Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11.Akan pergi.
Lampu minyak di kamar Yun Lan bergoyang pelan tertiup angin malam yang menyusup dari celah jendela kayu.
Bayangannya menari di dinding.
Seperti hatinya.
Tidak tenang. Tidak ragu. Tetapi berdenyut cepat oleh keputusan yang sudah bulat.
Di atas meja kecil, tergeletak dua benda yang membuat napasnya terasa berat setiap kali dipandang.
Gulungan titah kaisar.
Dan plakat keluarga Li.
Plakat itu terbuat dari kayu hitam mengilap, dengan ukiran lambang keluarga yang sederhana namun tegas. Benda itu jarang sekali disentuh. Biasanya tergantung diam di dinding ruang utama sebagai simbol masa lalu yang tidak pernah mereka bicarakan lagi.
Masa lalu ayahnya.
Masa lalu yang kini memanggil kembali.
Yun Lan berdiri lama di depan meja.
Tangannya tidak langsung bergerak.
Bukan karena takut.
Tetapi karena ia tahu, begitu kedua benda itu masuk ke dalam tas kainnya… tidak ada jalan kembali.
Ia mengembuskan napas pelan.
“Ayah tidak boleh pergi,” gumamnya pelan.
Ia mulai bergerak.
Tas kain tua dibentangkan di atas ranjang. Ia tidak membawa banyak barang. Hanya pakaian ganti seperlunya, kain perban, pisau kecil, beberapa koin perak, dan botol kecil minyak gosok.
Gerakannya cepat. Terlatih. Tenang.
Seolah ini bukan pertama kalinya ia bersiap pergi tanpa kepastian kapan akan kembali.
Setelah semuanya masuk, tangannya berhenti di atas gulungan titah.
Jarinya menyentuh kain pembungkusnya pelan.
Dingin.
Seperti perintah itu sendiri.
Ia teringat wajah ayahnya pagi tadi.
Terlalu tenang saat menerima titah itu.
Terlalu siap.
Dan itu yang paling menakutkan.
Perlahan, Yun Lan mengambil gulungan itu dan memasukkannya ke dalam tas.
Lalu pandangannya beralih ke plakat keluarga Li.
Untuk beberapa detik, ia hanya menatapnya.
Plakat itu bukan sekadar identitas.
Itu adalah nama ayahnya.
Kehormatan ayahnya.
Kehidupan ayahnya.
Dan malam ini… ia akan membawanya pergi.
“Aku pinjam dulu, Ayah,” bisiknya pelan.
Ia mengambil plakat itu.
Menyelipkannya di bagian terdalam tas.
Jantungnya berdetak lebih keras.
Ia tahu apa artinya ini.
Ia tidak sekadar pergi.
Ia akan pergi sebagai bukan sebagai perempuan.
Tetapi sebagai anak lelaki Jenderal Li.
Yun Lan menyampirkan tas ke bahunya.
Lalu berjalan pelan menuju pintu kamar.
Ia berhenti sejenak.
Menoleh ke dalam ruangan.
Tempat ia tumbuh.
Tempat ia tertawa.
Tempat ia menangis diam-diam.
“Maaf, Ibu mungkin aku harus jadi anak pembangkang.Tapi semua ini aku lakukan untuk keselamatan ayah dan keluarga kita.” ucapnya lirih.
Ia membuka pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Halaman rumah gelap. Hanya diterangi cahaya bulan yang separuh tertutup awan.
Angin malam membawa bau tanah basah.
Langkahnya ringan.
Cepat.
Pasti.
Ia sudah memperhitungkan semuanya.
Jika ia pergi sebelum fajar, ayahnya tidak akan sempat menyusul.
Jika ayahnya sadar, ia tidak mungkin mengumumkan bahwa anak perempuannya kabur membawa titah kaisar.
Ayahnya akan terjebak.
Tidak bisa mengejar.
Tidak bisa membuka identitas Yun Lan.
Dan tidak bisa pergi ke medan perang.
Rencana ini berbahaya.
Tetapi sempurna.
Yun Lan hampir mencapai gerbang kayu rumah ketika—
Krek.
Suara kayu dibuka dari luar.
Tubuh Yun Lan langsung membeku.
Jantungnya seperti berhenti berdetak.
Gerbang terbuka perlahan.
Dan di sana…
Berdiri ibunya.
Disinari cahaya bulan pucat.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
Yun Lan tidak sempat menyembunyikan tas di bahunya.
Tidak sempat berpura-pura.
Mereka saling menatap.
Diam.
Beberapa detik yang terasa sangat panjang.
Yun Lan sudah siap dengan penjelasan.
Siap dengan pembelaan.
Siap dengan penolakan.
Siap dengan air mata.
“Ibu, aku—”
“Pergilah.”
Yun Lan terdiam.
Kalimat itu tidak sesuai dengan semua kemungkinan yang sudah ia bayangkan.
Ia menatap ibunya, tidak yakin ia mendengar dengan benar.
“Ibu…?”
Ibu Yun Lan melangkah masuk ke halaman.
Menutup gerbang perlahan di belakangnya.
Tatapannya jatuh pada tas di bahu putrinya.
Pada wajah yang keras kepala itu.
Dan entah kenapa…
Ia tidak lagi melihat anak kecil yang dulu selalu bersembunyi di balik punggungnya.
Ia melihat seseorang yang sangat mirip dengan suaminya.
“Kau mau pergi sebelum fajar, bukan?” tanya ibunya pelan.
Yun Lan tidak menjawab.
Tidak perlu.
Ibu Yun Lan mengangguk pelan.
“Aku sudah tahu.”
Yun Lan membeku.
“Ibu tidak marah?” suaranya nyaris tidak terdengar.
Ibu Yun Lan menggeleng.
Air matanya jatuh, tetapi wajahnya tersenyum tipis.
“Ibu baru saja dari rumah tabib.”
Jantung Yun Lan langsung berdegup keras.
“Ayah—?”
“Ayahmu butuh pemulihan cukup lama,” lanjut ibunya pelan. “Luka lama akibat tenaga dalam yang dipaksa bertahun-tahun lalu… mulai menyerang,dan kamu benar tentang semua itu.”
Wajah Yun Lan berubah.
Tangannya mengencang pada tali tas.
“Tabib bilang, kalau ayahmu kembali menggunakan tenaga dalamnya di medan perang…”
Ibunya menatap lurus ke mata putrinya.
“…ayahmu tidak akan selamat.”
Dunia Yun Lan seperti berhenti.
Ia sudah menduga.
Ia sudah curiga.
Tetapi mendengarnya langsung…
Rasanya berbeda.
Lebih tajam.
Lebih nyata.
Lebih menyakitkan.
“Itulah sebabnya,” lanjut ibunya dengan suara yang kini jauh lebih mantap, “ibu tidak akan menghentikanmu.”
Yun Lan menatap ibunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Ibu…”
“Ibu salah,” ucap ibunya pelan. “Ibu kira kau nekat. Ibu kira kau keras kepala. Tapi ternyata… kau satu-satunya yang berpikir jernih sejak awal.”
Air mata Yun Lan jatuh tanpa bisa ditahan.
Ibunya melangkah mendekat.
Mengusap pipi putrinya seperti ketika ia masih kecil.
“Pergilah, Yun Lan.”
Suara itu lembut.
Namun penuh keputusan.
“Tapi kamu pergi harus dengan persiapan yang matang, dan ibu akan membantumu.”
Tubuh Yun Lan gemetar.
“Bagaimana jika ayah tahu?”
Ibunya tersenyum kecil.
“Ibu akan berusaha menutupi selama mungkin dari ayahmu, sekarang nasib masa depan keluarga kita ada di tanganmu.”
Yun Lan tertawa kecil di sela tangis.
Ibunya menatap tas di bahunya.
“Sepertinya kamu sudah mempersiapkan segalanya.”
Yun Lan mengangguk pelan.
Ibunya tidak terkejut.
Hanya menghela napas panjang.
“Tapi ada hal yang kamu harus lebih persiapkan,disana banyak rintangan mulai pemeriksaan fisik, berkumpul dengan para pria baik itu mandi ataupun tidur.Apa kamu siap?.”
Kalimat itu membuat dada Yun Lan terasa sesak, tapi tidak memundurkan tekadnya.
“Aku tahu bu, aku akan berusaha agar mereka tidak mengetahui kalau aku wanita. ”
“Biarkan ibu mendandani mu sebagai putra ibu. ”
Ibu Yun lan menggandeng tangan anaknya ke kamar pribadi mereka, saat ibunya mencari pakaian bekas ayahnya yang dulu bertubuh besar seperti Yun lan.
“Coba pakailah ini!, ini pakaian ayahmu waktu muda. Untungnya dirinya juga bertubuh gemuk seperti mu. ”sambil mengulurkan beberapa pakaian suaminya pada putrinya.
Yun lan pun menerimanya,dengan bantuan ibunya yang menutupi erat bagian dada Yun lan dengan kain panjang dan membantu putrinya cara berpakaian seperti pria sesungguhnya.
Setelah selesai Yun lan di suruh ibunya duduk di kursi kamar mereka, dan melepaskan ikat rambut anaknya serta perhiasan.
“Ibu mau apa dengan rambutku?. ”
“Rambut pria tidak sepanjang rambut wanita, apalagi jika kamu menjadi prajurit itu akan sangat merepotkan. ”
Yun lan hanya terdiam dan menuruti saran ibunya, lalu ibunya mengunting rambut anaknya di bawah pundak.
Dan mengikatnya seperti rambut seorang pria,setelah itu ibunya membawakan arang untuk menjadikan warna tubuh anaknya yang putih terlihat seperti pria pekerja keras.
Setelah semua persiapan selesai, sekarang yang berdiri di hadapan nyonya Li adalah putra nya buka putri yang manis.
“Apa aku terlihat seperti pria, bu. ”
“Sempurna, dengan tubuh besarmu ini cocok untuk ukuran pria di desa. ”
Mereka pun tersenyum, untuk terakhir kalinya.
Ibunya sendiri yang mengizinkannya, tanpa ragu dia memandangi putrinya.
“Mulai malam ini,” lanjut ibunya, “kau bukan lagi putriku di mata dunia.”
Ia menggenggam kedua bahu Yun Lan.
“Kau adalah anak lelaki Jenderal Li.”
Yun Lan mengangguk.
Tangisnya semakin deras.
Ibunya menariknya ke dalam pelukan.
Pelukan yang hangat.
Pelukan yang lama.
Pelukan yang penuh restu.
“Ibu akan menjaga ayahmu di sini,” bisiknya di telinga Yun Lan. “Dan kau… jaga namanya di sana.”
Mereka berpisah pelan.
Ibu Yun Lan menyeka air mata putrinya dengan ibu jari.