Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak Kemesraan dan Jebakan Digital
Nara Amelinda merasa dunia sedang melakukan prank besar-besaran terhadap hidupnya.
Di hadapannya, sebuah tablet menampilkan foto yang kini sudah dibagikan ribuan kali di media sosial. Foto itu memperlihatkan Arga yang sedang menatapnya intens (padahal aslinya Arga sedang menghitung sisa noda cokelat di gigi Nara) dan Nara yang tersenyum manis sambil menyandarkan kepala (padahal aslinya Nara sedang mengantuk berat).
Masalahnya bukan cuma fotonya, tapi caption yang menyertainya,
"Definisi cinta yang tenang. Segera menuju pelaminan."
"Ini... ini beneran nggak bisa di-takedown?" tanya Nara dengan suara yang hampir habis.
Arga Wiratama, pria yang kini duduk di depannya dengan kemeja yang masih rapi meskipun hari sudah malam, hanya menggeleng pelan.
"Algoritma tidak mengenal kata maaf, Nara. Secara teknis, foto ini sudah tersimpan di ribuan server. Menghapusnya sekarang justru akan menimbulkan kecurigaan publik dan merusak kredibilitas keluarga kita."
"Server? Algoritma? Kredibilitas?" Nara mengulang kata-kata itu dengan nada tinggi yang hampir melengking.
"Arga, kita ini lagi ngomongin nasib hidup aku, bukan lagi bahas strategi marketing perusahaan startup!"
Nara menggebrak meja, tapi kemudian meringis sendiri karena tangannya sakit.
"Cinta yang tenang katanya? Tenang dari mana! Di foto ini aku kelihatan kayak lagi mimpi dapet duren runtuh, padahal aku cuma lagi nahan iler karena ngantuk dengerin kamu ceramah soal inflasi!"
Arga menaikkan sebelah alisnya, tetap tenang.
"Setidaknya di situ kamu terlihat bahagia. Secara visual, itu menguntungkan."
"Menguntungkan gundulmu!" semprot Nara, tangannya bergerak liar di udara.
"Lihat deh muka kamu di sini. Tatapan kamu itu... itu bukan tatapan cinta, Arga! Kamu itu lagi natap aku kayak lagi nemu error di laporan keuangan! Kamu lagi ngitung sisa cokelat di gigi aku, kan? Ngaku nggak!"
Arga terdiam sejenak, lalu berdehem kaku.
"Secara spesifik, saya sedang mengevaluasi kebersihan dental kamu agar foto kita tidak terlihat cacat secara estetika."
"Tuh, kan! Tuh, kan!" Nara menunjuk wajah Arga dengan jari gemetar.
"Kamu emang robot! Orang-orang mikir ini momen romance paling sweet se-Indonesia Raya, padahal aslinya ini momen pengecekan plak gigi! Kalau mereka tahu kebenarannya, mereka bakal minta refund kuota internet!"
Nara menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas, menatap langit-langit kafe.
"Habis sudah masa mudaku. Gara-gara satu foto dan satu caption sok puitis ini, aku bakal terikat sama kulkas dua pintu yang bahkan nggak tahu cara senyum tanpa alasan logis. Ma, Nara mau jadi ubur-ubur aja, nggak usah punya tulang, nggak usah punya beban pikiran, dan yang pasti... nggak usah punya tunangan kayak Arga!"
Arga hanya menatapnya datar.
"Ubur-ubur tidak memiliki otak, Nara. Saya rasa itu posisi yang cukup relevan dengan kondisi kamu sekarang yang sedang histeris."
"ARGA!!!"
Tiga puluh menit yang lalu, Ayah Nara menelepon dengan suara terharu.
"Nara, Papa bangga. Ternyata kamu diam-diam sudah sedekat itu dengan Arga. Papa sudah bicara dengan Pak Wiratama, kita percepat saja semuanya."
Nara ingin teriak, ingin bilang kalau itu semua hanya sandiwara agar mereka tidak dijodohkan dengan orang lain yang lebih parah. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan buburnya pun sudah tumpah ke media sosial.
"Jadi... kita beneran harus lanjut?" Nara menatap Arga, berharap pria itu punya solusi logis untuk membatalkan semuanya.
Arga menghela napas panjang. Ia meletakkan kacamata bacanya di meja.
"Ayah saya sudah memesan gedung dan kakek saya sudah mulai menyebar undangan ke relasi bisnisnya. Secara profesional, membatalkan ini akan menyebabkan kerugian reputasi sebesar 80% bagi kedua belah pihak."
"Tapi kita nggak cinta, Arga!"
"Cinta adalah variabel yang bisa dimanipulasi seiring berjalannya waktu," sahut Arga datar.
"Tapi kewajiban adalah konstanta. Saya menerima pernikahan ini demi kewajiban keluarga dan kamu... sepertinya kamu tidak punya pilihan lain kecuali ikut masuk ke dalam skenario ini."
Nara mendengus.
"Oke... Kalau emang kita harus nikah karena foto sialan itu, kita butuh aturan. Aku nggak mau hidup kayak di penjara kaku kamu."
Nara mengambil buku catatannya.
"Kita bikin Kontrak Kemesraan Publik. Kita hanya mesra kalau ada kamera atau ada keluarga. Di luar itu? Kita asing."
Arga mengangguk setuju.
"Tambahkan poin untuk Efisiensi Interaksi. Saya tidak mau kamu mengganggu jam kerja saya dengan drama rumah tangga yang tidak perlu."
"Satu lagi!" sela Nara.
"Dilarang baper! Siapa yang baper duluan, dia harus bayar denda satu miliar!"
Arga menaikkan alisnya.
"Satu miliar? Angka yang cukup ambisius untuk seseorang yang tabungannya sering habis buat beli merchandise K-Pop."
"Diem kamu, Pak Audit! Pokoknya tanda tangan!"
Mereka berdua membubuhkan tanda tangan di atas kertas coret-coretan itu. Sebuah pakta pertahanan dari perasaan yang mereka klaim tidak ada.
Dua hari sebelum hari H, mereka dipaksa melakukan pre-wedding dadakan demi memuaskan netizen yang kepo. Nara harus memakai gaun putih yang sempit, sementara Arga memakai tuksedo yang membuatnya terlihat seperti pangeran dari negeri Es.
"Deketin lagi, Mas Arga! Rangkul pinggang Mbak Nara-nya!" teriak fotografer.
Arga melingkarkan tangannya. Nara tersentak.
"Tangan kamu dingin banget, kayak habis megang mayat," bisik Nara lewat sela-sela senyumnya.
"Ini karena AC di studio ini disetel terlalu rendah, Nara. Bukan karena saya gugup," balas Arga dingin.
"Gugup? Dih, pede banget! Aku cuma ngerasa kayak dipeluk balok es."
"Kalau begitu, jadilah radiator. Berhenti gemetar, kamu merusak komposisi foto."
Tiba-tiba, fotografer meminta pose
"Hampir Ciuman".
Wajah mereka hanya berjarak beberapa milimeter. Nara bisa merasakan napas Arga yang beraroma kopi dan kayu manis kombinasi aroma yang mendadak terasa jauh lebih memabukkan daripada kafein mana pun di dunia.
Mata tajam Arga menatap langsung ke manik matanya, mengunci fokus Nara hingga gadis itu mendadak lupa cara bernapas secara logis.
Untuk sesaat, dunia seolah berhenti. Suara jepretan kamera dan arahan fotografer di latar belakang mendadak menjadi senyap, tergantikan oleh suara detak jantung Nara yang berdentum keras di telinganya sendiri.
Nara melihat ada sesuatu yang berbeda di mata Arga. Bukan kedinginan, bukan kalkulasi audit, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih intens, dan sesuatu yang sebenarnya sangat ia takuti yaitu ketulusan.
Arga sedikit memiringkan kepalanya, memperpendek jarak yang sebenarnya sudah hampir tidak ada. Nara refleks memejamkan mata, tangannya meremas ujung jas Arga, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya.
"Nara," panggil Arga pelan.
Suaranya rendah, serak, dan bergetar tepat di dekat bibir Nara, mengirimkan gelombang listrik yang membuat bulu kuduk Nara meremang.
"Apa?" sahut Nara gagap, suaranya nyaris hilang di antara napas mereka yang beradu.
Bukannya melakukan apa yang Nara (dan mungkin seluruh kru studio) bayangkan, Arga justru semakin mendekat hanya untuk mengamati wajah Nara dengan ketelitian seorang kurator museum. Jari jempolnya yang hangat perlahan terangkat, mengusap sudut bibir Nara dengan gerakan yang sangat lembut namun terasa begitu intim.
"Lipstik kamu... belepotan sedikit di sudut kiri."
Nara langsung membuka mata. Ia membeku.
"Hah?"
"Secara estetika, ini akan membuat hasil foto kita terlihat tidak simetris," lanjut Arga dengan nada yang kembali datar, seolah-olah momen magis tadi hanyalah halusinasi Nara semata.
"Dan saya tidak mau membayar fotografer mahal untuk hasil yang terlihat berantakan."
Nara langsung menjauhkan wajahnya dengan kasar, mendorong dada Arga hingga pria itu mundur satu langkah.
"Argaaaa! Kamu ngerusak momen baper orang!" teriak Nara, wajahnya kini merah padam setengah karena malu, setengah karena emosi yang tidak tersalurkan.
"Tadi itu... tadi itu harusnya jadi momen puncak sinematik! Harusnya ada musik biola muncul dari langit! Tapi kamu malah bahas simetris bibir?!"
Arga hanya tersenyum tipis, senyum kemenangan yang sangat langka, namun selalu berhasil membuat Nara kesal sekaligus penasaran secara bersamaan.
"Saya hanya menjalankan fungsi kontrol kualitas, Nara," ujar Arga sambil merapikan kembali kerah jasnya.
"Tapi kalau kamu kecewa karena momen puncaknya gagal, saya bisa mencatatnya sebagai 'hutang agenda' untuk lain kali."
"Nggak ada lain kali! Nggak ada!" Nara menghentak-hentakkan kakinya ke lantai studio.
"Besok-besok kalau kita foto lagi, aku bakal pakai helm! Biar nggak ada yang belepotan!"
Arga tidak membalas lagi, tapi matanya tetap mengikuti gerak-gerik Nara yang sedang mengomel pada asisten makeup. Di balik wajah tenangnya, Arga merasakan jantungnya sendiri masih berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ternyata, menggoda Nara jauh lebih menyenangkan daripada menyeimbangkan buku besar.