mengundang seluruh masyarakat, pemuka lokal, dan wartawan untuk berkumpul di lapangan desa untuk membuktikan kebenaran.
Dito mulai mempresentasikan semua bukti – dokumen asli yang telah diverifikasi, hasil pemeriksaan ahli forensik digital, dan kesaksian dari Dewi serta pihak kepolisian. Dia juga menunjukkan bukti bahwa Hendra Wijaya adalah orang yang mendanai Rio untuk melakukan semua tindakan tersebut karena dia melihat Bumi Kreatif Indonesia sebagai ancaman bagi bisnisnya.
"Kita tidak pernah menyalahgunakan dana beasiswa untuk keperluan pribadi," ucap Nara dengan suara yang jelas dan penuh keyakinan. "Setiap uang yang masuk ke kampus digunakan untuk membantu anak-anak yang membutuhkan – dari biaya pendidikan hingga bantuan ekonomi bagi keluarga mereka."
Dia kemudian menunjukkan data rinci tentang penggunaan dana – mulai dari daftar anak-anak yang menerima beasiswa hingga bukti pembayaran untuk pembelian alat pendidikan dan bahan seni. Semua data tersebut transparan dan bisa diperiksa oleh siapa saja.
Malik yang melihat semua bukti tersebut kemudian berdiri dan mengambil mikrofon. "Saya salah besar untuk tidak mempercayai kalian. Saya seharusnya lebih bijak dan tidak langsung mempercayai berita yang belum terbukti kebenarannya."
Dia melihat ke arah masyarakat dengan tekad yang kuat. "Tetapi sekarang kita tahu bahwa program ini benar-benar dibuat untuk membantu kita. Mari kita bekerja sama dengan mereka untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi daerah Karo dan anak-anak kita!"
Seluruh masyarakat memberikan tepuk tangan yang meriah dan mulai datang mendekati Nara dan timnya untuk meminta maaf dan menyatakan dukungan mereka terhadap program tersebut. Pak Haji Dahlan bahkan datang dan memeluk Nara dengan penuh rasa hormat.
"Saya minta maaf atas segala kesalahpahaman," ucap Pak Haji. "Kita akan mendukung program ini dengan sepenuh hati dan bekerja sama untuk membuatnya sukses.
Pada malam hari, saat mereka sedang merayakan keberhasilan membuktikan kebenaran, Nara menerima panggilan dari polisi yang mengatakan bahwa mereka telah menangkap Rio di pelabuhan Belawan saat dia sedang mencoba kabur ke luar negeri. Rio akhirnya mengaku bahwa dia bekerja sama dengan Hendra Wijaya dan bahkan memberikan informasi tentang rencana besar Hendra untuk mengambil alih semua aset yang ditinggalkan Pak Bambang.
Namun saat mereka sedang bersiap untuk melaporkan Hendra ke pihak berwenang, mereka mendapatkan kabar mengejutkan – Hendra telah mengajukan gugatan hukum terhadap Bumi Kreatif Indonesia dengan tuduhan yang sama sekali baru:
"BUMI KREATIF INDONESIA MENYALAHAKSES RUMAH TANGGA DAN HAK MILIK WARISAN PAK BAMBANG!"
Hendra mengklaim bahwa dia adalah ahli waris sah Pak Bambang karena telah diadopsi secara diam-diam oleh keluarga tersebut sebelum Pak Bambang wafat. Dia membawa dokumen yang tampak sah dan bahkan memiliki saksi yang bersedia bersumpah tentang hal tersebut.
Apakah dokumen yang dibawa Hendra adalah asli atau hanya pemalsuan lain? Dan bagaimana cara Nara dan timnya membuktikan bahwa mereka adalah pihak yang berhak mengelola warisan Pak Bambang untuk kebaikan masyarakat?
Selain itu, Clara menemukan sebuah surat rahasia yang ditulis oleh Pak Bambang sebelum wafat yang menyatakan bahwa ada seseorang yang dia percayai untuk melindungi warisan tersebut jika terjadi masalah seperti ini – seseorang yang tidak lain adalah orang yang sangat dekat dengan Nara dan telah membantu dia sejak awal...