Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Segel yang Tidak Pernah Hilang
Gelap.
Bukan malam, melainkan kehampaan.
Raksha berdiri di tanah yang retak, langit berputar seperti pusaran abu. Darah menetes dari sudut bibirnya, jatuh ke batu hitam yang telah lama mati.
Di hadapannya berdiri sosok itu.
Penyihir kuno.
Jubahnya menjuntai seperti bayangan hidup, wajahnya tertutup cahaya pucat yang menyilaukan. Tidak ada amarah di sana. Tidak ada kebencian.
Hanya kepastian.
“Kau terlalu liar,” suara itu bergema dari segala arah. “Terlalu bebas sebagai penyihir kehancuran.”
Raksha mencoba berdiri... kakinya gemetar. Sihirnya bergejolak, liar, siap menghancurkan segalanya seperti dulu.
Namun ketika ia mengulurkan tangan:
Tidak ada apa-apa.
Kosong.
“Apa yang terjadi…?” Raksha terengah.
Lingkaran sihir kuno muncul di bawah tubuhnya, rune-rune yang bahkan ia kenali... namun tidak bisa ia patahkan. Cahaya menyala, menekan, dan menindih.
Tersegel.
Satu demi satu.
Sihir kehancuran.
Sihir pemanggilan.
Sihir penguasa jiwa.
Semua ditutup.
Raksha berteriak, namun suaranya tenggelam oleh cahaya.
“Beristirahatlah di dalam wadah yang rapuh,” ujar penyihir kuno itu. “Belajarlah menjadi kecil dan hidup sesuai pilihanmu.”
Cahaya meledak.
“—Lein!”
Lein tersentak bangun dengan napas terputus.
Dunia berputar. Hutan. Api unggun yang hampir padam. Cahaya pagi pucat menembus dedaunan.
Tangannya gemetar hebat.
Dadanya sesak... seperti masih ditekan segel yang tidak terlihat.
“Tenang, tenang, Lein” suara Reyd terdengar dekat.
Ia berlutut di samping Lein, memegang bahunya dengan hati-hati. Namun saat Lein tidak berhenti gemetar, Reyd menariknya ke dalam pelukan; pelan, ragu, tapi tegas.
“Sudah berlalu, Lein” katanya rendah. “Kamu aman didekatku.”
Lein mencengkeram jubah Reyd tanpa sadar. Napasnya terputus-putus, matanya basah.
“Aku… aku ingat,” bisiknya. “Bagaimana semuanya diambil dariku.”
Reyd tidak bertanya apa yang diingat.
Ia hanya menahan Lein, satu tangannya di punggung, satu lagi di belakang kepala... menjaga jarak yang cukup agar tidak menyesakkan.
“Kamu di sini sekarang,” kata Reyd. “Kamu tidak sendirian, Lein.”
Perlahan, getaran itu mereda.
Raksha merasakan sesuatu yang asing... penghiburan tanpa sihir.
Lein menarik napas panjang, lalu satu lagi. Tubuhnya melemas, bersandar pada Reyd.
“Maaf,” katanya lirih.
“Tidak perlu, meminta maaf” jawab Reyd cepat. “Mimpi buruk bukan kesalahan siapa pun.”
Mereka tetap seperti itu beberapa saat, hingga pagi benar-benar datang.
Saat Lein akhirnya menjauh, wajahnya pucat, namun matanya lebih jernih.
“Aku akan baik-baik saja,” katanya, lebih meyakinkan dirinya sendiri.
Reyd tersenyum tipis. “Aku percaya padamu.”
Namun di dalam dirinya, Raksha menyadari satu kebenaran pahit:
Segel itu tidak hanya menahan kekuatan.
Ia menahan ingatan… dan rasa sakit.
Suatu hari, Ketika segel itu retak kembali... masa lalu tidak akan datang sebagai mimpi.
Ia akan datang untuk dituntaskan.
***
Pagi itu, hutan terasa berbeda.
Kabut yang biasanya tebal menyingkir lebih cepat, seolah memberi jalan. Burung-burung sihir bernyanyi pendek lalu menghilang, meninggalkan jalur yang jelas menuju luar rimba.
Perjalanan kembali dimulai tanpa banyak kata.
Reyd berjalan di sisi Lein... lebih dekat dari sebelumnya, namun tidak berlebihan. Lein tampak lebih tenang, meski sesekali tatapannya kosong sejenak, seperti masih membawa sisa mimpi buruk.
Grack memperhatikan dari belakang.
Ia menyeringai kecil.
“Oho…,” gumamnya pelan.
Reyd menoleh. “Berisik bjir”
“Aku bahkan belum bilang apa-apa,” balas Grack sambil mengangkat kedua tangan. “Cuma… suasananya beda saja.”
Lein melirik mereka berdua, dia sedikit bingung, lalu memilih tidak menanggapinya. Namun langkahnya tetap sejajar dengan Reyd dan itu cukup jelas.
Tak lama, mereka bertemu kembali dengan Gram dan Lysa di jalur utama. Dorna berjalan di belakang, diam, tatapannya tertunduk. Tidak ada percikan konflik... hanya kelelahan dan kesunyian.
“Kita kembali bertemu murid buta map,” kata Gram singkat. “Namun kita bukan langsung ke Academy.”
Ia menunjuk ke arah barat. “Kita singgah ke ibu kota Magicia.”
Grack langsung bersemangat. “Penempa senjata?”
“Ya,” jawab Gram. “Persediaan Academy perlu diperbarui.”
Reyd mengangguk. "Aku ingin mengganti pedang latihan.”
"Juga... Pedang untukmu Lein."
Lein menoleh kearahnya, tajam.
"Apa? Aku cuma mau ganti pedang saja, jangan ngambek gitu dong cantik." Reyd tersenyum kecut ditatap seperti itu.
Kerajaan Magicia menyambut mereka dengan tembok putih tinggi dan menara sihir yang berkilau di bawah matahari. Jalanan ramai oleh pedagang, penyihir, dan prajurit kerajaan.
Grack hampir menyeret Reyd ke distrik penempa.
“Ayo! Kalau kita di sini, aku mau lihat senjata yang benar-benar layak.”
Reyd tampak santai. “Jangan berlebihan, dasar bodoh.”
Lein berjalan sedikit di belakang, mengamati suara kota, denyut mana di udara, kehidupan yang terus bergerak.
Berbeda dengan hutan.
Namun tidak kalah hidup.
Raksha merasakan sesuatu yang samar.
Tempat ini… menyimpan potongan masa lalu.
Mungkin tidak hari ini.
Mungkin tidak di pasar senjata.
Namun langkah mereka kini telah kembali ke dunia yang tidak bisa dihindari.
Lein tahu... setelah semua yang terjadi, ia tidak lagi berjalan sendirian.