Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.
Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.
“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”
Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Percaya dan Kegembiraan
Setelah suasana canggung dengan dokter berlalu, Shahinaz akhirnya berhasil diperiksa dengan teliti dan diberi resep dokter. Luka di kepalanya sudah ditangani, dalam kurun waktu beberapa hari juga luka di kepalanya akan mengering, dan dia bisa kembali ke sekolah dengan tenang dan tanpa hambatan lagi.
Meski masih ada sisa nyeri, setidaknya Shahinaz sudah mendapatkan kepastian bahwa kondisinya akan segera membaik. Tidak ada lagi alasan bagi Dreven untuk terus khawatir, mengawasi, melarangnya dari semua aktivitas yang ingin dia lakukan.
"See? Lukanya udah mulai membaik, jadi sekarang aku boleh pulang kan? Besok juga kayaknya udah bisa pergi ke sekolah." kata Shahinaz mengawali pembicaraan.
Dreven menatap Shahinaz dengan pandangan lucu, meskipun wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi, "Aku nggak yakin itu ide yang bagus. Kamu baru aja diperiksa, masih ada beberapa hari sampai lukanya benar-benar sembuh total. Sekolah bisa menunggu, dan selama masa penyembuhan, kamu akan terus berada di Mansion ini."
"Aishhh, emang Dreven pemaksa dan nggak bisa diganggu gugat!" keluh Shahinaz sambil berkacak pinggang didetik selanjutnya. Dia berdiri, hendak pergi dari sana untuk mencari udara segar sebanyak yang dia bisa.
Namun Dreven lagi-lagi menarik Shahinaz untuk duduk di sampingnya, dia masih ingin lama berduaan dan menatap wajah Shahinaz dengan lebih dekat sekaligus leluasa, memperhatikan setiap detail dari wajah Shahinaz yang terasa begitu sempurna dimatanya. Dia sangat yakin, banyak laki-laki yang diam-diam mengagumi keindahan gadis itu. Tapi awas saja, Dreven tidak akan diam saja ketika Shahinaz didekati laki-laki lain. Shahinaz hanya untuk dirinya, dan itu sudah paten menjadi miliknya!
"You are truly beautiful, the most beautiful girl I have ever seen in a long time. "kata Dreven membuka suaranya lagi, dia tak bisa mengabaikan bagaimana wajah Shahinaz terlihat begitu memukau di bawah cahaya lembut ruangan itu. Itu cukup sempurna dimata Dreven sekarang!
Garis rahang Shahinaz terlihat begitu halus, dengan pipi yang sedikit merona akibat kelelahan dan rasa sakit yang baru saja dia alami. Hidungnya yang ramping dan proporsional menambahkan kesan elegan pada wajahnya, sementara bibirnya yang tipis dan lembut terlihat seperti terbentuk dengan sempurna untuk tersenyum, sayangnya gadis itu terlampau cuek dan belum ada tanda-tanda untuk terbuka secara penuh terhadap dirinya.
Namun, yang paling menarik perhatian Dreven dari Shahinaz sendiri adalah matanya. Mata itu, yang berkilau seperti dua permata cokelat muda, terasa selalu penuh dengan kehidupan, penuh dengan ketulusan, meski semakin lama terkesan rapuh dan bisa hancur kapan saja disaat yang bersamaan.
"Iya, aku tau, aku emang cantik. Kalaupun orang lain beranggapan aku jelek, aku tetap cantik dimataku sendiri." jawab Shahinaz tidak mengelak. Tidak akan drama wajahnya berubah merah merona hanya karena gombalan receh seorang laki-laki, apalagi siapapun juga tau kalau dia terlampau percaya diri dan mencintai dirinya sendiri.
Sedangkan Dreven tertawa kecil mendengar respon Shahinaz yang penuh percaya diri. Itu adalah salah satu hal yang paling ia kagumi dari gadis itu. Kepercayaan dirinya benar-benar tak tergoyahkan, bahkan dalam situasi seperti ini. Shahinaz adalah seseorang yang tau siapa dirinya, dan dia tak pernah membiarkan pendapat orang lain merusak pandangannya tentang dirinya sendiri.
"Iya, aku nggak akan meragukan itu," Dreven berkata dengan nada main-main, namun ada sedikit kekaguman di balik kata-katanya. "Tapi tetap aja, pujianku tulus. Luar dan dalam kamu emang cantik, dan sialnya aku semakin terperangkap jatuh di dalam pesonamu."
Shahinaz hanya mengangkat bahu, seolah-olah pujian itu adalah hal biasa baginya. Meski ada kilatan cerah di mata Shahinaz, yang menunjukkan bahwa dia menyadari perhatian Dreven yang cukup besar kepadanya. Ditambah fakta jika Dreven hanya berbicara banyak dibarengi dengan nada lembut hanya untuk dirinya saja.
"Kamu baru pulang kan? Nggak istirahat? Nggak ngantuk emang? Tidur sana!" perintah Shahinaz di detik selanjutnya.
Dreven tersenyum mendengar perintah Shahinaz, "Aku nggak ngerasa ngantuk. Tapi kalau kamu maksa aku buat tidur, aku bakal tidur kalau kamu mau tidur juga bareng aku."
Shahinaz mendelik sedikit, terkejut dengan tawaran Dreven. "Tidur bareng? Jangan bercanda Dreven, kamu mau buat suasana jadi canggung lagi? Lagipula aku udah nggak ngantuk, aku pengin jalan-jalan sebentar dan cari udara segar, titik."
Dreven memiringkan kepala, tampak berpikir sejenak, "Oke, kalau kamu ingin jalan-jalan sebentar. Tapi keliling Mansion ini aja, ayo pergi!"
Shahinaz mengernyitkan dahinya heran, kenapa Dreven yang justru paling semangat dengan rencana idenya? Bahkan tanpa pikir panjang, Dreven langsung merengkuh pinggangnya seolah tak ada beban, dan mengajaknya untuk berjalan berdampingan. Jadi mau tidak mau, Selama harus mengikuti Dreven yang entah mau mengajaknya pergi kemana.
"Mau kemana kamu bawa aku?" tanya Shahinaz dengan nada yang setengah bingung. Namun, genggaman tangan Dreven di pinggangnya terasa kuat dan tak terelakkan, dia hanya bisa pasrah mengikutinya kemanapun Dreven pergi.
"Taman belakang ini luas, ada banyak tempat yang mungkin belum pernah kamu lihat selama di sini, nggak apa-apa kesana kan?" jawab Dreven dan dijawab anggukan oleh Shahinaz.
Sepanjang perjalanan banyak pekerja yang menunduk karena kehadiran Dreven, Namun Dreven hanya mengangguk, meminta mereka untuk segera pergi dari pandangannya. Membutuhkan waktu lama untuk sampai di taman belakang, namun akhirnya mereka sampai di sana juga setelah beberapa menit berlalu.
"Cukup menakjubkan." kata Shahinaz cukup takjub dengan keindahan taman itu.
Ditambah cahaya matahari yang terang menyinari taman belakang mansion Dreven, menciptakan bayangan indah dari pepohonan yang rindang dan deretan bunga yang sedang mekar. Taman itu penuh dengan berbagai warna bunga. Ada bunga mawar merah, tulip kuning, dan lavender ungu yang menyebarkan wangi lembut di udara. Ada berbagai tanaman buah juga, ditambah ada danau buatan juga yang membuat Shahinaz cukup tertarik untuk berdiam diri di sini cukup lama.
Shahinaz berjalan perlahan di samping Dreven, menikmati setiap langkah yang dia ambil di atas jalan setapak yang dihiasi kerikil putih. Mereka berhenti di area gazebo, dan duduk berdampingan sambil menikmati alam segar di sekitar mereka.
"Aku nggak nyangka taman ini bakal seindah ini," ucap Shahinaz sambil memandang ke sekeliling. "Aku pikir mansion ini hanya dipenuhi dengan dinding-dinding batu besar, ornamen-ornamen mahal, dan lorong yang membosankan. Ternyata masih ada seninya juga."
Dreven tertawa kecil, tangannya masih melingkar lembut di pinggang Shahinaz, tapi kali ini genggamannya lebih santai, "Ya, kebanyakan orang hanya melihat bagian depannya. Tapi, bagian terbaik dari tempat ini memang tersembunyi di belakang."
"Dreven, itu persis seperti definisi kamu. Kebanyakan orang melihat enaknya saja ketika menjadi dirimu, padahal mereka belum melihat kekacauan besar di dalam hidup kamu." jawab Shahinaz yang akhirnya memberanikan diri untuk memancing Dreven menceritakan hidup kelamnya.
Bagaimanapun, selama ini pasti Dreven hidup dengan memendam semua kesakitannya seorang diri. Dia terlihat kokoh dan tidak bisa dijatuhkan, padahal di dalamnya sudah keropos, seseorang yang tau kelemahannya pasti akan memanfaatkan kekeroposan itu sebaik mungkin.
Dreven terdiam sejenak, tatapannya berubah serius saat dia merenungi kata-kata Shahinaz. Di balik sikapnya yang selalu tenang dan dingin, ada kerapuhan yang selama ini ia sembunyikan dari semua orang. Tak banyak yang tahu bahwa di balik sosok pria sempurna yang terlihat kuat dan tak tersentuh, ada luka-luka yang belum sembuh, masa lalu yang terus menghantuinya.
"Dreven, jika kamu butuh seseorang untuk menampung setiap keluh kesah kamu, aku siap," kata Shahinaz sambil tersenyum tipis, "Karena apa? Aku nggak bisa lepas dari kamu, dan kamu nggak akan ngelepasin aku begitu aja. Jadi, mari kita terbuka satu sama lain."
Dreven terdiam lebih lama setelah mendengar ucapan Shahinaz. Angin sepoi-sepoi yang berhembus di sekitar mereka membuat suasana semakin tenang, tetapi tidak cukup untuk meredakan pergulatan batin Dreven. Tatapan matanya mengarah ke taman, seolah mencari jawaban di antara dedaunan dan bunga yang bergoyang perlahan.
"Aku nggak terbiasa berbagi masalah sama orang lain," akhirnya Dreven membuka suaranya dengan nada rendah, matanya masih tidak beralih dari pemandangan di depannya. "Selama ini aku selalu menyelesaikan semuanya sendiri. Nggak ada ruang buat keluhan atau kesalahan di hidupku. Semua harus sempurna."
Shahinaz menatap Dreven, merasa bahwa pria ini sedang berusaha keras untuk membiarkan dirinya terbuka. Dia tahu bahwa ini adalah momen langka, dan dia tidak ingin mendesaknya lebih jauh. Namun bukannya membuka suara, Dreven justru merebahkan kepalanya di atas paha Shahinaz. Dia memejamkan matanya, seolah tidak ingin mengatakan lebih lanjut.
"Kamu nggak harus kuat terus, Dreven," ujar Shahinaz dengan suara yang lembut namun tegas. Dia menghela nafas sebentar sebelum tangannya mulai turun, mengusap-usap rambut Dreven dengan lembut dan perlahan. "Karena kita semua punya kelemahan, dan nggak masalah kok untuk membaginya dengan orang lain. Aku yakin itu nggak bikin kamu lebih lemah, malah sebaliknya, berbagi beban kadang bikin kita jadi lebih kuat Dreven."
"Aku jarang berbagi tentang hidupku dengan orang lain," Dreven akhirnya membuka suara, suaranya rendah namun tegas. "Bukan karena aku nggak percaya sama mereka, tapi karena... aku nggak pernah yakin mereka bisa benar-benar mengerti."
Shahinaz terdiam, memberi Dreven ruang untuk melanjutkan. Namun tangannya tetap mengelus rambut Dreven dengan lembut, memberikan kenyamanan untuk bercerita lebih lanjut.
"Sejak kecil, aku selalu diajarkan untuk menjadi kuat, menjadi sempurna," lanjut Dreven, tatapannya mengarah ke danau buatan di depan mereka. "Aku dibesarkan di keluarga yang penuh dengan ambisi dan harapan tinggi. Mereka menginginkan aku untuk menjadi penerus yang hebat, seseorang yang bisa memimpin dan menjaga kekuasaan keluarga. Tapi mereka lupa bahwa aku hanya manusia biasa."
Dreven menoleh, menatap mata Shahinaz. Ada sedikit kelembutan di sana yang jarang terlihat dari laki-laki itu, dia membelai wajah Shahinaz sebelum melanjutkan. "Setiap kesalahan kecil yang aku buat selalu dihukum dengan keras. Nggak ada ruang untuk kegagalan. Aku harus terus-menerus menunjukkan bahwa aku bisa diandalkan, bahwa aku layak untuk semua tanggung jawab ini. Lama kelamaan, aku terbiasa hidup dengan tekanan itu, dan menutup semua perasaan yang mungkin akan membuatku terlihat lemah."
"Karena terbiasa, aku selalu berusaha menjadi yang terbaik. Sayangnya disaat aku terus berusaha membanggakan mereka, mereka justru mengecewakanku. Jadi yang terjadi, ya seperti ini." jawab Dreven dengan senyum tipisnya, dia gemas melihat wajah Shahinaz yang nampak terlampau serius itu.
Shahinaz mendengarkan dengan seksama, menyadari betapa besar beban yang Dreven tanggung selama ini. Tidak mudah bagi pria seperti Dreven untuk mengakui kelemahannya, apalagi di depan orang lain. Namun, momen ini membuat Shahinaz merasa lebih dekat dengannya, seolah melihat sisi lain dari Dreven yang belum pernah ditunjukkan kepada siapapun.
"Kamu tau, Dreven," Shahinaz berkata lembut, suaranya hampir seperti bisikan di antara suara angin dan gemerisik daun. "Kamu nggak harus selalu sempurna di hadapan semua orang. Terkadang, menjadi diri sendiri tanpa topeng dan tekanan itu lebih berharga daripada menjadi sempurna di mata orang lain."
"Maka dari itu, aku akan bersikap apa adanya ketika di depan kamu. Hanya untuk kamu Shahinaz, aku ingin menjadi diri sendiri yang sesungguhnya." balas Dreven yang membuat Shahinaz langsung membuang muka untuk tidak bertatapan langsung dengan Dreven.
Dreven langsung bangkit dari tidurannya, kemudian menangkap wajah Shahinaz agar mereka saling bertatapan. Sekarang dia tau bagaiamana caranya membuat Shahinaz salah tingkah dan merah merona seperti itu. Shahinaz berusaha menghindari tatapan Dreven yang semakin intens, wajahnya memerah, dan dia merasa kehabisan napas detik ini juga.
"Dreven, jangan seperti ini..." katanya dengan suara yang hampir tak terdengar, "Jantung aku bisa copot."
Dreven tidak melepaskan genggamannya di pipi Shahinaz, malah makin mendekat. "Kenapa? Aku hanya ingin kamu tau bahwa aku serius. Nggak ada yang bisa menggantikan tempatmu di hatiku." Suaranya lembut dan penuh ketulusan, membuat Shahinaz merasa semakin tidak nyaman namun sekaligus terharu disaat yang bersamaan.
"Dreven..." suara Shahinaz semakin rendah, "Aku bisa mati muda kalau posisinya kayak gini terus!"
Dreven akhirnya tertawa juga. Bisa dikatakan ini baru pertama kalinya Dreven bisa tertawa cerah seperti ini. Tidak ada senyum dan tawa palsu lagi, Dreven bisa tertawa tampa beban berkat Shahinaz. Sedangkan Shahinaz semakin syok di tempat, karena Dreven bisa tertawa lebar juga dan terlihat hangat seperti ini.
"Dreven aku punya satu fakta? Kamu mau dengar nggak?" tanya Shahinaz yang akhirnya berhasil menetralkan ekspresinya juga.
"Fakta apa?" tanya Dreven dengan wajah ingin
"Bagiku kamu benar-benar laki-laki sempurna, meski aku udah tau seperti apa kehidupanmu yang sebenarnya. Banyaklah tertawa dan tersenyum seperti itu, Because you are getting more handsome and I can't look away from your handsome face." balas Shahinaz yang kini membalikkan keadaan. Wajah Dreven berubah merah padam mendengar Shahinaz mengatakan hal yang tak pernah dia sangka-sangka sebelumnya.
Shahinaz terbahak, dia pergi dari sana sebelum Dreven tersadar dari keterpukauannya. Sedangkan, Dreven menatap kepergian Shahinaz dengan campuran perasaan tak percaya dan kegembiraan. Tawa Shahinaz masih menggema di telinganya, dan kata-kata pujian terakhirnya membekas kuat di hatinya. Tak pernah ia menduga akan mendapat pujian yang sedalam itu dari Shahinaz, dan melihat senyum dan tawa gadis itu adalah sesuatu yang tak ternilai.
"Dreven, meski terlambat, i still want to say, i have started to have feelings of love for you too." teriak Shahinaz dari kejauhan, dan itu membuat Dreven langsung membeku ditempat, "Tetap menjadi Dreven yang tersenyum dan bahagia, kamu berhak mendapatkannya!"
Dreven merasa jantungnya berdegup kencang saat mendengar pengakuan Shahinaz dari kejauhan itu. Apakah perasaannya selama ini akhirnya mulai terbalas? Dia akhirnya mendapatkan hal yang dia inginkan selama ini, meskipun awalnya hanya berasal dari paksaannya saja kan?
"Meskipun kamu belum cinta secara sepenuhnya, tetapi itu udah buat aku berharap lebih, Shahinaz. Terimakasih." ucap Dreven tulus, sayangnya Shahinaz sudah terlihat batang hidungnya lagi sekarang.
Dreven masih menatap kepergian Shahinaz dengan campuran perasaan tak percaya dan kegembiraan. Tapi satu yang pasti, Dreven sangat bahagia berkat Shahinaz!