Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.
Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.
Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
merasa bersalah
Guno sibuk mencari setelan jas didalam lemari miliknya, digeser beberapa kali gantungan baju itu tapi tetap saja sepertinya tidak ada yang cocok untuk dipakai malam ini.
Guno keluar kamar dia duduk santai ditengah rumah, mertua yang biasanya selalu ada kini tengah pergi bersama teman - temannya. Guno sendirian, sesepi ini ternyata kehidupan dia setelah Hana pergi. Lagi - lagi Guno merindukan istrinya itu tapi untungnya ini tak sesedih kala hujan yang mengguyur Guno tempo hari.
Dia hanya merasa sepi, sunyi dan lama - lama jenuh. Guno menarik nafas kemudian dikeluarkan secara perlahan " Apa aku hubungi Tama saja ya? " Tanyanya pada diri sendiri " Tapi bakalan dibalas gak ya? Kan.. kemarin dia marah sama gue, ssssss..... Coba dulu deh! " Tambahnya sembari mengeluarkan handphone dari saku celananya.
Dia menekan aplikasi Instagram, sebelum menghubungi Tama dirinya menekan foto profile Tama yang dikelilingi warna hijau.
" Close friend? " Lagi - lagi Guno bertanya pada dirinya sendiri.
Ditekan lalu muncul-lah video Tama bersama Andin temannya sedang berada ditempat butik gaun. Tama men-shoot beberapa gaun yang dipakai manekin pun tak tertinggal setelan jas yang selaras dengan gaun - gaun itu.
Mata Guno membulat dirinya langsung mengirimi Tama pesan.
" Kamu dimana? Saya kesana ya "
Tak lama pesan itu dibalas
" Jangan pak, saya tidak mau! "
" Kenapa? Saya butuh setelan jas biar serasi sama kamu "
" Gak perlu pak! Bapak cari saja setelan jas yang lain "
" Kamu masih marah sama saya? "
" Gimana gak marah bapak bongkar rahasia grup kami "
" Ayolah Tama itu bukan saya! "
" Terserah! Minta maaf aja enggak "
Guno menghembuskan nafas beratnya sembari menggaruk kepala yang tak gatal.
" Huh!!!! Ternyata dia tidak bisa dibohongi, gue harus susul dia. Dia pikir gue gak tahu, orang butik itu langganan gue sama Hana! "
Dengan cepat Guno langsung bersiap, dia memakai jaket, sepatu dan celana jeans panjang. Tak lupa helm untuk keselamatannya karena selain mematuhi aturan rambu lalu lintas dia akan mengebut secepat kilat menyusul gadis belia yang sedang marah padanya.
Motor andalan pun dikeluarkan, dia menghidupkan-nya kemudian tancap gas!. Kecepatan yang di atas rata - rata membuatnya seolah menjadi pembalap liar yang sudah handal, menyalip sebisa mungkin dan kali ini semua berjalan lancar.
Motor itu berhenti tepat didepan butik dan bayang Tama yang masih sedang memilih gaunnya pun terpantul keluar. Guno langsung memarkirkan motor itu dengan rapih, dia membuka helm lalu disimpannya di kaca spion.
Guno tak buang waktu, dia langsung berjalan masuk kedalam dan menemui Tama yang sedang berdiri didepan cermin besar sembari mencocokkan dirinya dengan gaun yang sedang dipegang.
" Hai! " Sapa Guno yang membuat Tama terkejut akan kedatangannya.
" Pak Guno! " Tama menyebut namanya hingga Andin yang sedang berbicara dengan kasirpun langsung menengok ke arah mereka.
" Saya kesini untuk mencari setelan jas, kamu bisa pilihkan untuk saya kan? "
Tama terdiam perlahan kepalanya melihat ke arah Andin. Pun Andin hanya bisa menaikan kedua alis sembari sedikit mendongakkan wajahnya, seperti sedang berkata " Apa, Kok bisa pak Guno ada disini?! " Tapi Tama kembali menatap Guno.
" Saya bukan karyawan disini pak, bapak ngobrol saja sama mereka " ucap Tama sembari menunjuk karyawan lain menggunakan ibu jarinya.
Pun Guno melihat karyawan itu namun dia bersih keras ingin dipilihkan oleh Tama.
" Saya maunya sama kamu! "
" Maaf pak, saya gak bisa! "
Tama menolak lagi, kemudian dia berjalan ke arah kasir lalu bilang " Aku ambil yang ini ya! " Guno dengan sigap mengeluarkan dompetnya lalu mengambil kartu ATM kemudian diserahkan kepada kasir butik itu.
" Anda pasti sudah tidak asing dengan sayakan? "
Pun kasir itu mengangguk
" Gesek kartu ini untuk membayar gaun dia " ucap Guno sembari menunjuk Tama menggunakan wajahnya.
Tama dan Andin saling tatap dan kasir itu langsung mengiyakan keinginan Guno. Tanpa proses yang panjang semua sudah terbayar lunas! Tama yang tidak menyangka akan hal ini langsung merogoh dompet yang ada didalam tasnya, Guno tahu Tama akan mengganti uangnya.
Tangan Guno langsung menyentuh tas Tama,
" Gak usah diganti saya ikhlas! "
Tama menelan ludahnya sendiri,
" Anggap ini permintaan maaf saya sama kamu, meskipun bukan saya yang melakukannya "
Playing victim?
Atau...
Manipulatif?!
Guno berkata begitu agar Tama merasa bersalah karena sudah menuduhnya dan itu semua tanpa bukti. Tentu reaksi Tamapun hanya bisa diam lalu menunduk, dia malu!
" Maaf... "
Kata itu keluar dari mulut Tama dan Andin sebagai temannya cukup terkejut mendengarnya.
" Tama! " Andin memegang bahu Tama pun Tama langsung melirik sembari menghembuskan nafas pelan.
" Terimakasih sudah membayar " ucap Tama lagi sembari wajahnya beralih menatap Guno.
Pun Guno menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia memaafkan Tama. Andin merasa ini suasana canggung yang pernah terjadi di hidupnya. Akhirnya, dia mengambil keputusan untuk segera pergi dari hadapan Guno.
" Kami disini sudah selesai pak, izin pamit mau pulang " ucap Andin.
" Ya pulanglah! Dandan yang cantik - cantik ya biar di foto tambah keren hasilnya " Guno menatap mereka bergantian.
Andin mengangguk sembari tersenyum lalu dirinya sedikit mendorong bahu Tama untuk berjalan lebih dulu. Mereka berduapun keluar dari butik itu, sembari berjalan menuju parkiran Andin berkata " Kok minta maaf sih Tam? Emang dia yang salah kok! " Lagi - lagi Tama hanya bisa menghembuskan nafas dengan mata yang fokus melihat kejalan " Nanti kalau semisal dia buat salah lagi, jangan langsung luluh hanya karena dibayarin! Lu punya duitkan? Pakai duit lu! " Andin menasehati Tama yang sepertinya dirinya kebingungan dengan kasus grup Bu Etik itu.
Sementara didalam butik Guno berkata kepada kasir yang baru saja memegang kartu Atm-nya itu.
" Tolong carikan setelan jas yang cocok dengan gaun perempuan yang tadi saya bayar! "
" Baik pak! "
Kasir itupun menyuruh karyawan lain untuk memilihkan jas yang bagus dan Guno mengikutinya. Sampainya diruang setelan jas karyawan itu memperlihatkan jas berwarna Navy.
" Tadi.. si kakaknya pilih gaun warna Navy dan menurut saya ini cocok untuk dipakai berpasangan "
Pun Guno langsung menyentuh setelan jas itu, dilihatnya dari atas sampai bawah. Merasa sudah yakin akhirnya dia membeli jas berwarna Navy.
" Saya ambil yang ini! " Ucapnya.