PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - kehancuran Harga diri
William menjulang di depannya, menatap Jihan dengan pandangan merendahkan. "Kau sepertinya memang tidak pantas menyandang nama ini," desisnya penuh hinaan. "Kau berani menyepelekanku dan pergi sebelum aku selesai bicara? Kau pikir kau siapa?"
William melepaskan jasnya dengan kasar, lalu melepaskan dasinya dan membuangnya ke sembarang arah. Matanya yang gelap karena amarah sekaligus gairah yang membara.
Jihan, yang merasa sangat risih dan terancam dengan gelagat William, mencoba untuk bangun dari ranjang. Namun, William yang sudah dikuasai hasrat gelapnya merasa terhina karena Jihan mencoba menjauh.
Dengan gerakan yang kuat, ia mendorong bahu Jihan kembali ke atas ranjang.
"Mau ke mana kau?!" desis William sambil mulai membuka kancing kemejanya satu per satu, memperlihatkan dadanya yang bidang dan keras.
Jihan yang kesal karena terus didorong, mencoba duduk setengah bangun. "Lepaskan aku, Aku ingin mengganti pakaian! ini sudah malam!" teriaknya frustrasi.
"IKUTI ATURAN, JIHAN!!!"
Bentakan William yang menggelegar membuat Jihan tersentak hebat, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
William naik ke atas ranjang, menindih diatas Jihan. “Apa pun yang aku lakukan padamu adalah hak ku!" William mencengkeram rahang Jihan, memaksanya menatap mata nya. "Aku adalah suamimu, tuanmu, dan pemilikmu! Jadi jangan pernah sekali pun kau membantah."
William menatap wajah Jihan dengan hinaan yang mendalam. "Dan kau, Jihan... di mataku kau hanyalah pelihar-aan yang harus nurut pada tuannya."
William menarik paksa tubuh Jihan dan membalikkannya hingga Jihan tengkurap di atas ranjang. Jihan tersentak hebat, berusaha membalikkan tubuhnya kembali untuk melawan, namun tenaga William jauh lebih besar.
William dengan cepat menahan pinggul Jihan, mengangkat perutnya ke atas hingga posisi Jihan berlutut rendah. "Dan kau... berlutut lah seperti pelihar-ann yang nurut pada tuanmu!"
Air mata Jihan tumpah seketika. Ia merasa sangat terhina, martabatnya diinjak-injak sampai ke titik terendah. "Tidak! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!" Jihan berontak, mencoba bangun dengan sisa tenaganya.
Tangan besar William berpindah ke leher belakang Jihan, mencengkeram tengkuknya dengan sangat kuat hingga Jihan tidak bisa bergerak.
"Seperti inilah dirimu yang sebenarnya. Sangat Rendah," bisik William dingin.
"Lepaskan aku... sakittt!" Jihan merintih, merasakan cengkeraman keras di lehernya yang membuatnya sulit bernapas.
Tanpa memedulikan tangisan Jihan, William menarik resleting gaun Jihan hingga terbuka, lalu menarik pakaian d*lam wanita itu ke bawah dengan satu gerakan kasar.
Mata William membelalak saat melihat bagian belakang Jihan yang terekspos. Gumpalan daging yang mulus, kenyal, dan menggoda itu terpampang nyata di depan matanya. Hasrat yang sejak di mobil sudah menegang, kini meledak hebat. William menelan ludah.
Ia mengelus kulit mulus di bagian belakang Jihan perlahan, seolah sedang mengecek barang berharga miliknya agar tidak ada yang cacat. Tak lama, ia meremasnya
hingga meninggalkan bekas kemerahan, lalu menepuk-nepuknya dengan pelan namun menghina.
Plakk!
Suara tepukan itu menggema di kamar yang sunyi. Jihan meringis, tubuhnya merinding hebat antara rasa sakit dan penghinaan yang luar biasa. Air matanya terus mengalir membasahi seprai.
"Lepaskan... jangan sentuh... aku tidak mau seperti ini...," isak Jihan dalam kehancuran total. Ia merasa bukan lagi manusia, melainkan hanya pemuas nafsu bagi pria yang paling ia benci.
Plakk!
“ awwhh” meringis Jihan dengan terisak.
Suara tepukan keras itu kembali menggema, kali ini lebih bertenaga hingga meninggalkan bekas merah.
"Berani kau membantahku, hah?! Kau pikir kau punya hak untuk menolak, Jihan?!" bentak William dengan suara rendah yang mengancam. Ia kemudian meremas gundukan kenyal itu dengan kasar, seolah ingin menghancurkan apa pun yang ada di genggamannya.
Jihan hanya bisa terisak, "Hiks... hhuhuu..." Bahunya bergetar hebat. Rasa sakit di kulitnya tidak sebanding dengan rasa hancur di harga dirinya.
Sialan! Kenapa aku seperti ini? Kenapa tubuh wanita ini bisa mengacaukan pikiran sampai seperti ini?! Batin William berkecamuk.
Selama ini William menutup diri dan merasa muak terhadap wanita sejak pengkhianatan tunangannya Anna, kini justru kehilangan kendali hanya karena lekuk tubuh Jihan. Hasrat yang memuncak membuatnya melupakan segala prinsip dan kebenciannya sejenak.
William menyeringai gelap, Sejenak, ia melepaskan cengkeraman pada leher Jihan. “Jangan bergerak," ancamnya dingin sambil berdiri di lututnya. "Awas saja jika kau membangkang. Aku tidak akan mengulangi perkataanku, Jihan!"
Dengan gerakan cepat yang didorong nafsu, William menanggalkan celananya. Miliknya sudah menegang, berdenyut menuntut pelepasan. Ia kembali mendekat, mencengkeram pinggul Jihan dengan sangat kuat, lalu dengan paksa berusaha menyatukan dirinya ke bagian belakang Jihan.
"Aakhhh! Hiks…hu hu “ Jihan memekik tertahan, air matanya mengalir deras membasahi sprei. Ia memejamkan mata rapat-rapat, Tangannya mencengkeram sprei hingga kaku. Ia ingin berteriak memaki, namun suaranya tercekat di tenggorokan karena takut William akan melakukan hal yang lebih rendah lagi jika ia melawan.
Akhirnya, William berhasil masuk sepenuhnya. Ia menggeram puas, merasakan kehangatan yang menjepit miliknya. Ia mulai menggerakkan pinggulnya dengan cepat, Sementara tangannya kembali meremas gumpalan belakang Jihan.
"Ahh... ssshhh... ketat sekali... sialan… kau benar-benar menjebakku dalam tubuhmu... hngghhh..." desah William berat, suaranya parau oleh kenikmatan yang meledak-ledak.
“ hikss… hhh” Jihan masih terisak pelan di sela rasa sakit yang menghunjamnya berkali-kali.
"Sialan! Tangisanmu itu benar-benar mengganggu!" bentak William di tengah gerakannya. "Berhenti menangis! Kau seharusnya melayaniku, bukan merengek seperti bocah!"
Serangan William semakin membabi buta. Ia meremas, mengelus kulit punggung Jihan hingga ke atas, namun tangannya terhenti saat menyentuh pakaian d*lam bagian atas yang masih melekat di tubuh Jihan.
"SIALAN! MENGGANGGU!" William menggeram murka. "Kau seharusnya sudah melepaskan ini semua”
William merobek pengait pakaian d*lam itu dan melemparnya asal ke lantai. Kini Jihan benar-benar polos. Jihan hanya bisa menggigit bibir, mencoba meredam suara tangisnya meskipun dadanya terasa sesak.
Tangan besar William menjelajah ke depan, meremas buah dada Jihan yang bergerak-gerak mengikuti gerakan pinggulnya dari belakang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencium aroma tubuh Jihan yang bercampur keringat dan air mata.
"Ahhh... hhh... teruslah menjepitku seperti ini... d-dammit... ssshhh... aahhh!" William memejamkan mata, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan puncak kenikmatan yang terus membanjirinya.
Jihan terus meneteskan air mata. Suara desahan William di telinganya terdengar menjijikkan. Ia merasa tubuhnya dimanfaatkan secara paksa oleh pria yang kini sedang memuaskan nafsunya di atas kehancurannya.
"Kenapa diam saja?! Di mana mulut tajammu yang tadi berani membantahku?!" William membentak tepat di telinga Jihan, suaranya menggelegar. Ia sengaja menekan tubuh Jihan lebih dalam ke kasur, memicu rasa takut yang lebih mencekam.
Setelah beberapa menit bergulat dalam gairah yang sepihak, William merasakan kepuasan dan pelepasan yang hebat mulai merambat di tulang belakangnya. membuat William menggeram rendah.
William membalik tubuh Jihan yang sudah lemas untuk menanamkan benihnya sekaligus mengejar puncak kenikmatan yang lebih dalam.
William kembali mencengkeram pinggul Jihan menarik tubuh wanita itu lebih dekat ke arahnya, malu kembali memasukkan miliknya dan menggerakkannya lebih cepat dan menuntut.
"Ahh... ssshhh... sialan, sempit sekali," geram William, matanya terpejam saat merasakan milik Jihan menjepitnya dengan erat. Ia tidak lagi memedulikan rasa sakit yang dialami istrinya, yang ia inginkan hanyalah pelepasan atas amarah dan gairah yang bercampur aduk.
Jihan hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan suara isakan agar tidak keluar. Ia memilih diam, berharap penderitaan ini segera berakhir.
Aku kotor... aku menjijikkan, batin Jihan menjerit di dalam kesunyian. Tempat ini, pria ini... semuanya membuatku muak.
Sedangkan bagi William, setiap gerakan pinggulnya membawa kenikmatan yang luar biasa. Di atas tubuh Jihan, ia merasa menjadi penguasa.
"Ahgg....!" Desahan William sambil mempercepat temponya, suaranya parau karena puncak kenikmatan yang sudah di depan mata.
Jihan tetap membatu, air matanya membasahi bantal, membiarkan tubuhnya hancur berkeping-keping oleh pria yang telah menjadi suaminya itu.
—-
Pada Pagi harinya, Jihan terbangun dengan tubuh yang terasa remuk, merasakan rasa nyeri akibat pelepasan berulang yang dilakukan William semalam. Di balik selimut tebal yang membungkus tubuh polosnya, Jihan meringis kesakitan.
Ia menoleh ke samping. Kosong. Tatapan Jihan berubah menjadi benci saat melihat bantal yang kosong itu. Tentu saja, William sudah pergi ke kantornya, kembali menjadi penguasa yang sombong
Jihan bersandar perlahan di tepi ranjang, mengatur napasnya yang sesak. Matanya yang sembab melirik jam dinding sudah mulai siang.
Aku harus menemui Jinan, batinnya bergejolak. Persetan dengan rumah ini. Aku harus tahu kondisi saudaraku.
Meski tubuhnya sakit, Jihan memaksakan diri. Dengan gerakan secepat mungkin, ia bersiap. Ia memilih pakaian yang paling sopan dan nyaman, mencoba menutupi jejak-jejak perlakuan William di tubuhnya.
Jihan berpikir mansion ini memiliki penjagaan ketat. Ia bahkan tidak memiliki kendaraan pribadi di sini, dan ia yakin semua mobil di garasi sudah dipasang pelacak GPS. Namun, kerinduannya pada Jinan yang sedang koma jauh lebih besar daripada rasa takutnya.
Saat menuruni tangga, Jihan mendapati beberapa pelayan yang lewat dan menunduk hormat. Ia hanya membalas dengan senyuman kaku, langkahnya tetap tegap menuju pintu keluar. Namun, sosok tinggi Dev, sang kepala pelayan, tiba-tiba menghalanginya.
"Nyonya, mohon maaf. Anda hendak ke mana?" tanya Dev dengan nada yang sangat hati-hati.
Jihan tersentak, namun ia mencoba menenangkan diri. "Ah, Dev. Aku ada urusan penting... ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Permisi."
Jihan mencoba melangkah maju, namun Dev kembali bergeser menghalanginya dengan ekspresi berat hati. "Nyonya, maafkan saya. Tuan William meninggalkan pesan. Malam ini ada acara bersama teman-teman dan kerabat beliau yang sangat penting. Anda diminta untuk mempelajari kembali protokol etika dan sikap yang tertulis di buku aturan, untuk diterapkan malam ini."
Jihan tertawa sinis, sebuah tawa getir yang penuh penghinaan. "Acara penting? Aku tidak tahu hal itu. Dia sama sekali tidak memberitahuku."
Tepat saat itu, May muncul bersama beberapa pelayan lain yang membawa kotak-kotak besar dari desainer ternama. Mereka melintas di hadapan Jihan dengan gaun-gaun yang berkilau mewah.
"Nyonya," sapa May dengan sopan. "Maafkan saya, Tuan William ingin Anda segera mempelajari aturan kembali dan mempersiapkan diri. Gaun ini sudah disiapkan khusus oleh Tuan untuk Anda kenakan malam nanti." May kemudian memberi isyarat kepada pelayannya untuk membawa kotak-kotak itu ke lantai atas.
Jihan membuang muka. Matanya berkilat tajam oleh amarah. Perlakuan William yang memperlakukannya seolah ia tidak punya otak dan kehendak sendiri benar-benar membuatnya muak. Pria itu menganggapnya seolah ia akan selalu siap sedia kapan pun dibutuhkan, seperti robot.
"Ini hanya acara malam," tegas Jihan, suaranya naik satu nada. "Aku akan kembali satu jam sebelum matahari tenggelam. Itu sesuai dengan aturan tertulis, bukan? Aku akan pergi sekarang."
May tampak cemas, ia menatap Jihan dengan raut khawatir. "Maafkan saya, Nyonya... tapi persiapan untuk acara malam ini sangat detail. Tuan tidak menginginkan adanya kesalahan sedikit pun, ataupun keterlambatan. Beliau menegaskan bahwa Anda harus berada di kediaman sepanjang hari."
Jihan mengepalkan tangannya. Ia bergumam kecil, "Apakah acaranya sepenting itu sampai aku harus kehilangan satu hari lagi untuk melihat saudaraku?"
May menunduk dalam, suaranya melemah. "Nyonya, maafkan kami... kami hanya menjalankan perintah Tuan. Beliau sangat tegas soal ini."
Jihan menatap pintu keluar yang hanya berjarak beberapa meter, lalu menatap para pelayan yang menunduk ketakutan.
Berpikir jika ia nekat menerobos, itu hanya akan membuat William semakin punya alasan untuk menghukumnya.
Dengan napas yang berat dan hati yang dipenuhi rasa kesal , Jihan akhirnya menyerah. Ia berbalik keatas dan melangkah kembali ke kamarnya dengan langkah yang menghentak keras.
Sialan kau, William! umpatnya dalam hati sambil membanting pintu kamar.
—-
Gedung Alvarezh Group
Di sisi lain, di dalam ruangan luas di gedung Alvarezh Group yang megah, Rahez duduk di balik meja kerja nya. Di hadapannya, Daniel Alvarezh menyesap cerutu dengan ekspresi yang sangat serius. Mereka sedang meninjau peta wilayah strategis Aestrasia yang akan menjadi jalur distribusi utama jika Daniel berhasil naik ke kursi tertinggi pemerintahan.
"Jika dukungan Marculles resmi kita dapatkan minggu depan, faksi Vancortez tidak akan punya celah lagi untuk menyerang kita, Paman," ucap Rahez sambil mengetukkan pena ke atas meja. "Wilayah utara akan sepenuhnya menjadi zona perdagangan bebas kita. Kekayaan yang masuk akan melipatganda dalam hitungan bulan."
Daniel mengangguk, asap cerutu mengepul di antara mereka. "William memang iblis dalam bernegosiasi, tapi pengaruhnya adalah kunci. Selama dia di pihak kita, posisi Kepala Negara sudah ada di genggamanku."
Tiba-tiba, Rahez teringat sesuatu yang mengusik pikirannya sejak keributan semalam. Ia memperbaiki posisi duduknya dan menatap Daniel dengan tajam.
"Ada satu hal lagi, Paman," ucap Rahez, suaranya mendingin. "Mengenai Zeiran. Kau tahu bukan, semalam dia nekat membuat keributan di kediamanku? Dia berteriak seperti orang gila hanya untuk mengejar Jihan."
Daniel mendengus kasar. "Prajurit rendahan itu benar-benar tidak tahu diri."
"Kau sudah memecatnya dari satuan militer, kan?" tanya Rahez memastikan. "Aku tidak ingin dia terus berkeliaran dan mengganggu pernikahan Jihan dan William. Jika William sampai merasa terganggu, aliansi ini bisa terancam.“
"Sudah kubereskan, Rahez," jawab Daniel dengan nada mutlak. "Aku sudah menandatangani surat pemecatannya secara tidak hormat pagi ini. Dia tidak lagi memiliki akses ke area militer mana pun."
Rahez menyeringai puas. "Bagus. Jihan harus melupakan masa lalunya. Dia adalah alat terbesar kita saat ini, dan aku tidak akan membiarkan perasaannya pada Zeiran merusak segalanya."
—-
Kediaman Darrien Ruan
Di sisi lain , di kediaman keluarga Ruan, Darrien Ruan, ayah Zeiran, adalah seorang bangsawan simbolik yang lebih fokus memanfaatkan jabatannya sebagai Jenderal untuk memperlancar gurita bisnis logistik dan ekspor kayu miliknya. Baginya, kekuasaan adalah alat untuk mempertahankan status kebangsawanan yang ia banggakan.
Namun, di dalam salah satu kamar mewah itu, Zeiran sedang hancur. Pikirannya tersiksa oleh bayang-bayang pernikahan Jihan. Ia sering kali menangis dalam diam, meratapi fakta bahwa wanita yang ia cintai kini dimiliki pria lain.
"Aku tahu ini bukan pilihanmu, Jihan," bisik Zeiran parau sambil menatap layar ponselnya. "Tapi melihatmu bersama pria lain... ini membunuhku."
Ia teringat janji-janji mereka sebelum perpisahan pahit itu terjadi. Zeiran tahu Jihan tertekan, dan itulah yang membuatnya tidak bisa menyerah. Ia terus menatap nomor baru Jihan yang beberapa waktu lalu sempat menghubunginya untuk mengabarkan kondisi Jinan. Ia menunggu pesan balasan, menunggu tanda kehidupan, namun nihil.
"Kenapa kau menghindariku? Ponselmu aktif, tapi kenapa kau diam saja?" gumamnya frustrasi. Ia membuka laci, mengambil foto mereka berdua yang tersimpan rapi di sana. "Aku akan menemukanmu, Jihan. Secepat mungkin."
Zeiran sudah mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk melacak keberadaan Jihan secara detail. Rasa tidak sabarnya sudah mencapai puncak. Ia menyambar kunci mobil dan melangkah keluar kamar dengan terburu-buru.
Di ruang tengah, Haleya, ibunya, menatapnya dengan dahi berkerut panik. "Zeiran! Kau mau ke mana lagi? Kau baru saja pulang, setidaknya makanlah dulu!"
"Aku ada urusan mendesak, Ibu. Jangan menghalangiku," jawab Zeiran dengan wajah lesu namun sorot mata yang serius.
Tepat di pintu keluar, ia berpapasan dengan Darrien yang baru saja kembali. Zeiran berniat mengabaikannya dan terus berjalan, namun suara berat ayahnya menghentikan langkahnya sejenak.
"Tunggu, Zeiran! Ayah pulang lebih awal karena ada hal sangat penting yang harus kita bicarakan!" tegas Darrien.
"Nanti saja, Ayah. Urusanku jauh lebih mendesak," sahut Zeiran dingin tanpa menoleh. Ia terus melangkah menjauh, masuk ke dalam mobilnya, dan melesat pergi meninggalkan kediaman Ruan.
Haleya mendekati suaminya dengan wajah penuh tanda tanya. "Ada apa, Darrien? Kenapa kau tampak begitu cemas ?"
Darrien menghela napas kasar, wajahnya memerah menahan amarah dan malu. "Aku tidak tahu apa yang dilakukan anak itu di luar sana, tapi dia benar-benar mempermalukanku! Kabar mengenai Dia baru saja diberhentikan secara tidak hormat dari militer, Haleya! Reputasiku sebagai Jenderal dipertaruhkan!"
Haleya menutup mulutnya dengan tangan, terkejut mendengar kehancuran karier putranya yang kini berada di ujung tanduk.