Dia tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang raja.
Namun jiwa seorang pemimpin sudah melekat sejak kecil dalam dirinya. Dan darah seorang raja mengalir dalam tubuhnya.
Carlos, seorang pemuda yang menjadi pewaris dan penerus dari kakek moyangnya Atalarik attar.
Namun tidak semudah seperti apa yang dibayangkan, rintangan demi rintangan harus ia hadapi. Mampukah Carlos menghadapinya?
Penasaran? Baca yuk!
Cerita ini hanya fiksi belaka tidak ada kaitannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Mereka berpencar untuk mencari keperluan yang di butuhkan oleh Carlos. Sementara Carla sibuk dengan kebutuhan adik iparnya.
Adik ipar? Ya, Carla sudah yakin jika Sofia akan menjadi pendamping adiknya nantinya.
Melihat dari perlakuan Carlos, orang bodoh pun bisa mengerti. Apalagi mereka keturunan jenius.
"Selamat datang Nona, ada pakaian keluaran terbaru di toko kami," ucap pelayan dengan ramah.
"Aku mau lihat-lihat dulu," ujar Carla.
"Silakan Nona, jika anda berminat segera panggil saya," ucap pelayan.
Carla mengangguk lalu tersenyum. Ia melihat pelayan itu ramah dan sopan, jadi ia juga sopan. Sifat Carla pada orang lain tergantung orang itu sendiri memperlakukan nya.
Ibarat kata pepatah, anda sopan kami segan. Mungkin seperti itulah ungkapan untuk Carla dalam menghadapi sikap orang lain.
Carla mengambil pakaian yang menurutnya cocok untuk Sofia. Seperti baju kaos dan yang lainnya termasuk sweater untuk Sofia.
Pelayan datang membawa gaun terbaru di toko mereka. Lalu menawarkan nya kepada Carla.
Carla melihat gaun tersebut begitu cantik, tapi ia biasanya sering membeli di butik milik Viora.
"Gak apa-apa deh, bungkus ya mbak dan ini juga bawa ke kasir nanti akan aku bayar sekalian," ucap Carla.
"Baik Nona." Pelayan itupun terlihat senang. Pakaiannya banyak yang laku oleh Carla.
Namun saat pelayan itu hendak membungkus gaun milik Carla. Seorang wanita merebut gaun tersebut.
"Itu aku yang bayar, belum dibayar, kan?" tanyanya.
"Tapi Nona itu yang pesan duluan," jawab pelayan.
"Aku bayar dua kali lipat. Bagaimana?" Dengan angkuhnya wanita itu berkata.
Pelayan itu terdiam, tapi ia melirik ke Carla yang berdiri tidak jauh dari mereka. Pelayan itu tetap kekeuh untuk mempertahankan gaun tersebut.
"Tiga kali lipat!" ucapnya lantang.
"Tapi ...."
"Empat kali lipat. Masih tidak mau?" tanyanya.
Carla mengangguk sebagai kode. Lagipula ia tidak rugi dan pelayan itu pasti untung. Karena ia akan dapat bonus besar dengan harga gaun di jual berkali-kali lipat.
Pelayan pun membungkus lalu memberikannya kepada wanita itu. Carla tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
"Lagipula aku tidak terlalu menginginkan gaun tersebut, dasar bodoh," gumam Carla.
"Maaf Nona, gaunnya jadi ...."
"Gak apa-apa, lagipula mbak dapat bonus, kan? Jadi Mbak yang untung," potong Carla.
Carla hanya membayar pakaian yang ia beli untuk Sofia. Kemudian ia ingin membeli ponsel untuk Sofia.
Bukan tanpa alasan, agar nanti ia dan keluarganya bisa video call dengan Sofia. Membayangkan itu Carla tersenyum.
Setelah membeli ponsel, tanpa sengaja Carla bertemu lagi dengan wanita itu. Sikapnya memang arogan dan suka merebut barang orang yang ingin di beli.
"Tidak punya mata ya?" tanyanya. Padahal tidak bertabrakan sama sekali. Carla cepat menghindar saat wanita itu sudah dekat dengannya.
"Apa kita saling kenal?" tanya Carla.
"Huh." Wanita mendengus dan berlalu melewati Carla.
"Gak jelas banget nih orang, kenal saja tidak, tapi seperti ingin cari gara-gara," gumam Carla.
"Lihat apa?" tanya Virendra yang menghampirinya.
"Ada cewek, entahlah sejak di toko pakaian seperti menargetkan aku. Kenal saja tidak, tapi gayanya sok banget," jawab Carla.
Virendra melihat belakang wanita itu yang berlenggak lenggok berjalan menjauh. Kemudian ia mengajak Carla menunggu yang lain di mobil.
"Emang sudah selesai belanjanya?" tanya Carla.
"Sudah, selebihnya urusan mereka berdua," jawab Virendra.
Saat tiba di parkiran, ternyata Keenan dan Axelle sudah menunggu. Mereka sengaja tidak menelepon Carla dan Virendra.
"Kalian tahu gak, aku tadi ketemu cewek gak jelas. Masa nawarin itunya," kata Axelle.
"Wah bagus dong, kenapa gak mau?" tanya Keenan.
Plak ... Pundak Keenan di gaplok oleh Carla. Keenan pun nyengir saja saat melihat pelakunya.
"Sembarangan bicara," kata Carla.
"Hehe, bercanda doang. Serius amat," ujarnya.
"Aku telepon Om Kenzie, minta di kawinin tuh anak," kata Virendra.
"Jangan, jangan, jangan. Aku belum siap kawin, aku mau nikah dulu," ujar Keenan.
"Pulang!" tegas Axelle. Virendra yang memegang setir kemudi pun menjalankan mobilnya.
Hingga tiba di hotel, mereka membiarkan barang-barang tersebut didalam bagasi mobil. Agar besok tidak perlu mengangkutnya.
"Capek, jangan ganggu aku, aku mau semedi agar besok pagi cepat bangun," kata Carla.
Carla langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Ia benar-benar capek setelah seharian bepergian kesana kemari.
Keesokan harinya ...
Setelah selesai sarapan di restoran. Mereka langsung pergi ketempat Carlos. Jalanan cukup lancar sehingga mereka bisa ngebut saat berkendara.
"Besok kita kembali dulu ke tanah air, aku ingin merakit senjata untuk berperang," kata Carla.
"Bagaimana jika kita minta bantuan Om Zio?" tanya Virendra. Karena Carla dan Carlos memanggil Zio dengan sebutan Om, jadi yang lain juga ikut memanggil Om.
Padahal sudah dibilang berkali agar memanggil kakak, tapi mereka sepertinya lebih nyaman dengan panggilan Om.
"Nanti saja, masalah itu bisa kita diskusikan bersama keluarga," ujar Carla.
Merekapun tiba di tempat yang dituju. Saat mengeluarkan barang-barang, ternyata banyak sekali barang. Bahkan joran pancing pun mereka beli.
"Aku yakin disini banyak ikan, jadi aku beli joran pancing," kata Axelle.
"Aku ingin berburu, jadi beli panah," kata Virendra.
Carla tidak berkata apa-apa, karena ia hanya membeli pakaian dan ponsel saja. Juga alat kosmetik untuk Sofia merawat dirinya.
Kakek Bahram tersenyum melihat kedatangan mereka. Senang? Sudah pasti, apalagi mereka saudaranya Carlos.
Carlos juga senang karena apa yang ia inginkan sudah dibelikan oleh saudaranya.
"Terima kasih, jadi merepotkan kalian," ucap Carlos.
"Biasa saja kali, lagipula semuanya ini penting," ujar Virendra.
Sedangkan Carla langsung menemui Sofia. Ia ingin memberikan barang yang ia beli. Sofia melototkan matanya melihat banyaknya pakaian.
"Apa kamu tidak senang? Ini, ini, ini." Carla memperlihatkan barang-barangnya. Sofia melihat alat-alat kosmetik lengkap. Selama ini ia belum pernah memakai yang seperti itu.
"Ini apa kak?" tanyanya.
"Hand body, dipakai sehabis mandi. Ini lulur di pakai sebelum mandi," ucap Carla menjelaskan.
Sofia berpikir, apa yang dijelaskan oleh Carla menurutnya ribet. Sampai Carla menjelaskan cara penggunaannya. Bahkan lipstik pun Carla belikan untuknya.
Sofia berpikir, hidup di tempat seperti ini ngapain harus pakai yang beginian? Tapi Carla tetap ingin Sofia merawat kulitnya.
Kemudian mereka bergabung dengan Carlos dan yang lainnya. Carlos pun mulai membuat aliran listrik dengan tenaga surya.
Diyan dan yang lainnya pun ikut membantu, agar prosesnya lebih cepat. Mereka semua jenius, jadi tidak terlalu sulit bagi mereka.
Kakek Bahram semakin dibuat kagum oleh kehebatan mereka. Anak-anak muda yang berprestasi itulah yang membuat kakek Bahram kagum.
Setelah semuanya terpasang, kini tinggal menempatkan posisi logam untuk menyerap tenaga surya dan menjadi tenaga listrik.
"Bagaimana kalau disini?" tanya Diyan.
Carlos melihat posisi matahari, berapa lama matahari melewati tempat itu. Carlos dapat memperkirakan jika posisinya kurang tepat.
"Pindah, aku rasa disitu cocok. Dan cahaya matahari dapat diserap sampai sore," jawab Carlos.
Posisi logam pun dipindahkan ketempat yang Carlos maksud. Dan jika nanti sudah bisa menyerap energi matahari, barulah bisa digunakan sebagai penerangan dan untuk ngecas ponsel.
"Nanti baru rencana membuat senjata," gumam Carlos.
mending perang apa bunuh²an aja .. wkkwkw