NovelToon NovelToon
ISTRI GENDUT MILIK DUKE

ISTRI GENDUT MILIK DUKE

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Balas Dendam / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.

Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.

Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.

Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.

"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."

Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.

Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31. PULANG

Lima bulan.

Waktu yang bagi sebagian orang mungkin terasa singkat, namun bagi Duke Alaric Ravens, lima bulan adalah jeda panjang yang dipenuhi darah, api, dan keputusan-keputusan yang mengubah wajah wilayah timur selamanya.

Kereta kuda bergerak perlahan menyusuri jalan utama yang mengarah ke ibu kota. Roda besinya beradu dengan batu jalanan yang mulai kembali rapi, pertanda bahwa mereka semakin dekat pada pusat kekuasaan kerajaan.

Di dalam kereta, Alaric duduk bersandar, mantel hitamnya terlipat rapi, pedang telah berada kembali ke sarungnya. Luka lama di dadanya sudah lama mengering, menyisakan bekas yang tidak lagi terasa perih, namun ada sesuatu yang jauh lebih terasa daripada nyeri apa pun.

Rindu.

Senyum tipis tak henti-hentinya terlukis di wajahnya sejak fajar. Memikirkan akhirnya ia akan bertemu kembali dengan sang istri setelah sekian lama.

Dan tentu saja ... Gideon melihatnya.

"Yang Mulia, jika Anda terus tersenyum seperti itu, saya khawatir rahang Anda akan terkunci sebelum sampai gerbang ibu kota," suara Gideon terdengar terlalu ceria untuk ukuran perjalanan militer.

Alaric tidak menoleh.

"Diamlah, Gideon," kata Alaric.

Gideon justru semakin lebar tersenyum. "Wajah Anda membuat saya tidak bisa diam, Yang Mulia," katanya.

Alaric akhirnya meliriknya, tatapan tajam yang biasanya cukup untuk membuat siapa pun mundur satu langkah.

"Jangan buat aku melemparkanmu ke wilayah monster," ancam Alaric yang tidak terdengar serius untuk Gideon.

Gideon langsung menutup mulutnya, namun tidak menghentikan senyum itu. Ia hanya mengangkat bahu dan menatap Alaric dengan ekspresi penuh arti, seolah berkata aku tahu persis apa yang Anda rasakan.

Alaric mendecih pelan, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela kereta.

Menara-menara di ibu kota mulai terlihat di kejauhan. Atap-atap rumah yang tersusun rapi, bendera kerajaan yang berkibar, dan jalan-jalan yang hidup.

Dadanya terasa hangat.

Aku kembali, Liora, batin Alaric senang.

Nama itu bergetar di dalam batinnya, lembut, penuh rindu. Ia membayangkan wajah istrinya: pipi gembul yang selalu membuatnya gemas, senyum malu-malu yang hanya muncul saat mereka berdua, tatapan hangat yang selalu menenangkan Alaric setelah hari terberat sekali pun.

Senyum Alaric semakin merekah tanpa sadar.

Kereta kuda mereka akhirnya memasuki gerbang ibu kota.

Dan dunia yang ramai menyambut dengan suka cita. Membuat rombongan terkejut atas kemeriahan yang tidak mereka sangka.

Sorak-sorai rakyat biasa membanjiri jalan utama. Orang-orang berdesakan di pinggir jalan, melambaikan tangan, melempar bunga liar, bahkan ada yang menangis sambil berlutut.

"Duke Ravens!"

"Hidup Duke Ravens!"

"Terima kasih telah menyelamatkan wilayah timur!"

Alaric terkejut sejenak. Ia tidak pernah mengharapkan ini.

Para kesatria di belakangnya menegakkan tubuh, wajah mereka penuh kebanggaan yang nyaris tak tersembunyi.

Di sisi lain rombongan, di bagian paling belakang, pemandangan yang jauh berbeda terlihat.

Kerangkeng-kerangkeng besi.

Di dalamnya, para bangsawan wilayah timur dan bangsawan Kerajaan Varkhiel yang pernah menghadiri lelang ilegal, kini duduk dengan wajah kusam, pakaian compang-camping, tanpa gelar, tanpa kehormatan.

Rakyat tidak bersorak untuk mereka.

Rakyat mencaci.

"Apa rasanya sekarang kalian diperlakukan seperti budak?!"

"Kalian lebih rendah dari hewan!"

"Mari saja kalian!"

Cacian menggema untuk para bangsawan itu. Sayuran busuk dilemparkan. Batu kecil. Lumpur.

Beberapa bangsawan menunduk, beberapa mencoba menutup wajah, namun tak ada lagi martabat yang bisa mereka lindungi.

Itulah balasan yang mereka dapatkan atas kejahatan mereka.

Alaric dan rombongannya memandang lurus ke depan.

Mereka tidak merasa iba. Terutama saat mereka melihat dengan mata kepala sendiri apa yang para bangsawan itu lakukan di wilayah timur.

Alaric hanya merasa ini keadilan yang terlalu lama tertunda.

Istana berdiri megah seperti biasa.

Alaric serta para kesatria memasuki aula utama, langkahnya mantap. Ia berlutut di hadapan singgasana, diikuti Gideon, Colton, dan para kesatria lainnya.

"Laporkan," titah Kaisar.

Alaric berbicara singkat, padat, tanpa dramatisasi. Tentang pembersihan wilayah timur. Tentang pengkhianatan para bangsawan. Tentang kerja sama dengan Varkhiel. Tentang budak yang dibebaskan. Tentang wilayah yang diselamatkan.

Kaisar mendengarkan dengan wajah serius.

"Sepertinya kita harus mengirim mata-mata untuk mengawasi Varkhiel. Karena mereka merencanakan sesuatu yang lebih buruk lagi dari yang mereka lakukan di wilayah timur," kata Alaric.

"Hmm ... aku akan menyuruh Caelum untuk mengurusnya saat ini," jawab Kaisar.

Saat laporan selesai, Alaric dan para kesatria berdiri.

"Kerja yang luar biasa. Kerajaan berutang pada kalian. Tenang saja, aku sudah menyiapkan hadiah yang pantas untuk kerja keras kalian semua," ucap Kaisar puas.

Sorak kesatria menggema.

Namun kemudian suasana berubah.

Kaisar melangkah turun dari singgasana, ekspresinya melunak, bahunya sedikit mengendur. Ekspresinya bukan lagi sebagai Kaisar, melainkan kakak.

"Kita bicara lagi nanti, sekarang pulanglah," kata Kaisar pada Alaric dengan nada santai.

Alaric terkejut mendengar perubahan itu. Ia mendongak, lalu tersenyum kecil.

"Terima kasih, Yang Mulia," ucap Alaric.

Kaisar mengangguk. "Istirahatlah kalian semua dan makan makanan yang enak."

"Terima kasih, Yang Mulia!" jawab mereka serentak.

Saat Alaric hendak berbalik, Kaisar menambahkan, "Jangan terkejut saat kau pulang nanti."

Alaric menoleh, bingung.

Kaisar tertawa. "Pulanglah. Kau akan tahu."

Alaric tidak memermasalahkannya. Ia dan para kesatria melangkah pergi meninggalkan istana.

"Akhirnya aku bisa tidur dengan nyaman setelah ini," kata Colton penuh semangat.

"Enaknya. Sedangkan aku masih ditunggu tumpukan dokumen saat pulang nanti," keluh Gideon yang tampak seperti ingin menangis membayangkan tumpukan dokumen di ruang kerja Alaric nanti.

Colton tertawa mendengarnya.

Jantung Alaric berdegup kencang sepanjang perjalanan menuju kediamannya.

Perasaan itu aneh, gugup, antusias, rindu, semua bercampur jadi satu.

Bagaimana Liora sekarang?

Apakah ia sehat?

Apakah ia menunggu Alaric di depan pintu?

Pikiran itu terus menggelayut di dalam kepala Alaric.

Kereta dan rombongan akhirnya berhenti di kediaman Duke.

Para pelayan berbaris menyambut. Gerbang besar terbuka.

Namun tidak ada Liora di antara mereka yang menyambut.

Alaric turun, sedikit heran.

"Di mana Duchess?" tanya Alaric pada kepala pelayan.

Kepala pelayan tersenyum hangat dan menjawab, "Nyonya Duchess akan segera datang, Yang Mulia. Beliau tertidur saat matahari terbit tadi karena tidak bisa tidur memikirkan kepulangan Anda semalam. Jadi Nyonya bangun agak siang tadi."

Alaric tersenyum.

Ternyata bukan hanya dirinya yang menunggu.

Alaric memberi instruksi, mengatur barang-barang, membantu kesatria, berusaha menahan waktu. Menyortir barang yang bahkan mereka dapatkan dari wilayah timur.

Lalu ...

Langkah kaki cepat terdengar.

Bukan langkah pelayan.

Bukan langkah kesatria.

Langkah ringan yang tergesa.

Seseorang berlari ke arah Alaric.

Sebelum sempat bereaksi, seseorang sudah memeluk Alaric erat.

Seorang wanita.

Hangat. Wangi. Familiar namun terasa berbeda.

Alaric terkejut. Wajahnya mengeras. Terkesan marah karena ada yang berani memeluknya sembarangan.

"Siapa-"

Belum sempat Alaric melepaskan pelukan wanita itu, suara terengah terdengar.

"Nyonya Duchess?! Kau berlari terlalu cepat!" seru Sasa yang berlari ke arah mereka.

Alaric membeku.

Spontan Alaric langsung menatap perempuan dalam pelukannya.

"Liora?"

Perempuan itu mendongak.

Mata mereka bertemu.

Senyum indah menghiasi wajah tirus yang luar biasa cantik itu.

"Akhirnya, kau pulang juga," ucap sang wanita itu lembut.

Alaric membelalak.

Pipi gembul kesayangan Alaric ... menghilang.

Wajah Liora kini lebih ramping, matanya tampak lebih besar, tubuhnya tampak jauh lebih kurus.

Alaric membeku di tempat.

Istrinya kurus?

1
hanachi_🌷
lalu .. hal besar apa yang sebenarnya diincar oleh kerajaan Varkhiel di wilayah timur kalau bukan pertambangan dan lahan pertanian ?
hanachi_🌷
suasana feodal yang kental banget.
aryuu
liora ini definisi bego di piara 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 udah dewasa cari kerja kek buat kabur rumah neraka itu🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Lah sudah tamat...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
penyihir hitam bawa pesan bahwa mereka datang lagi untuk menghancurkan semua kerjaan dan menciptakan kekuasaan mereka.. tapi yang jadi masalahnya adalah si pahlawan utamanya kayaknya si kecil.Elara yang bisa menghancurkan musuh .
kalau Elara punya kekuatan sihir merah terus Evan kira² punya kekuatan apa.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
si Twins punya kekuatan tersembunyi, dengan adanya kejadian ini mungkin Alaric dan Liora jadi akan lebih bisa mengontrol, melatih mereka biar si Twins bisa ke kontrol untuk mengeluarkan kekuatannya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Di bikin dagdigdug, eh si kecil Elara nyelamatin semua tanpa sadar dan di ketahui yang lain... apa teka teki dari si anak perempuan dulu tentang matahari itu adalah kekuatan si kecil Elara ya.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Istrinya Arram ke mana, kok ga ikut cuma berdua dengan Aaron.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Weh weh weh jangan bilang Aron yar jadi pasangannya Elara dan Alaric besanan sama Arram dong.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
si kembar Penghidup suasana.👏👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hihihiii... Gideon jadi paman favorit si Twins, ya meskipun kasihan sering jadi korban keusilan mereka tapi menjadi ciri khas kasih sayang mereka sama Gideon.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Gideon pawang Alaric sampe si Twins juga jadi lebih dekat ke Dia karna Gideon yang di bikin repot dan selalu menuhin saat masa ngidamnya Liora.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Lidahnya di tarik Rowan biar jelas bilang huruf R-nya./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selamat datang Twins, ternyata sepasang sesuai ucapan naka kecil perempuan waktu itu.👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Eh si Bodel baru nongol... Perut bibi mu besar karna ada sodaramu di sana.😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selalu ada Gideon sebagai pemutus debat Alaric, Liora./Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Weh bakal ada anggota baru teman bermainnya Rowan.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Sang Bulan dan Matahari sudah hadir kah di perut Liora.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Gass lah langsung saja eksekusi di situ di depan para bangsawan dan lainnya biar para ksatria yang sudah menjadi korban ga sia² mengorbankan nyawanya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ya ampun baru tau nama ayahnya Liora Count Bernard kayak tokoh film anak² si mata bulat, hidung hitam./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!