Satu tahun menikah, tapi Sekar (Eka) tak pernah disentuh suaminya, Adit. Hingga suatu malam, sebuah pesan mengundangnya ke hotel—dan di sanalah hidupnya berubah. Ia terjebak dalam permainan kejam Adit, tetapi justru terjatuh ke pelukan pria lain—Kaisar Harjuno, CEO dingin yang mengira dirinya hanya wanita bayaran.
Saat kebenaran terungkap, Eka tak tinggal diam. Dendamnya membara, dan ia tahu satu cara untuk membalas, menikahi lelaki yang bahkan tak percaya pada pernikahan.
"Benihmu sudah tertanam di rahamiku. Jadi kamu hanya punya dua pilihan—terima atau hadapi akibatnya."
Antara kebencian dan ketertarikan, siapa yang akhirnya akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Jelaskan," kata Kai akhirnya. Suaranya tetap datar, tapi ada ketegangan di baliknya.
Eka menggenggam tangannya sendiri, mencoba menenangkan debaran jantung yang tak terkendali. "Aku takut, Kai," katanya pelan. "Aku tahu aku salah. Aku tahu seharusnya aku tidak memanfaatkan kamu demi kepentinganku. Tapi waktu itu… aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sampai kamu muncul."
Kai menghela napas, ekspresinya tetap sulit ditebak. "Dan sekarang?"
Eka menatapnya dengan ragu sebelum akhirnya mengangguk. "Jika aku bilang aku takut kehilangan kamu, apa kamu akan percaya?"
Kai menatapnya tanpa berkedip, seolah menimbang setiap kata yang baru saja diucapkan. Hening yang menyusul terasa begitu berat, membuat Eka semakin gelisah.
"Aku tidak tahu," jawab Kai akhirnya. Suaranya masih terdengar datar, tapi ada sedikit nada ragu di dalamnya. "Aku bukan orang yang mudah percaya, Eka."
Eka menggigit bibirnya, jari-jarinya mencengkeram ujung bajunya. "Aku tidak butuh kamu langsung percaya. Aku cuma… aku cuma ingin kamu tahu kalau aku benar-benar menyesal."
Kai tetap diam. Matanya tajam, seperti mencoba menembus pertahanan yang masih tersisa dalam diri Eka.
"Aku sudah mendengar cukup banyak alasan dan penyesalan dalam hidupku," katanya akhirnya. "Tapi tidak semuanya berarti sesuatu."
Eka menelan ludah. "Kalau begitu, apa yang bisa aku lakukan supaya kamu percaya?"
Kai menunduk sedikit, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. "Itu bukan sesuatu yang bisa kamu paksakan, Eka. Kepercayaan itu dibangun, bukan diminta."
Eka ingin berkata sesuatu, tapi suaranya terhenti di tenggorokan. Kata-kata Kai menusuknya lebih dalam dari yang ia duga. Ia memang menginginkan kepercayaan itu kembali, tapi sekarang ia sadar, mungkin Kai sudah terlalu lelah untuk memberikan kesempatan lain.
"Aku mengerti," gumamnya akhirnya. "Tapi kalau aku tidak menyerah, apakah kamu akan tetap di sini?"
Kai mengangkat alisnya, ekspresinya masih sulit dibaca. Lalu, untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, bibirnya melengkung samar.
"Kita lihat saja."
Eka tidak ingin kehilangan momen itu. Ia pun berkata, "Kai, aku kedinginan. Apa kamu gak mau membiarkan aku masuk?"
Kai menatap Eka dengan ekspresi datar, tapi matanya sedikit menyipit, seolah mencoba menebak permainan apa yang sedang wanita itu mainkan.
Eka menggigit bibirnya pelan, menatapnya dengan sorot mata lebih lembut, hampir memohon. "Kai…" suaranya melirih, tangannya sedikit merapat ke tubuhnya sendiri, seakan benar-benar kedinginan.
Kai mendengus pelan, lalu menoleh ke arah pintu di belakangnya. "Kedinginan?" tanyanya skeptis.
Eka mengangguk cepat. "Aku tidak bohong. Kalau aku sampai sakit, dan terjadi apa-apa dengan anak kita, kamu tidak akan merasa bersalah?"
Alih-alih langsung menjawab, Kai justru menyandarkan bahunya ke besi gerbang, kedua tangannya masih terselip di dalam saku. "Eka, kamu ini terlalu pintar memanipulasi situasi. Kamu bilang takut kehilangan aku, tapi yang kamu lakukan justru mencoba masuk dengan cara seperti ini?"
Eka berkedip, lalu tersenyum tipis. "Jadi, kamu lebih memilih membiarkan kami di luar?"
Kai terdiam beberapa detik. Mendengar kata kami membuat hatinya sedikit melunak.
"Masuklah," katanya akhirnya. "Tapi jangan berpikir ini artinya aku sudah percaya pada kamu."
Eka menghela napas lega, tapi melihat Kai yang masih acuh, sebuah ide muncul di kepalanya. Ia pura-pura tak bisa berjalan.
"Agh… kakiku…"
"Jangan pura-pura!"
"Aku sudah lama menunggu kamu di sini dan kedinginan. Kakiku kesemutan, Kai. Aku gak bisa jalan."
Kai memejamkan mata sesaat, lalu menghela napas panjang seolah menahan diri. "Eka, kalau kamu berharap aku akan terjebak dalam drama ini, kamu salah besar," katanya datar.
Eka mengerucutkan bibirnya, tapi tetap bertahan dalam aktingnya. Ia sedikit merosot, bersandar ke dinding pagar sambil mengusap kakinya dengan ekspresi meringis. "Kai… aku serius. Aku benar-benar gak bisa jalan," keluhnya.
Kai tetap diam, hanya menatapnya dengan tatapan skeptis. Tapi ketika Eka mencoba melangkah dan benar-benar hampir kehilangan keseimbangan, Kai refleks bergerak cepat, meraih pergelangan tangannya sebelum tubuhnya benar-benar jatuh.
"Tch." Kai mengklik lidahnya dengan kesal, tapi tetap mempertahankan pegangan erat di tangan Eka. "Dasar merepotkan," gumamnya sambil menariknya sedikit lebih dekat.
Eka mendongak, menatap pria itu dengan mata berbinar. "Jadi… kamu akan gendong aku?" tanyanya dengan suara lebih lembut, hampir menggoda.
Kai menatapnya tajam. "Jangan terlalu percaya diri."
Namun, sebelum Eka sempat membalas, Kai sudah berjongkok sedikit. Lalu, dalam satu gerakan cepat, tangannya menyelinap ke belakang lutut dan punggung Eka, mengangkatnya dengan mudah.
"Kai!" Eka terkejut, tangannya secara refleks melingkar di leher pria itu.
"Diam." Suaranya tetap dingin, tapi genggamannya kokoh, tidak memberi ruang bagi Eka untuk protes.
Jantung Eka berdetak lebih kencang. Ia bisa merasakan hangatnya tubuh Kai begitu dekat, aroma khas pria itu memenuhi hidungnya. Kai masih tampak tak peduli, tapi cara dia mengamankan posisi Eka dalam gendongannya tak bisa disangkal—ada perhatian tersembunyi di balik sikap dinginnya.
"Aku bisa jalan sendiri kalau begini," bisik Eka, meskipun ia sama sekali tidak berniat turun.
"Telat," jawab Kai singkat.
Eka menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, membiarkan dirinya menikmati momen langka ini. "Kai…" panggilnya pelan.
"Hm?"
"Jangan lepaskan aku, ya?"
Kai tidak langsung menjawab. Langkahnya tetap stabil saat membawa Eka masuk ke dalam rumah. Tapi tepat sebelum ia menutup pintu dengan kakinya, suaranya terdengar lirih, nyaris tidak terdengar.
"Kita lihat saja."
***
Di dalam kamar, Nadin berbaring setengah duduk dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya. Tangannya dengan lembut membelai perutnya yang semakin membesar, merasakan kehidupan kecil yang tumbuh di dalamnya. Matanya berbinar penuh kebahagiaan saat ia menoleh ke arah Adit, yang tengah berbaring di sampingnya.
"Mas Adit," panggilnya dengan penuh semangat. "Tadi aku ngerasain sesuatu... bayi kita gerak!"
Adit seharusnya ikut senang. Seharusnya ikut tersenyum dan menanggapi antusias. Tapi reaksinya terlambat.
"Hmm?" Adit menoleh, alisnya sedikit berkerut, seolah baru menyadari apa yang baru saja dikatakan istrinya.
Nadin menghela napas kecil, lalu menggenggam tangan Adit dan meletakkannya di atas perutnya dengan penuh harap. "Coba deh, mungkin kamu bisa merasakannya juga."
Adit seharusnya tenggelam dalam kebahagiaan bersama Nadin—merasakan gerakan kecil dari janin mereka, simbol nyata dari kehidupan yang mereka ciptakan bersama. Tapi pikirannya justru mengembara jauh, kembali pada satu nama yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam.
Eka.
Bayangan wanita itu memenuhi benaknya. Senyum tipisnya, tatapan matanya yang tajam, cara dia berbicara—semuanya mengingatkannya pada masa lalu yang pernah mereka jalani bersama.
Keinginan ibunya juga jelas. "Bawa Eka kembali." Kata-kata itu masih terngiang di telinganya, begitu tajam dan penuh harap.
Tapi bagaimana mungkin? Bagaimana bisa ia memikirkan Eka ketika di hadapannya ada Nadin—istrinya—yang tengah mengandung anak mereka?
Adit mengedarkan pandangan, mencoba fokus kembali pada momen ini. Tangannya masih di atas perut Nadin, merasakan gerakan halus di bawah telapak tangannya. Namun, sensasi itu terasa begitu jauh.
"Mas?" suara Nadin membuyarkan lamunannya.
Adit menoleh, mendapati istrinya menatapnya dengan sorot penuh kebahagiaan, tapi juga sedikit kebingungan.
"Kamu kenapa? Kok diam aja?" tanya Nadin pelan, seolah bisa merasakan ketidakhadirannya.
Adit menelan ludah, memaksa senyum. "Nggak apa-apa," katanya, meski suaranya terdengar terlalu datar. Ia mengusap perut Nadin dengan gerakan ringan, mencoba menutupi kekacauan pikirannya. "Aku senang. Akhirnya dia mulai bergerak."
Nadin tersenyum lagi, tapi tatapan matanya meneliti wajah suaminya lebih lama. "Kamu kelihatan capek, atau... ada yang kamu pikirkan?"
Adit menggeleng cepat. "Cuma sedikit lelah. Banyak tekanan kerjaan."
Namun, Nadin sebagai seorang istri tentu bisa merasa perubahan sang suami, ia tahu ini bukan sekedar tentang kerjaan.