Karena kesalahpahaman, Mavra dan Enrique berpisah cukup lama. Namun, dengan bantuan saudara kembarnya, Mavra berhasil mengatur skema untuk menjebak Enrique. Pada Akhirnya Enrique masuk dalam jebakan Mavra si putri mafia.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Simak kisah mereka di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Merawat Mavra
Enrique menyentuh kening Mavra. Dia mengernyit saat merasakan suhu Mavra memanas. Pantas saja kekasihnya itu terlihat pucat.
"Kau sakit?"
"Hmm, aku terlalu merindukanmu."
"Manis sekali mulut ini," gumam Enrique, bibirnya kembali memagut lembut bibir merah Mavra.
Enrique membawa Mavra ke kamar. Dia membaringkan tubuh Mavra dengan sangat hati-hati.
"Apa kau sudah makan?" tanya Enrique penuh perhatian.
Mavra menggeleng. Enrique mend*sah. Dia lantas pergi ke dapur dan menyiapkan makanan yang tadi sempat dia pesan sebelumnya.
Kelopak mata Mavra terasa berat. Mungkin karena efek suhu tubuhnya yang terlalu panas sehingga dia merasa sangat mengantuk. Mavra akhirnya tidur tanpa makan apa-apa. Saat Enrique masuk, dia seketika menghela napas panjang.
Enrique meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja. Dia membetulkan posisi tidur Mavra dan menyelimutinya. Enrique terlihat sangat perhatian pada Mavra. Enrique mengambil plester pengurang panas dan menempelkannya di kening Mavra. Setelah itu, Enrique berbaring di samping Mavra dan tak lama dia pun terlelap.
Hari sudah malam ketika Mavra membuka mata. Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Mavra hanya diam karena merasa masih terlalu pusing. Dia menatap sekelilingnya, mencari keberadaan Enrique.
Mavra mencoba bangkit dari tidurnya. Dia memegangi keningnya yang berdenyut. Namun, tiba-tiba senyum Mavra mengembang saat merasakan ada plester gel yang menempel di keningnya.
"Oh, Enrique benar-benar manis sekali." Mavra menggigit selimutnya dengan gemas.
Klik!
Pintu kamar terbuka. Enrique membawa senampan makanan. Dia tersenyum melihat Mavra sudah bangun.
"Bagaimana kondisimu?" Enrique mendekat dan menyentuh kening Mavra. Suhu tubuhnya masih sama saja dengan tadi.
"Masih pusing," keluh Mavra. Enrique menata meja lipat di atas ranjang agar memudahkan Mavra untuk makan. Dia meletakkan nampan yang berisi makanan di meja itu.
"Ini sup buatanku," ujar Enrique. Mavra tersenyum dan langsung mengambil sendoknya. Gadis itu mencicipi sup buatan Enrique dengan penuh semangat.
"Ini enak."
"Kau harus menghabiskannya jika begitu. Setelah itu minum obatmu."
"Ya, baiklah." Mavra begitu patuh terhadap perintah Enrique. Pria itu tersenyum sembari mengusap puncak kepala Mavra.
Mavra benar-benar menghabiskan supnya. Enrique diam-diam merasa bahagia di dalam hati karena Mavra memakan habis supnya.
"Lain kali aku ingin mencicipi masakanmu yang lainnya."
"Siap, Tuan Putri."
Kedua insan itu saling bertukar cerita. Mavra dengan semangat menceritakan harinya kemarin tanpa kehadiran Enrique. Mavra juga menceritakan soal Ramona dan Rocco.
"Aku tahu. Sebaiknya berhati-hati dengan mereka."
"Aku justru ingin segera meringkus mereka berdua." Mavra terlihat kesal saat mengingat wajah Rocco dan Ramona tadi pagi.
"Cepat atau lambat kita akan bereskan mereka. Hanya saja, bersabarlah sedikit lagi. Ini tidak mudah, karena jaringan milik Rocco berkaitan dengan kartel milik Joe Foster."
"Ya, baiklah."
Enrique benar-benar telaten merawat Mavra. Bahkan dia tidak segan mengambil baju ganti untuk Mavra, karena baju yang Mavra pakai basah oleh keringat.
Mavra kembali tertidur dengan pulas. Enrique terus memandangi wajah tirus kekasihnya ini.
Keesokan harinya, Mavra sudah sembuh. Suhu badannya sudah kembali normal. Dia sekarang sedang menunggu Enrique bersiap-siap ke kampus.
Dengan malas Mavra memainkan ponselnya. Sebuah pesan masuk. Mavra berdecak kesal saat membaca pesan itu.
"Ada apa?" tanya Enrique.
"Pengganggu selalu bertebaran dimana-mana."
"Kali ini siapa?"
"Rex."
"Siapa Rex?"
"Mantan kekasihku."
"Oh." Enrique tidak terlalu menanggapinya. Dia justru memutar tubuh Mavra agar menghadap ke arahnya. Dia merapikan anak rambut kekasihnya itu dengan lembut.
"Mulai sekarang, kau harus selalu seperti ini."
"Seperti ini bagaimana?"
"Ceritakan semua yang kau hadapi hari ini dan seterusnya. Aku akan selalu menjadi pendengarmu."
Mavra mengangguk sembari tersenyum. "I love you Mon Chery