Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.
Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.
Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?
NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketidakpedulian
Andreas melangkah dengan tergesa, mengabaikan tatapan heran orang-orang yang melihat seorang CEO muda berantakan berjalan di koridor rumah sakit tanpa pengawalan ketat seperti biasanya. Di tangannya, ia meremas sebuah kotak beludru hitam kecil. Cincin berlian yang kemarin ia beli secara diam-diam di galeri. Tadinya, ia ingin memberikan ini sebagai apresiasi karena Grace telah menyelamatkannya dari penipuan desain. Namun sekarang, kotak itu terasa seperti beban seberat satu ton di telapak tangannya.
"Andreas?"
Suara lembut namun bernada manipulatif itu menghentikan langkah Andreas tepat di depan lift. Ia membeku. Melani berdiri di sana, mengenakan pakaian serba putih yang membuatnya tampak rapuh, namun di mata Andreas, wanita itu tetaplah ular yang berbisa.
"Kenapa kamu ada di rumah sakit? Apa Tante Miranti sakit?" tanya Melani dengan raut wajah yang dibuat secemas mungkin.
"Bukan urusanmu," jawab Andreas dingin, matanya menatap lurus ke pintu lift yang masih tertutup.
"Andre, aku hanya bertanya baik-baik. Kalau Tante sakit, apa aku boleh menjenguk? Bagaimanapun, aku dulu sangat dekat dengannya," Melani melangkah maju, mencoba menyentuh lengan Andreas.
"Berisik! Minggir!" Andreas mengibaskan tangannya dengan kasar. Ia menabrak bahu Melani hingga wanita itu limbung. Akibat benturan itu, kotak perhiasan di tangan Andreas terlepas dan terjatuh ke lantai marmer, terbuka hingga memamerkan berlian yang berkilau tajam di bawah lampu lobi.
Melani terperangah. Matanya membelalak melihat kemewahan cincin itu. Tangannya bergetar saat ia memungutnya. "Ini... berlian langka. Andre, untuk siapa ini? Untukku?"
"Jangan sentuh dengan tangan kotormu!" bentak Andreas. Ia menyambar kotak itu kembali dari tangan Melani. "Ga usah pegang-pegang. Nanti perhiasan ini kotor dan ternoda... persis sepertimu."
Andreas menoleh ke arah pengawal yang membuntutinya dari kejauhan. "Sapu tangan! Sekarang!"
Dengan teliti dan penuh kebencian, Andreas mengelap permukaan kotak dan cincin itu seolah-olah tangan Melani adalah wabah penyakit. Setelah selesai, ia membuang sapu tangan itu ke tempat sampah dengan gerakan jijik.
"Andreas, dengarkan aku!" Melani mencegahnya pergi, suaranya kini terdengar lebih lemah. Wajahnya memang nampak pucat, bibirnya sedikit membiru. "Aku... aku sedang sakit, Andre."
Andreas berhenti sejenak, menatap Melani dari atas ke bawah. "Kalau sakit ke dokter, bukan curhat padaku. Aku bukan tabib, dan aku sudah pasti bukan lagi pelindungmu."
"Aku serius... kondisiku tidak baik," lirih Melani.
"Duniaku akan jauh lebih baik jika kau tidak ada di dalamnya, Melani. Minggir." Andreas melangkah masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka, meninggalkan Melani yang mematung di lobi dengan tangan mengepal dan mata yang menyiratkan kedengkian luar biasa.
Begitu pintu lift terbuka di lantai lima, Andreas langsung disambut oleh pemandangan Miller yang sedang berdiri di depan pintu kamar nomor 502. Miller tampak sedang menyesap kopi hitam dari gelas plastik, wajahnya sangat kuyu.
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Miller langsung, bahkan sebelum Andreas sempat mendekat. Tidak ada lagi sapaan 'Tuan Muda' atau nada hormat yang biasanya menghiasi bibir Miller.
"Aku ingin melihatnya. Dia pengawalku, Miller. Aku berhak tahu kondisinya," sahut Andreas, mencoba mempertahankan harga dirinya yang sudah mulai retak.
"Berhak?" Miller tertawa getir. "Setelah semalam kau hampir merampas kehormatannya? Kau tidak punya hak apa-apa di sini, Andreas. Pulanglah sebelum aku melakukan hal yang mungkin akan kusesali."
"Miller! Jaga bicaramu! Aku ini atasanmu!" Andreas terpancing emosi. Ia melangkah maju hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Atasan?" Miller meletakkan gelas kopinya di kursi tunggu dengan kasar. "Atasan yang seperti apa yang membiarkan pengawalnya terluka, lalu kemudian mencoba memperkosanya saat mabuk? Aku bekerja untuk keluarga Hadi, bukan untuk monster. Selama Grace masih di dalam sana berjuang melawan traumanya, kau tidak diizinkan masuk."
"Itu sudah tugasnya sebagai pengawal, terluka itu resiko pekerjaan. Kau berani menghalangiku?" Andreas mengangkat kotak perhiasan di tangannya. "Aku datang untuk bertanggung jawab! Aku membawakannya ini!"
Miller menatap kotak itu dengan pandangan jijik. "Kau pikir berlian bisa menyembuhkan luka di jiwanya? Kau pikir perhiasan mahal bisa menghapus memori saat kau melecehkan dan merendah kehormatannya makan itu? Kau benar-benar tidak punya otak, Andreas. Grace bukan Melani yang bisa kau bungkam dengan harta. Grace adalah wanita terhormat yang lebih memilih mati daripada harga dirinya diinjak-injak."
"Cukup, Miller!"
"Tidak! Kau harus dengar ini. Grace sedang demam tinggi. Dia meracau ketakutan," ucap Miller dengan nada mengancam.
Andreas tertegun.
Miller menunjuk ke arah pintu. "Pergi dari sini, Andreas. Sebelum kesabaranku habis dan aku melaporkanmu ke Tuan Besar Hadi di Swiss. Aku yakin beliau tidak akan sudi melihat cucu kesayangannya berubah menjadi sampah seperti ini."
Andreas terdiam, napasnya memburu. Ia menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu. Di balik sana, ada seorang wanita yang sedang menderita karena perbuatannya. Keangkuhannya perlahan luruh, berganti dengan rasa sesak yang menghimpit dada. Untuk pertama kalinya, Andreas Hadi merasa sangat kecil di depan asisten pribadinya sendiri.
...*************...
DOR! DOR! DOR!
Aroma belerang dan suara ledakan peluru memenuhi ruangan kedap suara itu. Zavian berdiri dengan kaki terbuka kokoh, kedua tangannya menggenggam erat sebuah pistol semi-otomatis 9mm. Matanya fokus menatap target kertas yang berjarak lima belas meter di depannya.
DOR!
Lubang tepat mengenai bagian tengah target, sedikit meleset dari titik kuning utama.
"Fokus, Zavian... konsentrasi. Bayangkan target itu adalah sesuatu yang paling ingin kau hancurkan untuk melindungi yang kau cintai," suara berat dari pelatihnya, Pak Broto, terdengar dari balik pelindung telinga.
Zavian menarik napas dalam, mengatur detak jantungnya yang berpacu. Ia menarik pelatuk lagi. Tiga peluru meluncur berurutan.
DOR! DOR! DOR!
"Bagus! Bagus, Zavian! Akurasinya sudah sangat baik, meskipun belum seratus persen on target. Tapi melihat progresmu selama sebulan ini, terutama setelah kepulanganmu dari Swiss, ini luar biasa," Pak Broto menepuk bahu Zavian sambil memeriksa papan target yang ditarik mendekat.
Zavian menurunkan senjatanya, melepas kacamata pelindung dan penutup telinga. Keringat membanjiri pelipisnya. "Aku harus lebih cepat, Pak. Aku merasa... waktu tidak memihakku."
"Sabar. Menembak bukan hanya soal menarik pelatuk, tapi soal pengendalian diri. Bulan depan, Bapak akan bantu kamu mengurus perizinan kepemilikan senjata dan lisensinya secara legal. Tapi Bapak harap, kemampuan ini jangan dijadikan alat kesombongan. Senjata bisa menjadi pelindung, tapi juga bisa menjadi bumerang jika salah digunakan," Pak Broto memperingatkan dengan serius.
Zavian mengangguk. "Saya paham, Pak. Saya hanya ingin siap."
Zavian meraih ponselnya di atas meja. Tidak ada pesan dari Grace. Sudah hampir dua hari gadis itu tidak membalas pesannya. Ia sempat menghubungi Nalea, namun adiknya itu hanya menjawab singkat bahwa Grace sedang sibuk dengan misi pengawalan intensif.
Nalea sengaja menutup informasi. Ia tahu betul watak kakaknya. Jika Zavian tahu Grace sedang terbaring di rumah sakit karena perbuatan Andreas, Zavian tidak akan lagi berlatih di sasana menembak, melainkan akan langsung menuju kediaman Hadi untuk menembakkan peluru sungguhan. Nalea ingin melindungi Grace, tapi ia juga tidak ingin kakaknya hancur karena emosi yang tidak terkendali.
Zavian menatap tangannya yang masih sedikit bergetar karena hentakan senjata. "Grace... di mana pun kamu, kuharap kamu baik-baik saja," gumamnya lirih. Ia tidak tahu bahwa saat ini, wanita yang dicintainya sedang berjuang melawan trauma hebat.